
Laura yang mendapatkan undangan untuk datang ke Perjamuan yang diadakan di Istana Kerajaan beserta sejumlah hadiah menjadi semakin dilema.
“Yang Mulia, apa yang harus kita lakukan pada hadiah-hadiah yang mahal ini?” tanya Rika yang telah membuka beberapa kota hadiah yang diberikan oleh Pangeran Kedua Illion kepada Laura.
Laura yang melihat Gun yang sangat cantik dan lengkap dengan aksesoris serta hal lainnya pun menarik nafas panjang.
“Bawa semuanya ke kamarku. Aku tidak bisa menolak hadiah yang diberikan Illion kepadaku karena bagaimanapun dia adalah teman yang baik!” ucap Laura yang tak ingin membuat hubungan baiknya dengan Pangeran Kedua Illion hancur karena percintaan.
Hari Perjamuan telah tiba, Laura yang memutuskan untuk memakai Gaun yang diberikan Pangeran Kedua Illion padanya pun menaiki kereta kuda menuju Istana Kerajaan.
Sementara itu, Pangeran Kedua Illion yang sangat cemas karena Laura tak menghubunginya sama sekali setelah dirinya menyatakan perasaannya pun menjadi galau.
“Yang Mulia, anda harus sabar. Anda tidak akan bisa mendapatkan wanita manapun jika anda terburu-buru seperti ini!” ucap Viscount Ballaguisse dengan ekspresi wajah yang sangat lelah.
“Bagaimana aku bisa sabar? Laura tidak menghubungiku sama sekali, Will!” ucap Pangeran Kedua Illion dengan suara yang sedikit naik.
“Kakak tenanglah. Putri Laura yang sekarang telah sangat berubah dari dirinya yang dulu. Aku yakin jika Putri Laura saat sedang sangat hati-hati mengambil keputusan mengingat dirinya pernah salah memilih pasangan!” ucap Pangeran Ketiga Edward dengan wajah yang cuek.
“Hah! Ini semua karena si br*ngsek itu! Untungnya dia sudah m*ti terbakar api jika tidak aku pasti telah mengirim orang untuk menghabisinya dan menjadikan tubuhnya makanan Hewan Buas sekarang!” ucap Pangeran Kedua Illion dengan dendam yang membara.
Di saat ketiganya sedang duduk berbicara dengan santai tiba-tiba Ajudan Harold datang meminta bertemu.
“Yang Mulia, Yang Mulia Raja telah sadarkan diri tapi saat ini Yang Mulia Raja ingin bertemu dengan Pangeran Kedua!” ucap Ajudan Harold dengan wajah yang datar sambil menundukkan kepalanya.
Pangeran Kedua Illion yang sudah bisa menebak yang terjadi karena ternyata dirinya yang telah membuat Raja Jonathan IV sadarkan diri.
"Carl sungguh melakukan tugasnya dengan baik! Aku akan memberikannya bonus yang banyak setelah ini selesai!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan langkah kaki yang pasti menuju Ruangan Raja Jonathan IV.
Pangeran Kedua Illion yang berpikir jika akan hannya ada dirinya di Ruangan tersebut menjadi terkejut saat melihat beberapa orang kepercayaan Raja Jonathan IV juga ada di Ruangan tersebut.
"Salam kepada Yang Mulia Pangeran Kedua! Semoga Yang Mulia selalu sehat dan panjang umur!" ucap Granduke Echmont dan Count Ulrich secara bersamaan sambil menundukkan kepalanya di hadapan Pangeran Kedua Illion dengan sangat sopan.
Pangeran Kedua Illion yang melihat itu hanya menganggukkan kepala lalu berlari ke arah Raja Jonathan IV.
"Ayahnda! Apakah kau baik-baik saja?" tanya Pangeran Kedua Illion dengan suara yang terburu-buru dengan wajah yang cemas.
Raja Jonathan IV yang mendengar suara Pangeran Kedua Illion pun membuka matanya kembali lalu menatap Ajudannya.
"Yang Mulia, mohon tenang dan bersabar. Yang Mulia Raja masih sangat lemah!" ucap Ajudan Harold yang berdiri maju dengan wajah yang datar.
Pangeran Kedua Illion yang diam menatap Raja Jonathan IV pun menjadi sangat yakin akan hasil kerja Carl.
"Raja benar-benar telah berubah menjadi seperti boneka hidup sekarang!" ucap Pangeran Kedua Illion dalam hatinya dengan wajah yang datar.
"Carl pasti berada tak jauh dari sini sekarang untuk mengendalikan Raja. Jika seperti itu maka ini adalah kesempatan bagus untuk menyelesaikan semuanya!" ucap Pangeran Kedua Illion lagi dengan tatapan mata yang tajam.
Raja Jonathan IV yang telah sepenuhnya dikendalikan oleh Pangeran Kedua Illion pun memberikan Cincin Singa yang menjadi tanda sebagai Pewaris dan juga Stempel Kerajaan kepada Pangeran Kedua Illion.
"Harold! Berikan benda yang aku perintahkan kepadamu kepada Pangeran Illion!" perintah Raja Jonathan IV dengan suara yang lemah.
"Baik, Yang Mulia!" ucap Ajudan Harold dengan ekspresi wajah yang datar dan sikap yang sangat sopan
"Aku akan memberikan Cincin Singa dan Segel Kerajaan ini kepadamu dan aku telah mempercayakan Kerajaan Hentallius ini padamu, Pangeran!" ucap Raja Jonathan IV dengan ekspresi wajah yang sangat lelah.
"Jadilah Raja yang hebat yang akan memimpin Rakyat Kerajaan ini menuju kemakmuran!" ucap Raja Jonathan IV dengan sedikit senyuman di wajahnya.
"Tidak, Yang Mulia! Anda tidak boleh mengatakan itu!" ucap Count Ulrich dengan wajah yang panik dengan ekspresi wajah yang cemas.
"Benar, Yang Mulia. Anda masih sangat kuat untuk memimpin Kerajaan ini. Anda pasti akan sehat kembali!" ucap Granduke Echmont dengan ekspresi wajah yang sedih.
Pangeran Kedua Illion yang tak melihat drama perhatian antara atasan dan bawahannya itu hanya diam di tempat dengan wajah yang datar.
"Aku telah sangat lemah dan aku tak sanggup lagi memimpin Kerajaan ini. Aku akan beristirahat di Istana Crystal hingga ajal menjemputku dan aku serahkan semuanya kepada Pangeran Illion!" ucap Raja Jonathan IV dengan wajah yang lelah.
Granduke Echmont dan Count Ulrich yang tau dirinya tak bisa mengubah keputusan Raja Jonathan IV pun menyerah.
"Jika itu adalah keputusan Yang Mulia, kami sebagai bawahan akan menurutinya, Yang Mulia!" ucap Granduke Echmont dengan wajah yanh pasrah.
Pangeran Kedua Illion yang telah diberikan dua benda yang sangat penting sebagai bukti bahwa dirinya telah diakui oleh Raja terdahulu sebagai Pewarisnya pun memakai Cincin Singa dan menyimpan Stempel Kerajaan.
Di sisi lain, Laura yang telah sampai di Istana Kerajaan pun masuk ke Aula dimana Perjamuan diadakan dan membuatnya menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Aku merasa tidak nyaman karena tatapan orang-orang tapi tidak ada yang bisa aku lakukan setelah semua yang telah terjadi!" ucap Laura sambil menarik nafas panjang dan menyembunyikannya di balik kipas.
Laura yang berdiri sendirian di tengah Aula sambil memegang segelas wine tidak menyangka akan didatangi oleh Seorang Nona Muda Bangsawan.
"Pu-Putri Laura Raynor Glorious! Senang bertemu denganmu!" ucap seorang wanita muda dengan wajah yang memerah karena malu.
"Agh, senang bertemu denganmu Nona Azura Le Echmont!" ucap Laura dengan wajah yang bersahabat dan senyum yang lembut.
"Hmmm, aku sangat mengagumi, Putri. Kau sangat hebat untuk tidak membiarkan Pria yang telah berselingkuh berbuat sesuka hatinya!" ucap Nona Azura dengan tatapan mata yang benar.
"Agh, itu... Hmmm, terima kasih untuk pujiannya!" ucap Laura dengan senyum yang kaku dan wajah yang canggung.
Laura yang tidak pernah memiliki teman di Kerajaan Hentalius pun menjadi sangat bingung saat ada Nona Muda yang mulai mendekatinya hingga membuat suasana menjadi canggung.
Namun, kecanggungan itu tidak berlangsung lama karena pengumuman tentang kehadiran Pangeran Kedua Illion dan Pangeran Ketiga Edward.
"Yang Mulia Pengeran Illion Jean Hantallius memasuki ruangan!"
"Pangeran Ketiga Edward Shawn Hentallius memasuki ruangan!"
Laura yang melihat beberapa orang lainnya yang ikut memasuki Aula Perjamuan selain kedua Pangeran yang dikenalnya pun menjadi semakin penasaran setelah melihat Pangeran Kedua Illion berjalan di depan semuanya.
"Apa yang telah terjadi? Kenapa Illion berjalan mendahului Pangeran Edward? Apakah telah terjadi sesuatu pada Yang Mulia Raja?" tanya Laura dalam hati dengan tatapan mata yang tajam seperti elang.
Semua kecurigaan Laura pun terjawab setelah Ajudan Harold memberikan pengumuman penting di hadapan semua orang.
#Bersambung#
Pengumuman apakahh itu? Ceritanya hampir tamat, kira-kira bagaimana akhir ceritanya?
a. Laura bersama dengan Illion dan menjadi Permaisurinya di Kerajaan Hentallius
b. Laura bersama dengan Illion dengan menjadi Bangsawan dari Kekaisaran Glorious
c. Laura dan illion tidak bersama pada akhirnya