
Tatiana yang merasakan sakit pada perutnya secara tiba-tiba melihat darah keluar yang membuat Tatiana terkejut.
"Da-Darah... Darah apa ini?" tanya Tatiana dengan ekspresi wajah yang terkejut dengan mata yang terbuka lebar melihat darah yang ada di tangannya.
"Aku harus keluar dari Hutan ini dan menemui Dokter. Aku tidak bisa kehilangan anakku!" ucap Tatiana dengan ekspresi wajah yang bingung sambil berusaha berjalan tertatih-tatih.
Tatiana yang kehabisan tenaga dan darah yang keluar semakin lama semakin banyak pun membuat Tatiana terduduk dan bersandar di pohon besar.
"Aaarrgghhh! Anakku..." gumam Tatiana dengan suara yang rendah dengan pandangan mata yang perlahan kabur dan akhirnya benar-benar kehilangan kesadarannya.
Sementara itu, Pangeran Kedua Illion yang tau jika Laura sedang menunggu kabar baik darinya pun menerbangkan Burung Merpati pengurim pesan kepada Laura.
Laura yang sedang duduk pun secara tak terduga melihat burung merpati milik Pangeran Kedua Illion dan mengambil pesan kecil yang ada di kaki burung.
"Hmmm, Duke Balmon telah terbunuh. Pangeran Kedua Illion menusukkan pedangnya ke jantung Duke Balmon!" ucap Laura dengan suara yang pelan yang masih dapat didengar oleh Rika yang berdiri di sampingnya dengan wajah terkejut.
Laura yang tak ingin berita kematian Duke Balmon bocor pun membakar pesan tersebut dan melepaskan kembali burung merpati milik Pangeran Kedua Ilion.
Laura yang teringat akan Tatiana pun menghitung kembali hari sejak dirinya memberikan obat pelemah kandungan kepada Tatiana dan tersenyum puas setelah mengetahui hasil perhitungannya.
"Hmmm, tidak lama lagi wanita itu pasti akan merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya!" ucap Laura dengan tatapan mata yang tajam dan ekspresi wajah yang dingin.
"Benar sekali yang mulia. Menurut perhitunganku berdasarkan perkataan Dokter Elliora bahwa Tatiana akan keguguran hari ini!" ucap Rika dengan ekspresi wajah yang percaya diri.
Laura sebenarnya tak ingin membawa anak tidak berdosa di dalam kandungan Tatiana tapi Laura tau jika Tatiana tertangkap sebagai Penyihir Hitam, apapun yang terjadi anak itu pasti akan tetap mati.
"Aku tidak menjadi orang yang jahat, kan Rika?" tanya Laura yang memiliki sedikit perasaan bersalah karena telah membunuh bayi yang tidak berdosa.
"Tidak Yang Mulia. Meskipun anda tidak membunuh bayi itu sekarang, bayi itu akan tetap meninggal bersama ibunya yang akan dibakar hidup-hidup setelah tertangkap!" ucap Rika dengan nada suara yang tegas.
Laura yang juga mengetahui kenyataan itu pun meyakinkan dirinya jika dirinya tak melakukan kesalahan apapun sekarang.
Master Noel yang telah mencari keberadaan Tatiana dengan alat sihir sehari sebelum perintah dari Raja Jonathan IV akhirnya kembali melapor.
"Yang Mulia, saya sudah menemukan letak keberadaan wanita itu!" ucap Mater Noel dengan nada suara yang tegas dan ekspresi wajah yang serius.
"Beritau Pangeran Kedua Illion tentang hal ini dan bantu dia menangkap Tatiana hidup-hidup!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang dingin.
"Baik, Yang Mulia!" ucap Master Noel yang langsung menghilang menggunakan sihir teleportasi menuju ke tempat Pangeran Kedua Illion berada.
"Aku akan menjadikan Pangeran Kedua Illion sebagai Pahlawan dan menjadikannya Raja Kerajaan ini di masa depan!" ucap Laura yang tak ingin menyisahkan satu orangpun yang akan menjadi musuh masa depannya.
Tepat setelah perintah diberikan, Master Noel yang telah pergi menemui Pangeran Kedua Illion pun muncul secara tiba-tiba di hadapan Pangeran Kedua Illion.
Pangeran kedua Illion yang tau ini adalah Peluang besar untuknya pun bergegas pergi menangkap Tatiana bersama Master Noel.
"Aku akan pergi menangkap Penyihir Hitam itu dan aku serahkan rekayasa kematian Duke Balmon padamu, William!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah yang serius.
"Baik, Yang Mulia!" ucap Viscount Ballaguisse dengan ekspresi wajah yang patuh dan sikap yang sopan lalu membiarkan Pangeran Kedua Illion pergi bersama Master Noel dengan menggunakan Sihir Teleportasi.
Tak butuh waktu lama, Pangeran Kedua Illion yang pergi dengan Sihir Teleportasi akhirnya sampai di Hutan tempat Tatiana berada.
"Dimana wanita itu? Kenapa aku tidak melihat keberadaanny?" tanya Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah yang bingung dan mata yang mencari ke seluruh tempat keberadaan Tatiana.
"Wanita itu ada disana saat aku melaporkan diri jadi sepertinya wanita itu telah bergerak mencari tempat persembunyian!" ucap Master Noel dengan ekspresi wajah yang percaya diri lalu pergi menghilang.
Pangeran Kedua Illion yang tak ingin menyerah pun turun dari kudanya dan mengikat tali kuda di pohon lalu mencari jejak keberadaan Tatiana.
Pangeran Kedua Illion yang terus mencari jejak keberadaan Tatiana dengan teliti akhirnya menemukan petunjuk di salah satu daun yang terjatuh ke tanah.
"Darah? Darah siapa ini? Darah ini sepertinya masih sangat segar!" ucap Pangeran Kedua Illion yang mengambil bercak darah yang tertinggal di daun dengan mata yang menyipit.
Di saat yang sama, Tatiana yang kehilangan kesadarannya di dunia nyata pun membuka matanya dan menemukan dirinya di tempat yang berbeda.
Tatiana yang mendengar suara bayi yang menangis pun bergegas mencari asal suara tersebut dan melihat seorang bayi sedang menangis di dalam keranjang dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
"Anak ini... Kenapa wajahnya terlihat sangat tidak asing?" tanya Tatiana dengan suara yang rendah dengan mata yang terus melihat ke arah bayi yang masih menangis.
Tatiana yang berniat menggendong anak tersebut agar diam secara tiba-tiba dihentikan oleh seseorang yang sangat dirindukan Tatiana.
"I-ibu... Ayah... Kalian... Tatiana merindukan kalian! Tatiana ingin ikut dengan Ayah dan Ibu!" ucap Tatiana dengan ekspresi wajah yang sedih dengan air mata yang mengalir sangat banyak.
"Tatiana, waktumu belum habis. Kau tidak bisa ikut bersama kami. Kami datang hanya ingin membawa bayimu!" ucap seorang wanita dengan nada suara yang ramah dan senyum yang lembut.
"Apa? Bayiku? Apa maksudnya itu?" tanya Tatiana yang bingung dengan mata yang terbuka lebar dan ekspresi wajah yang tak mengerti.
Tatiana yang melihat kedua orangtuanya telah pergi menjauh membawa bayi dalam keranjang yang tak lagi menangis pun menyadari maksud dari ucapan Ibunya.
"Tidak! Bayiku.... Anakku.... Jangan bawa anakku.... Aaarrggghhhh! Hhuuuuhhh.... Huuuhh... Huuuhhh!" ucap Tatiana dengan suara yang keras dengan derai air mata yang tidak bisa dihentikannya.
#Bersambung#
Apakah pangeran Kedua Illion bisa menemukan keberadaan tatiana? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya..