The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 33. Permintaan Cerai Perdana



Laura yang pergi menemui Marchioness Sovetti di Ruang Tunggu tidak menyangka akan melihat Evans dan George yang telah datang lebih dulu menemui Marchioness Sovetti.


"Apa yang dilakukan Evans disini? Bagaimana bisa dia tau bahwa Marchioness Sovetti datang kemari?" tanya Laura dalam hati dengan tatapan mata yang curiga.


Marchioness Sovetti yang menyadari keberadaan Laura pun langsung berdiri dan menabur senyum yang sangat lebar dengan diikuti oleh Evans di belakangnya.


"Agh, Countess Vansfold! Maafkan saya yang tidak langsung menyapa anda terlebih dahulu!" ucap Marchioness dengan ekspresi wajah yang bersahabat dengan senyum yang lebar.


"Saya mengerti. Nyonya sedang bicara dengan Tuan Count jadi wajar saja jika Nyonya tidak menyadari keberadaan saya!" sindir Laura dengan senyum yang lembut.


Laura yang tidak mengetahui yang pembicaraan singkat antara Evans dan Marchioness Sovetti pun menanyakan masalah perjanjian keduanya dengan polosnya.


"Hmmm, apakah Nyonya kemari ingin menepati janji yang telah Nyonya sepakati?” tanya Laura dengan senyum yang lembut dengan ekspresi wajah yang bersahabat.


Marchioness Sovetti yang mendengar pertanyaan Laura pun dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah Evans.


Evans yang menginginkan hubungan kerjasama dalam bidang bisnis dengan wilayah Sovetti di bagian Utara Kota Kerajaan ternyata telah membuat kesepakatan dengan Marchioness Sovetti tanpa sepengatahuan Laura.


“Laura, mengenai perjanjian yang telah kalian sepakati sebaiknya itu dibatalkan saja. Saya sudah bicara dengan Marchioness Sovetti dan Marchioness Sovetti juga telah setuju untuk bicara dengan Marquess membuka jalur kerjasama dengan kita.” Ucap Evans dengan penuh percaya diri dengan ekpsresi wajah yang bahagia.


“Tentu saja Tuan Count. Anda tidak perlu khawatir. Suamiku pasti akan setuju untuk membuka kerjasama dengan anda!” ucap Marchioness Sovetti dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan senyum kemenangan.


Laura yang mendengar perkataan Evans dan Marchioness Sovetti yang membuat kesepakatan tanpa dirinya pun menjadi sangat kesal.


“Apakah mereka berdua pikir aku ini idiot? Beraninya mereka memperlakukanku seperti ini! Lihat bagaimana aku mengurus masalah ini!” ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang berubah serius dan tatapan mata yang menjadi sangat tajam.


Laura yang telah membuat keputusan untuk memiliki Tambang Mineral Shoven untuk investasinya di masa depan pun tidak ingin melepaskannya begitu saja.


“Rika!” panggil Laura dengan nada suara yang lembut dengan ekspresi wajah yang dingin dan tatapan mata yang tajam.


“Ya, Nyonya!” ucap Rika dengan cepat menjawab panggilan Laura sambil bergerak ke samping menundukkan kepalanya.


“Kirimkan surat perjanjian yang telah ditandatangani Nyonya Sovetti ke Pengadilan Terbuka dan katakan bahwa Nyonya Sovetti telah melanggar perjanjian itu!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas.


Marchioness Sovetti yang mendengar perkataan Laura pun langsung mengubah ekspresinya menjadi sangat cemas.


Marchioness Sovetti yang sangat mementingkan harga diri dan nama baiknya pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah Evans mencoba meminta bantuan Evans.


Evans yang menyadari kode yang diberikan Marchioness Sovetti pun langsung mencoba membujuk Laura.


“Laura! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melakukan ini? Aku dan Marchioness Sovetti telah mencapai kesepakatannya!” ucap Evans dengan nada suara yang sedikit tinggi dengan ekspresi wajah yang kesal.


“Kesepakatan itu antara Tuan Count dan Marchioness Sovetti tapi Perjanjian yang dilakukan oleh Nyonya Sovetti denganku tidak bisa dibatalkan begitu saja karena aku menginginkan Tambang Mineral Shoven ini!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang cuek dan tatapan mata yang dingin.


Evans yang merasa jika Laura sengaja mengatakan hal itu untuk mempermalukannya di depan Marchioness Sovetti pun menjadi sangat kesal dan marah.


Evans yang tidak memiliki wajah lagi untuk bicara pun menghentikkan kakinya ke lantai lalu keluar dari ruangan itu sambil membanting pintu dengan sangat keras.


Laura yang tidak perduli dengan kemarahan yang dilampiaskan Evans dengan percaya diri berbalik arah menghadap Marchioness Sovetti.


Laura yang berjalan ke depan lalu duduk di sofa yang kosong pun memberikan kode kepada Rika untuk menuangkan teh hangat untuknya.


Laura yang tidak ingin bicara dengan kondisi yang emosi pun tersenyum dengan sangat lembut ke arah Marchioness Sovetti lalu mempersilahkannya duduk kembali dan meminta Rika mengisi ulang gelas Marchioness Sovetti yang kosong.


“Bagaimana Nyonya? Apakah anda benar-benar ingin melanggar perjanjian yang telah kita sepakati? Maka aku akan membuka sidang terbuka terkait masalah ini!” ucap Laura dengan senyum yang lebar dengan tatapan mata yang tajam.


Laura yang mengambil Surat Kepemilikan itu dari tangan Marchioness Sovetti pun membaca isinya dengan teliti lalu menyerahkannya kepada Rika.


“Aku senang karena Nyonya telah menepati janji anda dan jika di masa depan Nyonya ingin bermain taruhan denganku lagi maka katakan saja. Aku pasti akan senang hati menerimanya!” ucap Laura dengan senyum yang lembut.


Marchioness Sovetti yang mendengar perkataan Laura pun hanya bisa menahan kekesalan dan kemarahannya saja lalu berjalan keluar dan meninggalkan Kediaman Count Vansfold dengan hati yang penuh dendam.


“Aku tidak akan memaafkanmu Countess Vansfold! Aku bersumpah, aku tidak akan pernah membuat perjanjian kerjasama apapun dengan Keluarga Count Vansfold di masa depan!” ucap Marchioness Sovetti dengan suara yang rendah saat di dalam kereta kuda untuk kembali ke Kediamannya.


Sementara itu, Laura yang mendapatkan yang diinginkannya pun meminta Rika untuk menyimpan Surat Kepemilikan Tambang Mineral Shoven di Bank Magical.


“Master Noel!” panggil Laura dengan suara yang rendah dengan kewaspadaan yang tinggi dengan ekspresi wajah yang serius.


“Hamba di sini Yang Mulia. Apa perintahmu?” tanya Master Noel dengan satu tangan di dada dengan kepala tertunduk ke bawah.


“Aku ingin kau melindungi Rika menyimpan Surat berharga itu di Bank Magical! Jangan biarkan siapapun mengambilnya!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas.


Laura yang menyadari bahwa Master Noel sangat mencemaskan dirinya pun memberikan pengertian bahwa dirinya akan baik-baik saja.


“Jangan cemas! Tidak terjadi hal buruk apapun padaku karena aku akan tetap tinggal di dalam kamarku hingga kalian berdua kembali!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang serius.


Master Noel yang telah yakin bahwa Laura akan baik-baik saja pun menghilang dalam keheningan dan Rika yang tak ingin gagal dalam misinya pun menyimpan Surat Kepemilikan Tambang Mineral Shoven dan kunci emas dengan hati-hati lalu keluar dengan kewaspadaan tinggi.


Laura yang melihat Rika keluar dari Kediaman Count Vansfold dengan aman dari jendela pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Namun sebelum Laura bisa kembali, pintu ruangan yang tertutup rapat tiba-tiba terbuka dengan sangat lebar dan Evans yang menatap tajam ke arah Laura pun masuk ke dalam.


“Sial! Apa yang akan dilakukan Evans saat ini?” tanya Laura dalam hati dengan alis yang mengkerut karena bingung.


Laura yang merasakan perasaan berbahaya pada Evans tanpa sadar mundur ke belakang beberapa langkah hingga akhirnya Laura tak bisa bergerak lagi karena sudah menyentuh tembok.


Laura yang tidak ingin terlihat takut di hadapan Evans pun mengangkat kepalanya dan menatap mata Evans dengan sama tajamnya.


“Aku tidak akan takut padanya! Aku akan menghadapinya apapun yang terjadi!” ucap Laura dalam hati dengan tekad yang kuat.


Evans yang sangat marah pada Laura yang telah sangat berubah dan tidak pernah menuruti perkataannya lagi pun menghancurkan vas bunga yang ada di meja hingga hancur berantakan.


“Apakah kau sangat marah karena aku tidak membawamu ke Ibukota? Jika itu masalahnya maka aku akan membawamu lain kali dan aku bejanji!” ucap Evans dengan nada suara yang tinggi dengan mata yang melotot tajam.


“Jika kau marah karena aku mengabaikan ancamanmu maka aku minta maaf. Aku minta maaf. Apakah kau puas sekarang?” tanya Evans dengan ekspresi wajah yang sangat kesal.


Laura yang tidak percaya bahwa Evans akan meminta maaf dan mengakui kesalahan yang bahkan tidak dari hatinya itu pun menatap dingin ke arah Evans.


“Apakah ini caramu meminta maaf padaku? Apakah kau pikir kesalahanmu hanya itu saja? Jika itu yang ada di dalam otakmu yang kecil maka kau salah besar!” sindir Laura dengan ekspresi wajah yang dingin.


“Aku sudah sangat tidak tahan dengan pernikahan ini. Oleh karena itu, bagaimana kalau kita bercerai saja? Ayo kita bercerai!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan mata yang tajam dan tekad yang sangat kuat terlihat dari sorot matanya.


#Bersambung#


Wow, Laura meminta cerai di luar dari rencana yang telah dibuatnya. Lalu bagaimana tanggapan Evans selanjutnya? Apakah Evans akan setuju untuk bercerai? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya...


*Note* BESOK AUTHOR CRAZY UPDATE