The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 52. Sampai di Ibukota



Laura yang telah berada dalam perjalanan yang cukup lama akhirnya sampai di Ibukota dan dengan cepat sampai di Kediaman Count Vansfold di Ibukota.


Laura yang turun dari kereta kuda dengan bantuan Evans langsung disambut oleh Pelayan yang ada di Kediaman tersebut.


"Selamat datang Count dan Countess Vansfold!" ucap Kepala Pelayan yang ada di Ibukota sambil menundukkan kepalanya dengan hormat.


Laura yang tidak memiliki perasaan apapun terhadap orang-orang yang bekerja pada Evans pun menatap dingin ke semua orang.


"Countess, silahkan ikuti saya. Saya akan mengantar anda ke tempat anda akan tinggal di Kediaman ini!" ucap Kepala Pelayan Wanita yang telah berumur dengan ekspresi wajah yang datar dan kepala tertunduk.


Laura yang tidak peduli hanya berjalan mengikuti Pelayan yang ada di depannya dengan diikuti Rika di belakangnya.


"Ini adalah ruangan yang akan anda tempati selama ada disini! Jika ada yang ingin Nyonya butuhkan tarik saja tali itu!" ucap Pelayan tersebut dengan nada suara terdengar sedikit arogan sambil menunjuk ke arah tali yang ada di dekat tempat tidur.


Laura yang mendengar nada suara yang arogan itu pun menatap tajam tapi Pelayan yang sedikit ketakutan langsung pergi melarikan diri dari hadapan Laura.


Rika yang melihat sikap pelayan-pelayan itu yang sangat berbeda saat di depan Evans dan di belakang Evans membuat Rika kesal.


"Apa-apaan sikap pelayan-pelayan itu! Beraninya mereka bersikap tidak sopan kepada Yang Mulia! Ingin rasanya aku menarik rambutnya hingga botak!" teriak Rika dengan ekspresi wajah yang kesal dan nada suara yang sedikir tinggi.


"Tenanglah. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk kita bertindak. Jangan bersikap impulsif! Kita akan membalas mereka semua nanti dengan satu serangan kejutan!" ucap Laura dengan senyum licik di sudut bibirnya.?


Sementara itu, Adrian Lopez yang turun ke ruang bawah tanah yang ada di bangunan itu menjadi sangat terkejut saat melihat sebuah portal yang sangat besar di bawah bangunan.


“I-ini... Po-Portal!” teriak Adrian Lopez dengan nada suara yang gagap dengan ekspresi wajah yang terkejut dan mata yang terbuka lebar.


“Jangan terkejut karena ini hanya permulaannya saja. Kau masih akan terkejut lagi setelah ini!” ucap Viscount Balaguisse dengan senyum licik di sudut bibirnya.


“Hmmm, aku sudah pernah ditekan oleh Nyonya Countess dan sekarang giliran anak buahnya yang aku buat terkejut.” Ucap Viscount Balaguisse dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan senyum yang jahat.


Adrian Lopez yang mengikuti Viscount Balaguisse pergi menjadi sangat terkejut saat menyadari dirinya telah berada di tempat yang asing dengan dekorasi yang sangat mewah dan elegan.


“Dimana ini? Kenapa aku dibawa kemari? Siapa sebenarnya Ketua Guild Bulan Merah yang ingin Yang Mulia aku sampaikan pesannya?” tanya Adrian Lopez dalam hati dengan mata yang tidak berhenti berkeliling melihat yang ada di sekitarnya.


Viscount Balaguisse yang telah sampai di Istana Pangeran Kedua, Pangeran Illion pun dengan cepat mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk.


“Yang Mulia, apakah saya boleh masuk? Ada seseorang yang ingin menyampaikan pesan dari Nona VIP!” ucap Viscount Balaguisse dengan ekspresi wajah yang serius dan nada suara yang datar.


“Masuklah!” jawab Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah dan nada suara yang dingin dengan tatapan mata yang tajam.


Adrian Lopez yang masuk ke dalam ruangan dan melihat Pangeran Kedua Illion sedang duduk di hadapannya dengan cepat membungkukkan kepalanya memberi salam.


“Sa-salam kepada Matahari Kerajaan Hentallius. Yang Mulia Pangeran Kedua Illion. Semoga Yang Mulia panjang umur dan selalu sejahtera!” ucap Adrian Lopez dengan ekspresi wajah yang tegang dengan nada suara yang gagap.


“Hentikan salam ini. Angkatlah kepalamu!” ucap Pangeran Kedua Illion dengan nada suara yang tidak senang sambil menarik nafas yang panjang.


Pangeran Kedua Illion yang melihat Adrian Lopez untuk pertama kalinya pun menatap dan memperhatian Adrian Lopez dari ujung kaki hingga ujung kepala lalu mengalihkan pandangannya kepada Viscount Balaguisse.


“Apakah dia adalah orang suruhan dari Putri Laura, William?” tanya Pangeran Kedua Illion dengan nada suara yang santai dengan kewaspadaan yang melemah.


“Benar,Yang Mulia. Dia membawa tanda yang kita berikan kepada Nyonya Countess sebagai tanda jika orang yang dikirim adalah orangnya!” ucap Viscount Balaguisse sambil memberikan kode kepada Adrian Lopez untuk menunjukkan Kartu Pelanggan VIP yang diberikan Pangeran Kedua Illion kepada Laura.


Adrian Lopez yang mengerti maksud dari Viscount Balaguisse pun menunjukkannya dengan senang hati lalu mengeluarkan surat yang diminta Laura untuk sampaikan.


“Maafkan atas kelancangan hamba Yang Mulia, ini adalah surat yang diminta oleh Yang Mulia Putri untuk diserahkan kepada anda!” ucap Adrian Lopez dengan tangan yang bergetar memegang surat dengan Cap Keluarga Count Vansfold.


Pangeran Kedua Illion yang melihat surat yang ditunjukkan untuknya pun membuka surat tersebut segera dan membaca isinya secara perlahan.


“Baca surat itu dan Bawa semua yang telah kau persiapkan sebelumnya kemari, William!” ucap Pangeran Kedua Illion dengan nada suara yang tegas.


Pangeran Kedua Illion yang melihat Adrian Lopez pun menjadi semakin penasaran tentang Laura yang menurutnya semakin hari semakin menarik.


“Apakah Tuanmu tidak mengatakan sesuatu yang lain tentangku?” tanya Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah yang canggung yang membuat Adrian Lopez mengkerutkan alisnya bingung.


“Hmmm, menanyakan pertanyaan seperti apakah aku akan datang di Pesta nanti?” tanya Pangeran Kedua Illion dengan nada suara yang terdengar malu.


“Agh, ti-tidak Yang Mulia. Tuanku tidak mengatakan apapun yang lain selain memintaku menyampaikan surat tersebut kepada Yang Mulia!” ucap Adrian Lopez dengan ekspresi wajah yang bingung.


“Hmmm, sungguh menyakitkan saat mengetahui bahwa kau akan dilihat hanya saat dibutuhkan!” ucap Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah yang sedih.


Viscount Balaguisse yang mendengar ******* panjangan Pangeran Kedua Illion pun menatap bingung.


“Yang Mulia, apa telah terjadi sesuatu?” tanya Viscount Balaguisse dengan ekspresi wajah yang bingung dengan nada suara yang terdengar penasaran.


“Aku baik-baik saja. Apakah kau sudah membawa semua yang aku perintahkan, William?” tanya Pangeran Kedua Illion yang langsung mengubah wajahnya menjadi dingin kembali.


“Tentu saja Yang Mulia. Semuanya telah ada di sini!” ucap Viscount Balaguisse sambil menyerahkan beberapa dokumen kepada Pangeran Kedua Illion.


“Ini adalah benda yang diinginkan oleh Tuanmu jadi kau harus segera menyerahkannya kepadanya dengan mempertaruhkan nyawamu. Ingatlah bahwa ini sangat rahasia dan tidak boleh ada siapapun yang boleh mengetahuinya!” ancam Pangeran Kedua Illion dengan mata yang tajam dan ekspresi wajah yang dingin.


“Saya akan memilih mati dan menghancurkan dokumen ini kepada orang lain selain Yang Mulia Tuan Putri!” ucap Adria Lopez dengan tekad yang kuat.


“Baiklah. Kau boleh pergi sekarang. William, antar dia pergi!” ucap Pangeran Kedua Illion dengan nada suara yang tegas.


Adrian Lopez yang ingat jika Laura pergi ke Ibukota dan tidak akan ada di Kediaman Count Vansfold sementara waktu pun menyadari bahwa dirinya tidak bisa kembali.


“Tuan Viscount, tunggu!” panggil Adrian Lopez dengan nada suara yang sedikit ditinggikan dengan ekspresi wajah yang sedikit takut.


“Hmmm, apakah Tuan bisa membantuku memberitau tempat dimana Yang Mulia Putri kemungkinan tinggal di Ibukota? Aku harus segera menyerahkan semua dokumen ini kepada Yang Mulia sesegera mungkin!” ucap Adrian Lopez dengan nada suara yang tegas.


Viscount Balaguisse yang mendengar permintaan Adrian Lopez yang sangat setia kepada Laura pun tersenyum puas.


"Tentu saja! Ikuti aku!" ucap Viscount Balaguisse dengan senyum yang lembut sambil berjalan terlebih dulu dengan diikuti Adrian Lopez dari belakang.


"Masuklah! Kusir akan mengantarmu ke tempat Count dan Countess Vansfold tinggal di Ibukota!" ucap Viscount Balaguisse dengan nada suara yang tegas dan ekspresi wajah yang serius.


Adrian Lopez yang mendapatkan kebaikan hati dari Viscount Balaguisse pun menundukkan kepalanya memberi salam perpisahan dan penghormatan.


Adrian Lopez yang duduk di dalam kereta kuda yang terlihat cukup tua tidak menyangka jika kereta kuda tersebut cukup nyaman dengan tempat duduk yang empuk.


Adrian Lopez yang penasaran dengan jalan yang dilewatinya pun membuka jendela kereta dan terus melihat pemandangan di luar.


"Apakah ini Ibukota? Ramai sekali!" gumam Adrian Lopez dengan ekspresi wajah tak percaya dengan mata yang terbuka lebar.


"Tentu saja karena saat ini Ibukota akan mengadakan Pesta untuk menyambut Kedatangan Pangeran Mahkota dari Kekaisaran Glorious jadi wajar saja jika Ibukota menjadi sangat ramai!" ucap Kesatria yang mengantar kepergian Adrian Lopez.


"Pangeran Mahkota! Jika itu yang dimaksud oleh Yang Mulia Putri maka aku harus segera menyampaikan ini tanpa diketahui siapapun ucap Adrian dalam hati.


#Bersambung#


Apakah Adrian bisa menyampaikan dokumen yang didapatkannya dari Pangeran Kedua Illion? Tunggu jawabannya di Bab selanjutnya ya..