The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 73. Presiden Surat Kabar



Pangeran Kedua Illion yang melihat Laura yang memakai gaun warna biru terlihat sangat cantik sehingga membuat Pangeran Kedua Illion tiba-tiba wajahnya memerah.


"Salam kepada kedua matahari Kerajaan Hentallius. Semoga kedua Pangeran akan selalu sehat dan panjang umur!" ucap Laura sambil membungkukkan tubuhnya.


"Ehem!" ucap Pangeran Ketiga Edward dengan suara yang keras dengan tatapan mata yang tajam ke arah Pangeran Kedua Illion.


"Nona tidak perlu melakukan itu. Anda adalah penyelamatku jadi tolong jangan lakukan hal ini!" ucap Pangeran Ketiga dengan ekspresi wajah yang gugup.


"Agh, baiklah Yang Mulia!" ucap Laura yang menggunakan kata yang sopan dengan kepala sedikit menunduk.


Pangeran Ketiga Edward yang tidak bisa mengatakan apapun lagi karena tau akan sangat sulit meminta Laura berhenti bersikap hormat dihadapannya pun menyerah dengan helaan nafas yang panjang.


Pangeran Kedua Illion yang telah sadar pun menatap Laura dengan ekspresi wajah yang seriua menanyakan tujuan Laura meminta bertemu.


"Nona bisa kau jelaskan alasanmu meminta bertemu denganku sesegera mungkin?" tanya Pangeran Kedua Illion dengan tatapan mata yang bingung dengan ekspresi wajah yang penasaran.


"Hmmm, sebenarnya aku ingin meminta bantuan Yang Mulia Pangeran Illion untuk bisa bertemu dengan Pangeran Edward!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang seriua.


"Dan karena Pangeran Edeward ada di sini saat ini maka aku akan mengatakan tujuan utamaku!" ucap Laura dengan tatapan mata yang tajam.


"Aku ingin meminta Pangeran Edward yang memegang posisi sebagai Presiden dari Surat Kabar Kerajaan dan Surat Kabar Harian Rakyat menyebarkan berita tentang skandal Count Vansfold dan Putra Mahkota!" ucap Laura dengan senyum percaya diri.


"Nona telah menyelamatkan nyawaku dengan informasi yang Nona berikan dan aku pun berhutang budi. Oleh karena itu, aku bersedia membantu Nona tapi..." ucap Pangeran Ketiga Edward dengan wajah yang sangat bersyukur sambil meletakkan satu tangan di dadanya sebagai tanda ketulusannya.


"Tapi skandal tentang Count Vansfold dan Putra Mahkota Lyod? Apa maksud ucapan Nona?" tanya Pangeran Ketiga Edward dengan alis yang mengkerut kebingungan.


Laura yang menyadari bahwa dirinya tidak bisa menyembunyikan tujuannya setelah semua yang terjadi pun akhirnya berkata jujur.


"Benar. Saya mengetahui bahwa Count Vansfold memiliki Selir Seorang Pelayan dan Putra Mahkota Lyod memiliki hubungan dengan Nona Martha dari Kekaisaran Glorious!" ucap Laura dengan tatapan mata yang tajam.


"Aku ingin membongkar semua perbuatan mereka dengan menjebak mereka hingga tak punya kesempatan lagi untuk mengelak!" ucap Laura dengan senyum yang licik.


Pangeran Kedua Illion yang terkejut dengan informasi kedua yang dimiliki Laura pun menatap penasaran.


"Apakah Pangeran Mahkota Richard mengetahui hal ini?" tanya Pangeran Kedua Illion dengan tatapan mata yang menunjukkan rasa penasaran yang besar.


"Tentu saja dan Kakakku pun telah bersedia ikut dalam permainan ini." ucap Laura dengan suara yang tegas.


Pangeran Kedua dan Pengeran Ketiga yang mendengar perkataan Laura pun saling berpandangan lalu menatap Laura kembali dengan wajah yang penasaran.


Laura yang menyadari rasa penasaran pada kedua Pangeran yang ada di depannya pun tersenyum penuh misteri.


"Yang Mulia Pangeran Illion! Apakah anda mengingat ucapan saya pada saat Pesta Penyambutan Perwakilan dari Kekaisaran Glorious? Saya akan menunjukkan bahwa yang saya katakan itu adalah kebenaran!" ucap Laura dengan suara yang tegas.


Pangeran Kedua Illion yang mendengar perkataan Laura pun menatap Laura dengan tatapan mata yang berbeda dengan tangan terkepal erat yang membuat Laura merasa aneh.


"Oleh karena itu Yang Mulia. Tolong bantu saya menyebarkan berita yang saya inginkan dengan cepat ke Bangsawan dan juga Rakyat Biasa!" ucap Laura dengan tatapan mata yang penuh harap.


"Jika Nona membutuhkan sesuatu silahkan katakan saja. Saya akan melakukannya untuk anda!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan senyum yang lembut yang membuat wajah Laura tiba-tiba memerah karena ketampanan Pangeran Kedua Illion.


Laura yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang langka itu pun mengeluarka selembar kertas yang terlipat kepada Pangeran Kedua Ilion.


"Yang Mulia, bisakah kau membeli semua yang ada di dalam kertas itu dalam jumlah yang sangat banyak tapi jangan sampai membuat harga pasar naik secara drastis!" ucap Laura dengan nada suara yang tegas.


"Jangan khawatir. Aku akan mengurusnya dengan baik!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan senyum yang lembut.


Laura yang telah menyelasaikan pembicaraannya pun memutuskan kembali ke Pesta Minum Teh.


Pesta Minum Teh yang dipikir Laura akan sangat canggung ternyata berakhir dengan sangat baik karena Laura pada akhirnya bisa tersenyum di hadapan Nona dan Nyonya Bangsawan yang lain.


Rika yang menunggu Laura di depan kereta kuda merasa lega setelah melihat Laura yang tersenyum bahagia saat keluar dari Kediaman Viscount Ballaguisse.


"Yang Mulia sangat senang. Sepertinya semuanya berjalan dengan lancar dan sesuai rencana!" ucap Rika dengan ekspresi wajah yang ikut bahagia.


"Tentu saja, Rika. Sekarang saatnya kita memulai rencana inti. Kita akan memulai operasi penghancuran!" ucap Laura dengan suara yang tegas sambil duduk di dalam kereta kuda.


Laura yang kembali ke Kediaman Count Vansfold pun melihat Evans yang sedang berdiri di koridor bersama dengan George dengan Tatiana yang menatap dari kejauhan.


Laura yang melihat pemandangan itu pun tersenyum sinis dengan tatapan mata yang tajam.


"Kau sangat ingin bersama dengan Evans sepertinya Tatiana meskipun kau sudah tidak murni lagi! Tapi jangan khawatir, aku tidak akan mengubah pikiranku. Aku akan membuat kalian berdua bersatu jadi tunggulah!" ucap Laura dengan senyum yang lebar.


Laura yang mengaktifkan Kekuatan Anginnya pun mencoba mencuri dengar pembicaraan Evans dan George yang masih belum sadar bahwa Laura tak jauh dari keduanya.


"Tuan, anda harus bisa menahan amarah anda dan menurunkan ego anda. Jika anda tidak bisa mengendalikannya maka Perjanjian Kerjasama yang diinginkan Putra Mahkota akan gagal dan itu akan berakibat buruk untuk anda dan juga Kediaman ini!" ucap George dengan nada suara yang rendah dan pelan dengan ekspresi wajah yang terlihat menasehati.


"Kau ingin aku menurunkan ego dan mengendalikan diri. Aku yang melihatnya berjalan di hadapanku dengan pakaiannya yang mewah dan semua aksesorisnya membuatku ingin muntah!" ucap Evans dengan suara yang sedikit tinggi denga tatapan mata kebencian.


"Apa kau lupa bagaimana caranya menatapku saat dirinya memberikan peringatan tentang pelayan yang tak tau posisinya? Lalu apa kau melupakan cara bicaranya tentang kesatria dari Kediaman ini yang lemah dan tak sebanding dengan Seorang Penyihir dari Kekaisaran Glorious?" teriak Evans dengan mata yang terbuka lebar.


"Aku tidak akan bisa melupakan semuanya. Aku sangat ingin menampar mulutnya yang bau sampah itu lalu menarik rambutnya yang panjang itu dan menyiksanya hingga dia berteriak meminta ampun di bawah kakiku!" ucap Evans dengan ekspresi wajah yang marah.


Laura yang berjalan di koridor yang sama dengan jarak yang cukup jauh tiba-tiba berhenti saat mendengar semua kata-kata kasar dari Evans.


Laura yang tak ingin bertemu Evans ataupun George saat itu pun berbalik arah dan memutuskan keluar kembali.


Rika yang bingung karena tak tau apapun yang terjadi pun menjadi bingung tapi tetap mengikuti Laura dari belakang dengan patuh.


"Kau ingin menyiksaku bukan? Kau pikir, kau bisa melakukannya. Kita akan lihat siapa yang akan menyiksa siapa!" ucap Laura dalam hati dengan tatapan mata yang tajam dengan ekspresi wajah yang serius.


#Bersambung#