The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 80. Berita Surat Kabar Menyebar



Pangeran Ketiga Edward yang menepati janjinya pada Laura dengan cepat memberikan perintah kepada bawahannya untuk mencetak koran khusus untuk Kalangan Bangsawan dan Kalangan Rakyat Biasa.


"Semuanya harus bergerak cepat dan efisien! Kita harus membuat seluruh orang di Kerajaan Hentallius mengetahui masalah ini!" ucap Menejer Surat Kabar Highlight dengan carasuara yang lantang dengan tatapan mata yang tajam.


"Kabar ini akan menggemparkan Ibukota dan kita harus menjadi yang pertama membuat berita ini!" ucap Menejer Surat Kabar dengan semangat yang menggebu-gebu.


Hanya dalam waktu satu jam, berita tentang Perselingkuhan Evans dan Tatiana tersebar ke seluruh tempat hingga membuat Evans yang sedang memikirkan cara untuk meyakinkan Laura menjadi semakin kebingungan.


"Tuan Count! Tuan Count! Gawat!" teriak seorang Pelayan Pria dengan terburu-buru dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir di saat bersamaan.


"Ada apa? Kenapa kau berteriak-teriak seperti itu? Apakah kau tidak bisa menjaga etikamu di depan Tuan Count?" teriak George yang memarahi pelayan yang datang secara tiba-tiba dengan sikap yang tidak sopan.


"Tunggu! Biarkan dia bicara George. Mungkin saja dia benar-benar sedang terburu-buru karena ingin menyampaikan berita penting!" ucap Evans yang berubah penasaran saat melihat sebuah koran yang telah remuk di tangan Pelayan Pria itu.


"Tuan Count, gawat! Berita tentang perselingkuhanmu dengan Seorang Pelayan hingga tertangkap basah oleh Nyonya Countess dan Pangeran Mahkota Richard menyebar ke seluruh Ibukota!" ucap Pelayan itu dengan ekspresi wajah yang terkejut.


⁹Evans yang mendengar kabar yang sangat mengejutkannya itu pun menjadi panik dan menoleh ke ara George.


George yang mengerti arti dari tatapan mata Evans dan tanpa sadar mengambil koran yang ada di tangan pelayan pun memnbawa Surat Kabar tersebuy untuk ditunjukkannke Evans.


Evans yang membaca isi dari koran tersebut menjadi sangat marah dan kesal lalu melemparkannya ke lantai dengan sangat keras.


"Tuan harap tenangkan dirimu. Aku sangat yakin ini semua dilakukan oleh Nyonya Countess karena Pelayan di Kediaman ini tidak akan bisa keluar!" jawab George dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan mata yang tajam.


"Hah! Menyebalkan sekali!" teriak Evans dengan suara yang tinggi sambil mengepalka kedua tangannya untuk menahan amarahnya yang siap meledak kapanpun.


Namun, saat Evans melepaskan amarahnya dengan sangat cepat seorang pelayan wanita datang menyerahkan surat dari Putra Mahkota Lyod.


Evans yang penasaran dengan isi dari surat tersebut pun membacanya dengan perlahan dan mengubah wajahnya menjadi pucat seiring lamanya surat tersebut dibacakan.


"Tuan, apakah anda baik-baik saja?" tanya George dengan ekspresi wajah yang penasaran dengan tatapan mata yang bingung.


"Siapkan kereta kuda! Aku harus segera ke Istana Kerajaan! Yang Mulia Putra Mahkota telah menunggu kedatanganku!" ucap Evans dengan suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang serius.


George yang bisa menebak alasan Evans dipanggil ke Istana Kerajaan di saat keadaan sedang sangat runyam merasa bersalah kepada Evans.


"Tuan, maafkan aku tapi aku sungguh tak bisa berbuat apapun untuk masalah yang kau hadapi saat ini!" gumam George dengan suara yang rendah dengan tatapan sedih.


#Bersambung#


Apa yang akan terjadi pada Evans saat dirinya datang ke Istana Kerajaan menemui Putra Mahkota Lyod? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya...