
Laura yang telah duduk di sofa setelah Evans memberikan izinnya pun dengan cepat memberikan kode kepada Daniel dan Adrian untuk meletakkan peta wilayah Count Vansfold di atas meja.
"Aku tidak suka hal yang berbelit-belit jadi langsung saja ke intinya. Aku ingin Wilayah Count Vansfold dari Barat ke Timur!" ucap laura dengan suara yang tegas.
"Kau tidak pernah mengurusi daerah itu selama ini jadi lebih baik daerah itu menjadi milikku!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang serius.
"Lalu ini adalah daftar nama harta yang aku bawa saat menikah dari Kekaisaran Glorious ke Wilayah Count Vansfold! Aku ingin semuanya kembali tanpa kurang satu pun!" ucap Laura sambil memberikan kode kepada Adrian Lopez untuk menyerahkan lembaran nama barang yang dibawa Laura sebagai Mas Kawin kepada Evans.
"Tidak! Aku tidak akan melakukan semua yang kau katakan ini!" teriak Evans dengan suara yang lantang sambil melemparkan lembaran kertas yang ada di tangannya dan kertas Map yang ada di atas meja.
"Kau tidak bisa melakukan ini kepadaku Laura. Kau mencintaiku dan aku tau jika kau masih sangat mencintaiku! Kau melakukan semua ini karena marah padaku, bukan?" tanya Evans yang terlihat gila tapi Laura tetap santai menghirup tehnya.
"Kau menginginkan cintaku dan perhatianku. Oleh karenanya kau melakukan ini semua, bukan? Kau ingin aku memperhatikanmu sekarang!" ucap Evans yang terlihat sangat percaya diri sambil menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan.
"Kau tak perlu melakukan ini semua, Laura. Aku pasti akan memberikanmu cintaku, perhatianku bahkan hatiku padaku. Kita bisa kembali lagi seperti dulu!" ucap Evans yang telah berpindah tempat dan berdiri di samping Laura tapi dihentikan oleh Daniel yang ada di sisi kanan Laura.
Laura yang mendengar semua omong kosong yang tak berarti dari mulut Evans pun tersenyum kecil lalu meletakkan cangkir teh yang ada di tangannya.
"Cintamu yang kau tawarkan kepadaku itu sudah basi! Aku tidak menginginkannya lagi!" ucap Laura dengan tatapan mata yang tajam sambil berdiri tegap di hadapan Evans.
"Aku tidak perlu mengemis cinta atau perhatianmu karena bagiku kau tidak pantas mendapatkannya karenanya aku ingin mengambil semua yang aku berikan padamu!" ucap Laura sambil melipat kedua tangannya ke dada.
"Jika kau tak ingin memberikan yang seharusnya menjadi milikku maka itu tidak masalah karena aku pasti akan mendapatkannya cepat atau lambat!" ucap Laura ya mengulurkan satu tangannya yang dengan cepat Adrian Lopez mengambil map wilayah Count Vansfold dan lembaran catatan Mas Kawin dan meletakkannya di tangan Laura.
"Aku pasti akan mendapatkan semua yang aku inginkan termasuk nyawamu!" ucap Laura yang membuka matanya dengan tajam menatap Evans sambil menunjuk ke dada Evans.
Laura yang tak ingin berlama-lama lagi di Kediaman Count Vansfold pun berbalik arah lalu memberikan sebuah ancaman yang membuat Evans tak bisa menahan emosinya.
"Rajamu itu pengecut jadi aku yakin dia pasti akan segera memberikan pengumuman penurunan posisi Putra Mahkota dan..." ucap Laura yang tiba-tiba berheti berjalan dan bicara kemudian menatap tajam ke arah Evans.
"Dan aku bisa memberitau Kakakku sekarang bahwa kau menolak titah Rajamu seperti yang kau lakukan sekarang!" ucap Laura yang kembali berdiri dengan senyum yang licik.
"Maka dalam hitungan menit puluhan bahkan ratusan Kesatria dari Istana dan juga Komandannya akan datang mengakuisis Kediaman ini dan membuat Kediaman Count Vansfold terlibat dalam Kudeta maka tak satupun orang di Kediaman ini akan selamat!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang cuek dan tatapan mata yang dingin.
"Maka setelah itu semua yang menjadi milikmu akan jatuh ke tanganku semuanya tanpa terkecuali!" ucap Laura dengan senyum yang lebar.
Pelayan yang mendengar ancaman Laura menjadi ketakutan bahkan tak jarang wajah semuanya menjadi pucat dan membiru mengingat bahwa mereka akan ikut dipancung.
Sementara Evans yang menjadi target utama dalam ancaman Laura pun menjadi sangat marah dan peperangan di dalam batinnya terlihat sangat jelas tapi emosi yang tak dapat dikendalikan terlihat jelas di hadapan Laura.
"Lauraaaaaaa!" teriak Evans dengan sangat keras dan lantang dengan mata yang terbuka lebar serta wajah yang marah dan penuh emosi yang meledak-ledak.
Laura yang tak takut dengan suara lantang dan wajah marah dari Evans pun berdiri tegap seperti sedang menantang Evans yang sedang marah.
"Tak usah berteriak memanggil namaku seperti itu karena aku berdiri tepat di depanmu!" ucap Laura dengan nada suara yang cuek dan wajah tidak peduli.
"Tandatangani saja surat ini maka semuanya akan selesai!" ucap Laura yang memberika kode kepada Daniel untuk meletakkan lembaran kertas perjanjuan dengan sebuah tempat yang harus ditandatangani oleh Evans.
Evans yang melihat lembaran kertas di hadapannya di atas meja pun menjadi sangat marah seolah harga dirinya diinjak-injak oleh Laura yang seorang wanita.
#Bersambung#
Apakah Evans akan menandatangani dokumen yang diberikan Laura atau tidak? Atau apakah Laura akan melakukan rencananya dan membuat semuanya mati bersama? Tebak jawabannya di BAB selanjutnya ya..