
Laura yang sudah menunggu kedatangan Putra Mahkota Lyod pun terduduk di atas tempat tidurnya dengan satu kaki yang diperban dengan detak jantung yang berdetak sangat cepat.
“Permainan akan segera dimulai! Ayo kita lihat siapa yang akan menang aku atau Evans?” tanya Laura dalam hati dengan senyum yang misterius.
Putra Mahkota Lyod memasuki kamar tempat Laura terbaring bersama Evans pun melihat Laura yang pura-pura tertidur di atas tempat tidurnya.
Laura yang bisa menyadari bahwa Putra Mahkota Lyod dan Evans telah ada di dalam kamarnya pun berpura-pura terbangun.
“Agh! Ya-Yang Mulia Putra Mahkota!” ucap Laura dengan suara yang gagap dengan ekspresi wajah yang terkejut.
“Salam kepada Masa Depan Kerajaan Hentallius. Semoga Yang Mulia selalu sehat dan sejahtera!” ucap Laura yang langsung mengucapkan salam kepada Putra Mahkota Lyod.
“Nyonya, anda terlalu sungkan! Anda tidak perlu bicara seperti itu padaku!” ucap Putra Mahkota Lyod dengan nada suara yang ramah dan ekspresi wajah yang bersahabat.
Putra Mahkota Lyod yang melihat luka yang ada di kaki Laura pun menjadi sangat penasaran dan mengalihkan pandangannya ke arah Evans yang ternyata langsung mengarahkan pandangannya ke arah lain.
“Darah merah yang terlihat di perban itu seperti baru saja terjadi! Apakah Laura tiba-tiba terluka atau ada orang lain yang menyebabkannya?” tanya Putra Mahkota dalam hati dengan tatapan mata yang penasaran.
Putra Mahkota Lyod yang penasaran dengan kondisi Laura saat ini pun memutuskan bertanya yang ternyata sudah ditunggu oleh Laura sejak awal.
"Hah, apa yang terjadi? Kenapa Countess Vansfold bisa terluka seperti ini? Jika Pangeran Mahkota dari Kekaisaran Glorious datang dan melihat ini maka Perjanjian yang aku harapkan akan berjalan lancar akan hancur berkeping-keping!" ucap Putra Mahkota Lyod dalam hati dengan wajah tanpa ekspresi.
"Maafkan atas kelancangan saya, Nyonya bolehkah saya tau yang terjadi pada kaki anda?" tanya Putra Mahkota Lyod dengan ekspresi wajah yang penasaran.
"Agh, saya terkena pecahan gelas yang tak sengaja saya jatuhkan karena terkejut, Yang Mulia. Mohon maafkan saya yang telah menunjukkan hal yang buruk kepada anda!" ucap Laura dengan senyum yang lembut sambil melirikkan matanya ke arah Evans untuk satu kalimat awal dari ucapannya.
"Nyonya tidak perlu terlalu sungkan. Bukankah Nyonya sudah menjadi bagian dari Kerajaan Hentallius jadi Nyonya tidak perlu merasa asing disini!" ucap Putra Mahkota Lyod dengan nada suara yang lembut dan senyum yang ramah.
"Hmmm, saya menjadi sangat senang mendengarnya Yang Mulia." jawab Laura dengan sikap yang wajar.
Putra Mahkota Lyod yang penasaran dengan waktu kesembuhan Laura dan bisa tidaknya Laura membantunya dalam Perjanjian itu pun tidak menunggu Laporan dari Evans.
"Luka Nyonya terlihat sangat dalam, saya hanya ingin tau apakah Nyonya akan hadir di Acara Penyambutan Utusan dari Kekaisaran Glorious!" ucap Putra Mahkota Lyod dengan ekspresi wajah yang penasaran.
"Hmmm, jika mengikuti dari yang diucapkan Dokter maka saya akan bisa sembuh total sekitar sepuluh hari lagi, Yang Mulia!" ucap Laura dengan senyum yang pahit.
"Maafkan saya Yang Mulia sepertinya saya akan melewatkan Pesta tersebut! Saya tidak bisa datang untuk menyambut kedatangan Pangeran Mahkota Richard!" ucap Laura dengan nada suara yang tegas dengan penuh keyakinan.
"Dan saya pun sedang dalam masalah sekarang. Saya mendapatka larangan keluar dari kamar ini selama sebula oleh Tuan Count jadi dapat dipastikan saya tetap tidak akan datang meskipun ada kemungkinan luka saya bisa sembuh lebih cepat!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang serius sambil melirikkan matanya ke arah Evans.
Evans yang mendapatka tatapan mata yang tajam dari Putra Mahkota Lyod pun tak bisa mengatakan apapun dan hanya bisa diam menerima semuanya.
"Sial! Kenapa Laura sampai mengatakan hal seperti ini di hadapan Yang Mulia Putra Mahkota? Aku sangat yakin jika Laura sengaja melakukannya karena ingin membalas dendam dengan yang terjadi padanya saaat ini!" ucap Evans dalam hati dengan ekspresi wajah yang marah.
Putra Mahkota yang sudah bisa menebaknya pun menanyakan tujuan kedatangannya ke Kediaman Count Vansfold secara mendadak.
"Saya harap Nyonya dapat datang ke Ibukota setelah kondisi Nyonya lebih baik karena sepertinya Pangeran Mahkota Richard pasti akan sangat senang bisa melihat Nyonya!" ucap Putra Mahkota Lyod dengan senyum yang lembut.
"Hmmm, benarkah? Saya pun ikut senang jika seperti itu, Yang Mulia." ucap Laura dengan ekspresi wajah yang bahagia dan senyum yang ceria.
"Tentu saja dan saya harap saat Nyonya bertemu dengan Pangeran Mahkota Richard bisakah Nyonya meminta Pangeran Mahkota Richard untuk mempertimbangkan tentang Kerjasama dengan Kerajaan Hentallius?" tanya Putra Mahkota Lyod dengan tatapan mata yang penuh harap dengan ekspresi wajah yang sangat lembut.
"Hmmm, saya khawatir saya akan mengecewakan Yang Mulia. Seperti yang telah Yang Mulia katakan bahwa saya sekarang adalah bagian dari Kerajaan Hentallius dan akan sangat sulit bagiku meminta Pangeran Mahkota dari Kekaisaran besar melakukan yang aku katakan!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang sedih.
Putra Mahkota Lyod yang mendengar perkataan Laura pun menjadi sangat kesal sehingga memutuskan untuk langsung keluar dari kamar Laura tanpa mengatakan apapun.
Laura yang melihat Putra Mahkota Lyod menunjukkan wajah yang kesal dengan diikuti Evans di belakangnya sambil memasang wajah yang takut membuat Laura menjadi sangat senang.
"Ini sangat menyenangkan. Tidak disangka ternyata melihat wajah orang-orang yang dibenci berubah seperti itu pun membuatku sangat puas!" gumam Laura dengan senyum yang lebar.
Laura yang tak ingin duduk diam di atas tempat tidurnya pun menggunakan Kekuatan Anginnya dan mencari keberadaan Putra Mahkota Lyod dan Evans lalu mencoba mendegarkan pembicaraan keduanya.
Putra Mahkota Lyod yang dibawa ke Ruang Kerja langsung melemparkan cangkir teh yang dituangkan Pelayan untuknya ke hadapan Evans.
Putra Mahkota Lyod yang tidak bisa melampiaskan amarahnya kepada Laura pun memutuskan untuk meluapkannya kepada Evans.
"Apakah kau sudah kehilangan akalmu? Apa yang telah kau lakukan sehingga Laura terluka seperti itu kakinya?" tanya Putra Mahkota Lyod dengan ekspresi wajah yang kesal.
"Apakah kau tidak mengundang Pendeta untuk menyembuhkan kakinya daripada memberikannya Seorang Dokter?" tanya Putra Mahkota Lyod dengan suara yang tinggi.
"Apakah hidup dalam kemewahan telah membuatmu lupa siapa dirimu sebenarnya dan melupakan latar belakang Laura sebenarnya?" sindir Putra Mahkota Lyod dengan mata yang tajam.
"Jika Laura tidak datang di Acara Pesta Penyambutan dan menolak membujuk Pangeran Mahkota Richard untuk setuju dengan Perjanjian Kerjasama ini maka aku akan mencabut Statusmu sebagai Komandan Kesatria Suci dan memberikannya kepada orang lain!" ucap Putra Mahkota Lyod dengan nada suara yang tinggi.
Evans yang tidak bisa menjawab semua yang dikatakan Putra Mahkota Lyod hanya bisa menahan semua penghinaan itu.
Putra Mahkota Lyod yang tak tahan ada di Kediaman Vansfold pun langsung kembali ke Istana Kerajaan.
Evans yang ditinggal sendirian di dalam Ruang Kerjanya pun melampiaskan kemarahannya dengan melemparkan semua dokumen yang ada di atas meja kerjanya.
“Sial! Aku tidak akan pernah kehilangan semua yang telah aku miliki! Aku akan membuat Laura menyetujui permintaan Putra Mahkota dan mengamankan Posisiku!” ucap Evans dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan mata yang tajam.
Sementara itu, Laura yang mendengarkan semua perbincangan antara Putra Mahkota Lyod dan Evans pun menjadi sangat senang.
“Jika aku tidak mau membantu maka kau akan kehilangan jabatanmu maka aku tentu saja tidak akan pernah membantu!” ucap Laura dengan suara yang tegas dengan tekad yang kuat di sorot matanya.
#Bersambung#
Apa yang akan dilakukan Evans untuk bisa membuat Laura menyetujui Permintaan itu? lalu apa rencana Laura untuk menghancurkan Karir Evans? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya...