
Laura yang telah berganti pakaian dengan gaun malamnya pun memberikan izin kepada Rika untuk kembali lalu Laura yang merasa sangat lelah dengan semua kejadian yang terjadi secara bersamaan pun terbaring di tempat tidur.
“Hah, aku sangat lelah tapi sepertinya aku tidak akan bisa tertidur malam ini mengingat kejadian yang tak terduga itu!” gumam Laura dengan suara yang rendah.
Laura yang terbaring di tempat tidurnya sambil memandang langit-langit kamarnya itu tidak menyadari bahwa matanya mulai terasa sangat berat hingga akhirnya Laura pun menutup matanya dan terlelap dalam mimpinya.
Laura yang tertidur dengan sangat tenang tidak menyadari bahwa kamarnya akan kedatangan tamu yang sangat tidak diharapkan.
“Hmmm, aku kira aku akan mengejutkannya dengan kedatanganku tapi tidak disangka justru aku yang dikejutkan dengan kenyataan bahwa dia telah tertidur dengan sangat pula dan tidak menunggu kedatanganku sama sekali!” gumam Evans dengan suara yang rendah sambil berdiri di depan tempat tidur dengan gaun tidurnya.
Evans yang telah berkata di depan semua Pelayan bahwa dirinya akan tidur di kamar Laura pun tidak bisa menarik kata-katanya lagi.
“Hah! Aku tidak menyukai kenyataan bahwa kedatanganku tidak diharapkan tapi aku pun tidak bisa pergi dari sini mengingat jika aku pergi maka akan ada gosip di antara Pelayan!” gumam Evans dengan suara yang rendah dengan satu tangan di dagu.
“Hmmm, aku tidak bisa membuat gosip buruk yang bisa sampai di telinga Pangeran Mahkota Richard yang sangat memprioritaskan Adiknya. Aku tidak bisa membuat kesalahan yang akan membuatku dalam masalah besar nantinya!” ucap Evans dengan ekspresi wajah yang tidak senang sambil menarik nafas panjang.
Evans yang melihat Laura tertidur dengan sangat nyenyak di salah satu sisi tempat tidur pun mengambil sisi lainnya dan membaringkan tubuhnya.
Keesokan paginya, Laura yang sangat lelah pun terbangun cukup siang dan merasa tubuhnya sangat sehat dan ringan.
Laura yang langsung menarik tirai yang ada di samping tempat tidurnya itu pun bergegas duduk di tempat tidurnya dan membasuh wajahnya dengan air yang dibawa untuknya.
Laura yang berpikir jika Rika yang datang untuk membantunya bersiap seperti biasa langsung menatap bingung kepada Pelayan yang berdiri di hadapannya dengan membawa handuk.
“Dimana Rika? Kenapa kau yang membawakan air dan handuk untukku?” tanya Laura dengan nada suara yang dingin dengan tatapan mata yang tajam.
“Ri-Rika sedang ada pekerjaan karena itulah Kepala Pelayan memintaku untuk melakukan tugas Rika!” jawab Pelayan tersebut dengan suara yang gagap dengan ekspresi wajah yang ketakutan.
Laura yang mendengar perkatan Pelayan tersebut pun menjadi curiga dan dengan cepat berdiri lalu berjalan ke arah jendela.
“Panggil Kepala Pelayan kemari! Aku ingin bicara dengannya!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas dengan tatapan mata yang sinis.
Tepat setelah Laura memberikan perintah tersebut, Pelayan yang datang membawakannya air dan handuk itu pun dengan cepat pergi ke luar.
“Rika! Apakah mereka membulimu tanpa sepengetahuanku?” tanya Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang khawatir dan cemas.
“Aku tidak akan menjadi wanita yang lemah lagi seperti dulu. Aku akan melindungi orang-orangku dan aku tidak akan membiarkan orang yang tidak pernting mengganggu jalanku!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas.
Tak butuh waktu lama, Kepala Pelayan yang bertugas di Kediaman Count Vansfold di Ibukota pun segera datang dan menundukkan kepalanya di hadapan Laura.
“Dimana Rika? Kenapa kau memberikan tugas Rika kepada orang lain?” tanya Laura dengan nada suara yang dingin dengan tatapan mata yang tajam.
“Maafkan atas ketidaksopanan saya, Nyonya tapi Rika dipindahkan di bagian cuci baju dan tugas untuk melayani Nyonya untuk sementara akan diberikan kepada Pelayan lain!” ucap Kepala Pelayan dengan nada suara yang datar.
“Apakah Tuan Count yang memberikanmu perintah ini?” tanya Laura dengan nada suara yang penasarann karena Laura tau bahwa Seorang Kepala Pelayan tidak akan melakukan sesuatu tanpa perintah dari atasannya.
“Tidak, Nyonya!” jawab Kepala Pelayan dengan segera dengan ekspresi wajah yang datar yang membuat Laura membuka matanya dengan sangat lebar.
“Jika Tuan Count tidak memberikanmu perintah lalu siapa yang memberikanmu izin untuk mengganti Pelayan yang melayaniku?” tanya Laura dengan nada suara yang sedikit tinggi dengan tangan bersilang di dada dengan tatapan mata yang dingin.
Laura yang mendengar perkataan Kepala Pelayan itu pun menjadi murka dan dengan cepat melemparkan vas bunga yang ada di dekatnya ke dinding.
Kepala Pelayan dan beberapa Pelayan yang melihat tindakan Laura menjadi sangat terkejut karena selama ini Laura selama ini tidak pernah bersikap kasar ataupun keras terhadap Pelayan.
“Aku tau kau adalah Kepala Pelayan yang telah bekerja di kediaman Count Vansfold untuk waktu yang lama semenjak Count Vansfold diangkat tapi apakah kau melupakan siapa Tuanmu?” sindir Laura dengan kata-kata yang kasar dan nada suara yang dingin.
Kepala Pelayan yang mendengar perkataan Laura langsung merasakan jika kakinya menjadi sangat lemas dan dengan cepat berlutut di hadapan Laura.
Kepala Pelayan yang menyadari dengan jelas maksud dari ucapan Laura tidak ingin kehilangan nyawanya karena melanggar Aturan Kekaisaran dimana Seorang Rakyat Biasa tidak boleh melewati Seorang Bangsawan.
Laura yang telah mengaktifkan Kekuatan Anginya sejak Pelayan Pertama meninggalkan ruangan pun dengan cepat menyadari bahwa Evans telah mengetahui yang terjadi tapi Evans tidak mengatakan apapun.
Laura yang tidak ingin Rika menderita karenanya yang hanya diam saja itu pun dengan sengaja melemparkan vas bunga dan membuat kegaduhan agar Evans tidak bisa menutup mata dengan perbuatan Laura.
Laura yang menyadari bahwa Evans telah berada di lantai dua dan sebentar lagi akan segera sampai di kamarnya pun dengan sengaja menggunakan statusnya untuk menekan semua orang yang ada di Kediaman tersebut.
“Rika adalah Pelayan yang aku bawa dari Kekaisaran Glorious dan dia telah melayaniku sejak aku masih Seorang Putri Kekaisaran glorious. Kau yang hanya Seorang Kepala Pelayan sangat berani mengganti Pelayan Pribadi Putri Kekaisaran Glorious. Apakah kau ingin nyawamu dan nyawa keluargamu hilang?” tanya Laura dengan tatapan mata yang tajam.
Tepat setelah Laura menegaskan statusnya yang tak akan pernah berubah meskipun dirinya telah menikah itu pun membuat Evans yang diam di tempatnya mempercepat langkahnya.
“Kalian semua menganggap aku ini bodoh karena tidak mengatakan apapun ataupun protes untuk semua perlakuan buruk yang kalian lakukan tapi aku tidak mengatakan apapun karena aku malam meladeni orang-orang yang tidak penting!” ucap Laura dengan nada suara yang sangat dingin.
“Tapi karena kalian telah melewati batasan dengan menyentuh orangku maka aku tidak akan bisa diam saja, bukan? Bukan begitu Tuan Count?” tanya Laura dengan tatapan mata yang tajam dengan ekspresi wajah yang dingin dengan tangan bersilang di dada saat melihat Evans telah berdiri di depan pintu kamar.
Kepala Pelayan dan beberapa Pelayan yang ada di ruangan itu pun menjadi sangat terkejut dengan kedatangan Evans.
Evans yang bahkan tidak mengetahui tentang perbuatan buruk yang dilakukan Pelayan kepada Laura pun menjadi sangat terkejut.
Evans yang tidak ingin terlihat bodoh karena tidak mengetahui apapun di dalam Kediamannya itu pun mengalihkan pandangannya kepada George yang ikut bersamanya ke Ibukota.
“George, apakah kau mengetahui tentang semua ini? Apakah semua Pelayan dan Kepala Pelayan yang kita rekrut memiliki sikap yang sangat tidak sopan bahkan kepada Majikannya?” tanya Evans dengan suara yang lantang dengan ekspresi wajah yang marah.
Laura yang tidak merasa tersentuh ataupun merasa bahagia dengan tindakan Evans tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang dingin.
“Mohon, ampuni kesalahan dan ketelodaran saya, Tuan. Saya akan memberikan hukuman yang berat kepada semuanya!” jawab George dengan ekspresi wajah yang datar dengan sikap yang sopan sambil menundukkan kepalanya.
Laura yang mengerti maksud ucapan George itu pun tersenyum kecut dan melangkah maju lalu memotong pembicaraan.
“Aku tidak ingin hukuman yang berat. Aku ingin semuanya dipecat tanpa surat rekomendasi! Aku ingin menjadikan ini pelajaran berharga untuk semuanya untuk tidak melupakan status mereka yang sebenarnya!" ucap Laura dengan nada suara yang tegas dengan tatapan mata yang tajam ke arah Evans dan George.
"Aku juga ingin Rika kembali menjadi Pelayan Pribadiku!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang serius.
#Bersambung#
Waw, pembalasan untuk pelayan yang kurang ajar dilakukan Laura hingga ke akarnya.. Bagaimana respon Evans selanjutnya? Jawab di kolom komentar ya..