The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 71. Obat Kehamilan



Keesokan paginya, Rika yang telah menyiapkan obat yang diminta Laura pun meminta Pelayan lain untuk memberikan obat tersebut kepada Tatiana agar tidak ada yang curiga.


“Apakah ada seorang Pelayan yang sakit karena kelelahan?” tanya Rika dengan ekspresi wajah yang berpura-pura cemas.


“Agh, benar, Madam!” ucap Pelayan baru yang bernama Marie tersebut dengan ekspresi wajah yang terkejut dengan mata yang terbuka lebar.


“Berikan obat ini kepadanya agar bisa segera sembuh karena Kediaman ini tidak menerima orang yang berpenyakitan sebagai Pekerjanya jadi katakan padanya jika ingin masih bekerja maka lebih baik untuk meminumnya agar bisa cepat sembuh!” ucap Rika dengan ekspresi wajah yang pura-pura perhatian dengan kata-kata yang terdengar sedikit mengancam.


“Jangan khawatir, Madam. Saya akan melakukan seperti yang anda katakan!” ucap Marie dengan ekspresi wajah penuh percaya diri.


“Terima kasih karena aku sungguh ingin berkerja dengan kalian lebih lama. Hmmm, bisakah kau menyimpan ini sebagai rahasia di antara kita?” tanya Rika dengan ekspresi wajah yang pura-pura cemas dan malu.


“Tentu saja, Madam. Saya berjanji bahwa tidak akan ada yang tau akan hal ini.” Ucap Marie sambil memegang botol obat yang diberikan Rika dengan sangat kuat.


“Terima kasih!” ucap Rika sambil tersenyum lembut lalu berbalik arah dan pergi dengan senyum liciknya.


Marie yang datang menemui Tatiana di dalam kamar menjadi sangat terkejut saat menyadari bahwa Tatiana terlihat semakin tidak sehat setelah beristirahat seharian pun dengan cepat memberikan obat yang diberikan Rika kepadanya.


“Tatiana, apakah kau baik-baik saja?” tanya Marie dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir dengan tatapan mata yang iba.


Tatiana yang masih merasakan ketakutan dengan yang terjadi padanya pada malam itu saat dirinya dipaksa melayani Baron Venon secara paksa tiba-tiba memukul tangan Marie yang ingin membantunya.


“Ma-maafkan aku Marie. A-aku masih merasa kurang sehat dan sepertinya aku masih membutuhkan waktu untuk istirahat!” ucap Tatiana dengan tubuh yang bergetar dengan ekspresi wajah yang ketakutan.


“A-agh, baiklah. Hmmm, minumlah ini. Obat ini sangat bagus untuk kesehatan jadi jika kau meminumnya aku yakin kau pasti akan menjadi lebih baik!” ucap Marie dengan ekspresi wajah yang cemas.


Tatiana yang merasa sediki kesal dan khawatir jika kebohongannya akan ketahuan pun dengan cepat mengambil botol yang diberikan Marie kepadanya lalu meminum semuanya dalam sekali teguk.


Marie yang melihat tindakan Tatiana pun menjadi terkejut dan khawatir ingin sekali mengatakan sesuatu tapi dihentikan oleh Tatiana.


“Hmmm, aku merasa kepala sangat sakit. Bolehkah aku istirahat sekarang?” tanya Tatiana dengan ekspresi wajah yang kesakitan dengan wajah yang pucat.


Marie yang tidak ingin mengganggu Tatiana lagi pun memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Tatiana sendirian di kamarnya lalu melanjutkan pekerjaannya.


Sementara itu, Rika yang ingin melaporkan hasil pekerjaannya pun datang menemui Laura yang sedang duduk bersantai di Taman Bunga.


“Yang Mulia, obat telah diberikan dan saat ini wanita itu telah meminumnya!” ucap Rika dengan suara yang datar dengan tatapan mata yang dingin dengan sikap yang sopan.


“Benarkah? Aku senang sekali mendengarnya! Sekarang aku hanya perlu menjalankan rencanaku selanjutnya!" ucap Laura dengan senyum yang lebar.


"Evans! Kau adalah orang yang sangat angkuh dan sombong padahal kau hanyalah anak tidak sah yang beruntung menikahiku yang merupakan Seorang Putri. Sekarang aku akan memberikanmu sebuah hadiah yang sangat spesial jadi saat itu tiba persiapkanlah dirimu dengan baik. Jangan sampai terkejut!" ucap Laura dalam hati dengan senyum licik.


Laura yang mengingat tentang dirinya yang telah memilih dua administrator yang akan bekerja dibawahnya pun bertanya kepada Rika yang masih berdiri diam di hadapannya.


"Rika, apakah kedua Administrator baruku telah datang?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan senyum yang lebar.


“Ya, Yang Mulia. Saya akan segera memanggil mereka kemari!” ucap Rika yang membungkukkan tubuhnya lalu berjalan mundur dan pergi menjauh.


Tak butuh lama setelah kepergiannya Rika pun kembali lagi bersama Adrian dan Daniel datang dengan ekspresi wajah yang patuh.


Laura yang meletakkan cangkir tehnya pun mengalihkan pandangannya kepada Adrian dan Daniel yang berdiri dengan percaya diri.


“Aku akan menyerahkan urusan administrasi kepada kalian berdua. Kalian berdua akan bekerja langsung dibawahku dan bayaran kalian adalah lima dua kali lipat dari uang yang kalian dapatkan kemarin!" ucap Laura dengan suara yang tegas yang membuat Daniel terkejut.


"Lalu aku akan memberikan urusan administrasi tentang bisnis dan juga keuanganku kepadamu, Adrian!" ucap Laura sambil menoleh ke arah Adrian Lopez dengan senyum yang lembut.


Rika yang perlu bicara empat mata dengan Adrian Lopez pun memutuskan untuk membuat Daniel menjauh.


"Daniel! Ikuti Rika! Dia akan mengantarmu ke ruangan pribadimu dan menjelaskan tugas utamamu!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang serius.


"Baik, Nyonya!" jawan Daniel dengan sangat patuh dengan ekspresi wajah yang sangat bahagia dengan senyum yang lebar.


Rika yang telah melihat Daniel dan Rika sudah tidak terlihat lagi pun menatap Adrian dengan ekspresi wajah yang serius.


"Apakah kau sudah mendapatkan informasi tentang Daniel?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang datar sambil meminum kembali teh yang telah dituangkan kembali oleh Adrian ke dalam cangkirnya.


“Saya sudah mendapatkannya, Yang Mulia. Daniel sendiri yang menceritakan semua tentang dirinya kepadaku dan aku juga telah mencari informasinya semalaman. Ini adalah laporan yang telah aku rangkum, Yang Mulia!” ucap Adrian Lopez sambil mengeluarkan sebuah dokumen yang tersembunyi di balik rompi pakaian yang dipakainya.


Laura yang penasaran pun membaca isi yang ada di dalam dokumen itu dan mendapatkan satu buah informasi penting.


“Apakah informasi ini valid?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan mata yang tajam dengan nada suara yang penuh dengan penekanan di setiap katanya.


“Ya, Yang Mulia.” Jawab Adrian Lopez dengan suara yang tegas dan singkat dengan ekspresi wajah yang percaya diri.


“Hmmm, jika informasi ini benar maka aku bisa menggunakan ini sebagai kartu untuk membuat Daniel menjadi salah satu orangku yang sangat royal!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan senyum yang licik.


Laura yang telah mengirim surat kepada Pangeran Mahkota Richard tentang rencananya pun memutuskan untuk menghubungi Viscount Ballaguisse.


Laura yang kembali ke ruangan kerjanya dengan diikuti Adrian di belakangnya pun duduk dengan ekspresi wajah yang berubah serius.


“Ambilkan kertas dan pena! Aku harus menulis surat!” ucap Laura dengan suara yang tegas yang membuat Adria Lopez dengan cepat menggantikan Rika mengambilkan semua yang dibutuhkan Laura.


Laura yang memiliki satu hal utama yang membutuhkan waktu bicara empat mata dengan Pangeran Kedua Illion pun mengirim surat meminta bantuan.


“Aku yakin ini sudah lebih dari cukup. Aku harap aku bisa meyakinkan dia untuk menyetujui rencanaku!” ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang penuh harap.


“Kirim ini ke Guild Bulan Merah yang ada di Ibukota. Kau akan menemukan tempatnya saat kau memakai ini!” ucap Laura sambil memberikan Adrian Lopez sebuah kristal yang sangat spesial untuk menunjukkan arah dan juga Kartu VVIP untuk mengurangi masalah yang tidak perlu.


Adrian Lopez yang mengerti pun mengambil surat tersebut dan mundur beberapa langkah lalu keluar dari kamar.


Dua hari pun berlalu, Laura yang mendapatkan informasi tentang Perundingan Perjanjian Kerjasama dan Perjanjian Bantuan kepada Kekaisaran Glorious pun tersenyum dengan respon baik dari Pangeran Mahkota Richard.


“Bagus sekali, Kakak. kau harus membuat mereka semua menjadi sangat cemas dan khawatir hingga saatnya tiba rencana utama dilakukan!” ucap Laura dengan senyum yang lebar.


Bersamaan dengan berita dari Pangeran Mahkota Richard, sebuah surat undangan Pesta Minum Teh datang kepada Laura yang sudah sangat cemas dengan respon dari Pangeran Kedua Illion terhadap suratnya.


“Yang Mulia, ada undangan Pesta Minum Teh Nona Viona Ballaguisse dari Kediaman Viscount Ballaguisse.” Ucap Rika yang menyerahkan sebuah surat dengan lambang Keluarga Viscount Balalaguisse di atas sebuah nampan emas.


“Hmmm, balas bahwa aku akan hadir dalam Acara Minum Teh tersebut!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang bahagia setelah mengetahui maksud tulisan yang ada pada surat undangan tersebut.


“Yang Mulia!” jawab Rika dengan suara yang datar dengan sikap yang patuh dengan tatapan mata yang serius.


#Bersambung#


Apa maksud Laura tentang Pesta Minum Teh itu punya maksud lain? Apa pula rencana Laura yang ingin bertemu dengan Pangeran Kedua Illion. Apakah ada yang bisa menebaknya?” tulis di kolom komentar ya..