
Laura yang mendengan Evans yang masih sangat percaya diri bahwa dirinya masih sangat mencintainya dan masih mengemis perhatian itu membuat Laura tertawa keras.
"Cinta? Jangan membuatku tertawa dan ingin meludahi wajahmu ini!" ucap Laura yang tanpa berpikir mengucapkan kata-kata kasar dan penuh dengan hinaan.
"Kau tak pernah mencintaiku! Selama ini kau hanya memanfaatkan cintaku dan mengambil keuntungan dari itu semua!" ucap Laura dengan tawa kecil.
"Aku mengetahui semua rencana busukmu dan junjunganmu itu, Putra Mahkota Lyod! Ups, Mantan Putra Mahkota!" ucap Laura sambil meletakkan tangannya di bibirnya dengan senyum yang licik.
Evans yang tidak mengerti maksud ucapan Laura hanya bisa terdiam dan menebak yang maksud dari ucapan Laura padanya.
"Kenapa? Apakah kau masih belum mengerti juga maksud dari perkataanku?" sindir Laura yang memandang rendah akan kecerdasan Evans.
Evans yang hanya berbakat pada pedang ternyata sangat lemah soal administrasi sehingga semua keputusan di Wilayah Count Vansfold dibuat oleh Laura.
"Aku sungguh salah menilaimu! Kau sungguh pria yang sangat menyedihkan dan tidak tau diuntung!" ucap Laura dengan pandangan merendahkan.
Evans yang telah bersabar mendengar tiap kata yang diucapkan Laura padanya pun menjadi marah setelah selalu dihina dan direndahkan.
"Hentikan! Aku tidak menunggumu datang untuk mengatakan ini padaku! Aku pun tidak ingin mendengarkan penghinaanmu itu, jadi lebih baik kau pergi saja dari sini!" ucap Evans yang tanpa segan mengusir keberadaan Laura yang berdiri beberapa langkah di depannya.
Laura yang mendengar perkataan Evans pun tertawa dengan sangat keras lalu mengatakan sesuatu yang pada akhirnya membuat Evans terdiam.
"Kau masih berpikir jika kau adalah Bangsawan yang memiliki kekuasaan dan pengaruh yang kuat? Hmmm, sadarlah Evans ! Kau bukanlah siapa-siapa tanpa diriku!" ucap Laura dengan tatapan mata yang tajam.
"Jika aku tidak tertarik padamu sama sekali di masa lalu maka kau tidak akan pernah bisa menjadi Seorang Count dengan wilayah dan kekuasaan!" ucap Laura dengan wajah yang dingin.
Evans yang baru menyadari kenyataan itu setelah perceraiannya dengan Laura terjadi menjadi sangat kesal dan marah.
"Aku mencintaimu dengan tulus tapi kau menyia-nyiakannya di masa lalu hingga kau pun tak peduli apakah aku hidup atau mati saat mencoba mendapatkan cintamu itu!" ucap Laura dengan nada suara yang terdengar dingin.
"Untungnya aku sadar sebelum semuanya terlambat. Aku lebih mencintai diriku sendiri sekarang karenanya aku melakukan ini semua! Aku mengambil semua yang tak seharusnya terjadi!" ucap Laura dengan tatapan mata merendahkan.
"Posisi Count, Wilayah Vansfold, dan Status Komandan Kesatria Suci! Tak satupun seharusnya menjadi milikmu jadi aku mengambil semuanya kembali!" ucap Laura dengan senyum yang lembut menutupi kebenarannya.
"Hmmm, apakah kau tau Evans? Sebenarnya aku yang telah menjebakamu untuk tidur dengan j*lang itu agar aku punya alasan untuk meminta cerai serta mendapatkan kompensasi yang baik!" ucap Laura sambil membungkukkan tubuhnya membisikkan kenyataan pada Evans.
Evans yang tak percaya dengan perkataan Laura pun berteriak dengan sangat keras dan menjadi sangat marah.
"Sebenarnya aku pun telah meminta Kakakku untuk menolak perjanjian kerjasama dengan Mantan Putra Mahkota karena aku ingin kau kehilangan jabatanmu sebagai Komandan Kesatria Suci!" ucap Laura dengan wajah yang ramah.
"Lalu aku juga yang telah membuat j*langmu itu marah dan menunjukkan wujud aslinya sehingga kau dan semua orang yang terlibat denganmu di Penjara yangmana harus bersiap menerima hukuman mati nantinya!" ucap Laura dengan senyum liciknya.
"Aku iblis? Lalu bagaimana denganmu? Kau memanfaatkan Istri yang tulus padamu dan membantu Majikanmu untuk menghancurkan Keluarga Istrimu demi mendapatkan kekuasaan yang lebih!" sindir Laura yang mengacu pada kenyataan di masa lalu dan informasi yag didapatnya dari Guild Bulan Merah dimana Mantan Putra Mahkota Lyod telah merencanakan untuk menghancurkan Kekaisaran Glorious sejak awal.
Evans yang mendengar perkataan Laura pun menjadi sangat lemah dan tak berdaya akhirnya terduduk dengan kepala tertunduk ke bawah.
"Kau? Darimana kau mengetahui itu semua? Jadi ini alasan perubahan sikapmu setelah terjatuh dari Danau!" ucap Evans dengan suara yang rendah.
"Aku adalah Putri kekaisaran terkuat di Daratan ini dan meskipun aku menikah jauh di Kerajaan lain, Keluargaku tak pernah meninggalkanku!" ucap Laura dengan percaya diri.
"Sekarang kau tak memiliki siapapun ataupun apapun lagi! Status Bangsawanmu telah berubah menjadi Kriminal! Wilayah Kekuasaanmu telah menjadi milikku! Posisimu sebagai Komandan Kesatria Suci pun telah diambil oleh orangku!" ucap Laura dengan nada suara yang dingin.
"Kau hanyalah Penjahat yang sedang menunggu hukuman atas semua perbuatan buruknya! Kau harus membayar hukuman karena telah memiliki niat dan hati yang busuk, Evans!" ucap Laura dengan tatapan mata yang merendahkan.
Laura yang melihat Evans terduduk dengan wajah yang penuh penyesalan akan semua perbuatannya membuat Laura merasa lebih puas dan memilih pergi meninggalkan Evans sendirian di tempat itu.
"Kau tak memiliki arti apapun lagi bagiku! Kau dan aku tidak memiliki ikatan lagi dan hubunganku denganmu sudah terputus!" ucap Laura yang berbalik arah meninggalkan Evans sendirian di dalam Penjaranya.
Evans yang tidak menyangka jika nasibnya akan begitu buruk dengan perbedaan seratus delapan puluh derajat dari setahun yang lalu saat dirinya menikahi Laura merasa sangat menyesal.
Evans yang berharap waktu dapat diulang kembali untuk memperbaiki semuanya pun tak akan pernah terjadi karena Evans bukanlah siapa-siapa.
"Andai aku bisa membuka mataku! Andai aku bisa menyadari kesalahanku lebih awal! Semua ini tak akan terjadi!" ucap Evans dalam hati dengan dilema yang sangat dalam.
Evans yang memasuki hayalan akan masa depan yang bahagia dan cerah bersama Laura dengan anak-anak yang lucu perlahan hancur dengan kenyataan yang ada di depan mata.
Evans yang masih hidup di bayang-bayang masa lalu dimana Laura masih menginginkan cintanya akhirnya kembali ke kenyataan dan menyesali semuanya.
Laura yang telah membalaskan dendamnya kepada Evans akan rasa sakit, penyesalan dan kesedihan kehilangan Keluarga orang tercinta pun merasa sangat puas.
"Di kehidupan ini, bukan aku yang kehilangan semuanya tapi dirimu! Kau akan melihat Ibumu dan orang-orangmu mati satu per satu di hadapanmu!" ucap Laura dengan tatapan mata yang tajam.
"Kau akan merasakan kesedihan mendalam sepertiku yang tidak bisa melindungi semuanya dan menyesali semua yang terjadi karena menjadi penyebab hal ini terjadi!" ucap Laura dengan wajah yang dingin.
Laura yang telah mengatakan semua yang diinginkannya pada Evans pun mengalihkan perhatiannya pada yang lain pun pergi menuju tempat Tatiana ditahan.
"Sekarang adalah saatnya bagi kita berdua bertemu dan bicara empat mata Tatiana! Tunggu aku!" ucap laura yang terus berjalan dengan elegan serta tatapan mata yang tajam.
#Bersambung#
Apa yang akan dikatakan oleh Laura kepada Tatiana? Bagaimana respon Tatiana akan setiap ucapan Laura? Tebak jabawannya di kolom komentar ya..