
Keesokan harinya, Laura yang mendapatkan surat balasan dari Pesan yang ditulisnya untuk Pangeran Keuda Illion pun menjadi sangat tidak sabar.
“Sudah kuduga jika Pangeran Kedua Illion pasti akan sangat penasaran dengan surat yang aku tulis untuknya karena itu aku harus segera keluar dan menemuinya!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang serius.
“Rika! Bantu aku mengganti Gaunku! Kita akan pergi menemui Tiffany lagi hari ini!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas.
Laura yang pergi lagi keluar dengan alasan membeli kue di Toko Kue Sweety yang sedang sangat terkenal dan menjadi tren saat ini pun dapat pergi dengan mulus.
"Kita ke Toko Kue Sweety sekarang!" ucap Laura dengan nada suara yang tegas dengan ekspresi wajah ya g dingin kepada kusir yang membawa kereta kudanya keluar.
Laura yang pergi lagi ke Toko Kue Sweety langsung disambut hangat oleh semua Pelayan dan diantar ke ruangan khusus di belakang Toko.
"Nyonya! Anda datang lagi! Saya sangat senang melihat kedatangan Nyonya!" ucap Tiffany dengan ekspresi wajah yang bahagia.
"Nona Tiffany, saya datang kemari karena ingin meminta bantuan anda. Apakah saya boleh meminjam pintu belakang anda?" tanya Laura dengan tatapan mata memancarkan harapan yang besar.
"Tentu saja, Nyonya. Anda adalah investor tunggal untuk Toko Kue Sweety jadi anda dapat melakukan apapun sesuka hati anda!" ucap Tiffany dengan ekspresi wajah yang serius.
"Nyonya bisa datang kemari kapanpun dan saya akan membantu Nyonya agar bisa menipu kusir dan kesatria yang ada di depan!" ucap Tiffany dengan ekspresi wajah yang percaya diri.
Sejak Laura keluar dari pintu belakang, membuat Laura sampai di Guild Bulan Merah telah berjalan selama setengah jam.
Laura yang diantar masuk ke dalam pun menunggu kedatangan Pangeran Kedua Illion untuk bicara dengannya.
"Coutess! Anda datang kembali. Apakah Nyonya Countess memiliku suatu infotmaasi yang anda butuhkan?" tanya Pangeran Kedua Illion layaknya seorang pedagang yang sedang melayani pembeli dengan sepenuh hati.
Pengeran Kedua Illion yang melihat Berlian yang bersinar dengan sangat terang di hadapannya pun mengambil Berlian tersebut dan melihatnya dengan jelas.
Laura yang melihat Pangeran Kedua Illion terkejut dan juga penasaran dengan batu berkilau yang dinamainya Berlian itu pun menjelaskan rencana bisnisnya.
"Seperti yang Yang Mulia lihat! Batu berkilau yang Yang Mulia lihat adalah Berlian. Batu tersebut pasti akan menjadi incaran semua orang sejak pertama kali diluncurkan!" ucap Laura dengan penuh percaya diri.
"Saya dapat memastikan ketersediaan Berlian itu tapi saya ingin Yang Mulia membantu saya untuk mengubahnya menjadi perhiasan yang indah dan bernilai tinggi!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang serius.
Pangeran Kedua Illion yang melihat sikap percaya diri Laura dan juga isi rencana kerjasama yang ditulis Laura dalam sebuah dokume pun mulai membacanya dengan sepenuh hati.
"Apakah Countess serius dengan yang anda tulis di dalam dokumen ini?" tanya Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah yang penasaran.
"Tentu saja, Yang Mulia Pangeran!" ucap Laura dengan senyum yang lembut dan ekspresi wajah yang percaya diri.
"Kita akan membuat toko perhiasan yang akan menjual perhiasan yang terbuat dari Berlian dengan harga yang tinggi!" ucap Laura dengan senyum yang lebar.
"Jika itu yang Countess maksud maka silahkan datang di dunia Bisnis Perhiasan!" ucap Pangeran Kedua Illion sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Laura.
#Bersambung#
Apakah rencana kerjasama bisnis itu akan berjalan lancar dan sukses? Tunggu jawabannya di Bab selanjutnya ya..
*Note maafkan author yg tidak jadi crazy upadate dikarenakan sesuatu dan lain hal yang terjadi di kehidupan nyata author. namun author janji akan tetap update meski satu bab sehari tapi jika urusan selesai author pastikan akan crazy update.. Terima kasih untuk perhatiannya..