The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 86. Surat Pengajuan Perceraian



Laura yang mengetahui bahwa ada pakaian dan perhiasannya yang hilang dari lemari penyimpanannya dengan sengaja membuat kehebohan.


George yang mendengar bahwa Laura memanggilnya bergegas datang untuk mencaritau yang terjadi.


"Nyonya, ada apa ini? Kenapa anda menghancurkan semua barang-barang ini?" tanya George dengan ekspresi wajah yang bingung dengan tatapan mata tak mengerti.


"Kau tidak atau pura-pura tidak tau George?" sindir Laura dengan kata-kata yang sinis dengan tatapan mata yang tajam.


Evans yang mendengar bahwa Laura marah-marah saat dirinya sampai di kamarnya bergegas menemui Laura karena khawatir telah terjadi sesuatu yang memancing kemarahan Laura lagi.


"Laura! Ada apa ini? Kenapa kau menghancurkan semua ini?" teriak Evans dengan suara yang keras dengan ekspresi wajah yang bingung dengan alis yang mengkerut.


"Kau tanya kenapa? Sekarang aku yang bertanya lebih dulu. Aku baru pergi meninggalkan kediaman ini satu hari tapi sudah ada yang menyentuh pakaian dan perhiasanku! Apakah benar-benar ingin aku meninggalkan Kediaman ini selamanya?" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang marah.


Evans yang mendengar perkataan Laura menjadi sangat marah dan tanpa pikir panjang berteriak memanggil George yang ada di dekatnya.


"George! Apakah kau yang telah melakukan semua ini? Apakah kau sudah tak menginginkan pekerjaanmu lagi?" ucap Evans dengan ekspresi wajah yang marah.


"Ti-Tidak Tuan! Saya tidak memberikan perintah menyingkirkan barang-barang Nyonya. Pelayan yang bertugas membersihkan kamar Nyonya lah yang bisa masuk dan keluar kamarnya dengan bebas saat Nyonya tidak ada!" ucap George dengan ekspresi wajah percaya diri.


Pelayan yang menyadari bahwa dirinya akan menjadi kambing hitam dalam situasi yang tidak menguntungkan itu pun segera berlutut ke lantai di hadapan Evans dan Laura.


"Sa-saya tidak mencuri apapun, Tuan. Sa-saya tidak akan berani!" teriak Pelayan itu membela diri dengan ekspresi wajah ketakutan.


"Ma-madam Rollesh dan Nyo-Nyonya muda yang melakukan ini semua!" ucap Pelayan tersebut dengan nada suara yang gagap dengan tubuh bergetar ketakutan.


Evans yang mendengar perkataan Pelayan itu menyadari bahwa masalah dan akibat yang ditimbulkan jika dirinya tidak bisa bertindak tegas dalam masalah ini pun menjadi sangat marah.


"George! Panggil Ibuku dan wanita itu kemari! Aku ingin mendengarkan penjelasan mereka berdua!" ucap Evans dengan nada suara yang tegas dengan tatapan mata yang tajam dengan niat membunuh yang kuat.


Laura yang sudah bisa memprediksi semua yang terjadi hanya duduk santai di sofa sambil meminum teh hangat yang disajikan oleh Rika.


Laura yang melihat Evans berubah menjadi orang yang sangat berbeda setelah dua kehidupan yang dialaminya menjadi sangat puas.


"Hmmm, kau baru pertama kali merasakan ini, bukan Evans? Ini baru permulaannya saja karena pertunjukan sebenarnya belum dimulai!" ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang dingin.


Tak lama setelah itu, Madam Rollesh dan Tatiana yang dipanggil Evans pun datang dan Evans yang melihat Tatiana memakai pakaian serta perhiasan milik Laura tak bisa menahan kemarahannya.


"Kau! Beraninya kau menyentuh barang yang bukan milikmu!" teriak Evans dengan suara yang lantang dan tak segan menampar wajah Tatiana dengan sangat keras hingga Tatiana terjatuh ke lantai.


Madam Rollesh yang melihat Evans menampar wajah Tatiana dengan cepat membantu Tatiana dan berteriak kepada Evans.


"Evans! Apa yang telah kau lakukan? Kenapa kau menamparnya? Apa salahnya?" tanya Madam Rollesh dengan ekspresi wajah yang marah dengan suara yang meninggi.


Evans yang ingin menjelaskan letak kesalahan Tatiana segera terhenti saat Laura berbicara dengan tatapan mata yang tajam.


"Ibu! Apakah menurutmu mengambil barang milik orang lain tanpa izin yang punya itu dibenarkan?" sindir Laura dengan kata-kata yang menusuk.


"Aku tau jika Ibu memiliki latar belakang yang sama dengannya di masa lalu tapi Ibu tidak perlu menunjukkannya seperti secara terang-terangan!" ucap Laura dengan tatapan mata merendahkan.


Madam Rollesh yang sangat benci jika ada orang yang merendahkannya ataupun mengingatkannya tentang latar belakangnya yang hanya Pelayan yang menggoda Tuannya pun menjadi marah.


"Laura!" teriak Madam Rollesh dengan suara yang tinggi dengan ekspresi wajah yang marah dan mata yang melotot tajam.


"Ibu! Jaga sikap dan ucapanmu!" teriak Evans dengan suara yang lantang dengan aura dingin yang menusuk dengan atapan mata membunuh.


Laura yang melihat Evans yang terus membelanya dan berada di pihaknya tak merasa tersentuh ataupun terharu pun menatap tajam ke arah Evans.


"Evans! Apakah ini maksud tujuanmu membawaku kembali kemari? Apakah kau ingin menunjukkan bagaimana caramu lebih memperhatikan Selirmu daripada Istri Sahmu?" sindir Laura dengan tatapan mata yang sinis.


"Kemarin aku sudah mengalah dan datang baik-baik untuk meminta maaf dan setuju untuk membujuk Kakakku agar menyetujui Kerjasama antara Kekaisaran Glorious dan Kerajaan Hentallius bahkan aku mengundang Kakakku datang kemari untuk membicarakan itu secara langsung tapi kenyataannya aku melihatmu meniduri wanita lain!" ucap Laura dengan nada suara yang tegas dengan tatapan mata yang tajam sambil berjalan ke arah Evans.


"Sekarang aku datang baik-baik untuk memperbaiki hubungan yang kau katakan hanya kesalahan tapi ternyata kau menunjukkan padaku bagaimana kau memperlakukan Selirmu dengan sangat baik hingga Selirmu berani menyentuh barang-barangku!" ucap Laura kembali dengan ekspresi wajah yang datar.


Evans yang mendengar kata demi kata yang diucapkan Laura menjadi sangat pucat hingga keringat mengalir sangat banyak dari dahi hingga ke pipinya.


"Jika kau tidak ingin bersamaku lagi maka katakan saja dan jangan melakukan hal seperti ini!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang dingin.


"Tidak! Tu-tunggu! Laura ini tidak seperti yang kau pikirkan. Sungguh!" ucap Evans dengan ekspresi wajah yang cemas dengan tatapan mata yang bingung.


"Tidak seperti yang aku pikirkan? Jangan membuatku seperti orang bodoh. Apa kau pikir akan ada wanita yang percaya dengan perkataan setelah semua ini?" tanya Laura dengan ekspresi wajah yang kesal.


"Rika! Bereskan semua barang-barangku. Kita akan meninggalkan Kediaman ini selamanya!" ucap Laura dengan suara yang tegas dengan tatapan mata yang tajam.


"Baik, Yang Mulia Tuan Putri!" ucap Rika dengan suara yang lantang yang menegaskan status Laura sebenarnya saat Laura memutuskan meninggalkan Kediaman Count Vansfold.


Evans yang tidak bisa menerima keputusan Laura yang ingin pergi dari Kediamannya itu pun menjadi sangat marah.


"Aku tak akan membiarkanmu pergi meninggalkan Kediaman ini. Kau tidak akan pernah bisa keluar dari sini. Kau akan selamanya menjadi Countess Vansfold!" teriak Evans dengan suara yang tegas.


"George! Kunci pintu gerbang dan panggil semua Kesatria untuk melindungi semua pintu dan jangan biarkan Nyonya meninggalkan Kediaman ini!" ucap Evans dengan suara yang tegas.


"Kau tak akan bisa menghentikanku Evans! Tak akan bisa!" ucap Laura dengan nada suara yang pelan dengan senyum kecil.


Sementara itu, Tatiana yang awalnya tersenyum bahagia karena Laura memutuskan meninggalkan Kediaman Count Vansfold menjadi kecewa.


"A-apa?" ucap Tatiana dengan suara yang rendah dengan ekspresi wajah yang terkejut dan tak percaya dengan mata yang terbuka lebar.


Laura yang melihat Tatiana yang awalnya bahagia kehilangan harapannya untuk menjadi Nyonya Kediaman Count tersenyum kecil.


"Hmmm, ternyata sangat menyenangkan melihat perubahan wajah Evans dan Tatiana tapi berada lebih lama di sini sangat tidak baik untuk wajah dan kulitku!" ucap Laura dalam hati.


"Wajahku bisa keriput dan kulit bisa menjadi kusam dan kering jika aku harus terus marah-marah!" ucap Laura dalam hati dengan perasaan kecewa.


Laura yang melihat Rika telah hampir selesai mengemas semua barang-barang miliknya mengalihkan pandangannya kepada Daniel yang masih berdiri dengan tegap.


"Daniel! Serahkan surat itu kepada Evans! Biarkan dia membacanya!" ucap Laura dengan tangan di dada dengan tatapan mata lurus ke arah Evans.


Evans yang bingung melihat lambang segel yang ada pada surat itu menatap aneh ke arah Laura dan buru-buru membuka isi surat tersebut.


Evans yang merasa lega karena dapat menghentikan Laura meninggalkan Kediamannya mengubah ekspresi wajahnya kembali saat melihat Surat Pengajuan Perceraian yang telah Laura tanda tangani.


"Surat Pengajuan Perceraian? Tidak! Aku tidak akan pernah menandatangani ini dan aku tidak ingin perceraian!" ucap Evans dengan suara yang tegas dengan tekad yang bulat.


#Bersambung#


Apa yang akan dilakukan Laura selanjutnya? Apakah Evans akan setuju untuk bercerai pada akhirnya? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya..