
Laura yang telah pergi meninggalkan Evans pun pergi menemui Tatiana yang dikurung di dalam Penjara paling ujung dan dingin.
Tatiana yang merupakan keturunan Penyihir Hitam pun dimasukkan ke dalam Penjara khusus agar tak bisa menggunakan kekuatannya.
"Hai, bagaimana kabarmu? Apa kau bahagia bersamanya?" tanya Laura secara langsung dengan senyum yang licik.
Tatiana yang tidak menyadari kedatangan laura menemuinya benar-benar terkejut hingga tak bisa menjawab pertanyaan Laura yang menurutnya sangat mendadak dan aneh.
Laura yang tak peduli dengan yang dipikirkan ataupun dirasakan oleh Tatiana pun melanjutkan kata-katanya.
"Hmmm, kenapa kau diam saja? Kemana rasa percaya dirimu saat tau jika aku dan Tuan Count... Ups! Maksudku Mantan Count!... Telah berpisah?" tanya Laura dengan tawa kecil di sudut bibirnya.
"Agh, kau pasti terkejut akan kedatanganku dan bertanya-tanya bagaimana aku bisa datang kemari! Hmmm, apakah itu penting sekarang? Tentu saja jawabannya tidak!" ucap Laura dengan wajah yang cuek.
Laura yang melihat Tatiana tidak setiap merespon kata-katanya dengan amarah ataupun teriakan melainkan diam seribu bahasa menjadi penasaran ingin melihat Tatiana meledak emosi.
"Reaksimu sungguh membosankan jadi membuatku tidak tertarik untuk bicara lebih lama tapi jangan khawatir karena aku akan tetap mengatakan semuanya terlewat apapun yang kau katakan!" ucap Laura dengan senyum lebar yang menakutkan.
Laura yang mengatakan semua yang dilakaukannya kepada Tatiana dan Evans hingga akhirnya berhasil membuat Tatiana memberikan respon.
"Hmmmm, Aku yang membuat rencana untuk membawamu ke kamar Evans dengan alasan mengantar selimut padanya malam itu!
"Lalu apa kau tau jika aku juga yang telah sengaja memberikan minuman anggur dengan obat halusinasi kepada Evans agar kalian berdua bisa menikmati malam indah dan tak terlupakan bersama!"
"Bukankah kau sudah menunggu saat itu untuk menutupi anak Baron Vernon yang kau kandung?"
"A-apa maksud dari semua ucapanmu?" tanya Tatiana dengan wajah yang terkejut dan tak percaya dengan yang didengarnya.
Laura yang melihat Tatiana mulai merespon perkataannya pun mulai bersemangat dan merasakan sedikit kesenangan.
"Hmmm, darimana aku harus menjelaskannya, ya?" tanya Laura yang seolah sedang berpikir dengan sangat keras.
"Agh, aku sudah mengetahui semuanya dari awal semenjak kedatanganmu ke Kediaman Count Vansfold jika kau memiliki keinginan bodoh untuk mendapatkan pria milik orang lain dan mengambil posisi yang tak pantas kau impikan!" ucap Laura dengan senyum yang lebar.
"Aku tau kau menyukai Evans dan cemburu padaku karena ternyata Evans telah memiliki istri!" ucap Laura dengan tatapan mata yang tajam sambil membungkukkan sedikit tubuhnya lalu memegang dagu Tatiana dengan sedikit kasar lalu melepaskannya dan mengelap tangannnya dengan sapu tangan setelah melepaskan dagu Tatiana.
"Aku tau jika kau adalah Penyihir Hitam dan kau pula yang membuat jebakan agar diriku dinodai oleh Baron Vernon!" ucap Laura dengan wajah yang cuek.
Tatiana yang mendengar perkataan Laura menjadi sangat terkejut karena tak ada seorangpun yang tau kebenaran itu selain dirinya sendiri.
"Tidak mungkin! Kau pasti hanya asal menebaknya! Tidak mungkin jika kau sudah mengetahui semuamya sejak awal! Penipu!" teriak Tatiana dengan wajah yang berubah pucat.
"Hmmm, tenanglah! Kau tak perlu menghabiskan semua tenagamu sekarang karena masih banyak hal yang ingin aku katakan dan kau harus tau." ucap Laura dengan wajah yang terlihat jahil.
Tatiana yang mendengar perkataan Laura menjadi sangat terkejut hingga tanpa sadar menunjukkan raut wajah penasaran.
"A-apa maksud ucapanmu itu?" tanya Tatiana dengan suara yang gagap dan wajah yang gugup serta bingung di saat bersamaan.
"Aku tau kau menginginkan semua yang aku miliki mulai dari statusku hingga semuanya jadi aku memutuskan untuk memberikannya padamu!" ucap Laura dengan percaya diri.
Laura yang ingin membalas Tatiana untuk semua perbuatannya di masa lalu pun memutuskan untuk melakukan hal yang sama.
Laura yang berjalan maju ke depan pun memakai sarung tangan putih lalu memegang dagu Tatiana dengan tatapan mata yang tajam lurus ke depan.
"Kau tidak berhasil merebut posisi Countess ataupun menikahi Evans! Semua yang terjadi padamu adalah pemberianku!"
"Aku yang telah membuang posisi dan statusku itu karena aku sudah merasa mu*k dengan semuanya!"
"Aku yang telah merencanakan malam indahmu bersama Evans karena aku membutuhkan alasan kuat untuk bercerai dengannya dengan membawa kembali semua yang telah aku berikan!"
"Aku yang membuatmu masuk ke dalam penjara bawah tanah Kediaman Count Vansfold!"
"Aku yang mengirim Yetti menemuimu di Penjara hingga kau marah dan lepas kendali lalu menunjukkan identitasmu yang sebenarnya!"
"Terakhir! Aku juga yang telah menyebabkan kau kehilangan bayimu! Aku yang memberikan perintah kepada Yetti untuk memberikanmu pelemah kandungan hingga saat kau capek dan lelah, kau akan kehilangan anakmu itu!"
Tatiana yang mendengar perkataan Laura menjadi sangat marah dan emosi sehingga tanpa pikir panjang ingin menangkap tubuh Laura.
Namun Laura yang memiliki refleksi tubuh yang sangat bagus dapat dengan cepat menghindari tangan Tatiana dan memukul mundur Tatiana dengan Kekuatan Anginnya.
“Kau sangat berani ingin memukulku. Apakah kau pikir bisa menang?” tanya Laura dengan senyum yang licik sambil menggunakan kekuatan anginnya.
Laura yang ingin memberi pelajaran kepada Tatiana pun menghilangkan udara yang ada di sekitar kepala Tatiana hingga membuatnya kesulitan bernafas.
Tatiana yang tak bisa bernafas bergerak tidak tentu arah sambil memegang lehernya sambil menatap Laura dengan ekspresi wajah yang memelas.
Laura yang tak ingin mendapatkan hukuman karena membunuh Kriminal yang harus diadili di hadapan semua Rakyat Kerajaan Hentallius pun melepaskan Tatiana dan menarik kekuatannya kembali.
“Jika kau terlahir kembali maka jadilah orang yang lebih baik! Jangan pernah mengambil yang bukan milikmu sejak awal! Jangan pernah memimpikan milik orang lain! Jika kau tak ingin hidupmu menderita seperti ini!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas dan ekspresi wajah yang dingin.
Laura yang melihat Tatiana kehilangan tenaganya dan hanya bisa bernafas dengan tidak beraturan pun memalingkan wajahnya dan berjalan keluar meninggalkan Penjara.
Laura yang telah mengatakan semua yang ingin dikatakannya pun pergi menemui Pangeran Kedua Illion yang menunggu kedatangannya di depan Penjara.
“Illiion!” panggil Laura dengan suara yang terdengar ceria dengan senyum yang lebar dan wajah yang bahagia.
Pangeran Kedua Illion yang sebenarnya khawatir karena Laura keluar terlalu lama dari waktu yang ditentukannya pun merasa sangat lega saat Laura memanggil namanya dan berdiri di depannya.
“Laura? Apakah urusanmu telah selesai?” tanya Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah yang penasaran.
“Ya! Terima kasih banyak, Illion. Aku sudah merasa lebih baik sekarang!” ucap Laura sambil menggenggam tangan Pangeran Kedua Illion secara tidak sengaja.
Pangeran Kedua Illion yang tangannya digenggamnya oleh Laura pun tanpa sadar wajahnya memerah yang membuat Laura menjadi malu dan melepaskan tangan Pangeran Kedua Illion.
“Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku menggenggam tangan Illion?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang memerah dalam hati.
“Hah! Jantungku! Kenapa kau berdetak sangat cepat? Ayo tenanglah!” ucap Laura dalam hati dengan detak jantung yang tidak beraturan.
#Bersambung#
Bagaimana kelanjutan kisah Pangeran Kedua Illion dan Laura? Apakah akan ada benih-benih cinta yang tumbuh? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...