
Laura yang menikmati Festival Jalanan bersama Pangeran Kedua Illion pun berjalan di tengah ramainya Rakyat Kerajaan Hentallius.
Laura dan Pangeran Kedua Illion yang berpakaian sederhana pun berhasil menipu orang-orang untuk tidak mengenali identitas aslinya.
"Disini sangat ramai seolah tidak ada yang peduli akan eksekusi Permaisuri dan Kediaman Duke Sevantei!" ucap Laura dengan ekpsresi wajah yang datar.
"Kau benar dan aku pun tidak peduli dengan hal itu! Lagipula menurut Rakyat Kerajaan ini apapun yang terjadi pada Keluarga Kerajaan ataupun Bangsawan tak akan memberikan keuntungan apapun pada mereka!" ucap Pangeran Kedua Illion sambil tersenyum pahit.
Laura yang melihat wajah Pangeran Kedua Illion yang seperti itu pun menundukkan kepalanya lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Namun, di saat Laura sedang merenungi yang telah terjadi dan semua yang telah dilakukannya untuk membalas dendam secara tak terduga Pangeran Kedua Illion memberikan Laura sesuatu.
“Ambillah! Ini enak sekali! Ini dingin dan juga manis! Kau harus segera menghabiskannya atau ini akan segera meleleh!” ucap Pangeran Kedua Illion yang memegang es krim berwarna putih dengan kedua tangannya.
Laura yang tak pernah melihat makanan yang dibawa oleh Pangeran Kedua Illion pun mengambilnya dan mencoba makanan tersebut.
“Hmmm, ini dingin sekali tapi enak!” ucap Laura dengan wajah yang bahagia dan senyum yang lebar.
“Aku sudah katakan padamu dan makanan ini sangat cocok di saat kau sedang sedih atau banyak pikiran!” ucap Pangeran Kedua Illion dengan senyum yang lembut.
“Agh, ayo kesana. Disana ada kursi kosong. Kita bisa melihat kembang api disana!” ucap Pangeran Kedua Illion sambil menarik tangan Laura dengan wajah yang ceria.
Pangeran Kedua Illion yang telah mengalami banyak hal buruk karena Mantan Putra Mahkota dan Permaisuri Ericka pun mendapatkan pesan dari semua yang terjadi.
“Rakyat mungkin tidak terlalu peduli dengan yang terjadi pada Keluarga Kerajaan tapi Keluarga Kerajaan ada karena Rakyat dan tanpa mereka maka tak akan ada Keluarga Kerajaan!” ucap Pangeran Kedua Illion dengan senyum yang lembut.
“Jadi yang bisa kita lakukan hanyalah melakukan tugas kita dengan baik dan hidup dengan bahagia!” ucap Pangeran Kedua Illion sambil menatap Laura dengan tatapan penuh cinta.
Laura yang menyadari maksud dari ucapan Pangeran Kedua Illion pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum lembut.
Pangeran Kedua Illion yang terpesona dengan senyum manis dan cantik di wajah Laura pun memalingkan wajahnya yang berubah menjadi merah.
“Hmmm, setelah semua yang terjadi. Apa yang ingin kau lakukan selanjutnya? Apakah kau akan tetap tinggal di Kerajaan Hentallius?” tanya Pangeran Kedua Illion yang telah mengendalikan perasaannya.
“Aku ingin kembali ke Kekaisaran Glorious. Aku ingin mengganti waktu satu tahun terakhir saat aku menikah untuk bersama Ayah dan Kakak!” ucap Laura dengan wajah yang bahagia.
“Aku ingin membalas rasa sayang mereka yang tulus padaku selama ini untuk menjadi Putri dan Adik Perempuan yang baik!” ucap Laura dengan senyum yang lembut.
Pangeran kedua Illion yang mendengar perkataan Laura pun terdiam dan tanpa sadar wajah sedih itu pun muncul.
“Apakah kau tidak akan kembali lagi kemari meskipun jika aku menunggumu disini?” tanya Pangeran Kedua Illion dengan tatapan mata yang sedih yang membuat Laura terkejut.
“Aku tau kau baru mengalami hal yang sulit dan mungkin tak percaya akan cinta sejati tapi bisakah kau membuka hatimu untukku sedikit saja?” tanya Pangeran Kedua Illion dengan tatapan mata yang penuh ketulusan.
“Jika kau bersedia, aku pun rela meninggalkan posisiku ini dan tinggal bersamamu di Kekaisaran Glorious karena tak ada yang lebih penting bagiku selain dirimu!” ucap Pangeran Kedua Illion yang duduk berlutut di hadapan Laura.
Laura yang kebingungan dengan pernyataan cinta yang mendadak yang dilakukan oleh Pangeran Kedua Illion padanya pun membeku di tempatnya.
Lalu secara tak terduga, sebuah kembang api yang sangat besar muncul di atas langit malam yang membuat malam itu menjadi sangat indah.
Laura yang terbius dengan wajah tampan Pangeran Kedua Illion dan keindahan kembang api di malam hari membuat wajah Laura pun menjadi memerah hingga harus memalingkan wajahnya ke arah lain.
Keesokan paginya, Laura yang terbangun dari tidunya langsung berteriak sangat kencang karena mengingat kejadian pada malam sebelumnya yang membuat Rika berlari ketakutan.
“Yang Mulia! Ada apa Yang Mulia? Apakah ada pembunuh yang datang?” tanya Rika dengan nada suara yang terburu-buru dengan wajah yang panik sambil memegang vas bunga yang cukup berat di tangannya.
“A-a-aku baik-baik saja. Tidak ada pembunuh yang datang untuk menyerang. A-aku hanya bermimpi buruk!” ucap Laura dengan wajah yang canggung dengan senyum yang kaku.
“Yang Mulia, hari ini adalah hari dimana Permaisuri Ericka dieksekusi dan dihukum gantung karena telah mencelakai Yang Mulia Raja!” ucap Rika yang mencoba mengingatkan kejadian penting hari itu.
“Kau benar. Aku harus fokus!” ucap Laura yang mengubah wajahnya menjadi serius dan menghilangkan wajahnya yang memerah karena masih mengingat sekilas pernyataan cinta dari Pangeran Kedua Illion padanya.
Laura yang mengingat rencana terakhirnya sebelum menyelesaikan Duke Balmon pun memanggil Master Noel.
“Katakan perintah anda, Yang Mulia!” ucap Master Noel yang mencul di hadapan Laura dengan sikap yang patuh sambil menundukkan kepalanya.
“Aku ingin kau melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Aku ingin Duke Balmon menyaksikan kematian dari Ibu yang sangat mencintainya dan juga Keluarga dari Pihak Ibunya serta respon Rakyat Kerajaan Hentallius tentang hal ini!” ucap Laura dengan suara yang tegas.
“Baik, Yang Mulia! Saya akan melakukannya dengan sangat baik!” ucap Master Noel dengan ekspresi wajah yang serius lalu menghilang dalam hitunga detik.
Laura yang telah siap pun menaiki kereta kudanya dan menempati tempat duduk yang telah disiapkan oleh Pangeran Kedua Illion khusus untuk menyaksikan Permaisuri Ericka meregang nyawanya.
Permaisuri Ericka yang selama ini selalu memakai gaun yang mewah dengan perhiasan yang indah dan mahal pun datang dengan menggunakan kereta kayu yang telah lapuk dengan pakaian yang lusuh dan kotor.
Rakyat Kerajaan Hentallius yang mengutuk perbuatan tidak terpuji dari Permaisuri Ericka yang telah meracuni Raja mereka pun mengeluarkan kata-kata kasar untuk dirinya dan Duke Balmon serta melempari dirinya dengan buah dan sayuran yang busuk.
“Dasar wanita tidak tau diri! Beraninya kau mencelakai Yang Mulia Raja!”
“Perbuatanmu ini sama buruknya dengan Putramu yang telah membuat Kerajaan ini hampir berperang!”
“Ibu dan Anak sama saja! Sama-sama si*lan dan tak tau malu!”
“Bunuh saja Pemberontak ini!”
“Gantung! Gantung! Gantung!”
Permaisuri Ericka yang tidak pernah merasakan penghinaan seperti ini seumur hidupnya pun menjadi sangat sedih dan takut di saat bersamaan tapi tak bisa melakukan apapun dan hanya bisa melindungi dirinya dari lemparan buah dan sayuran busuk.
Duke Balmon yang terkurung di dalam Penjara Bawah Tanah yang melihat Ibu dan Kakeknya serta semua orang yang selama ini sayang padanya dihina seperti itu pun menjadi sangat marah.
“Lepaskan aku! Lepaskan! Apa yang telah kalian lakukan pada Ibu dan Kakekku? Aku akan membunuh kalian semua! Dasar Rakyat Kerajaan yang bodoh dan bau!” teriak Duke Balmon dengan suara yang lantang dengan mata yang melotot tajam.
Duke Balmon yang melihat Permaisuri Ericka dan Duke Sevantei diikat di atas tiang gantung pun menjadi sangat sedih dan frustasi.
“Tidak! Jangan lakukan itu! Ibu....! Kakek...!” ucap Duke Balmon dengan suara yang lantang dengan tubuh yang terikat dengan sangat kuat dengan sihir pun tak bisa melakukan apapun untuk menolong.
“Tidak! Jangan siksa Ibuku lagi...! Ibu....” teriak Duke Balmon dengan suara yang sangat keras dengan air mata yang pada akhirnya jatuh dari pelupuk mata Duke Balmon.
Duke Balmon yang juga melihat semua orang dari Istan Permaisuri dan Kediaman Duke Sevatei terikat dan dip*nggal kepalanya satu per satu oleh Algojo membuat Duke Balmon menjadi sangat lemas dan kehilangan harapan hidupnya.
“Aaaarrggghhhh! Tidak!” teriak Duke Balmon dengan suara yang lantang dengan mata dan mulut yang terbuka lebar serta wajah yang sangat terpukul penuh dengan penyesalan.
Sementara itu, Laura yang sudah bisa memprediksi reaksi yang akan dilakukan oleh Duke Balmon pun tersenyum puas.
“Pertunjukan utamanya telah berakhir. Saatnya kita kembali Rika!” ucap Laura dengan nada suara yang datar dan tatapan mata yang tajam.
“Baik, Yang Mulia!” ucap Rika dengan sangat patuh lalu berjalan di belakang Laura dengan kepala terangkat ke atas.
#Bersambung#
Apa jawaban yang akan diberikan oleh Laura kepada Pangeran Kedua Illion? Akankah Pangeran Kedua Illion sungguh ingin melepaskan semua yang dimilikinya saat ini demi Laura? Kematian seperti apa yang akan diterima oleh Duke Balmon nantinya? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...