
Evans yang tidak senang karena dihadang oleh Seorang Pelayan di Kediamannya sendiri pun menjadi sangat marah sehingga tanpa pikir panjang mendorong Rika menjauh hingga bahu Rika menabrak dinding di sampingnya.
Lalu saat Evans membuka pintu tersebut dengan paksa, Laura yang tidak menerima kedatangan Evans pun dengan cepat melemparkan sebuah gelas ke arah Evans.
Evans yang memiliki refleks yang sangat bagus ternyata dapat menangkap gelas tersebut dengan tepat.
"Keluar! Aku tidak mengizinkan siapapun masuk ke dalam kamarku!" teriak Laura dengan sangat keras dengan nada suara yang terdengar sangat marah.
"Rika! Antar keduanya keluar dari sini!" ucap Laura dengan nada suara yang memerintah dengan mata yang tajam.
Rika yang mendapatkan perintah dari Laura pun dengan cepat mengantar Evans dan George keluar dari kamar tersebut.
Evans yang melihat perban dan darah yang terlihat pada perban tersebut pun terdiam dan menuruti permintaan Laura.
Evans yang kembali ke Ruang Kerjanya pun terduduk dengan wajah yang bersalah sambil menarik nafas yang panjang.
George yang melihat Evans yang menyesali perbuatannya untuk kedua kalinya pun ikut sedih dan memberanikan diri untuk menenangkan Evans.
"Tuan, anda tidak boleh seperti ini. Anda memang melakukan kesalahan tapi anda masih bisa memperbaikinya." ucap George dengan ekspresi wajah yang serius.
"Tuan harus ingat bahwa Yang Mulia Putra Mahkota sedang dalam perjalanan kemari dan anda harus menyambut kedatangannya!" ucap George dengan nada suara yang tegas.
Evans yang mendengar perkataan George pun mengingat tujuan utamanya dan dengan cepat mengubah suasana hatinya.
"Semua yang kau katakan itu benar jadi aku serahkan masalah Laura padamu. Berikan dia perawatan yang terbaik dan jangan biarkan terjadi hal buruk padanya!" ucap Evans dengan nada suara yang tegas.
George yang mengerti tugasnya pun menundukkan kepalanya meminta izin keluar untuk menemui Dokter yang akan merawat luka Laura.
Evans yang mendapatkan kabar dari Pelayan bahwa Putra Mahkota Lyod telah sampai di Wilayah Vansfold dan akan segera tiba di Kediamanan dalam waktu lima belas menit pun dengan cepat bergerak turun menyambut kedatangan Putra Mahkota Lyod.
Sementara itu, Laura yang hanya meletakkan perban di kakinya yang telah sembuh pun dengan cepat melepaskannya.
"Yang Mulia, apa anda yakin ingin melakukan semua ini? Yang Mulia, anda tidak perlu sampai sejauh ini!" ucap Rika dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir di saat bersamaan.
"Aku harus melakukannya Rika. Ini hanyalah luka kecil yang akan segera sembuh dengan Air Suci. Aku hanya perlu menahan rasa sakitnya beberapa jam." ucap Laura dengan nada suara yang lembut dengan wajah yang menenangkan.
Rika yang tidak tega melihat Laura dengan sengaja melukai kakinya dengan pecahan vas bunga pun meneteskan air matanya.
"Jangan menangis! Ini hanyalah pengorbanan kecil demi keberhasilan rencanaku!" ucap Laura dengan senyum yang lembut.
Rika yang tak ingin membuat Laura bersedih pun menggigit bibir bawahnya untuk menahan air matanya yang ingin keluar lalu dengan cepat meletakkan perban di luka Laura.
Rika yang tak ingin rekayasa yang dilakukan Laura terbongkar pun membersihkan bekas darah yang ada di Vas Bunga lalu membuangnya.
Tak butuh waktu lama, George yang datang bersama Elliora pun meminta izin masuk mengingat sikap penolakan yang keras yang ditunjukkan Laura saat dirinya dan Evans pertama kali datang.
"Nyonya, saya membawa Seorang Dokter untuk merawat luka anda. Apakah saya boleh masuk?" tanya George dengan suara yang rendah dan sikap yang sopan.
Rika yang mewakili Laura menyambut tamu yang datang pun membuka pintu lalu mengatakan pesan dari Laura.
"Dokter Elliora boleh masuk tapi Tuan George harus tetap berada di luar!" ucap Rika dengan nada suara yang tegas dengan tata krama etika yang sempurna.
George yang mendengarnya pun membiarkan Elliora masuk ke dalam dalam dan dirinya tetap berdiri menunggu berita di luar.
"Salam, Nyonya. Mohon maafkan saya. Izinkan saya untuk memeriksa anda!" ucap Elliora dengan suara yang rendah.
"Majulah. Kau bisa melihat lukanya dari jarak dekat!" ucap Laura dengan nada suara dan ekspresi wajah yang datar.
Elliora yang mendapatkan izin dari Laura pun dengan cepat maju ke depan dan membuka perban yang ada di kaki Laura dengan perlahan karena takut Laura akan merasakan kesakitan.
Elliora yang melihat luka yang sangat dalam di kaki Laura pun menutup kembali luka tersebut dengan perban yang baru dan memberikan obat yang harus diminum Laura kepada Rika.
Elliora yang telah selesai dengan tugasnya pun keluar dan melaporkan hasil pemeriksaannya atas luka Laura kepada George.
"Luka yang ada di kaki Nyonya cukup dalam dan membutuhkan waktu beberapa hari untuk kering. Luka tersebut akan sembuh sepenuhnya setelah satu minggu berlalu dan tidak akan meninggalkan bekas sama sekali jika Nyonya melakukan seperti yang sudah saya katakan!" ucap Elliora dengan ekspresi wajah yang penuh keyakinan.
"Aku mengerti. Kau bisa kembali sekarang!" ucap George sambil memberikan sekantong uang emas kepada Elliora sebagai bayarannya.
"Terima kasih, Tuan!" ucap Eliora yang langsung mengambil bayarannya dan menyimpannya lalu pergi meninggalkan Kediaman Count Vansfold dengan cepat.
George yang menyadari konsekuensi yang akan ditanggung oleh Evans saat Laura tidak bisa menghadiri Pesta Penyambutan Pangeran Mahkota Richard pun merasa kepalanya terasa sakit sekali.
Sementara itu, Rika yang tak tahan melihat Laura meringis kesakitan karena luka yang dideritanya pun menjadi sedih.
"Yang Mulia, apakah tidak seharusnya anda memakai Air Suci itu sekarang?" tanya Rika yang khawatir dengan kondisi Laura.
"Sekarang belum saatnya, Putra Mahkota akan segera sampai dan aku harus memberikan pertunjukan yang menarik untuknya!" ucap Laura dengan senyum yang misterius.
Tepat setelah Laura mengatakan itu, Master Noel yang terus mengawasi dari luar pun datang menemui Laura.
"Yang Mulia, Putra Mahkota Lyod telah sampai di Kediaman dan saat ini sedang disambut oleh Tuan Count!" ucap Master Noel yang berlutut dengan satu kaki lalu menghilang dengan cepat.
Laura yang mendengarnya pun tersenyum senang dan mengalihkan pandangannya ke arah Rika.
"Bersiaplah. Kita akan mulai pertunjukan ini!" ucap Laura dengan nada suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang dingin.
Sementara itu, Evans yang datang sendirian menyambut kedatangan Putra Mahkota Lyod membuat Putra Mahkota Lyod menatap dingin ke arah Evans.
"Selamat datang, Yang Mulia Putra Mahkota. Masa depan Kerajaan yang lebih sejahtera!" ucap Evans dengan kepala tertunduk ke bawah dengan wajah tanpa ekspresi.
"Angkatlah kepalamu, Tuan Count! Kita bukanlah orang asing jadi abaikan saja semua formalitas ini!" ucap Putra Mahkota Lyod dengan senyum yang lembut.
"Hmmm, dimana Nyonya Countess? Apakah beliau sedang tidak ada di tempat?" tanya Putra Mahkota Lyod dengan ekspresi wajah yang dingin.
"Laura sedang sakit Yang Mulia. Oleh karena itu, dia tidak bisa datang menyambut kehadiran anda!" jawab Evans dengan percaya diri.
"Agh, sakit. Aku sangat sedih mendengarnya. Kebetulan aku ada disini. Apakah aku boleh melihat kondisi Nyonya?" tanya Putra Mahkota Lyod dengan tatapan mata yang curiga dengan senyum yang lembut.
"Tentu saja, Yang Mulia!" ucap Evans dengan ekspresi wajah yang serius dengan kepala tertunduk ke bawah.
Evans yang berjalan terlebih dahulu pun mengantar Putrq Mahkota Lyod menenui Laura yang ternyata telah diprediksi Laura sebelumnya.
#Bersambung#
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Apa yang akan dikatakan Laura pada Putra Mahkota Lyod nanti? Tunggu jawabannya di Bab selanjutnya ya..