The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 91. Surat Cinta Raja Jonathan IV



Keesokan paginya, Evans yang telah lebih tenang pun mencoba mengirimkan hadiah kepada Laura tapi tak satupun mata-mata itu bisa dihubungi sehingga membuat Evans menjadi kesal.


"Sial! Apakah tak ada satu orangpun bisa diandalkan dalam hal ini?" teriak evans dengan suara yang lantang dengan ekspresi wajah yang kesal.


"Tuan, anda tidak boleh marah-marah. Anda harus tenang untuk bisa menemukan solusi dalam masalah ini!" ucap Ajudan Gillian dengan ekspresi wajah yang cemas.


"Tenang! Apa kau pikir aku bisa tenang setelah semua yang terjadi beberapa hari ini?" teriak Evans dengan nada yang tinggi dan mata melotot tajam.


Evans yang sedang marah tiba-tiba menjadi sangat cemas dan khawatir saat George datang menyampaikan Surat yang sangat penting untuknya.


"Tuan Count ada surat dari Istana untuk anda!" ucap George dengan nada suara dan ekspresi wajah yang datar dengan sikap sopan.


"Surat? Surat apa maksudmu?" tanya Evans dengan ekspresi wajah yang bingung dengan tatapan mata penasaran sambil mengambil surat yang ada stempel Keluarga Kerajaan di atasnya.


Evans yang menyadari bahwa dirinya dipanggil ke Istana Kerajaan untuk menghadap Raja Jonathan IV malam ini saat Pesta Pergantian Musim yang selalu dilakukan tiga bulan sekali selama tiga hari.


"George! Siapkan pakaianku karena aku harus ke Istana Kerajaan untuk ikut dalam Pesta Pergantian Musim satu minggu lagi!" ucap Evans dengan suara yang tegas.


"Bak, Tuan. Saya akan memanggil perancang busana terbaik untuk anda!" ucap George dengan ekspresi wajah yang percaya diri lalu pergi meninggalkan ruangan Evans.


Sementara itu, Ajudan Mies yang mendapatkan laporan bahwa Nona Martha pergi menemui Putra Mahkota Lyod segera melaporkannya kepada Pangeran Mahkota Richard.


"Sialan! Ada atau tidak adanya aku beraninya wanita itu menemui pria lain!" ucap Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang marah.


Laura yang menguping pembicaraan antara Pangeran Mahkota Richard dan Ajudan Mies akhirnya terpikirkan sesuatu yang menarik.


Laura yang langsung pergi ke tempat Pangeran Mahkota Richard berada pun meminta izin untuk masuk.


"Kak! Apakah aku boleh masuk?" tanya Laura dengan ekspresi wajah yang penuh harap dengan nada suara yang lembut.


"Masuklah, Laura!" ucap Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang bahagia dan senyum yang lebar.


Pangeran Mahkota Richard yang tak ingin diganggu oleh siapapun saat sedang bicara dengan Laura pun memberikan kode kepada Ajudan Mies untuk pergi meninggalkan ruangan.


"Tu-tunggu! Ajudan Mies, bisakah kau tetap di sini? Ada sesuatu yang ingin aku katakan!" ucap Laura dengan senyum lembut sambil mengalihkan pandangannya ke arah Pangeran Mahkota Richard.


"Kak, bisakah kita mulai rencana untuk menghancurkan Putra Mahkota Lyod sekarag?" tanya Laura dengan ekspresi wajah yang serius dengan senyum kecil di sudut bibirnya.


"Memulai sekarang?" tanya Pangeran Mahkota Richard ulang dengan ekspresi wajah yang bingung dan tak mengerti apapun.


"Benar, Kak. Kita mulai rencananya sekarang dengan perubahan kecil dari rencana awal dan aku akan membutuhkan bantuanmu Ajudan Mies!" ucap Laura dengan senyum yang licik.


Laura yang ingin rencananya berjalan lancar pun menjelaskan semuanya kepada Pangeran Mahkota Richard dan Ajudan Mies.


Di saat bersamaan, Nona Martha yang telah berjanji akan membuat Pangeran Mahkota Richard mengubah keputusannya pun datang ke Kediaman yang ditinggali Laura.


"Maafkan ketidaksopananku yang datang tanpa membuat janji terlebih dahulu tapi aku datang kemari dengan buru-buru karena khawatir pada Countess!" ucap Nona Martha untuk memulai dramanya.


Pyrex yang sudah mendapatkan perintah dari Pangeran Mahkota Richard akhirnya dapat mengatakan apapun tanpa bisa dideteksi kebohongannya.


"Itu bukanlah masalah Nona tapi saat ini Yang Mulia Tuan Putri sedang tidak ada di sini dan begitupula dengan Pangeran Mahkota Richard, Nona!" ucap Pyrex denga nada suara yang sopan dan senyum yang ramah.


Nona Martha yang sudah bisa menebak bahwa Pangeran Mahkota Richard yang telah memberikan perintah untuk menolak kedatangannya hanya bisa menggigit bibir bawahnya untuk menahan amarah.


"Baiklah. Aku akan datang lagi nanti dan tolong sampaikan kedatanganku kepada Countess Vansfold!" ucap Nona Martha dengan senyum yang terlihat tulus dengan tatapan mata merendahkan.


Nona Martha yang meninggalkan Kediaman itu dengan tangan kosong tidak bisa menghilangkan rasa kesalnya meski telah berada di dalam kereta kuda.


"Kau bukanlah seorang Putri lagi tapi orang-orang masih saja memanggilmu dengan Yang Mulia Putri dan itu membuatku semakin marah!" ucap Nona Martha dengan ekspresi wajah yang emosi.


Waktu pun berlalu, Evans yang sedang bersiap menuju Pesta Pergantian Musim yang akan segera dilaksanakan bergegas ke Istana.


Namun, saat Evans sampai di Istana pandangan mata orang-orang padanya menjadi semakin tajam dan dingin. Evans yang tak bisa kehabisan kesabarannya dalam situasi seperti ini memilih menjadi tuli dan buta untuk menghilangkan pikirannya tentang kejadian yang ingin dilupakannya.


Bersambung


Apa yang akan terjadi di dalam Pesta itu ya? Apakah rencana Laura untuk menjebak Putra Mahkota dan Tatiana akan berhasik?" tebak jawanny ya