The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 75. Obat Halusinasi



Laura yang telah memantapkan hatinya pun menghapus air matanya lalu meminta Rika mengambilkan sesuatu yang diberikan oleh Pangeran Mahkota Richard kepadanya.


“Yang Mulia, ini adalah alat komunikasi yang anda inginkan!” ucap Rika dengan ekspresi wajah yang datar dengan tatapan mata yang tajam sambil menahan emosinya.


Laura yang tak ingin menunda lagi rencana besarnya pun menghubungi Pangeran Mahkota Richard untuk menjelaskan yang harus dilakukan Pangeran Mahkota Richard selanjutnya tapi sebelumnya meminta Rika untuk memake-up nya dulu.


“Apakah mataku sudah lebih baik saat ini, Rika? Aku tidak ingin Kakak melihatku dengan mata yang bengkak karena banyak menangis!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang cemas.


“Jangan khawatir Yang Mulia. Yang Mulia Pangeran Mahkota tidak akan menyadari yang terjadi padamu!” ucap Rika dengan percaya diri.


“Sekarang aku harus menghubunginya. Semoga saja Kakak tidak menyadarinya!” ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang sedikit khawatir.


Pangeran Mahkota Richard yang memang telah menunggu kabar dari Laura setelah yang dilakukannya di Ruang Rapat pun menjadi sangat lega setelah melihat Laura menghubunginya dengan Alat Komunikasi.


“Laura! Bagaimana keadaanmu? Apakah kau baik-baik saja?” tanya Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang sangat khawatir dengan nada suara yang terburu-buru.


“Aku baik-baik saja, Kak. Kakak tidak perlu khawatir!” ucap Laura dengan senyum yang lembut dan nada suara yang terdengar menyejukkan.


“Kakak senang mendengarnya. Kakak khawatir manusia b****sek itu akan menyakitimu setelah dirinya direndahkan oleh Putra Mahkota Lyod tapi melihat senyummu Kakak menjadi sangat lega!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan senyum yang lebar.


Laura yang terpaksa menyembunyikan kenyataan sebenarnya dari Pangeran Mahkota Richard pun merasakan sedikit perasaan bersalah.


“Maafkan aku, Kak. Aku tidak bermaksud berbohong tapi aku tidak ingin Kakak cemas karena sungguh aku baik-baik saja!” ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang sedih sekilas terlihat di wajahnya.


Laura yang tidak ingin melupakan tujuan utamanya yang ingin meminta bantuan Pangeran Mahkota Richard untuk keberhasilan rencananya pun mengatakan semuanya.


“Kak, bisakah kau datang ke Kediaman Keluarga Count Vansfold pagi-pagi sekali? Aku telah menyiapkan drama penghianatan yang sangat menarik nanti dan aku akan membutuhkan bantuanmu, Kak!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan mata yang tajam.


“Jangan khawatir. Kakak pasti akan melakukan seperti yang kau inginkan.” Ucap Pangeran Mahkota Richard dengan suara yang tegas.


Laura yang menyadari keterbatasan waktu dalam penggunakan Alat Komunikasi itu pun akhirnya membuat Laura hanya bisa mengucapkan kata terima kasih sebagai kata penutup.


Laura yang telah membuat Pangeran Mahkota Richard membantunya pun mengalihkan pandangannya kepada Rika.


“Rika! Aku ingin kau mencarikanku obat bius dengan efek memabukkan dan juga sebotol anggur dengan kualitas tinggi!” ucap Laura dengan suara yang tegas dengan tatapan mata yang tajam.


“Baik, Yang Mulia. Serahkan saja semuanya kepada hamba!” ucap Rika dengan suara da ekspresi wajah yang datar.


Malam hari pun tiba, hujan yang turun dengan sangat deras membuat suasana di Kediaman Count Vansfold yang sudah sangat tegang menjadi menakutkan.


Laura yang telah menurunkan egonya pun pergi menemui Evans yang ada di Ruang Kerjanya dengan membawa segelas cangkir dan sebotol anggur yang sangat berharga.


Laura yang tak ingin Anggur yang dibawanya akan sia-sia saja jika dirinya membawanya sendiri pun meminta bantuan George untuk memberikannya kepada Evans.


“George! Aku senang melihatmu disini! A-aku merasa sangat buruk dengan semua yang terjadi pada Tuan Count. Aku yakin saat ini dirinya pasti sangat marah dan kesal karena itu lah aku ingin mengirimkan ini kepadanya!” ucap Laura sambil menunjukkan Anggur dengan kualitas terbaik kepada George.


“Anggur?” tanya George dengan ekspresi wajah yang bingung saat melihat botol anggur di tangan Laura.


“Hmmm, aku dengar orang yang sedang marah akan merasa lebih baik setelah meminum Anggur sehingga dia bisa melupakan kemarahannya sejenak. Oleh karena itu aku membawakan Anggur ini untuk Tuan Count!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang pura-pura khawatir.


George yang terkena bujukan Laura pun mengambil botol anggur dan cangkir itu dan membawanya ke kamar Evans.


Laura yang telah kembali ke kamarnya pun menunggu bersama Master Noel dan Rika sambil mengaktifkan Kekuatan Anginnya.


Laura yang dapat mengetahui yang dilakukan Evans dengan suara yang bergesek di udara pun mengetahui bahwa Evans telah selesai mandi.


“Rika! Lakukan tugasmu sekarang! Bawa Tatiana ke kamar Evans! Master Noel, kau pun pergi bersama Rika dan buat Tatiana datang ke Kamar Evans dengan niatnya sendiri! Aku ingin mereka berdua menghabiskan malam yang indah malam ini!” ucap Laura dengan suara yang tegas.


“Baik, Yang Mulia!” ucap Rika dengan suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang serius sambil menundukkan kepalanya.


“Marie, bawakan selimut tebal ke kamar Tuan Count. Aku tidak bisa melakukannya karena aku harus segera pergi menemui Nyonya! Apakah kau bisa melakukannya?” tanya Rika dengan ekspresi wajah yang pura-pura bingung.


“Jangan khawatir Madam. Saya akan melakukannya dengan sangat baik!” ucap Marie dengan senyum yang lebar dengan ekspresi wajah yang polos.


Marie yang pergi ke kamar Evans membawa selimut tiba-tiba melihat sebuah bayangan yang sangat menakutkan saat berjalan menuju lorong kamar Evans.


Marie yang memiliki nyali yang penakut pun menjadi sangat takut dan berlari kembali ke kamarnya dengan wajah yang ketakutan.


Master Noel yang sengaja melakukan itu ingin membuat Marie menolak melaksanakan tugas itu dan memberikannya kepada Tatiana yang saat ini ada di kamarnya.


“Ada apa Marie? Kenapa wajahmu pucat sekali?” tanya Tatiana dengan ekspresi wajah yang bingung dengan tatapan mata yang penasaran.


“A-aku melihat ha-hantu di lorong menuju kamar Tuan Count!” ucap Marie dengan tubuh yang bergetar ketakutan.


Tatiana yang mendengar nama Evans disebutkan langsung menjadi peka dan melihat sebuah selimut di dalam pelukan Marie.


“Apakah kau dalam perjalanan ke Kamar Tuan Count untuk mengantarkan selimut itu?” tanya Tatiana dengan ekspresi wajah yang sangat penasara.


“Agh, benar tapi sekarang aku sangat takut untuk datang melewati lorong itu lagi untuk mengantar selimut ini!” ucap Marie dengan ekspresi wajah yang polos.


“Hmmm, apakah kau mau aku membantumu? Aku bisa menggantikan tugasmu membawakan selimut itu ke kamar Tuan Count anggap saja ini sebagai balas budi untuk pertolonganmu saat aku sakit kemarin!” ucap Tatiana dengan senyum yang lembut.


“Baiklah. Terima kasih banyak, Tatiana. Kau sangat baik!” ucap Marie dengan ekspresi wajah yang lega lalu memberikan selimut yang ada di pelukannya kepada Tatiana.


Tatiana yang akhirnya dapat bertemu dengan Evans setelah sekian lama akhirnya menjadi sangat senang hingga melupakan kenyataan tentang dirinya yang telah telat satu bulan dari periode bulanannya.


Tatiana yang telah sampai di depan pintu kamar Evans pun mengetuk pintu beberapa kali tapi tak mendengar perintah lalu memutuskan untuk masuk ke dalam.


“Tuan Count, saya datang mengantarkan selimut yang anda inginkan!” ucap Tatiana dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan senyum yang lebar.


“Hmmm, Tuan Count! Tuan Count, apakah kau ada di dalam?” tanya Tatiana dengan suara yang penuh hati-hati lalu bergerak masuk ke dalam kamar Evans secara perlahan.


Tatiana yang melihat Evans tertidur dalam posisi terduduk dengan sebotol anggur yang telah kosong pun merasa sangat kasihan lalu memutuskan untuk memindahkan Evans ke tempat tidur.


Namun saat Tatiana menyentuh tubuh Evans, Evans yang memiliki sensitivitas yang tinggi meskipun dirinya mabuk langsung membuka matanya dan menangkap Tatiana.


Tatiana yang tertangkap berpindah posisi dan terbaring di atas meja di samping segelas anggur yang masih tersisa sedikit.


Evans yang sudah mabuk dan terkena efek obat halusinasi pun salah melihat Tatiana sebagai Laura yang sedang duduk di hadapannya.


“Kau yang telah menyebabkanku kehilangan posisiku sebagai Komando Kesatria Suci karena itu kau akan aku hukum!” ucap Evans dengan senyum yang jahat.


“Kau sangat ingin disentuh olehku, bukan? Kau sangat ingin merasa dicintai olehku juga, bukan? Maka malam ini aku akan mengabulkan keinginanmu itu! Kau akan merasakan malam pertama yang sangat menyakitkan!” ucap Evans dengan ekspresi wajah yang jahat.


Tatiana yang mendengar perkataan Evans pun menjadi sangat terkejut dan ekspresi ketakutan saat Baron Venon menyentuhnya pun teringat kembali.


Tatiana yang berniat melarikan diri niat jahat Evans ternyata tidak bisa melakukan apapun lagi setelah Evan menarik pakaiannya hingga sobek dan melemparkannya ke tempat tidur.


Sementara itu, Laura yang mendengarkan semua yang terjadi sejak awal pun tersenyum puas dengan ekspresi wajah yang gembira.


“Tatiana! Kau sangat ingin mengambil posisiku, bukan? Sekarang aku akan membiarkanmu menjadi diriku malam ini! Nikmatilah malam ini, Tatiana!” ucap Laura yang kemudian menonaktifkan Kekuatan Anginnya dan tidur dengan nyanyak.


#Bersambung#


Apa yang akan terjadi keesokan harinya? Apakah rencana Laura dan Pangeran Mahkota Richard akan berjalan lancar? Tebak di kolom komentar ya...