The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 32. Kedatangan Tamu



Evans yang sedang bekerja di Ruang Kerja tiba-tiba mendengar suara yang sangat berisik dari luar.


"Suara apa itu? Kenapa berisik sekali?" gumam Evans dengan ekspresi wajah yang kesal dengan nada suara yang sedikit tinggi.


Evans yang telah memanggil George berulang kali tapi tidak mendapatkan jawaban pun memutuskan untuk keluar dan mencari tau yang terjadi.


Lalu saat Evans menarik tangan salah seorang Pelayan yang lewat untuk mendapatkan informasi yang diinginkannya menjadi sangat terkejut saat mengetahui kenyataannya.


"Tunggu! Katakan padaku apa yang telah terjadi?" taya Evans dengan nada suara yang sedikit tinggi dengan mata yang tajam.


"Nyo-Nyonya membawa keluar semua kotak hadiah yang ada di dalam kamarnya keluar lalu membakar semuanya!" ucap Pelayan tersebut dengan nada suara yang gagap dengan ekspresi wajah yang takut.


"A-apa? Membakar semua hadiah?" tanya Evans yang tidak percaya dengan yang didengarnya pun tanpa sadar mendorong pelayan tersebut menjauh dan bergerak dengan cepat ke lokasi yang dikatakan pelayan itu.


Evans yang melihat Laura memegang Kristal Sihir yang mengandung Api di tangannya lalu mengarahkan Api yang keluar ke tumpukan Hadiah mahal dan mewah yang diberikan pun menjadi sangat marah.


Amarah yang memuncak itu pun tak bisa ditahan lagi saat satu per satu hadiah itu terbakar dan berubah menjadi abu di depan matanya.


"Laura!" panggil Evans dengan suara yang lantang dan sangat keras dengan mata yang melotot tajam.


"Apa kau sudah gila? Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau membakar semua hadiah yang aku berikan?" tanya Evans dengan nada suara yang tinggi dengan ekspresi wajah yang marah dan kesal di saat bersamaan.


"Aku tidak gila dan aku sangat waras!" ucap Laura dengan senyum yang lebar dengan ekspresi wajah yang bahagia.


"Lalu apa maksudmu dengan membakar semua hadiah yang aku berikan?" tanya Evans dengan ekspresi wajah yang dingin dengan mata yang tajam.


"Hmmm, aku sudah bilang kepada George bahwa aku tidak membutuhkan semua ini lalu aku memintanya untuk mengembalikan semuanya padamu tapi George bilang bahwa hadiah ini milikku dan tidak bisa dikembalikan jadi..." ucap Laura yang tiba-tiba menghentikan perkataannya.


"Jadi aku memabakar semuanya. Bukankah semua ini milikku dan terserah aku mau aku apakan hadiah-hadiah ini. Benar begitu bukan, Rika?" tanya Laura yang membalas kekesalan Evans dengan senyuman lebar dan lembut.


Evans yang sangat ingin memberikan pelajaran atas sikap Laura yang sudah sangat keterlaluan ternyata tidak bisa melakukan apapun pada Laura.


Evans hanya bisa menahan kekesalan dan amarahnya di dalam hati dengan mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat.


Evans yang merasa jika kepalanya mulai terasa sangat sakit dengan sikap Laura yang berubah sangat drastis pun memilih untuk kembali ke ruang kerjanya.


Laura yang merasakan kemenangan dalam perdebatan pertama ini pun menjadi sangat senang dan melanjutkan aksinya membakar semua hadiah-hadiah itu tanpa bersisa.


Sementara itu, Tatiana yang melihat Evans yang tidak bisa melakukan apapun atas perbuatan Laura yang sudah sangat keterlaluan pun merasa iba kepada Evans.


"Kasihan sekali, Tuan Count. Bagaimana mungkin wanita jahat seperti ini menjadi Countess? Aku sangat setuju wanita ini menjadi Istri, Tuan Count." ucap Tatiana dalam hati dengan ekspresi wajah yang kesal sambil menatap Laura dengan penuh kebencian.


"Jika aku menjadi Istri, Tuan Count. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan semua hadiah yang diberikan Tuan Count padaku dan aku pasti akan memberikannya cinta dan kasih sayang yang tulua padanya!" ucap Tatiana dengan ekspresi wajah yang tiba-tiba berubah sedih.


Laura yang diam-diam memperhatikan Tatiana sejak awal dirinya berdebat dengan Evans pun menyadari satu hal.


"Wanita tidak tau diri ini terus menatap Evans dengan tatapan mata yang sangat memuja. Jika kau begitu sangat ingin bersamanya, aku akan membantu hal itu terjaid lebih cepat karena aku sendiri pun tidak ingin melihat wajahnya lagi!" ucap Laura dalam hati dengan tatapan mata yang tajam.


Laura yang telah merasa sangat puas setelah melihat wajah amarah yang tertahan milik Evans pun kembali ke kamarnya dengan suasana hati yang bahagia.


Rika yang tak ingin menghancurkan perasaan bahagia Laura pun dengan cepat menyiapkan minuman dan makanan ringan kesukaan Laura di atas meja.


"Silahkan Yang Mulia!" ucap Rika dengan senyum yang lembut dan dengan nada suara yang ceria.


"Terima kasih. Kau bisa kembali istirahat sekarang Rika karena aku ingin sendirian sekarang!" ucap Laura dengan nada suara yang tegas.


Rika yang tak ingin mengganggu waktu Laura yang sangat berharga pun keluar dan berjaga di depan pintu karena khawatir Laura akan menghubunginya karena membutuhkan sesuatu darinya.


Laura yang mencoba mengingat kembali kejadian yang akan terjadi di kehidupan masa lalunya di masa sekarang tiba-tiba mendengar suara ketukan pintu dari Rika.


"Yang Mulia, Nyonya Marchioness Sovetti datang untuk bertemu dengan anda dan saat ini beliau sedang ada di Ruang tunggu!" ucap Rika dengan wajah yang datar.


Rika yang mengingat tentang taruhan yang dilakukannya dengan Marchioness Sovetti pun menjadi sangat bersemangat.


"Hmmm, tak disangka ternyata Nyonya Marchioness Sovetti akan datang secepat ini. Aku kira dia akan datang beberapa hari lagi!" gumam Laura dengan senyum yang lebar.


"Kalau begitu kita temui Nyonya Marchioness Sovetti sekarang!" ucap Laura yang langsung berdiri di tempatnya dengan senyum yang lebar.


"Ya Yang Mulia." ucap Rika yang menundukkan kepalanya dengan patuh dengan sikap yang sangat sopan.


#Bersambung#


Apakah tujuan kedatangan Marchioness Sovetti? Tebak di Kolom komentar ya..