The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 23. Menguping



Laura yang telah kembali ke kamarnya pun mencoba menggunakan kekuatan Pengintainya dan mencoba menggunakan Evans sebagai targetnya.


Laura yang memfokuskan pikirannya untuk bisa menemukan Evans berada pun akhirnya mendengar suara Evans yang sedang bicara dengan George.


“Tuan Count, ini adalah semua tagihan belanja Nyonya selama anda meninggalkan Kediaman!” ucap George dengan nada suara yang hati-hati.


“Lalu kemana saja Laura pergi?” tanya Evans dengan nada suara yang datar dan ekspresi wajah yang dingin dengan tatapan mata yang tajam.


Laura yang mendengar George mengatakan semua aktivitasnya selama di Kediaman Count Vansfold selama kepergian George pun merasa keputusannya sebelumnya sangatlah tepat.


“Hah! Sungguh a*ji*g yang sangat setia! Sangat bagus membiarkan Kesatria John menunggu di luar, jika tidak maka hancur sudah rencanaku selama ini!” ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang kesal sambil mengepalkan kedua tangannya dengan sangat keras.


Laura yang mendengar bahwa George telah diusir keluar tetap menggunakan Kekuatannya dan menunggu hingga dirinya bisa mendapatkan informasi yang berguna hingga akhirnya Evans mengatakan sesuatu yang membuat Laura sangat senang.


“Hah! Aku tidak boleh membatasi pergerakan Laura ataupun membuatnya marah dalam waktu dekat. Aku harus bisa membuatnya senang agar dia mau membantuku membujuk kakaknya!” ucap Evans dengan suara yang rendah dengan ******* nafas yang panjang.


“Aku akan meminta Evans menyiapkan pakaian untuk menyambut Pangeran Mahkota Kekaisaran Glorious dalam waktu dekat!” gumam Evans dengan nada suara yang terdengar sangat frustasi.


Laura yang telah kehabisan Energi pun menarik kembali ke Kekuatannya dan bersandar di sofa lalu memanggil Rika.


“Siapkan aku teh hangat!” ucap Laura dengan suara yang sangat rendah dan tubuh yang sangat lemas dengan ekspresi wajah yang pucat.


Rika yang melihat kondisi Laura yang terlihat sangat pucat pun dengan cepat berlari melakukan semua yang diperintahkan kepadanya.


Laura yang ditinggal sendirian di dalam ruangannya pun memikirkan ulang semua yang didengarnya dengan Kekuatannya.


“Kakak! Ayah! Ternyata mereka telah bergerak seperti yang aku minta. Sekarang aku harus menjalankan rencanaku dengan sangat baik!” ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang serius.


“Kau hanyalah Kesatria biasa yang kebetulan mendapatkan hatiku dan karena itulah kau bisa mendapatkan Gelar Bangsawan. Kau bukanlah Bangsawan sungguhan. Kau hanyalah Rakyat biasa dan sama seperti selingkuhanmu itu!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang dingin.


“Seorang Penghianat sangat cocok bersama dengan P***cur! Oleh karena itu, aku tidak akan memisahkan kalian berdua di kehidupan ini. Aku akan membuat kalian bersatu dan tentunya dengan cara yang terbaik yang aku berikan!” ucap Laura dengan senyum yang jahat dengan ekpsresi wajah yang bahagia.


Rika yang datang dan melihat ekspresi wajah bahagia pada Laura pun merasa lega dan dengan cepat meletakkan secangkir dan sepiring kue di atas meja.


Malam harinya, Laura yang tidak bisa menghindari acara makan malam bersama dengan Evans pun terpaksa menghias dirinya.


Laura yang biasanya datang lebih awal dan menunggu Evans datang kali ini datang sangat terlambat dan membuat Evans menunggu cukup lama.


“Apakah kau sudah melupakan Etika Kebangsawanan yang kau pelajari?” sindir Evans dengan kata-kata yang tajam dengan tatapan mata yang dingin.


“Hah! Menghina Seorang Putri tentang Etika Kebangsawanan? Kau yang seorang Rakyat Biasa sangat tidak bisa pantas mengucapkannya!” ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang tenang dengan senyum lembut di bibirnya.


Evans yang tidak ingin memulai pertengkaran dengan Laura hanya untuk hal kecil dan menyebabkan masalah yang besar pun hanya bisa bersabar.


“Apa yang ingin kau katakan? Kau tidak akan mengatakan apapun karena saat ini posisimu tidak dalam posisi yang menguntungkan!” ucap Laura dalam hati sambil tersenyum kecil dengan ekspresi wajah yang bahagia sambil memotong daging steak yang ada di piringnya dengan sangat santai.


Evans yang membutuhkan bantuan kerjasama dari Laura pun mengubah gaya bicara dan juga ekpsresi wajahnya.


“Tiga bulan lagi, Istana Kerajaan akan mengadakan Sebuah Pesta yang sangat besar dan kau akan ikut denganku ke Ibukota!” ucap Evans dengan ekspresi wajah yang datar sambil mengelap sisa makanan dengan serbet yang ada di atas celananya.


“Hmmm, apakah ini Pesta yang aku curi dengar tadi siang?” tanya Laura pada dirinya sendiri dalam hati dengan ekspresi wajah yang cuek tapi memasang telinga untuk mendengarkan semua informasi sambil meminum segelas anggur di cangkirnya dengan sangat anggun.


“Pangeran Mahkota Richard Rich Glorious dari Kekaisaran Glorious akan kemari dan Pesta itu diadakan untuk menyambut kedatangannya!” ucap Evans dengan tatapan mata yang mengawasi setiap pergerakan dan perubahan ekspresi di wajah Laura.


Laura yang sadar jika setiap gerak-geriknya diawasi pun tidak menunjukkan sedikitpun perasaannya ataupun menunjukkan perhatiannya.


“Apa tujuan kedatangan Pangeran Mahkota Richard kemari?” tanya Laura dengan eksresi wajah dan nada suara yang datar.


“Beliau dan Putra Mahkota akan membicarakan mengenai sebuah pernjanjian kerjasama dalam bidang logistik dan militer!” ucap Evans dengan ekspresi wajah yang serius.


Evans yang berharap Laura akan mengatakan sendiri bahwa dirinya akan membujuk Pangeran Mahkota Richard tidak menyangka bahwa Laura tidak menunjukkan reaksi apapun yang membuat Evans merasa sedikit malu.


“Ehem! Pangeran Mahkota Richard adalah saudaramu. Kau pasti sangat merindukannya dan kau bisa datang menemuinya nanti!” ucap Evans yang mencoba memancing Laura dengan tatapan mata yang menyelidik.


“Terima kasih untuk kebesaran hati Tuan Count. Saya sangat senang mendengarnya!” ucap Laura yang langsung diam.


“Aku tidak akan menawarkan diriku untuk membantumu. Kau yang membutuhkanku jadi kau yang harus meminta dan mengemis padaku, Suamiku!” ucap Laura dalam hati dengan tatapan mata yang penuh dendam dengan topeng senyum yang lembut.


Evans yang merasa frustasi karena jadwal makan malam yang dibuatnya tidak berjalan seperti yang diharapkannya pun langsung berdiri dan meninggalkan ruang makan tersebut dengan ekspresi wajah yang kesal dengan diikuti George dari belakang.


“Sial! Apa yang terjadi padanya? Apakah dia ingin aku minta maaf karena aku tidak membawanya ke Ibukota? Hah! Jangan bermimpi!” ucap Evans dalam hati dengan ekspresi wajah yang sangat marah dengan tangan terkepal sangat erat.


Laura yang melihat kepergian Evans dengan perasaan yang sangat buruk membuat nafsu makannya bertambah.


“Sangat menyenangkan melihat ekspresi wajah itu! Tidak semua yang kau harapkan akan berjalan sesuai dengan keinginanmu mulai sekarang, Suamiku!” ucap Laura dalam hati sambil menghabiskan segelas anggur yang ada di cangkirnya dalam satu kali teguk.


#Bersambung#


Hmmm, Laura benar-benar membuat Evans sangat kesal. Apakah Evans akan menyerah dan meminta maaf lalu meminta bantuan kepada Laura? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya..