
Laura yang melihat sebuah benda yang sangat dikenalnya berada di salah satu jari Pangeran Kedua Illion pun ikut menjadi senang dan sedih di saat bersamaan.
"Aku ikut bahagia karena kau telah berhasil mencapai posisi tertinggi di Kerajaan ini!" ucap Laura dalam hati dengan senyum pahitnya.
"Namun, kau yang berada di posisi tinggi membuatku semakin takut untuk bersamamu!" ucap Laura dalam hati dengan wajah yang sedih.
Sementara itu, Ajudan Harold yang mendapatkan perintah langsung dari Raja Jonathan IV pun berdiri dengan tegap di hadapan semua orang dekrit yang telah dibuat oleh Raja Jonathan IV.
"Saya, Jonathan Carls Hentallius IV, Raja Kerajaan Hentallius, menyatakan bahwa Putraku, Pangeran Kedua, Illion Jean Hentallius akan menggantikanku sebagai Raja nantinya dan menjadikannya Putra Mahkota Kerajaan Hentallius!" ucap Ajudan Harold dengan suara yang lantang dengan wajah yang serius.
Pangeran Kedua Illion yang kemudian berdiri di atas podium langsung mendapatkan penghormatan dari semua Bangsawan yang datang.
"Salam hormat kepada Yang Mulia Putra Mahkota. Semoga Yang Mulia selalu sehat dan bahagia!"
Pangeran Kedua Illion yang diumumkan menjadi Putra Mahkota pun memfokuskan pandangannya pada satu arah yaitu Laura yang berada di bagian belakang.
Pangeran Kedua Illion yang menyadari bahwa tatapan mata keduanya bertemu sangat ingin menemui Laura dan mengajaknya melakukan dansa pertama tapi Laura tak diduga telah menghilang dari Aula.
"Laura! Apakah kau tidak senang melihatku mendapatkan posisi yang kau tawarkan padaku sebelumnya?" tanya Pangeran Kedua Illion dengan wajah yang datar dengan sedikit kilatan kesedihan.
Putra Mahkota Illion yang tidak ingin berdansa pun menyerahkan kehormatan dansa pertamanya kepada Pangeran Ketiga Edward.
Pangeran Ketiga Edward yang tak punya pilihan lain karena tak ingin menyebabkan Putra Mahkota Illion semakin sedih karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan pun menyerah.
"Bolehkah aku mendapatkan kehormatan dansa pertama ini Nona Azura Le Echmont!" ucap Pangeran Ketiga Edward dengan sangat sopan dan senyum yang lembut yang langsung disambut baik oleh Nona Azura Le Echmont.
Di saat Pangeran Ketiga Edward melakukan dansa pertama sebagai tradisi untuk memulai Acara Perjamuan itu, Putra Mahkota Illion meninggalkan Aula Perjamuan itu secara diam-diam.
"Hah! Aula itu membuatku sangat sesak! Semua ucapan selamat dan senyum manis itu membuatku gila dan ingin muntah!" ucap Putra Mahkota Illion dengan wajah yang kesal sambil menyisir kasar rambutnya ke belakang dengan tangan polosnya.
"Aku harus menemui Laura dan bicara padanya! Aku tak ingin kehilangan dirinya hanya demi status yang sungguh melelahkan ini!" ucap Putra Mahkota Illion dengan tatapan mata yang tajam.
Di sisi lain, Laura yang keluar dari Aula Perjamuan tanpa bertanya lebih dulu yang membuat dirinya sampai di Taman Bunga yang tak diketahuinya.
"Dimana ini? Apakah telah sampai di tempat yang tak aku ketahui lagi?" tanya Laura dalam hati dengan wajah yang bingung.
Laura yang melihat bunga yang bermekaran dengan sangat indah di bawah sinar bulan dan menyebarkan wangi yang enak pun tersenyum bahagia.
"Agh, aku ingat. Bukankah ini bukanlah hal pertama aku sampai di Taman yang tak dikenal!" ucap Laura yang mengingat kembali kenangannya saat sampai di Istana Pangeran Kedua Illion saat dirinya mengunjungi Istana.
"Taman bunga ini sangat indah. Andaikan aku bisa menikmati keindahan ini setiap saat, hal itu pasti akan sangat menyenangkan!" gumam Laura dengan senyum yang cantik.
Namun di saat Laura yang sedang berjalan-jalan di Taman menikmati suasana yang indah secara tak terduga seseorang datang menjawab ucapan Laura.
“Ini adalah Taman Bunga milik Istana Mawar milik Permaisuri Kerajaan Hentallius! Jika kau bersedia menjadi Permaisuri tentu saja Taman Bunga ini pasti akan bisa kau nikmati kapanpun kau mau!” ucap Putra Mahkota Illiion dengan nada suara yang lembut.
Laura yang terkejut melihat Putra Mahkota Illion muncul di hadapannya pun kehilangan keseimbangannya sehingga terjatuh tapi dengan cepat ditangkap oleh Putra Mahkota Illion.
“Aarrgghh! Jantungku! Kenapa jantungku selalu berdetak sangat cepat jika ada di dekat Illion?” tanya Laura pada dirinya sendiri dalam hati lalu dengan cepat berdiri dan melepaskan dirinya dari dalam pelukan Putra Mahkota Illion.
“Kau tak perlu berterima kasih. Aku senang bisa membantumu!” ucap Putra Mahkota Illion dengan senyum yang lembut.
“Jika kau berkeliling di Taman ini sendirian, kau pasti akan tersesat lebih jauh. Jika kau ingin menemani pemandangan ini maka aku bisa menemanimu!” ucap Putra Mahkota Illion dengan nada suara yang ramah dan etika yang sempurna serta senyum yang mematikan karena berhasil menggunakan cahaya bulan untuk membuatnya terlihat semakin tampan.
Laura yang awalnya terdiam karena terkesima dengan ketampanan Putra Mahkota Illion akhirnya sadar jika dirinya telah berjalan menyusuri Taman Bunga sambil memegang lengan Putra Mahkota Illion.
“Hah! Apa yang telah aku lakukan? Apakah aku sungguh tergoda dengan wajah tampan Illion?” tanya Laura pada dirinya sendiri dengan wajah yang bersalah dalam hatinya.
Namun meskipun semua telah terjadi Laura tidak menyesali perbuatannya yang ingin terus berjalan menikmati Taman Bunga yang indah itu.
“Apakah tidak masalah jika kau ada di sini bersamaku?” tanya Laura dengan wajah yang penasaran dan cemas sambil duduk di sebuah kursi yang ada di tengah Taman Bunga setelah Putra Mahkota Illion meletakkan sapu tangannya di kursi untuk membuat Gaun yang dipakai Laura tetap bersedih.
“Agh, terima kasih tapi kau tak perlu melakukan hal sampai seperti ini meskipun aku tau jika ini biasa dilakukan oleh Bangsawan untuk menghargai seorang wanita!” ucap Laura dengan senym yang bahagia.
Putra Mahkota Illion yang sadar jika di dunia dirinya hanya memiliki beberapa orang yang penting dan salah satunya adalah Laura.
“Tentu saja akan ada masalah tapi Edward dan William akan menyelesaikan masalah itu dengan baik!” ucap Putra Mahkota Illion dengan percaya diri.
“Aku tau jika kau masih trauma memulai hubungan yang baru karena b*jingan itu tapi aku tak sama seperti dirinya!” ucap Putra Mahkota Illion dengan wajah yang serius.
“Ibuku adalah Selir Kerajaan dan aku sangat tau rasanya saat menjadi anak yang terlahir dari Ibu yang banyak.” Ucap Putra Mahkota Illion yang mengalihkan pandangannya ke bulan.
“Aku pun tak ingin anak-anakku nanti memiliki nasib yang sama denganku dengan alasan apapun!” ucap Putra Mahkoa Illion sambil menundukkan kepalanya.
“Aku ingin menjadi seperti Ayahmu, Kaisar Kekasairan Glorious, yang hanya akan memiliki satu Istri yaitu Permaisurinya hingga akhir!” ucap Putra Mahkota Illion.
“Aku bisa berjanji dengan menggunakan Sihir yang mengikat Jiwaku untuk meyakinkanmu bahwa aku tidak akan pernah mengambil wanita lain menjadi Istriku lagi ataupun memiliki anak dari wnaita lain!” ucap Putra Mahkota Illion dengan wajah yang terburu-buru.
“Aku siap mendapatkan hukuman jika aku berani berselingkuh di belakangmu!” ucap Putra Mahkota Illion dengan nada suara yang terdengar sungguh-sungguh.
“Oleh karena itu, menikahlah denganku? Jadilah Permaisuriku dan Ibu dari anak-anakku!” ucap Putra Mahkota Illion sambil mengeluarkan sebuah kotak cincin di hadapan Laura sambil berlutut dengan satu kaki.
Laura yang tidak menyangka akan mendapatkan lamaran pernikahan di hari lainnya di bawah sinar bulan dan bunga indah yang bermekaran yang menebarkan wangi yang enak merasa tersanjung.
Laura yang merasakan kebahagiaan di sudut hatinya dan jantung yang berdebar sangat cepat membuat Laura menyadari perasaannya.
“Apakah aku telah jatuh cinta pada Illion? Sejak kapan? Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?” tanya Laura pada dirinya sendiri yang tanpa sadar mengeluarkan air mata yang membuat Putra Mahkota Illion panik.
“Agh! Ja-jangan menangis Laura! A-aku sungguh minta maaf! A-aduuh bagaimana ini? Ha-hapus dulu air matamu dengan ini!” ucap Putra Mahkota Illion dengan suara yang gagap dan wajah yang cemas.
Laura yang melihat ada orang lain selain Keluarga dan orang terdekatnya yang akan sangat panik saat dirinya sedih dan menangis pun bahagia.
“Ya! Ya, aku bersedia! Aku bersedia menikah denganmu tapi dengan satu syarat!” ucap Laura dengan senyum yang licik.
#Bersambung#
Apa syarat yang diminta oleh Laura ya? Apakah mereka berdua sungguh-sungguh akan menikah? Bagaimana reaksi Kaisar dan Putra Mahkota saat mengetahui keputusan dari Laura? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..