The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 21. Evans Kembali



Laura yang telah sampai di kamarnya pun langsung memanggil Master Noel dan menunjukkan yg didapatkannya.


"Apakah ini Artefak Pengunci yang kau maksud Master Noel?" tanya Laura dengan ekspresi wajah yang penasaran sambil mengeluarkan Artefak Pengunci yang telah berbentuk seperti cincin dengan mata berwarna biru langit.


"Benar sekali Yang Mulia. Ini adalah Artefak Pengunci dan Yang Mulia hanya perlu memakainya lalu Kekuatan Alam yang dimiliki Yang Mulia tidak akan terdeteksi siapapun lagi!" ucap Master Noel dengan ekspresi wajah yang serius dan nada suara yang tegas.


Laura yang mengerti maksud ucapan Master Noel melakukan persis yang dikatakannya dan tiba-tiba Laura merasakan ada sesuatu yang aneh yang terjadi padanya.


"Apa ini? Kenapa aku merasa ada yang mengikatku?" tanya Laura dengan ekspresi wajah yang bingung dan tatapan mata penasaran ke arah Master Noel.


"Itu adalah perasaan bahwa Kekuatan Alam Yang Mulia telah terkunci. Yang Mulia pasti merasa sangat tidak nyaman karena merasa tidak bisa bebas!" ucap Master Noel dengan ekspresi wajah yang datar.


"Apa yang aku harus lakukan? Aku tidak menyukai perasaan ini!" ucap Laura dengan nada suara yang tegas.


"Teteskan darah Yang Mulia pada Artefak Pengunci itu lalu Yang Mulia bisa mengunci atau membuka Kekuatan Alam yang Yang Mulia miliki kapanpun yang Yang Mulia inginkan!" ucap Master Noel dengan tatapan mata yang tajam.


Laura yang paham pun mengambil pisau yang tersembunyi di dalam laci lalu menggures telunjuknya sedikit dan meneteskan darahnya.


Tak butuh lama, sebuah cahaya berwarna kuning keemasan pun muncul dan menerangi kamar Laura sekejap mata lalu menghilang kembali.


"Apakah telah selesai?" tanya Laura dengan ekspresi wajah yang bersemangat dengan tatapan mata yang penasaran yang tinggi.


"Tentu saja. Yang Mulia bisa mencoba mengetesnya sekarang." ucap Master Noel dengan ekspresi wajah yang ikut bahagia dan senyum yang ceria.


Laura yang tiba-tiba seperti anak kecil lagi pun mengeluarkan kekuatan angin yang dari dalam tubuhnya dan mengarahkannya ke atas tempat tidurnya lalu menerbangkan semua bantal.


Rika yang ada di dala kamar itu sejak awal dan hanya diam mengamati pun merasa sangat bahagia melihat ekspresi wajah Laura yang tersenyum bebas yang telah lama tak dilihatnya sejak Laura memasuki Kediaman Count Vansfold.


"Selamat Yang Mulia Putri! Akhirnya kau bisa mengendalikannya dengan baik!" ucap Rika yang melihat Laura yang berhasil mengembalikan bantal yang diterbangkannya ke tempatnya semula hanya dengan Kekuatan Angin yang dimilikinya.


Beberapa hari berlalu, Laura yang tidak berencana keluar lagi hanya berdiam diri di dalam perpustakaan dan kamarnya melatih Kekuatan Anginnya dengan bantuan Master Noel hingga saatnya Evans kembali ke Kediamannya.


"Nyonya! Besok Tuan Count akan kembali ke Kediaman!" ucap George yang datang memberikan informasi kepada Laura dan berharap ekspresi wajah yang bersemangat seperti biasa.


"Benarkah? Hmmm, sudah hampir satu minggu berlalu berarti. Baiklah. Apakah persiapan penyambutan Tuan Count telah selesai?" tanya Laura dengan ekspresi wajah yang datar dengan tatapan mata yang tidak bersemangat sama sekali.


"Semuanya telah selesai, Nyonya. Apakah ada yang ingin Nyonya tambahkan untuk menyambut Tuan Count?" tanya George yang seolah sedang menunggu ekspresi wajah yang selama ini diperlihatkan Laura saat dirinya akan segera bertemu Evans dalam waktu yang lama.


"Tidak ada! Itu saja sudah cukup!" ucap Laura dengan ekspresi wajah dan nada suara yang dingin yang membuat George terdiam dan menundukkan kepala lalu pergi meninggalkan Laura dengan ekspresi wajah yang kecewa.


Laura yang tidak ingin melakukan hal bodoh yang selama ini dilakukannya untuk bisa mendapatkan sedikit perhatian dari Evans pun merasa samgat bahagia.


"Kau pasti akan bertanya-tanya tentang sikapku padamu tapi aku tidak peduli. Sama sepertimu yang cuek, aku pun akan melakukan hal yang sama kali ini!" ucap Laura dalam hati dengan tatapan mata yang tajam sambil meminum tehnya dengan sangat anggun.


Keesokan paginya, saat semua orang telah sangat berisik sejak matahari belum menampakkan dirinya untuk menyambut kedatangan Evans. Laura masih tertidur dan terhanyut dalam mimpi indahnya.


Evans yang datang akhirnya sampai di Kediamannya pun turun dari kudanya tapi tidak melihat Laura datang menyambutnya seperti biasa dan hanya ada George serta semua Pelayan Kediamannya.


"Selamat datang kembali Tuan Count! Ucap semua orang secara bersamaan dengan kepala tertunduk dengan standar etika Kebangsawanan yang sopan.


Evans yang melihat itupun merasa sedikit aneh pada dirinya sendiri tapi Evans yang memiliki harga diri yang tinggi mencoba menahan dirinya sendiri.


"Kemana Laura? Apakah dia tidak datang menyambutku? Kenapa? Apakah dis masih kurang sehat?" tanya Evans dalam hati dengan ekspresi wajah dingin tapi tatapan matanya menunjukkan kekhawatiran yang dalam.


Evans yang masuk ke dalam Kediamannya bersama beberapa Pelayan yang mengikutinya dari belakang tiba-tiba melihat Laura yang baru saja menuruni tangga lantai dua sambil berjalan dengan sangat anggun di hadapan Evans.


"Selamat datang kembali Tuan Count Evans Vansfold di Kediaman ini!" ucap Laura dengan sikap yang sangat sopan dengan satun tangan di dada dan kepala tertunduk sebentar.


Evans yang tak terbiasa dengan ucapan selamat datang yang ditunjukkan Laura saat ini padanya pun merasa sangat tidak senang karena seolah sda jarak yang sangat panjang antara keduanya.


Evans yang tak terima dengan keadaan canggung yang di hadapinya pun menarik pergelangan Laura dan membawanya ke dalam pelukannya.


Laura yang terkejut hanya bisa mencoba mempertahankan posisinya agar tidak terlalu dekat dengan Evans dan menatap Evans dengan tatapan mata tak percaya.


"Kau adalah Istriku dan Nyonya Kediaman ini. Kau tidak perlu melakukan penghormatan seperti itu. Aku sangat tidak menyukainya seolah telah ada jarak antara kita berdua Sepasang Suami Istri! Ucap Evans dengan senyum yang lembut lalu melepaskan Laura kembali dan pergi meninggalkannya bersama George.


Laura yang melihat sikap Evans yang tiba-tiba romantis lalu kembali cuek membuat Laura merasa sangat ingin muntah.


"Hah! Dulu aku mungkin akan semakin jatuh cinta dengan caramu yang tarik ulur seperti ini tapi tidak untuk diriku yang sekarang!" ucap Laura dalam hati sambil menoleh ke arah samping ke arah Tatiana lalu kembali berjalan ke kamarnya.


Laura yang sedang duduk santai di dalam sebuah Taman Kaca sambil meminum teh yang disuguhkan oleh Rika pun mengingat kejadian saat Evans yang baru saja sampai di Kediaman Count Vansfold.


Laura yang telah selesai bersiap-siap dan berhias tidak langsung keluar menemui Evans tapi berdiri di depan jendela kamarnya yang tertutup melihat saat Evans sampai.


Laura yang mengalihkan perhatiannya dari Evans pun menatap wanita yang sangat dikenalnya berdiri di belakang Evans dengan pakaian seorang pelayan.


"Tatiana! Akhirnya kau sampai juga!" ucap Laura dengan suara yang rendah dengan ekspresi wajah yang dingin dan tatapan mata yang tajam.


Laura yang tidak pernah memperhatikan tatapan wanita lain di sekitar Evans di masa lalu karena terlalu fokus dengan tanggapan Evans padanya pun akhirnya menyadari sesuatu.


"Tenyata kau telah mengincar Suamiku sejak pertama kali dirimu menginjakkan kaki di Kediaman ini, Tatiana!" gumam Laura dengan suara yang rendah dengan tatapan mata merendahkan.


Kau itu sungguh wanita yang tidak tau malu! Beraninya kau mengharapkan pria yang bukan milikmu!" ucap Laura lagi dengan senyum kecil dan tatapan mata yang tajam.


#Bersambung#


Wah, ternyata Tatiana sudah punya niat yang buruk sejak awal.. Hmmm, apakah Laura akan membiarkan Tatiana mendapatkan Evans atau memisahkan keduanya? Tebak di kolom komentar ya..