The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 102. Perbincangan yang Gagal



Evans yang tak ingin bicara di Ruang Tunggu pun meminta George untuk memberi tau Ajudan Gillian untuk membawa Ajudan Mies dan yang lain ke Ruang Kerjanya.


"Tuan Ajudan dan dua Administrator lainnya, silahkan ikuti saya. Tuan Count telah menunggu anda di Ruang Kerjanya!" ucap Ajudan Gillian dengan tatapan sikap yang sopan.


Ajudan Mies yang telah sabar menunggu kedatangan Evans akhirnya merasa sedikit lega setelah melihat Evans berdiri menunggu dengan pakaian dan komplikasi wajah yang lebih baik.


"Aku senang melihat Tuan Count telah kembali seperti dirinya semula karena sepertinya perbincangan ini akan berlangsung dengan lancar!" sindir Ajudan Mies yang masih mengingatkan Evans tentang kejadian tak terduga pagi tadi.


"Perbincangan ini akan lancar jika semuanya bisa kooperatif dalam pertemuan ini!" jawab Evans yang menyatakan pada etika Ajudan Mies yang tidak sesuai karena datang tanpa membuat janji temu.


"Jangan khawatir kami akan sangat kooperatif saat semuanya telah selesai sesuai dengan Titah dari Yang Mulia Raja Jonathan IV!" ucap Ajudan Mies denga senyum yang beracun.


Ajudan Gillian yang melihat aura di antara keduanya semakin memanas dan menegang pun memberikan kode kepada Evans untuk membuat ketiga utusan dari Laura untuk duduk.


"Duduklah! Kita bisa membicarakan detailnya sambil meminum teh dan makan kue yang lezat!" ucap Evans dengan senyum lembut dengan tatapan mata yang tajam.


Setelah ucapan sindiran yang tiada hentinya akhirnya Evans pun melakukan perbincangan yang alot mengenai daftar harta yang dibawa oleh Laura saat menikah serta Wilayah yang akan dimiliki oleh Laura sebagai kompensasi perceraian.


"Tuan Count! Jika anda terus bersikap seperti ini maka kami tak punya pilihan lain selain membuat Yang Kerajaan Hentallius melakukan tugasnya!" ucap Ajudan Mies yang kesal karena Evans terkesan tak ingin menyerahkan semua Harta Bawaan Laura dan Wilayah Count Vansfold yang menjadi bagian Laura.


Evans yang masih sangat tidak bisa menerima keputusan Raja Jonathan IV yang berpihak kepada Laura pun menjadi kesal hingga akhirnya membuat Perbincangan itu tertunda keesokan harinya.


"Tuan Count, saya harap keesokan paginya kami datang, anda dapat lebih kooperatif lagi!" ucap Daniel yang mengambil inisiatif bicara melihat Ajudan Mies dan Adrian Lopez telah tersulut emosi.


Ketiganya pun keluar dari Kediaman Count Vansfold dengan di antar oleh George sementara Evans tetap berdiri di depan jendela Ruang Kerjanya menatap kepergian Ajudan Mies dan yang lainnya.


Evans yang sangat marah dan kesal dengan situasi buruk yang tak pernah dibayangkannya terjadi pun pergi ke kamar Tatiana.


Tatiana yang terkurung di dalam kamarnya pun menjadi sangat sedih lalu memeluk perutnya yang telah hidup seorang bayi.


“Kenapa semua nasib buruk ini terjadi padaku? Kenapa aku tidak bisa mendapatkan sedikit saja kebahagiaan?” tanya Tatiana dengan ekspresi wajah yang sedih sambil duduk meringkuk di atas tempat tidurnya.


“Ini semua adalah kesalahan wanita itu! Kenapa dia harus kembali lagi? Bukankah mereka sudah resmi bercerai lalu kenapa wanita itu masih saja mengganggu Tuan Count?” tanya Tatiana dengan ekspresi wajah yang marah dengan tangan terkepal erat.


“Tuan Count adalah pria yang baik, bijaksana dan juga hebat. Aku yakin Tuan Count pasti akan mencintaiku kembali setelah dia mengetahui bahwa cintaku ini tulus dan aku tidak akan pernah membiarkan siapapun mengambil Tuan Count dariku!” ucap Tatiana lagi dengan tatapan mata yang tajam.


Tatiana yang sedang menangis sedirian meratapi nasibnya tiba-tiba melihat pintu kamar yang tertutup menjadi terbuka.


Tatiana yang melihat sosok pria yang sangat tak asing masuk ke dalam kamarnya pun dengan cepat menghapus air matanya dan kembali memasang wajah bahagia di hadapan Evans


Namun Evans yang sangat membenci Tatiana bahkan rasa bencinya melebihi rasa benci yang dirasakannya pertama kali pada Laura langsung melayangkan tamparan di wajah Tatiana.


“Tu-Tuan Count! A-apakah anda ....?” tanya Tatiana yang terhenti secara tiba-tiba setelah sebuah tamparan keras lagi mendarat di pipi Tatiana yang lain.


“Dasar wanita j*lang! Beraninya kau menampakkan dirimu di hadapan Ajudan Mies dan orang-orang Laura! Apakah kau tau akibat dari perbuatanmu itu telah mempermalukan diriku?” teriak Evans dengan suara yang lantang dengan ekspresi wajah yang marah.


“Jangan berpikir aku mengeluarkanmu dari Penjara Bawah Tanah karena sungguh-sungguh akan menjadikanmu Countess! Aku melakukannya karena Titah dari Yang Mulia Raja! Jika tidak maka saat ini kau sudah tak ada lagi di dunia ini!” ucap Evans dengan suara yang terdengar kejam dan kasar.


Tatiana yang mendengar perkataan Evans menjadi sangat takut terutama saat membayangkan Evans, Pria yang sangat dicintainya berniat untuk mengambil nyawanya.


Tatiana yang merasa jika mimpi akan hidup bahagia bersama Evans dan pandangannya tentang Evans telah hancur pun tak kuasa menahan tangis yang membuat Evans semakin marah.


Evans yang tak ingin melihat Tatiana lagi pun mendorong Tatiana ke belakang lalu pergi meninggalkan ruangan itu dan membiarkan Tatiana menangis tersedu-sedu.


Sementara itu, Ajudan Mies, Daniel dan Adrian Lopez yang telah kembali pun memberikan laporan hasil diskusinya dengan Evans.


“Maafkan kami Yang Mulia! Kami gagal!” ucap Ajudan Mies dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan mata yang menyesal sambil menundukkan kepalanya.


“Aku mengerti. Aku sudah menduga bahwa ini tidak akan udah. Evans tidak akan memberikan milikku dengan mudah karena itu dapat menyebabkan dirinya mengalami masalah keuangan yang serius!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang serius.


“Terima kasih untuk bantuanmu Tuan Ajudan! Kau boleh pergi sekarang!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang datar.


“Baik, Yang Mulia!” jawab Ajudan Mies dengan ekspresi wajah yang patuh sambil menundukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan ruangan itu menyisahkan Daniel dan Adrian Lopez yang masih menghadap Laura.


Laura yang tau jika semua keinginannya tak akan muda dimilikinya tanpa dorongan besar dari publik pun memberikan tugas khusus kepada Adrian Lopez.


“Aku tau semuanya pasti tidak akan mudah. Oleh karena itu, Adrian Lopez aku ingin kau pergi ke Guild Bulan Merah dan serahkan suratku ini kepada Viscount Ballaguisse yang merupakan Ketua Guild palsu!” ucap Laura sambil memberikan kode kepada Rika yang sudah sejak awal berdiri di sampingnya untuk menyerahkan surat kepada Pangeran Ketiga Edward.


“Aku ingin surat itu sampai secepat mungkin dan jangan biarkan ada orang lain yang mengetahui ini!” ancam Laura yang sudah sangat yakin jika Evans pasti telah mengirim mata-mata untuk mengetahui pergerakan dirinya.


“Serahkan saja semuanya pada hamba, Yang Mulia! Hamba akan melakukan tugas yang diberikan dengan sangat baik!” ucap Adrian Lopez dengan ekspresi yang percaya diri.


Adrian Lopez yang mendapatkan tugas penting pun dengan cepat pergi meninggalkan ruangan tersebut dan menuju ke Guild Bulan Merah.


Daniel yang tertinggal di ruangan itu pun mendapatkan tugas lain dari Laura yang ternyata sangat pandai dilakukannya.


“Aku tau kau dekat dengan Pelayan Pribadi dari Nona Evelina Myone Rishetti. Aku ingin kau meminta bantuan Pelayan itu untuk menyebarkan gosip tentang Evans yang memperlakukan Selir-nya yang merupakan Rakyat Biasa seperti Bangsawan!” ucap Laura dengan tatapan mata yang tajam.


“Aku juga ingin kau mengatakan bahwa Evans tak ingin memberikan Kompensasi Perceraian dan Mas Kawin yang aku bawa dari Kekaisaran Glorious karena ingin memberikan semua itu kepada Selir-nya!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang dingin.


Daniel yang paham akan tugasnya pun bergegas pergi dan Laura yang tak ingin bersama siapapun meminta Rika ikut keluar.


“Rika! Bisakah kau siapkan kue yang dikirimkan oleh Tiffany sebagai teman minum tehku nanti?” tanya Laura dengan senyum yang lembut.


“Ya, Yang Mulia!” jawab Rika yang memahami maksud ucapan Laura lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Laura yang sendirian pun berdiri di depan jendela dan melihat bunga-bunga bermekaran di Taman dengan tatapan mata yang tajam.


“Aku ingin reputasi Evans hancur dan dijauhi oleh Bangsawan lain sehingga tak akan ada Bangsawan yang mau menjalin hubungan dengannya!” ucap Laura dalam hati dengan senyum licik.


“Aku ingin tak akan ada seorangpun yang akan membantu Evans di saat dirinya terjatuh dalam kebangkrutan setelah semuanya kembali padaku!” ucap Laura dengan tatapan mata yang penuh kebencian di dalam pikirannya.


“Lalu setelah Evans hancur maka saat itulah aku akan memberikan kejutan yang tak terduga padamu Evans dan Tatiana!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang bahagia.


#Bersambung#


Kejutan apa yang akan diberikan Laura kepada Evans dan Tatiana? Apakah kejutan itu akan berhasil? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya..