
Raja Jonathan IV yang mendapatkan demo dari Rakyatnya secara tiba-tiba langsung menjadi sangat kesal saat mendapatkan surat dari Kerajaan tertangga.
"Sial! Bagaimana mungkin berita ini menyebar sangat cepat hingga ke Kerajaan tetangga? Jika seperti ini terus Kerajaan Hentallius akan mengalami masalah yang serius!" ucap Raja Jonathan IV dengan wajah yang marah.
"Yang Mulia, anda harus tenang. Anda tidak boleh terlalu marah pada situasi seperti ini!" ucap Ajudan Harold dengan kata-kata yang menenangkan yang membuat kepala Raja Jonathan IV berdenyut kesal.
Sementara itu, Laura yang dapat mengetahui identitas Pria berjubah hitam yang berdiri di depannya itu langsung menghentikan Rika agar tidak melakukan kesalahan.
"Mundurlah Rika. Dia adalah Pangeran Kedua. Pangeran Illion Jean Hentallius." ucap Laura dengan ekspresi wajah yang ramah dan senyum yang lembut.
Rika yang mengetahui identitas Pangeran Kedua Illion langsung menjadi terkejut dan bergegas membungkukkan kepalanya meminta maaf.
"Angkatlah kepalamu. Ini bukan salahmu. Aku yang salah karena datang diam-diam sambil menyembunyikan identias!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah yang canggung.
Laura yang penasaran dengan alasan kedatangan Pangeran Kedua Illion secara mendadak langsung mempersilahkannya duduk dan memberikan kode kepada Rika untuk menyiapkan teh dan cemilan ringan.
"Illion, bisakah kau beritau aku alasan kau datang mengunjiku?" tanya Laura dengan wajah yang serius dan sikap yang bicara secara terus terang.
"Apakah ada alasan bagiku untuk datang menemui temanku!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan senyum yang lebar dan sikap yang cuek sehingga membuat Laura yang serius menjadi kesal.
"Maaf! Maaf! Aku hanya bercanda! Aku datang kemari karena aku ingin memberitaumu tentang yang terjadi di Kediaman Count Vansfold!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah yang serius.
"Aku sudah mengetahuinya. Rika sudah melaporkan semuanya padaku! Tatiana adalah Penyigihir hitam dan dialah yang membakar Kediaman Count Vansfold!" ucap Laura sambil meletakkan cangkir tehnya dengan elegan.
"Hmmm, ini sangat tidak menyenangkan. Aku ingin menjadi orang pertama yang memberikan informasi ini padamu tapi ternyata aku kalah dari Pelayan setiamu ini!" sindir Pangeran Kedua Illion dengan tatapan mata yang tajam.
"Illion! Apa maksud ucapanmu? Apakah kau cemburu kepada Rika?" tanya Laura dengan tawa kecil dan wajah yang bahagia.
"Hmmm, tentu saja aku cemburu. Aku ingin menjadi orang pertama yang kau cari saat membutuhkan bantuan dan orang pertama yang memberitaumu semua hal!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan senyum yang lebar.
Laura yang sudah bisa menebak bahwa Pangeran Kedua Illion memiliki perasaan yang lebih padanya memilih untuk pura-pura tak tau.
"Agh, Yang Mulia, apakah hanya ini alasanmu datang kemari?" tanya Laura lagi dengan tatapan mata yang penasaran dengan rencana mengalihkan pembicaraan.
"Hmmm, sebenarnya aku juga ingin memberimu ini! Aku harap kau mau menerimanya dan menyukainya!" ucap Pangeran Kedua Illion yang ternyata menyerahkan surat sertifikat wilayah yang dijual oleh Evans.
"I-ini... Bukankah ini wilayah yang dimiliki Evans?" tanya Laura dengan tatapan mata yang bingung dan terkejut saat melihat dua gulungan yang diberikan kepadanya.
"Benar! Dia menjualnya dengan harga yang relatif murah untuk membayar kerugiannya dan mengembalikan uang ke Kerajaan croisen!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan nada suara yang terdengar serius.
"Dia menjualnya di Guild Bulan Merah tadi dan diperkirakan saat Kebakaran yang dahsyat membakar Kediaman Count Vansfold!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan wajah yang cuek.
Laura yang ingin membuat Evans dan Baron Vernon mendapatkan hukuman karena keterlibatannya dengan Tatiana pun meminta bantuan Pangeran Kedua Illion.
"Yang Mulia Pangeran, sebenarnya aku punya sebuah permintaan kecil padamu!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang canggung.
"Bukan Yang Mulia Pangeran tapi Illion!" ucap Pangeran kedua Illion dengan nada suara yang tegas dan wajah yang serius.
"Hmmm, Illion. Aku membutuhkan bantuan kecil darimu. Maukah kau membantuku?" tanya Laura dengan ekspresi wajah yang memelas dengan mata yang berbinar.
"Katakanlah. Apa yang kau inginkan? Aku akan membantumu semampuku!" ucap Pangeran kedua Illion dengan ekspresi wajah dan nada suara yang percaya diri.
"Aku yakin kau bisa melakukannya. Aku ingin meminta bantuanmu untuk mempertemukanku dengan Yang Mulia Raja Jonathan IV! Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengannya!" ucap Laura dengan tatapan mata yang tajam.
Pangeran Kedua Illion yang mendengar permintaan Laura pun menarik nafas yang panjang lalu mengatakan hal yang membuat Laura menjadi senang.
"Aku akan berusaha mengabulkan permintaanmu. Aku harus pergi sekarang dan aku akan mengirimkanmu surat sebagai balasan kepastiannya!" ucap Pangeran kedua illion dengan wajah yang serius.
Pangeran kedua Illion yang sampai di Istana Kerajaan dengan cepat karena menggunakan Sihir Teleportasi langsung meminta izin bertemu dengan Raja Jonathan IV.
"Pangeran kedua, kau sangat jarang menemuiku apalagi meminta izin untuk bertemu lebih dulu kecuali jika aku yang memintamu datang!" sindir Raja Jonathan yang sedang duduk di singgahsananya.
"Sebenarnya ada satu hal yang ingin aku inginkan Yang Mulia!" ucap Pangeran Kedua Illion yang mengangkat kepalanya dengan tegap dan tatapan mata yang tajam.
"Hmmm, ternyata kau punya sesuatu yang diinginkan makanya datang meminta bertemu lebih dulu tapi baiklah. Aku tidak akan mempermasalahkannya karena bagaimanapun kau adalah Putraku jadi katakan sekarang apa yang kau inginkan?" tanya Raja Jonathan IV dengan nada suara dan wajah yang penasaran.
"Aku ingin Yang Mulia meluangkan waktunya sebentar untuk bertemu dengan Putri Laura Raynor Glorious!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan suara yang tegas.
Raja Jonathan IV yang mendengar permintaan Pangeran kedua Illion langsung tertawa dan tersenyum bahagia lalu memanggil Ajudan harold datang.
"Kosongkan jadwalku besok pagi. Aku ingin bertemu dengan Putri Kekaisaran Glorious!" ucap Raja Jonathan IV dengan nada suara yang meninggi.
"Lalu sepertinya hubunganmu dan Putri Kekaisaran Glorious sangatlah baik. Pertahankan karena aku mungkin akan memberikan Posisi Putra Mahkota kepadamu jika kau berhasil mendapatkan dukungan dari Kekaisaran Glorious!" ucap Raja Jonathan dengan tatapan mata yang licik.
Pangeran kedua Illion yang mendengar perkataan Raja Jonathan IV hanya menatap tidak senang karena Pangeran Kedua Illion mengetahui niat jahat dari Raja Jonathan IV lalu berdiri dan kembali ke Istananya yang telah diperbaikinya.
"Kirimkan surat ini dengan sihir kepada Putri Laura segera! Aku ingin surat ini sampai dengan cepat!" ancam Pangeran Kedua Illion kepada Carl dengan wajah yang dingin.
Laura yang mendapatkan surat balasan dari Pangeran Kedua Illion lebih cepat dari yang dipikirkannya memanggil Rika untuk mempersiapkan semua kebutuhannya untuk menemui Raja Jonathan IV.
"Hmmm, aku memang tidak salah meminta tolong kepada Pangeran kedua karena dia memang sangat bisa untuk diandalkan tapi sayang perasaan trauma dan takut ini membuatku trauma dan khawatir akan masa depan hubunganku!" ucap Laura dengan wajah yang sedih.
Sementara itu. Tatiana yang terus berlari masuk ke dalam hutan yang lebih dalam dengan tubuh yang lemah pun menjadi sangat lelah.
"Hah! Hah! Hah! Aku sangat lelah dan lapar! Aku harus lari kemana lagi sekarang? Aku tak bisa membiarkan diriku tertangkap dan dibakar hidup-hidup seperti yang lain!" gumam Tatiana dengan wajah yang ketakutan dan tekad yang kuat untuk bertahan hidup.
Tatiana yang merasa lelah pun tidak menyadari adanya akar tanaman yang menjalar dengan sedikit tinggi di depannya hingga akhirnya terjatuh dan menabrak batu batu besar dengan sangat kuat.
Tatiana yang kepalanya terkena batu besar tidak menyadari bahwa darah segar keluar dati dahinya dan penglihatan yang jelas berubah menjadi buram.
"Aaarrgghh! Kakiku sakit sekali! Hmmm, kepalaku berdarah..." ucap Tatiana dengan wajah terkejut dan takut di saat bersamaan pun terbaring di tengah hutan.
#Bersambung.
Apakah perbincangan Laura dan Raja Jonathan IV akan berjalan lancar? Apakah Tatiana akan meninggal sendirian di dalam hutan ataukah ada seseorang yang menolongnya? Tebak jawabannya di BAB selanjutnya ya..