The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 60. Memanggil Tatiana ke Ibukota



Evans yang mendengar perkataan Laura pun merasa sedikit tersinggung karena menyadari statusnya yang sebenarnya hanyalah rakyat biasa.


"Apa maksud ucapanmu Laura? Apakah kau ingin mengancam orang di Kediaman ini?" tanya Evans dengan tatapan mata yang dingin.


"Jika aku harus mengancam orang maka orangku akan baik-baik saja maka aku akan melakukannya karena sekarang aku sudah menyadari satu hal, Tuan Count!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang datar.


"Jika kita tidak boleh bersikap terlalu baik pada orang lain jika tidak ingin dimanfaatkan!" ucap Laura dengan tatapan mata yang menjadi semakin tajam.


Evans yang mendengar perkataan Laura pun memejamkan matanya sesaat lalu membuat keputusan yang akhirnya membuat Kediaman Count Vansfold di Ibukota naik turun.


"Lakukan seperti yang diinginkan Marchioness! Pecat semuanya dan jangan berikan rekomendasi kepada semuanya!" ucao Evans dengan suara yang lantang sambil menatap wajah Laura.


"Lalu didik Pelayan yang baru dan Pelayan lama agar hal ini tidak terjadi kembali!" ucap Evans dengan ekspresi wajah yang dingin dan suara yang tegas.


"Baik, Tuan. Saya akan melaksanakannya dengan sangat baik agar hal seperti tak akan terulang kembali!" ucap George sambil membungkukkan tubuhnya di hadapan Evans yang pergi


Evans yang menyadari bahwa masalah dengan Pelayan ini tidak mungkin hanya terjadi di Kediamannya di Ibukota tapi juga di Wilayahnya pun memutuskan untuk menutup kemungkinan untuk Laura tidak mengeluh kembali


"Semua hal ini membuatku sakit kepala. Tidak disangka hal kecil seperti ini akan menjadi masalah yang begitu besar!" ucap Evans dalam hati dengan ekspresi wajah yang kesal.


"Aku telah melakikan yang kau inginkan, Laura. Apakah masih ada hal yang membuatmu merasa tidak senang?" tanya Evans dengan ekspresi wajah yang dingin.


"Tidak ada. Terima kasih banyak, Tuan Count!" ucap Laura yang berpikir bahwa Evans menginginkan ucapan terima kasih dengan sikap yang sopan.


"Jika kau merasa sangat berterima kasih lalu bagaimana caramu untuk membalasku?" tanya Evans yang mengubah perasaannya dengan senyum yang misterius.


Laura yang memahami keinginan terbesar Evans untuk membuatnya membujuk Pangeran Mahkota Richard untuk setuju dengan keinginan Putra Mahkota Lyod pun tersenyum sinis.


"Jika seperti itu maka saya akan memasuki dapur dan membuatkan sesuatu untuk Tuan Count!" ucap Laura dengan senyum yang lebar.


"Kalau begitu, aku akan menantikannya dengan senang hati!" ucap Evans dengan senyum yang lembut dengan sedikit kilatan kekecewaan di mata Evans.


Evans yang telah mengatakan yang ingin dikatakannya pun berbalik arah dan pergi meninggalkan kamar Laura.


George yang mendapatkan perintah langsung dari Evans pun memberikan perintah kepada Penjaga untuk menarik paksa semua Pelayan yang ada di dalam kamar Laura.


"Bawa mereka semua pergi dan jangan biarkan mereka menampakkan wajahnya di hadapan Countess!" ucap George dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan mata yang dingin.


Laura yang tidak ingin melupakan kejadian tidak menyenangkan saat dirinya sampai pertama kali d Kediaman Count Vansfold di Ibukota pun memberikan sebuah tekanan terakhir kepada George.


"George! Pelayan yang dipecat itu berasal dari semua posisi dan bukan hanya Pelayan yang merupakan bagian bersih-bersih saja! Pelayan yang ada di bagian dapur pun harus diganti!" ucap Laura dengan suara yang tegas.


"Baik, Nyonya!" jawab George dengan sikap yang sopan sambil membungkukkan tubuhnya di hadapan Laura dengan wajah yang yang datar lalu pergi meninggalkan ruangan.


Tak lama setelah kepergian George dan semuanya, Rika yang dipindahkan secara mendadak dengan cepat memasuki kamar Laura dan menangis di hadapan Laura.


"Yang Mulia... Huuh..Huhhh..Huuhh!" ucap Rika dengan mata yang memerah dengan ekspresi wajah yang sedih.


Laura yang tidak bisa melihat orang yang royal dan setia padanya bersedih pun mendekat lalu memeluk Rika dengan erat.


"Tenanglah. Tidak akan ada lagi orang yang akan melakukan ini lagi padamu. Aku telah membuat mereka semua kehilangan pekerjaannya dan menderita untuk waktu yang cukup lama!" ucap Laura dengan nada suara yang menyenangkan.


Rika yang mendengar perkataan Laura pun merasa sangat terharu lalu menghapus air matanya dan tersenyum lembut di hadapan Laura.


"Terima kasih, Yang Mulia!" ucap Rika dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan senyum yang lembut.


"Tidak! Yang Mulia tidak perlu mengatakan hal itu. Saya yakin kalau Yang Mulia pasti akan menolong saya dan tidak akan membiarkan saya menderita!" ucap Rika sambil menggelengkan kepala untuk meyakinkan Laura jika dirinya baik-baik saja.


Setelah semua yang terjadi, Kediaman Count Vansfold pun menjadi tenang kembali dan Laura yang berpikir awalnya jika harinya akan sangat sibuk tidak menyangka jika dirinya akan bersantai dengan sangat nyaman.


"Rika! Apakah Adrian Lopez telah kembali ke Wilayah Count Vansfold?" tanya Laura kepada Rika dengan nada suara yang datar sambil bersantai di Taman Kediaman Count Vansfold di Ibukota


"Menurut informasi, Adrian masih ada di Ibukota dan dia tidak jadi pergi sebelum Pesta disebabkan ketatnya larangan keluar masuknya orang-orang dari Ibukota!" ucap Rika yang berdiri di hadapan Laura sambil menuangkan teh hangat


"Kalau begitu, minta dia untuk menggunakan cara apapun agar bisa masuk ke Kediaman! Aku ingin membuatnya menjadi Pelayan di bawahku tanpa dicurigai orang lain!" ucap Laura dengan nada suara yang tegas.


Rika yang mendengar permintaan Laura pun menganggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan Laura di Taman tersebut sendirian.


"Rika! Bisakah kau panggilkan George kemari? Aku ingin bicara dengannya sebelum kau pergi!" ucap Laura dengan senyum yang lembut.


"Baik, Yang Mulia!" jawab Rika dengan suara yang datar dengan ekspresi wajah yang sopan sambil bergerak mundur meninggalkan Laura sendiri secara perlahan.


Laura yang duduk bersantai sambil memandang bunga yang bermekaran dengan indah di Taman pun mengalihkan pandangannya ke samping saat mendengar George datang.


"Nyonya, apakah anda memanggilku? Apakah ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" jawab George dengan sopan dengan senyum yang lembut.


Laura yang melihat George mengubah sikapnya menjadi lebih sopan setelah yang terjadi pagi tadi pun tersenyum sinis.


"Aku ingin kau membawa beberapa Pelayan yang ada di Kediaman Wilayah Count Vansfold terutama Pelayan yang pernah bekerja di Kediaman Count Vansfold di Ibukota!" ucap Laura dengan nada suara yang tegas.


Laura yang tau jika rencana besarnya untuk menghancurkan Evans tidak akan bisa terlaksana tanpa adanya Tatiana pun memutuskan untuk membawa Tatiana ke Ibukota.


"Tatiana harus ada di sini karena tanpa dirinya maka pertunjukan yang bagus ini tidak akan mungkin terjadi!" ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang datar.


Sementara itu, Pangeran Mahkota Richard yang telah kembali dari Rapat bersama Putra Mahkota Lyod dan yang lainnya pun akhirnya merasa sangat lelah.


"Yang Mulia, ini adalah teh spesial anda!" ucao Ajudan Mies dengan nada suara dan ekspresi wajah yang datar.


"Ingat! Jangan biarkan orang-orang dari Istana Kerajaan Hentallius dan orang-orang dari Delegasi kita mempengaruhimu!" ucap Pangeran Mahkota Richard yang memberikan peringatan kepada Ajudannya.


"Jangan biarkan mereka mendapatkan yang mereka inginkan dengan mudah dan ingatlah untuk menunda selama mungkin keputusan kita dalam Perjanjian ini hingga Laura memberikan keputusannya!" ucap Pangeran Mahkota Richard dengan suara yang tegas.


"Baik, Yang Mulia!" jawab Ajudan Mies dengan suara yang tegas dan lantang dengan tatapan mata yang tajam.


Ajudan Mies yang mendapatkan laporan dari Pelayan dan Kesatria bahwa Nona Martha terus datang mencari Pangeran Mahkota Richard pun merasa ragu untuk melaporkannya mengingat adegan panas yang dilihatnya bersama Pangeran Mahkota Richard semalam dengan Alat Sihir Komunikasi.


"Ada apa? Apakah ada masalah?" tanya Pangeran Mahkota Richard dengan alis yang mengkerut bingung melihat Ajudan Mies tidak biasanya bersikap ragu-ragu di hadapannya.


"Yang Mulia... Sebenarnya... Pelayan dan Kesatria datang menemuiku beberapa saat yang lalu. Mereka mengatakan bahwa Nona Martha terus-menerus datang meminta untuk bertemu dengan Yang Mulia!" ucap Ajudan Mies dengan perasaan was-was.


"Aku tidak ingin bertemu dengannya sementara waktu jadi aku serahkan ini kepadamu!" ucap Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang kesal dengan tangan yang terkepal erat.


"Aku juga ingin kau mengutus orang terpercaya kita untuk memata-matai Martha. Cari tau yang sedang dilakukannya dan rencananya yang sebenarnya! Lalu cari informasi tentang sejauh mana hubungan Martha dan Putra Mahkota Lyod!" ucap Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang serius.


#Bersambung#


Apakah Tatiana akan datang ke Ibukota sesuai dengan yang diinginkan Laura? Apakah Pangeran Mahkota Richard akan mendapatkan informasi yang diinginkannya? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya..