The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 56. Izin Membantu



Laura yang mendengar perkataan Pangeran Mahkota Richard menjadi sangat terkejut dan tidak percaya tapi di sisi lain sebuah kehangatan mengisi hati Laura.


Pangeran Mahkota Richard yang melihat Nona Martha telah pergi pun berbalik arah dan melihat Laura dan memegang kedua tangannya dengan sangat erat.


“Meskipun kau telah menikah. Kau akan tetap menjadi adik kecilku yang paling kusayangi!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan nada suara yang terdengar sangat lembut.


“Kakak! Terima kasih! Maaf! Maafkan Laura yang tak pernah menyadari rasa sayangmu ini!” ucap Laura sambil meneteskan air mata dengan senyum yang lembut.


“Seorang Putri tidak boleh menangis karena itu akan membuatnya terlihat jelek jadi tersenyumlah!” ucap Pangeran Mahkota Richard sambil menghapus setetes air mata Laura yang ada di pelupuk matanya dengan perlahan.


Pangeran Mahkota Richard yang tau jika masih banyak hal yang perlu mereka bicarakan berencana untuk mengajak Laura kembali ke Ruangan tapi tiba-tiba Putra Mahkota Lyod muncul tak tau darimana asalnya.


“Yang Mulia Pangeran Mahkota Richard, senang bisa bertemu denganmu!” ucap Putra Mahkota Lyod dengan senyum yang lebar dan sikap yang ramah.


“Terima kasih, Yang Mulia Putra Mahkota!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan nada suara dan ekspresi wajah yang datar.


Pangeran Mahkota Richard yang tak ingin bicara dengan Putra Mahkota Lyod pun memutuskan untuk membawa Laura pergi.


“Hmm, maafkan saya tapi saya masih memiliki beberapa hal yang ingin dibicarakan jadi saya pamit terlebih dahulu, Putra Mahkota!” ucap Pangeran Mahkota Richard secara langsung tanpa merasa canggung ataupun tidak nyaman sama sekali.


“Agh, sepertinya kedatangan saya sungguh tidak tepat kalau begitu saya mohon undur diri!” ucap Putra Mahkota Lyod dengan sangat sopan sambil menundukkan kepalanya dan pergi begitu saja.


Laura yang melihat situasi yang terlihat sangat kebetulan itu pun merasa curiga dan memutuskan untuk kembali bersama Pangeran Mahkota Richard.


“Kak, maafkan aku tapi aku merasa seperinya Nona Martha dan Putra Mahkota Lyod telah mengenal satu sama lain sebelumnya!” ucap Laura dengan nada suara yang terburu-buru tepat setelah keduanya menutup pintu ruangan kembali.


“Itu tidak mungkin. Martha tidak mungkin mengenal Putra Mahkota Lyod sebelumnya karena Martha tak pernah meninggalkan Kekaisaran Glorious dan Putra Mahkota Lyod pun belum pernah datang ke Kekaisaran Glorious!” jawab Pangeran Mahkota Lyod dengan nada suara yang tegas.


Laura yang mendengar itu pun terdiam dan menatap Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang serius.


“Kakak! Apakah kau percaya jika aku mengatakan bahwa aku sangat menyayangimu meskipun pernah terjadi salah paham atau perdebatan di antara kita?” tanya Laura dengan tatapan mata yang penuh kasih.


“Tentu saja Kakak percaya karena hubungan kita sangat kental seperti darah. Kau adalah adik kandungku!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan nada suara yang tegas.


“Terima kasih, Kakak. Oleh karena itu, izinkan aku menyelidiki masalah ini. Aku sungguh merasakan ada yang aneh dengan Nona Martha dan Putra Mahkota Lyod!” ucap Laura dengan taapan mata yang penuh harap.


“Baiklah tapi berjanjilah untuk tidak melakukannya secara berlebihan karena Kakka tidak mau hal buruk terjadi padamu!” ucap Pangeran Mahkota Ricahard dengan nada suara yang lembut.


Pangeran Mahkota Richard yang penasaran dengan rencana yang telah disusun Laura pun berniat bertanya tapi langsung dipotong oleh Laura.


“Maaf, Kakak. Aku merasa sangat lelah terutama pada Pesta ini karena aku harus bersiap sejak dini hari.” Ucap Laura dengan ekspresi wajah yang menyesal.


“Agh, maafkan Kakak yang tidak peka dengan kondisimu. Baiklah. Kakak mengerti. Kembalilah dan istirahatlah yang cukup.” Ucap Pangeran Mahkota Richard sambil menepuk lembut puncuk kepada Laura.


“Hmmm, ambil ini! Ini adalah alat komunikasi yang dibuat oleh Penyihir kita dari Menara Penyihir. Alat ini adalah alat komunikasi yang digunakan untuk menghubungi orang yang memiliki alat sihir yang sama!” ucap Pangeran Mahkota Richard sambil mengeluarkan sebuah gelang dengan sebuah batu besar di bagian tengahnya.


“Alat sihir ini hanya bisa digunakan tiga kali jadi gunakan dengan sebaik mungkin dan sebijak mungkin. Kakak bisa memberimu lagi ini tapi tidak untuk sekarang karenanya kakak tak memilikinya lagi kecuali di Kekaisaran Glorious!” ucap Pangeran Mahkota Richard sambil memakaikan gelang ke tanagn Laura.


“Aku mengerti, Kakak. Terima kasih. Aku akan kembali sekarang! Hmmm, kak. Ingatlah untuk tidak merespon terlebih dahulu permintaan Putra Mahkota Lyod!” ucap Laura dengan terburu-buru dengan nada suara yang tegas lalu pergi kembali ke Pesta dan meninggalkan Pangeran Mahkota Richard sendirian.


Meskipun begitu wajah kesedihan dan ketenangan yang biasanya dimilikinya berubah menjadi serius.


“Apakah ada yang bisa saya bantu, Yang Mulia?” tanya seorang pria yang menutup kepala dan seluruhnya dengan jubah dengan nada suara yang tegas.


“Pergi temui Laura dan kau akan menjadi Kesatria yang akan melindunginya dari ancaman apapun!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan tegas.


Setelah mendengar perintah tersebut Kesatria itu pun pergi dengan cepat menuju ke arah Laura. Laura yang bisa mengetahui ada orang didekatnya memilih mengabaikannya karena tau jika Kesatria tersebut tidak akan pernah melupakan tugasnya!” ucap Pangeran Mahkota Richard.


Laura yang menyadari bahwa dirinya tidak akan bisa mengetahui apapun tentang hubungan Putra Mahkota Lyod dan Nona Martha jika kembali ke Kediaman Count Vansfold di Ibukota pun bergerak cepat di dalam Istana.


“Aku harus bisa mengetahui hubungan keduanya malam ini dan mencari buktinya nanti!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang serius.


Laura yang pergi dan duduk sendirian di sebuah Taman pun mengeluarkan Kekuatan Alamnya setelah melepaskan cincin yang menjadi penyegel kekuatannya.


Laura yang memejamkan matanya agar bisa menjadi sangat fokus pun menyebarkan Kekuatan Alam yang ada di dalamnya hati-hati.


Kekuatan itu pun menyebar dengan sangat cepat dengan seiring dengan banyak udara yang ada di sekitar manusia.


Laura yang memfokuskan dirinya pun akhirnya mendengar dua suara dari orang yang sangat dikenalnya itu pun terdiam.


“Apa yang terjadi? Kenapa aku mendengar hal itu?” tanya Laura dalam hati dengan ekpsresi wajah yang terkejut dengan mata yang terbuka lebar.


“Aku tidak bisa diam bersantai disini! Aku harus pergi menuju Ruangan yang menjadi sumber pendengaranku dengan lebih cepat!” gumam Laura dengan ekspresi wajah yang terkejut.


#Bersambung#


Suara siapakah itu yang sangat familiar bagi Laura? Apa yang sebenarnya terjadi pada ruangan yang ingin dilihat Laura? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya...