The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 55. Laura, Selamanya Putri



Laura yang tau jika Pangeran Mahkota Richard telah memerintahkan Pengawal untuk berjaga di pintu agar tak ada seorangpun menguping tetap merasa sangat cemas.


"Aku tidak bisa mempercayai orang lain untuk masalah ini kecuali diriku sendiri." gumam Laura dengan suara yang pelan sambil mengaktifkan kekuatannya secara diam-diam untuk memastikan tak akan ada seorangpun di sekitar ruangan tersebut.


Pangeran Mahkota Richard yang melihat Laura yang biasanya ceria dan selalu tersenyum menjadi sangat pendiam dan penuh perhitungan membuat Pangeran Mahkota Richard menjadi sedih.


"Laura, apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa denganmu?" tanya Pangeran Mahkota Richard dengan tatapan mata yang menujukkan kekhawatiran dan kecemasan yang mendalam.


Laura yang menyadari bahwa dirinya harus menceritakan semuanya agar bisa mendapatkan bantuan untuk keluar dari situasi yang membelitnya ternyata masih belum siap sepenuhnya.


"Kakak tidak akan memaksamu mengatakan semuanya karena Kakak tau pasti akan sangat sulit untuk menceritakannya tapi Kakak mohon jangan bertahan sendirian!" ucap Pangeran Mahkota Richard yang langsung berlutut di hadapan Laura dengan ekspresi wajah yang penuh harap.


"Agh, kakak...." gumam Laura dengan ekspresi wajah yang terharu dengan tatapan mata yang sedih dan siap menangis kapanpun tapi tetap dicoba untuk bertahan.


"Ingatlah ini Laura. Kakak dan Ayah akan selalu ada di sisimu apapun yang terjadi!" ucap Pangeran Mahkota Richard dengan nada suara yang tegas dan ekspresi wajah yang serius.


Laura yang mendengar pernyataan tegas dari mulut Pangeran Mahkota Richard secara langsung membuat hati Laura merasa sangat lega dan senang.


"Kakak! Ayah! Maafkan Laura yang telah sangat bodoh karena menutup mata untuk cinta kalian berdua yang tulus padaku hingga akhirnya aku membuat kalian berdua kehilangan nyawa demi pria yang tak pantas mendapatkan cintaku dan perhatianku!" ucap Laura dalam hati sambil menghapus perlahan sedikit air mata yang keluar karena terharu.


"Namun semua itu telah berubah. Di kehidupan ini aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan membuat semua orang yang bersalah membayar semuanya." ucap Laura dalam hati dengan tekad yang kuat.


Laura yang telah menetapkan pikirannya pun mulai memberanikan dirinya untuk mengatakan tujuannya memanggil Richard datang ke Kerajaan Hentallius.


"Kak, aku ingin bercerai dari Evans dan menurunkan Putra Mahkota Lyod dari Posisinya!" ucap Laura dengan nada suara yang t,egas dan ekspresi wajah yang serius.


Putra Mahkota Richard yang mendengar pernyataan yang sangat tidak terduga dari Laura pun membuka matanya dengan lebar.


"A-apa maksud ucapanmu Laura? Apa yang telah mereka berdua lakukan padamu?" tanya Pangeran Mahkota Richard yang langsung berdiri dengan tegap dengan nada suara yang sedikit meninggi.


"Kak, tenanglah. Jika kau bersikap seperti ini maka aku tidak akan mengatakan apapun padamu!" ucap Laura dengan nada suara yang sedikit kesal dengan ekspresi wajah yang pura-pura marah.


Pangeran Mahkota Richard yang tak ingin melihat Laura yang menjadi adik kesayangannya marah padanya pun dengan cepat meminta maaf.


"Agh, ma-maafkan Kakak, Laura. Kakak sungguh tidak bermaksud menghancurkan rencanamu, kakak hanya..." ucap Pangeran Mahkota Richard dengan nada suara yang terburu-buru dan suara yang gagap dengan ekspresi wajah yang panik.


"Tenanglah, Kak. Aku tidak marah pada Kakak. Kakak, duduklah disini!" ucap Laura dengan nada suara yang lembut dan menenangkan dengan senyum yang terlihat sangat cantik di wajahnya.


Pangeran Mahkota Richard yang mendengar perkataan Laura pun bergegas duduk di sebelah Laura dengan patuh.


"Kak, aku telah menyadari kesalahanku dan keegoisanku. Aku telah salah memaksakan cinta pada orang lain!" ucap Laura dengan ekspresi wajah dan tatapan mata yang sedih.


"Aku tidak seharusnya memaksa Evans untuk menikahiku hanya karena aku mencintainya!" ucap Laura dengan suara yang rendah dan tatapan mata yang sedih.


"Aku sudah tau jika Evans tidak akan pernah membuka hatinya untukku selamanya karena aku telah memberkan kesan buruk tentangku yang telah melekat pada pikiran terdalamnya!" ucap Laura dengan nada suara yang tegas.


Pangeran Mahkota Richard yang mendengar perkataan Laura pun ikut merasakan yang dirasakan Laura.


"Kakak mengerti lalu apa yang kau rencanakan Laura?" tanya Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang penasaran.


"Siapa itu? Suaranya sangat tidak asing dan mengingatkanku akan masa lalu yang kelam tapi aku tidak memiliki petunjuk tentang identitas orang ini!" gumam Laura dengan suara yang rendah dengan ekspresi wajah dingin.


"Tunggu! Wanita ini memanggil nama Kakak dengan nama depannya dengan sangat santai. Apakah dia Nona Martha?" tanya Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang bingung.


"Apa yang dilakukannya disini? Bukankah Penjaga sudah memberitaunya jika Kakak sedang bicara denganku? Lalu kenapa Nona Martha masih memaksa untuk masuk?" tanya Laura dalam hatinya sambil menatap Pangeran Mahkota Richard dengan seksama.


Pangeran Mahkota Richard yang tidak mengerti apapun diam dengan alis yang mengkerut dengan ekspresi wajah yang bingung.


"Kak, sepertinya ada seseorang yang datang dan membuat keributan di luar!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang bingung.


"Siapa itu? Bukankah Pengawal yang aku perintahkan sudah memberi tau?" tanya Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang kesal.


"Aku tidak tau, Kak. Lebih baik kita lihat Kak daripada dia bisa masuk dan menguping pembicaraan kita, Kak. Kak, aku tidak mau rencanaku gagal!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang seriua dengan tatapan mata yang tajam.


"Hah! Kakak mengerti. Kita lihat siapa orangnya!" ucap Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang pasrah sambil bergerak menuju ke ujung lorong.


Pangeran Mahkota Richard yang berjalan di depan pun akhirnya secara perlahan dapat mendengar suara paksaan dari Seorang Wanita Bangsawan yang ingin bertemu dengannya.


"Martha!" teriak Pangeran Mahkota Richard dengan suara yang lantang dengan mata yang terbuka lebar dengan ekspresi wajah yang tidak senang.


"Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau terus memaksa Pengawal itu untuk mengizinkanmu masuk?" tanya Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yanb kesal.


"A-agh, Richard. A-aku kemari karena ingin bertemu denganmu. Aku merasa sangat bosan berada di Pesta sendirian makanya aku datang menemuimu!" ucap Martha dengan nada suara yang gugup dengan ekspresi wajah yang sedih.


Laura yang berdiri di belakang Pangeran Mahkota Richard dan mendengar semua yang dikatakan Nona Martha membuat Laura mengkerutkan alisnya.


"Hah, bosan? Tidak mungkin. Dia bahkan berbincang dengan sangat santai bersama Putra Mahkota Lyod dan beberapa Nona Bangsawan dari Kerajaan Hentallius!" ucap Laura dalam hati dengan tatapan mata yang tajam.


"Agh, Nona Martha sepertinya sangat bosan karena itu datang kemari dengan memaksa Penjaga untuk memberinya izin masuk padahal dirinya tau bahwa Kakak sedang berbicara denganku!" sindir Laura dengan kata-kata yang sedikit kasar.


"Agh, maafkan aku yang telah mengganggu pembicaraan Yang Mulia Tuan Putri tapi sungguh saya tidak bermaksud jahat!" ucap Nona Martha dengan ekspresi wajah yang sedih dengan sikap yang sopan meminta maaf.


"Hmmm, tapi tunggu. Yang Mulia Putri Laura telah menikah dan menjadi Countess sekarang. Apakah sebaiknya saya memanggil anda dengan Nyonya Countess sekarang?" sindir Nona Martha dengan tatapan mata yang merendahkan.


Pangeran Mahkota Richard yang tidak senang ada orang lain yang berbicara kasar ataupun bersikap tidak sopan kepada Laura pun menjadi sangat marah.


"Hentikan! Lebih kau kembali ke Pesta atau kembali ruanganmu Martha. Aku memiliki urusana lain dengan Laura!" ucap Pangeran Mahkota Richard dengan nada suara yang tegas dengan tatapan mata yang tajam.


Nona Martha yang merasakan adanya tatapan mata berbahaya yang ditunjukkan Pangeran Mahkota Richard padanya pun memutuskan untuk pergi.


"Agh, aku tidak akan mengulangi ucapanku ini dua kali Martha. Aku ingin kau ingat dengan baik-baik ucapanku. Meskipun Laura telah menikah dan menjadi Countess di Kerajaan lain tapi Laura tetaplah Seorang Putri Kekaisaran Glorious! Identitas itu tidak akan pernah hilang darinya!" ucap Pangeran Mahkota Richard dengan nada suara yang tegas.


"Saya akan mengingatnya dengan sangat baik. Kalau begitu saya mohon undur diri!" ucapa Nona Marthan dengan nada suara yang lembut dan sikap yang sangat sopan sambil menundukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan tempat tersebut dengan langkah yang besar.


#Bersambung#


Apakah yang sebenarnya dilakukan Nona Martha? Apakah Laura akan diam saja saat menyadari bahwa Martha ternyata telah bergerak dengan mencurigakan sejak awal?" tunggu jawabannya di Bab selanjutnya ya..