
Pangeran Mahkota Richard yang telah mendapatkan kode bahwa dirinya harus segera ke Kediaman Count Vnsfold dengan cepat pergi bersama Ajudan Mies dan beberapa Kesatria serta Penyihir.
“Kita berangkat sekarang! Kita harus menghancurkan b***ngan itu hingga tak berdaya!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang serius.
Pangeran Mahkota Richard yang bergerak dengan kecepatan tinggi akhirnya sampai di Kediaman Count Vansfol lebih awal sepuluh menit.
“Selamat datang di Kediaman Count Vansfold, Yang Mulia Pangeran Mahkota Richard Rich Glorious!” ucap Gillian yang merupakan Ajudan Pribadi Evans dengan kepala tertunduk ke bawah dengan nada suara yang anggun.
Pangeran Mahkota Richard yang mendapatkan sambutan yang menurutnya hambar itu memasang ekspresi wajah yang serius.
Lalu saat Pangeran Mahkota Richard dipandu Gillian memasuki Kediaman tiba-tiba keduanya mendengar teriakan dari Laura yang sangat kecang.
“Aaarrgghhh! Aaaarrgghh! Aaarrgghhh!” teriak Laura dengan suara yang sangat keras hingga terdengar ke luar Kediaman.
Pangeran Mahkota Richard yang mendengar suara teriakan dari Laura menjadi sangat panik dan berniat menerobos masuk ke dalam tapi dihentikan oleh Gillian hingga akhirnya Mies memberikan kode kepada Kesatria Kekaisaran Glorious untuk menahan Gillian.
“Laura!” teriak Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang cemas dengan tatapan mata yang penasaran.
“Yang Mulia silahkan masuk. Saya yang akan mengurus yang ada di sini!” ucap Mies dengan ekspresi wajah yang percaya diri.
Pangeran Mahkota Richard yang ternyata sangat khawatir meskipun dirinya tau jika ini adalah akting dengan cepat berlari masuk ke dalam.
Pangeran Mahkota Richard yang tidak tau dimana Laura berada pun menoleh ke belakang ke arah Master Pontram dan memberikannya perintah.
“Cari tau keberadaan Laura di Kediaman ini dan bawa aku kesana segera!” teriak Pangeran Mahkota Ricahrd dengan suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang terburu-buru.
“Baik, Yang Mulia!” ucap Master Pontram dengan suara yang lantang dengan ekspresi wajah yang berubah serius dan dengan cepat mengeluarkan kekuatan sihirnya.
Sementara itu, Laura yang masih mengaktifkan Kekuatannya telah menyadari bahwa Pangeran Mahkota Richard telah sampai di Kediaman Count Vansfold dan akan segera sampai di tempatnya.
“Kakakku sudah sampai sekarang waktunya mengulus waktu dan membuat semuanya menjadi semakin menarik!” ucap Laura dalam hati di dalam pelukan Rika.
Evans dan Tatiana yang langsung terbangun dari tidurnya setelah mendengar teriakan dari Laura menjadi sangat terkejut dengan banyaknya orang di dalam kamarnya.
“Apa maksud semua ini? Keluar semuanya!” teriak Evans dengan suara yang lantang dengann ekspresi wajah yang marah.
Laura yang melihat bahwa Pelayan telah semakin banyak datang dan melihat pertunjukan yang akan dilakukannya pun tersenyum kecil.
Laura yang ingin membuat semuanya menjadi semakin seru dan menarik pun mengambil jus jeruk yang ada di dekatnya lalu menyiramkannya ke wajah Evans.
“Siapa yang ingin kau usir keluar? Dasar pria b****sek! Beraninya kau berselingkuh dengan pelayan rendahan ini!” teriak Laura dengan suara yang sangat keras lalu menampar wajah Tatiana yang masih belum sadar dari keterkejutannya.
Evans yang mendapatkan guyuran air di wajahnya dan melihat wanita tanpa busana di sampingnya pun menjadi sangat terkejut.
“Kau yang marah besar padaku dan melampiaskan semua kekesalanmu padaku karena Kakakku tidak mau menandatangani Perjanjian Kerjasama itu ternyata hanyalah sebuah alasan untuk menutupi kebusukanmu!” teriak Laura dengan suara yang sangat keras dengan ekspresi wajah yang marah dengan air mata yang terus mengalir sangat banyak lalu dengan cepat berlari kembali ke dalam pelukan Rika.
Evans yang akhirnya tersadar setelah mendengar perkataan Laura dan melihat George dan Rika melihatnya dengan ekspresi wajah yang tidak percaya pun menjadi semakin kacau.
“Sial! Apa yang sebenarnya telah terjadi?” gumam Evans dengan suara yang rendah dengan ekspresi wajah yang kesal.
“Agh! Kepalaku sakit sekali! Aku bahkan tidak bisa mengingat dengan jelas yang telah terjadi semalam dan bagaimana ini bisa terjadi!” ucap Evans dalam hati dengan kepala tertunduk ke bawah dengan ekspresi wajah yang bingung.
Evans yang menyadari bahwa dirinya telah salah meniduri wanita lain semalam dengan cepat memanggil Kesatria untuk mengusir Tatiana dari hadapannya.
Kesatria yang awalnya hanya diam melihat pertunjukan perselingkuhan Evans di depan matanya dengan cepat bergerak menarik paksa Tatiana yang tidak berbusa keluar.
Tatiana yang tak ingin tinggal dan mati di dalam Ruang Bawah Tanah dengan cepat melarikan diri dan berlutut di lantai di hadapan Laura dengan selimut yang melilit di sekujur tubuhnya.
Tatiana yang tak ingin menjadi korban yang tak berdaya seperti saat P*mer*k*saan yang dilakukan Baron Venon padanya pun dengan cepat membela dirinya dan mencoba menyelamatkan nyawanya.
“Tidak! Tolong jangan bawa hamba ke Ruang Bawah Tanah! Hamba tidak bersalah dan Tuan Count lah yang telah memaksa saya!” teriak Tatiana dengan suara yang lantang dengan ekspresi wajah yang ketakutan.
“Tu-Tuan Count yang mabuk salah menilai saya dan memaksa saya untuk melayaninya! Sungguh saya hanyalah korban!” ucap Tatiana dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir di saat bersamaan.
Laura yang mendengar perkataan Tatiana pun melepaskan diri dari pelukan Rika lalu berbalik arah dan berjalan ke arah Tatiana.
“Memaksamu melayaninya! Apa kau pikir aku bodoh? Bagaimana itu bisa terjadi jika kau tidak menyelinap masuk ke dalam kamar Evans?” teriak Laura dengan suara yang sangat marah dengan tatapan mata yang tajam.
“Dasar Pelayan rendahan beraninya kau meletakkan matamu kepada Tuanmu!” teriak Laura dan dengan cepat melayangkan tamparan kembali ke pipi Tatiana lainnya.
Laura yang tak ingin kesalahan Evans berlalu begitu saja setelah dirinya melampiaskan kemarahannya kepada Tatiana kemudian mengalihkan pandangannya.
“Kau selalu cuek dan tidak peduli kepadaku meski apapun yang telah aku lakukan untukmu! Kau adalah pria yang sangat tidak tau rasa bersyukur, Tuan Count Evans Vansfold!” ucap Laura dengan mata yang tajam dengan ekspresi wajah yang dingin.
Tak lama setelah Laura mengatakan itu, Pangeran Mahkota Richard yang tiba-tiba muncul di hadapan Laura menjadi sangat terkejut dengan semua yang ada di depan matanya.
“Apa maksud semua ini? Tuan Count Vansfold, anda berhutang penjelasan kepada Keluarga Kekaisaran Glorious!” teriak Pangeran Mahkota Richard dengan suara yang lantang dan tegas dengan tatapan mata yang tajam.
“Kakak!” teriak Laura yang dengan cepat berlari ke arah Pangeran Mahkota Richard dan memeluknya dengan sangat erat.
“Tenanglah, Laura. Kakak ada di sini dan Kakak tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian!” tucap Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi dingin dengan niat membunuh yang kuat.
Evans yang terkejut saat melihat kedatangan Pangeran Mahkota Richard di Kediamannya di saat yang sangat tidak tepat dengan cepat turun dari tempat tidur dan menjelaskan semuanya kepada Laura.
“La-Laura tenanglah. I-ini hanyalah sebuah kesalahpahaman. Wanita itu yang telah menggodaku. Aku sungguh tidak tau jika itu dirinya. Aku pikir malam itu aku sedang bersamamu!” ucap Evans dengan suara yang gagap dengan ekspresi wajah yang sangat gugup.
Laura yang tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun dari Evans karena sudah mengetahui kebenarannya pun melanjutkan rencananya.
“Kau tidak perlu menjelaskan apapun lagi! Kata-kata yang kau ucapkan kemarin setelah pulang dari Istana dan perbutanmu pagi ini sudah menjelaskan semuanya!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang serius dan nada suara yang tegas.
“Aku inginkan perceraian! Aku ingin kita bercerai, Tuan Count Evans Vansfold!” ucap Laura dengan tekad yang sangat kuat dan tatapan mata yang tajam.
“A-apa? Bercerai? Tidak! Laura tolong pikirkan lagi keputusanmu!” ucap Evans dengan ekspresi wajah yang terkejut.
Evans yang mendengar perkataan Laura menjadi sangat panik dan dengan cepat ingin memegang tangan Laura untuk meminta maaf tapi dihentikan oleh Kesatria Kekaisaran Glorious yang telah berada di samping Pangeran Mahkota Richard.
“Kakak! Tolong bawa aku pergi dari sini! Aku tidak mau tinggal di sini lebih lama lagi!” ucap Laura sambil memalingkan wajahnya dari Evans.
“Kau tidak perlu memintanya karena Kakak pasti akan membawamu pergi dari sini! Kakak dan seluruh orang-orang dari Kekaisaran Glorious akan berada di sisimu hingga kau mendapatkan keadilanmu!” ucap Pangeran Mahkota Glorious dengan suara yang tegas yang membuat seluruh tubuh Evans kehilangan keseimbangannya.
#Bersambung#
Bagaimana nasib Evans dan Tatiana selanjutnya? Apakah Laura akan mendapatkan keinginannya untuk bercerai dari Evans? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya...