The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 106. Posisi Diturunkan



Raja Jonathan IV yang tak bisa mengambil resiko dengan membahayakan nyawa seluruh Rakyat Kerajaannya hanya karena rasa sayangnya pada Putranya itu pun memanggil Ajudannya.


"Bacakan Titahku ke seluruh Kerajaan. Aku ingin semuanya mengetahui masalah ini." ucap Raja Jonathan IV dengan ekspresi wajah yang serius.


"Aku, Raja Jonathan Carls Hentallius IV, memberikan titahku bahwa Pangeran Mahkota Lyod Breio Hentallius diturunkan posisinya menjadi Duke Balmon dan tidak terikat dengan Keluarga Kerajaan lagi!" ucap Raja Jonathan IV dengan suara yang tegas.


Tepat setelah titah itu diucapkan Ajudan yang mendapatkan amanah segera pergi dan menyampaikan pengumuman itu ke seluruh tempat hingga membuat Ibukota menjadi gempar.


Permaisuri Ericka yang mendengar berita bahwa Putra satu-satunya diturunkan posisinya sebagai Penerus Raja di garis pertama tak tinggal diam dan pergi menemui Raja Jonathan IV.


"Buka pintunya! Aku ingin bertemu dengan Yang Mulia Raja!" ucap Permaisuri Ericka dengan suara yang keras dengan ekspresi wajah yang tidak sabaran.


"Maafkan hamba Yang Mulia Permaisuri tapi Yang Mulia Raja memberikan perintah untuk tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam tanpa terkecuali!" ucap Ajudan Harold dengan suara yang sangat sopan dengan ekspresi wajah yang cemas.


“Beraninya kau menghalangiku! Aku adalah Permaisuri Kerajaan ini. Apakah kau ingin kepalamu melayang?” tanya Permaisuri Ericka dengan ekspresi wajah yang marah dan nada suara yang tinggi.


Di saat suasana dan keadaan di luar ruangan memanas, Raja Jonathan IV yang berpikir jika hal ini tak bisa ditunda pun memberikan keputusannya.


“Biarkan Permaisuri masuk!” ucap Raja Jonathan IV dengan suara yang datar dengan wajah yag dingin.


“Baik, Yang Mulia!” jawab Ajudan Harold dengan segera lalu membuka pintu agar Permaisuri Ericka bisa masuk dan menahan Pelayan Pribadinya di luar ruangan.


Permaisuri Ericka yang memberikan kode kepada Pelayannya untuk menunggu di luar pun masuk ke dalam dengan ekspresi wajah yang datar.


“Salam kepada Yang Mulia Raja. Semoga Yang Mulia selalu sehat dan sejahtera!” ucap Permaisuri Ericka dengan sopan lalu mengangkat kepalanya lagi dan menatap lurus ke depan.


Permaisuri Ericka yang melihat Raja Jonathan tidak mengatakan apapun dan hanya duduk diam fokus pada lembaran-lembaran berkas yang ada di hadapannya membuat Permaisuri Ericka kesal.


“Yang Mulia, kenapa anda melakukan ini? Bagaimana anda bisa sekejam itu kepada Putra kita?” tanya Permaisuri Ericka dengan suara yang tinggi dengan ekspresi wajah yang sedih dengan mata yang berkaca-kaca.


“Melakukan apa? Apa maksud ucapanmu Permaisuri?” tanya Raja Jonathan IV dengan ekspresi wajah yang dingin lalu menghentikan pekerjaannya.


“Yang Mulia kenapa kau menurunkan Putra Mahkota dari posisinya dan menghilangkan statusnya sebagai Keluarga Kerajaan?” tanya Permaisuri Ericka dengan tatapan mata yang tajam.


“Apakah ini semua karena desakan dari Pangeran Mahkota Richard dari Kekaisaran Glorious?” tanya Permaisuri Ericka lagi dengan ekspresi wajah yang penasaran.


“Kenapa Yang Mulia diam saja? Kenapa Yang Mulia lebih memilih mengorbankan Putra kita hanya untuk menyenangkan Pangeran dari Kekaisaran lain? Kenapa tidak kita serang saja mereka?” tanya Permaisuri Ericka dengan suara yang lantang dengan ekspresi wajah yang kesal.


Tepat setelah niat buruk diucapkan, Raja Jonathan IV yang telah beranjak berdiri meninggalkan kursinya langsung melayangkan tamparan keras ke wajah Permaisuri Ericka hingga membuat Permaisuri Ericka terjatuh ke lantai.


“Apakah kau masih pantas disebut Permisuri Kerajaan Hentallius? Kau lebih memikirkan perasaan Putramu yang tidak berguna itu daripada nasib Rakyatmu di masa depan!” teriak Raja Jonathan IV dengan suara yang lantang.


“Apa kau tidak tau akibat yang ditimbulkan dari Perang? Apakah kau ingin Kerajaan ini mengalami krisis lagi setelah beberapa tahun kita terbebas dari Perang dengan Kerajaan lain?” sindir Raja Jonathan dengan tatapan mata yang tajam dan mengintimidasi.


“Apakah kau pikir Kerajaan kita bisa menang melawan Kekaisaran Glorious yang terkenal sebagai Kekaisaran terkuat di seluruh Daratan?” tanya Raja Jonathan IV yang membungkukkan tubuhnya sambil memegang dagu Permaisuri Ericka dengan keras.


“Jika Perang terjadi maka orang yang akan aku kirim ke Medan Perang adalah Putramu dan anak buahnya. Apakah kau ingin melihat Putramu kembali ke Kerajaan dalam kondisi membeku menjadi mayat, Permaisuriku?” tanya Raja Jonathan IV dengan penekanan di akhir kalimat.


Permaisuri Ericka yang sangat mencintai Putra Mahkota Lyod tidak pernah bisa membayangkan melihat mayat Putra yang sangat disayanginya terbaring di hadapannya sehingga Permaisuri Ericka yang tak bisa bicara apapun lagi pun terdiam di tempatnya.


Raja Jonathan IV tau jika kata-katanya sangatlah kasar dan bisa membuat Permaisuri Ericka dalam trauma tapi Raja Jonathan IV yang tak ingin hal buruk terjadi pada Keluarga dan Rakyatnya pun harus menjadi kejam.


“Harold! Kirim Permaisuri kembali ke Istananya dan jangan biarkan siapapun datang menemuiku!” ucap Raja Jonathan IV dengan suara yang tegas.


Ajudan Harold yang melihat Permaisuri Ericka terduduk dalam keadaan yang sangat memprihatinkan pun mempersilahkan Pelayan yang datang bersama Permaisuri Ericka membantunya berdiri dan kembali ke Istananya.


Raja Jonathan yang sangat lelah dengan semua yang terjadi secara tiba-tiba pun menutup semua akses bagi siapapun untuk bertemu dengannya.


Sementara itu, Evans yang mengetahui bahwa Aset Kekayaan miliknya telah berkurang drastis menjadi sangat terkejut dan terpukul.


“Apa maksudmu dengan tiga perempat Aset Kekayaan kita telah dibawa kembali oleh Laura?” tanya Evans dengan ekspresi wajah yang tak percaya.


“Benar, Tuan Count. Sepertinya saat ini kita hanya bisa memenuhi kebutuhan dengan mengandalkan Pajak dari Wilayah yang tersisa dan Bisnis Barang Impor dan Ekspor yang kita lakukan dengan Kerajaan Croisen!” ucap Ajudan Gallian dengan ekspresi wajah yang serius.


“Bisnis Barang Impor? Kerajaan Croisen?” ucap Evans lagi yang mengulangi kata-kata Ajudan Gillian yang tiba-tiba melupakan hal penting.


“Agh! Aku hampir melupakannya. Kau benar! Kita masih ada kesempatan untuk bangkit! Jika kita berhasil melakukan Bisnis Barang Impor dan Ekspor dengan Kerajaan Croisen maka kita bisa melewati krisis ini!” ucap Evans yang kemudian menjadi semangat kembali.


“Jika seperti itu maka laksanakan perintahku untuk segera mempersiapkan semuanya! Kita harus berhasil mengirim barang-barang dari Kerajaan kita ke Kerajaan Croisen dan mendapatkan banyak sekali keberuntungan!” ucap Evans dengan wajah yang ceria.


Namun kebahagiaan dan keceriaan itu bertahan lama, George yang mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan pun meminta izin masuk.


“Tuan Count! Ada berita darurat! Apakah saya boleh masuk?” tanya George setelah mengetuk pintu beberapa kali dengan suara yang sopan.


“Masuklah! Ada apa?” tanya Evans dengan ekspresi wajah yang tidak sabaran dengan tatapan mata yang tidak senang.


“Yang Mulia Raja telah mengeluarkan titah baru. Yang Mulia Raja telah menurunkan Yang Mulia Putra Mahkota Lyod Breio Hentallius dari posisinya sebagai Putra Mahkota menjadi Duke Balmon!” ucap George dengan ekspresi wajah yang serius dengan nada suara yang terdengar buru-buru.


“Tak hanya itu, Yang Mulia Putra Mahkota Lyod pun dikeluarkan namanya dari Keluarga Kerajaan sehingga Yang Mulia Putra Mahkota Lyod harus segera keluar dari Istana setelah pengumuman ini disampaikan!” ucap George dengan nafas yang tidak teratur.


Evans yang menumpuhkan kehidupannya pada status Putra Mahkota Lyod sebagai Raja Kerajaan Hentallius di masa depan menjadi sangat terkejut dengan perubahan yang terjadi.


“Bagaimana? Bagaimana bisa ini terjadi? Bagaimana mungkin Yang Mulia Raja melakukan ini kepada Yang Mulia Putra Mahkota?” tanya Evans dengan suara yang tinggi dengan ekspresi wajah yang tak percaya.


“Itu semua karena kesalahan yang dilakukan oleh Yang Mulia Putra Mahkota Lyod yang ternyata memiliki hubungan dengan Nona Martha Stern Hanneton, Tunangan Yang Mulia Pangeran Mahkota Richard Rich Glorious!” ucap Ajudan Gallian yang memberikan penjelasan kepada Evans yang tak tau apapun.


“Yang Mulia Putra Mahkota Lyod ketahuan oleh Tunangannya, Nona Vatrissa Blarish Dregs, saat sedang berhubungan i*tim hingga akhirnya Yang Mulia Raja, Yang Mulia Permaisuri, Pangeran Mahkota Ricard dan Duke Dregs ikut menyaksikan kejadian itu!” ucap Ajudan Gallian dengan ekspresi wajah yang serius.


Evans yang tak bisa berkata-kata lagi dengan situasi yang berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dalam waktu beberapa minggu saja menjadi sangat terkejut dan terguncang.


#Bersambung#


Apakah usaha yang dilakukan Evans dalam Impor dan Ekspor barang dari Kerajaan Hentallius dan Kerajaan Croisen akan berhasil? Tebak jawabannya di BAB selanjutnya ya...