The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 92. Pesta Pergantian Musim



Evans yang pergi ke Istana Kerajaan sudah bisa menyadari bahwa kedatangannya pasti akan menimbulkan banyak sekali perbincangan di antara Para Bangsawan yang menghadiri Pesta tersebut memutuskan menjadi orang tuli dan orang buta.


“Sial! Jika bukan karena perintah dari Yang Mulia Raja. Aku sudah pasti menolak untuk pergi ke Pesta ini dengan alasan kesehatan!” gumam Evans dengan ekspresi wajah yang kesal dengan tatapan mata yang kesal.


“Hah! Sepertinya aku harus mencari udara segar daripada harus mendengar suara dari orang-orang ini!” ucap Evans dengan ekspresi wajah yang kesal.


Namun saat Evans berniat meninggalkan Pesta menuju Balkon tiba-tiba dirinya mendengar Kesatria Penjaga Pintu masuk mengumumkan kedatangan Pangeran Mahkota Richard dan Laura.


“Yang Mulia Pangeran Richard Rich Glorious dan Countess Laura Raynor Vansfold memasuki ruangan!” ucap Kesatria dengan suara yang lantang dengan ekspresi wajah yang datar.


Laura yang datang bersama Pangeran Mahkota Richard pun menjadi pusat perhatian semua orang dan Laura yang tidak peduli dengan perkataan orang-orang tentang isu perceraiannya tetap mengangkat tegap kepalanya.


“Jangan hiraukan mereka semua! Mereka hanyalah serangga kecil yang tak pantas mendapatkan perhatianmu!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan senyum yang lembut.


“Kakak tidak perlu khawatir karena aku tidak pernah memandang mereka semua sebagai orang yang penting!” ucap Laura dengan senyum yang lebar.


Pangeran Mahkota Richard yang mendengar perkataan Laura menjadi sangat senang lalu tiba-tiba Ajudan Mies datang membisikkan sesuatu kepada Pangeran Mahkota Richard.


“Laura! Maaf! Kakak harus pergi tapi Kakak akan segera kembali!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang berat dengan tatapan mata yang sedih.


“Jangan khawatirkan aku, Kak! Aku akan baik-baik saja!” ucap Laura dengan senyum yang lembut dengan nada suara yang menenangkan.


Laura yang ditinggal sendirian oleh Pangeran Mahkota Richard pun memilih untuk mencari tempat untuk menikmati kue yang disediakan di Pesta tersebut.


“Hmmm, kue ini sangat enak. Apakah ini berasal dari Toko Kue Sweety?” tanya Laura pada dirinya sendiri dengan ekspresi wajah yang penasaran.


Di saat Laura sedang memenuhi mulutnya dengan kue yang sangat lezat tiba-tiba Nona Martha muncul dan berdiri di samping Laura.


“Nyonya Countess sangat benar. Aku dengar jika kue-kue untuk Acara Pesta Pergantian Musim ini dipesan langsung dari Toko Kue Sweety yang sangat terkenal itu!” jawab Nona Martha dengan senyum yang lembut.


“Hmmm, benarkah?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang tidak peduli dengan nada suara yang cuek.


Nona Martha yang melihat Laura masih bersikap sangat sombong di hadapannya setelah mengetahui bahwa suaminya berselingkuh dengan pelayan menjadi sangat kesal.


“Agh! Nyonya, saya mendengar sebuah gosip yang sangat aneh. Saya mendengar bahwa Tuan Count Vansfold meniduri Seorang Pelayan Rendahan. Apakah itu benar Nyonya? Itu adalah hal yang sangat menyakitkan melihat suami yang sangat kita cintai meniduri wanita lain dan saya harap Nyonya bisa bersabar dan menerima semuanya dengan lapang dada!” ucap Nona Martha dengan nada suara yang datar.


Laura yang tidak tahan mendengar omong kosong dari mulut Nona Martha dengan sengaja melemparkan minuman yang ada di tangannya di gaun Nona Martha.


“Agh! Maaf! Tanganku licin!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang datar dengan tatapan mata merendahkan.


Nona Martha yang tidak terima salah satu gaun yang paling disukainya hancur menjadi hancur berniat menampar Laura.


Namun sebelum tamparan itu menuju pipi Laura Nona Martha kehilangan keseimbangannya pun terjatuh dan menabrak seorang Pelayan yang membawakan kue hingga akhirnya kue itu pun jatuh ke gaun Nona Martha dan membuatnya semakin terlihat kacau.


Laura yang tak ingin melepaskan Nona Martha begitu saja setelah mengatakan hal yang sangat tidak sopan pun memberikan sebuah pukulan telak.


“Jangan melampaui batasanmu dan jaga sikapmu! Apapun yang terjadi padaku tak ada hubungannya denganmu dan statusku masih lebih tinggi darimu yang hanya anak adopsi!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang dingin dengan tatapan mata yang tajam.


Nona Martha yang mendengar kata-kata hinaan dari Laura menjadi sangat marah dan kesal dan tanpa pikir panjang segera berdiri dan melarikan diri dari ruangan pesta.


Sementara itu, Evans yang tak pernah melepaskan pandangannya dari Laura selalu berniat mendekati Laura untuk bisa bicara dengannya tapi tak pernah berhasil karena Laura selalu dikelilingi oleh orang-orang.


“Aku harus bisa bertemu dengan Laura dan bicara dengannya empat mata. Aku tidak bisa membiarkan semua yang terjadi seperti ini.” Ucap Evans dalam hati dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan mata yang tajam.


Lalu saat Evans melihat Laura sendirian setelah melihat Nona Martha berlari dengan ekspresi wajah yang siap menangis kapanpun merasa sangat buruk.


“Apa yang dilakukannya kali ini? Apakah dia membuli Nona Martha, Tunangan Pangeran Mahkota Richard, karena ingin menguasai perhatian Pangeran Mahkota Richard sepenuhnya?” tanya Evans pada dirinya sendiri dengan ekspresi wajah yang dingin.


“Hah! Apakah aku benar-benar harus menemuinya dan memperbaiki hubungan ini padahal aku sangat tau dengan sifatnya yang sombong dan egois itu!” ucap Evans dengan ekspresi wajah yang kesal.


Namun saat Evans telah membuat keputusan untuk mendekati Laura untuk bicara tiba-tiba Pangeran Mahkota Richard kembali.


“Kak! Kau sudah kembali?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan senyum yang lebar.


“Ada apa? Kenapa wajahmu sangat bahagia? Apakah telah terjadi sesuatu yang menyenangkan?” tanya Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang penasaran.


“Hmmm, tadi Nona Martha datang dan mencari masalah denganku tapi aku malah membuatnya malu dengan menumpahkan gelas wine ke gaunnya!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang cuek.


“Aku juga membuatnya terjatuh hingga kue yang dibawa pelayan jatuh tepat di gaunnya karena dia berniat ingin menamparku!” ucap Laura dengan senyum yang licik.


“Apa? Dia ingin menamparmu!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan nada suara yang sedikit tinggi dengan tatapan mata yang tajam.


“Tenanglah, Kak! Tidak ada yang terjadi. Sebelum dia melakukan itu padaku, aku telah mempermalukan dirinya terlebih dulu!” ucap Laura dengan percaya diri.


Di saat Laura ingin bertanya tentang kelanjutan rencana yang telah mereka jalankan tiba-tiba Keluarga Kerajaan Hentallius memasuki ruangan pesta.


"Yang Mulia Kaisar Jonathan Carls Hentallius IV dan Permaisuri Ericka Norr Hentallius, memasuki ruangan!"


"Yang Mulia Putra Mahkota Lyod Breio Hentallius memasuki ruangan!"


"Yang Mulia Pengeran Kedua Illion Jean Hantallius dan Pangeran Ketiga Edward Shawn Hentallius memasuki ruangan!"


Semua orang yang melihat Keluarga Kerajaan datang pun menundukkan kepalanya dan memberikan salam kecuali Pangeran Mahkota Richard yang memiliki status yang lebih tinggi.


Raja Jonathan IV yang melihat Pangeran Mahkota Richard dan Laura berdisi bersamaan pun menarik nafas panjang sambil menatap tajam ke arah Putra Mahkota Lyod.


“Jika bukan karena kecerobohan dari Putraku yang bodoh! Maka Pengumuman ini tak perlu dilakukan!” ucap Raja Jonathan denan ekspresi wajah yang datar yang membuat Putra Mahkota Lyod yang sedang dalam posisi sulit hanya bisa diam menundukkan kepalanya.


Raja Jonathan yang tak ingin hubungan diplomatik dengan Kekaisaran Glorious hancur hanya karena bawahan yang tidak patuh pun berdiri di atas podium dengan kepala yang tegak.


Semua orang yang melihat Raja Jonathan IV berdiri dengan tegap pun segera menghentikan aktifitasnya dan mendengarkan yang akan diumumkan.


#Bersambung#


Apa yang akan diumumkan oleh Raja Jonathan IV di hadapan semua orang? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...