The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 48. Tangan Kanan Laura



Setelah beberapa jam berlalu, Laura yang telah selesai bersiap-siap dengan bantuan Pelayan merasa sangat tidak nyaman dengan pujian-pujian yang dilontarkan kepadanya.


“Nyonya, anda terlihat sangat cantik!”


“Benar sekali, tidak hanya kulit Nyonya terlihat sangat putih seperti salju bahkan rambut Nyonya yang terjatuh terlihat sangat indah dan lembut!”


“Orang-orang ini sungguh menjijikkan! Mereka dapat dengan mudah berpindah sisi ke orang yang yang menguntung mereka dan meninggalkan orang yang sudah tidak berguna lagi!” gumam Laura dalam hati dengan tatapan mata yang tajam.


Tepat setelah rambut Laura diperbaiki, Laura yang tak ingin bersama dengan Pelayan yang direkruit oleh Evans lebih lama pun mengusir semuanya keluar ruangan.


Tak butuh waktu lama, Rika yang telah selesai dengan tugas khusus yang diberikan Laura padanya pun membawa Adrian Lopez yang telah rapi menemui Laura.


“Yang Mulia, saya telah membawa orangnya!” ucap Rika dengan etika kesopanan yang tinggi dengan nada suara yang tegas.


Laura yang mendengar pernyataan Rika pun menatap tajam dari ujung kepala hingga ujung kaki Evans Lopez yang berdiri di hadapannya.


Laura yang sangat puas dengan yang dilakukan Rika pun memberikan izin kepada Rika untuk pergi dan membiarkan dirinya dan Adrian Lopez bicara.


“Duduklah!” ucap Laura suara yang rendah dengan senyum yang ramah dan senyum yang lembut di wajahnya.


Adrian Lopez yang diperintahkan Laura duduk dengan senyum yang lembut membuat ketegangan yang dirasakan Adrian Lopez menjadi meningkat.


“Jangan takut! Aku tidak akan memukulmu! Aku justru akan memberikanmu kesempatan yang bagus!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang datar.


Adrian Lopez yang mendengar perkataan Laura pun akhirnya memutuskan duduk lalu tiba-tiba beberapa kertas muncul di hadapan Adrian Lopez.


“Adrian Lopez! Putra tidak sah Marquess Lopez!” ucap Laura dengan suara yang rendah sambil tersenyum lembut.


"Apakah aku akan dipukul dan dihina lagi karena tidak terlahir dari darah Bangsawan sepenuhnya?" tanya Adrian Lopez pada dirinya sendiri dengan ekspresi wajah yang bingung.


"Aku tidak dikembalikan ke pria gendut itu bukan? Tapi tentu saja aku akan dikembalikan daripada harus berurusan dengan orang sepertiku!" ucap Adrian Lopez dalam hati dengan kecemasan yang tinggi.


Laura yang melihat ekspresi dan respon Adrian Lopez pun memutuskan untuk memulai rencanya sesegera mungkin.


"Kau membutuhkan tempat berlindung dari Saudara Tirimu dan aku membutuhkan orang yang jenius jadi bagaimana kalau kau menjadi orangku?" tanya Laura dengan ekspresi wajah yang percaya diri.


Adrian Lopez yang mendengar ajakan dan permintaannya pun menjadi tercengang dan sangat terharu.


"Nyo-Nyonya!" panggil Adrian Lopez yang tiba-tiba menangis dengan air mata yang mengalir sangat banyak di pipinya.


"A-ada apa? Ke-kenapa kau menangis? A-apakah ada yang sakit?" tanya Laura dengan wajah yang bingung dan sedikit kecemasan di wajahnya.


"Sa-saya baik-baik saja Nyonya. Te-terima kasih untuk perhatiannya!" ucap Adrian Lopez yang seperti Seorang Kesatria sejati.


"Nyonya telah selesai membeli saya itu berarti Nyonya adalah Master kami!" ucap Adrian Lopez dengan


Laura yang mendengar perkataan Adrian pun menyerahkan beberapa dokumen lalu membaca dengan telitii.


Laura yang menjelaskan semuanya kepada Adrian Lopez tidak menyangka jika Adrian Lopez membantunya.


#Bersambung#