The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 36. Surat Darurat



Raja Raymond yang mendapatkan surat dadakan dari Pangeran Mahkota Richard pun dengan cepat memanggil Putra Mahkota Lyod untuk menemuinya.


“Salam kepada Yang Mulia Raja Kerajaan Hentallius. Semoga Yang Mulia sehat selalu dan berjaya!” ucap Putra Mahkota Lyod dengan etika Kerajaan sambil menundukkan kepalanya di hadapan Raja.


Raja Raymod yang tidak ingin membuang waktunya lagi pun memberikan kode kepada Ajudannya untuk menyerahkan Surat yang diberikan oleh Pangeran Mahkota Richard.


“Serahkan surat itu padanya!” ucap Raja Raymond dengan suara yang datar dan tanpa ekspresi serta tatapan mata yang dingin.


Putra Mahkota Lyod yang melihat Segel yang ada di atas Surat pun dengan cepat membuka surat tersebut dengan hati-hati lalu membacanya dengan perlahan.


“Satu minggu lagi?” tanya Putra Mahkota Lyod dengan ekspresi wajah yang terkejut dengan mata yang melotot karena tidak percaya.


Raja Raymond yang tidak pernah melihat keberhasilan ataupun kemampuan Putra Mahkota Lyod selama ini pun memutuskan untuk memberikannya sebuah tes yang ringan.


“Tentu saja karenanya aku serahkan Perjanjian ini kepadamu Putra Mahkota Lyod! Tunjukkan kemampuanmu bahwa kau layak untuk menjadi Raja selanjutnya!” ucap Raja Raymond dengan nada suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang dingin.


“Apakah kau sanggup, Putra Mahkota?” tanya Raja Raymond dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan mata yang menunjukkan harapan yang tinggi.


“Tentu saja, Yang Mulia. Serahkan saja semuanya pada hamba. Hamba akan menunjukkan hasil yang memuaskan!” ucap Putra Mahkota dengan nada suara yang terdengar sangat percaya diri.


Putra Mahkota Lyod yang telah meninggalkan Ruang Pertemuan dengan Raja pun kembali ke Istananya lalu memanggil Ajudannya Kiel.


“Yang Mulia, apakah anda memanggil hamba?” tanya Ajudan Kiel dengan ekspresi wajah yang percaya diri sambil membenarkan kaca matanya yang miring.


“Apakah ada kabar dari Count Vansfold? Apakah dia bisa meyakinkan Istrinya untuk membantu Kerajaan Hentallius agar bisa melakukan kerjasama yang menguntungkan dengan Kekaisaran Glorious?” tanya Putra Mahkota Lyod dengan tatapan mata yang tajam.


“Maaf Yang Mulia hingga saat ini tidak ada kabar apapun dan melihat hubungan keduanya sepertinya sedang ada masalah Yang Mulia!” ucap Ajudan Kiel dengan nada suara yang datar.


Putra Mahkota yang mendapatkan tekanan dari Raja Raymond pun menjadi tidak tenang sehingga memutuskan untuk pergi ke Kediaman Count Vansfold tanpa pemberitahuan.


“Sial! Apa saja yang dilakukan anak itu? Kenapa dia bisa bertengkar dengan Istrinya disaat seperti ini!" ucap Putra Mahkota Lyod dengan ekspresi wajah yang kesal.


"Dasar manusia yang tidak berguna! Kita pergi ke Kediaman Count Vansfold sekarang!” ucap Putra Mahkota Lyod dengan ekspresi wajah yang dingin serta tatapan mata yang tajam.


"Baik, Yang Mulia!" ucap Ajudan Kiel dengan ekspresi wajah yang serius sambil menganggukkan kepalanya.


"Tunggu! " panggil Putra Mahkota Lyod kepada Ajudannya dengan ekspresi wajah yang datar karena tiba-tiba mengingat bahwa perjalanan ke Wilayah Count Vansfold bisa menghabiskan banyak waktu


“Kumpulkan Penyihir yang ada dibawah kita dan minta mereka untuk segera membuat Lingkaran Sihir Teleportasi. Aku ingin mempersingkat lamanya perjalanan!" ucap Putra Mahkota Lyod yang memberikan perintah kepada Ajudannya dengan suara yang tegas.


Ajudan Kiel yang mengerti maksud dari Putra Mahkota Lyod pun menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan.


Sementara itu, Evans yang sedang latihan di Ruang Pelatihan bersama beberapa Kesatria Keluarga Count Vansfold tiba-tiba mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan.


"Tuan Count! Ada surat datang dari Istana Putra Mahkota!" ucap George dengan ekspresi wajah yang datar.


"Putra Mahkota?" tanya Evans dengan ekspresi wajah yang bingung dengan alis yang mengkerut sambil memberikan pedangnya kepada Pelayan dan mengambil handuk untuk mengelap keringatnya.


"Benar, Tuan. Ini adalah suratnya!" ucap Geroge sambil memberikan selembar amplop dengan Lambang Segel Keluarga Kerajaan.


Evans yang penasaan dengan isi dari surat tersebut pun menyerahkan handuk yang ada di tangannya kepada Pelayan yang ternyata adalah Tatiana lalu mengusirnya pergi.


Evans yang tidak menyangka jika Putra Mahkota akan datang ke wilayahnya setelah membaca isi surat yang diberikan kepadanya pun menjadi sangat terkejut.


"George! Panggil Laura ke Ruanganku sekarang dan persiapkan kedatangan Yang Mulia Putra Mahkota ke Kediaman ini!" ucap Evans dengan suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang serius.


George yang mengeri pun menganggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan ruang latihan dan saat George ingin pergi menemui Laura, seorang pelayan datang padanya dengan wajah yang ketakutan.


"Ada apa? Apa telah terjadi sesuatu yang buruk?" tanya George dengan ekspresi wajah yang bingung dengan tatapan mata penasaran.


"Kepala Pelayan sebenarnya kami menemukan gelas pecah dan juga darah yang telah mengering lalu jejak kaki yang berdarah itu mengarah ke kamar Nyonya!" ucap Pelayan tersebut dengan ekspresi wajah yang takut.


George yang mendengar aduan itu pun menjadi teringat dengan perkataan Evans saat dirinya bangun pagi tadi pun merasa ini adalah sebuah bencana.


George yang tidak bisa percaya begitu saja dengan ucapan Pelayan pun pergi ke tempat kejadian dan melihat darah yang berbentuk kaki yang telah mengering ada di sepanjang jalan.


Lalu saat George sampai di tempat yang dikatakab George pun melihat pecahan gelas kaca yang hanya dipakai Bangsawan berserakan dimana-mana.


"Gawat! Sepertinya kaki Nyonya terluka semalam dan Tuan Count tidak mengetahuinya bahkan memarahinya!" ucap George dalam hati dengan ekspresi wajah yang pucat.


"Cepat panggilkan Dokter ke Kediaman sekarang ke Kamar Nyonya. Aku akan memberitau Tuan Count sekarang!" ucap Evans dengan ekspresi wajah terburu-buru.


George yang tak bisa membiarkan Evans melakukan kesalahan lagi pun berjalan dengan langkah panjang hingga akhirnya sampai di depan pintu Ruang Kerja Evans.


"Tuan Count, apakah saya boleh masuk?" tanya George dengan nada suara yang terburu-buru dengan ekspresi wajah yang khawatir.


"Masuklah! Ada apa? Apakah persiapannya telah selesai?" tanya Evans dengan ekspresi wajah yang penasaran.


"Belum, Tuan tapi ada sesuatu yang lebih darurat dari itu!" ucap George dengan ekspresi wajah yang serius yang membua Evans menjadi tegang.


"Tuan, sepertinya kaki Nyonya terluka terkena pecahan kaca karena ada bercak darah berbentuk kaki yang telah kering di tempat yang Tuan ceritakan padaku!" ucap George dengan ekspresi wajah yang serius.


Evans yang mendengar perkataan pun mengingat yang diucapkan Laura padanya semalam.


Evans yang merasa sangat bersalah pun segera berdiri untuk pergi menemui Laura yang terkurung di dalam kamarnya.


"George, panggil Dokter kemari! Kita harus memastikan bahwa Laura baik-baik saja!" ucap Evans dengan ekspresi wajah yang cemas.


Namun saat Evans dan George datang untuk menemui Laura, Rika yang berdiri di depan pintu menghentikan Evans dan George yang ingin masuk.


"Maafkan saya, Tuan. Anda tidak boleh masuk ke dalam. Nyonya meminta saya untuk tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam termasuk Tuan Count!" ucap Rika dengan suara yang lantang dengan ekspresi wajah yang serius.


Rika yang sengaja mengeraskan suaranya berharap Laura dan Master Noel dapat mendengarnya sehingga dapat dengan cepat bertindak.


"Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang telah berani melukai Yang Mulia Tuan Putri!" ucap Rika dalam hati dengan tatapan mata yang tajam.


#Bersambung#


Apakah Laura bisa bergerak membereskan semuanya sebelum Evans dan George masuk? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya..