
Dokter yang salah mengenali Pangeran Kedua Illion sebagai Suami Tatiana langsung mendapatkan ancaman pedang di lehernya.
“Jika kau masih sayang dengan nyawamu. Lebih baik kau jaga bicaramu! Wanita ini bukanlah Istriku ataupu siapapun bagiku! Dia hanyalah wanita ****** yang harus mendapatkan hukumannya!” ucap Pangeran Kedua Illion dengan tatapan mata yang tajam.
“Tugasmu adalah memeriksanya dan memberikannya obat untuk mempertahankan nyawanya karena aku tak ingin wanita ini mati sebelum aku sampai ke tempat tujuan!” ucap Pangeran Kedua Illion dengan aura membunuh yang kuat.
Dokter yang mendapatkan tekanan yang sangat kuat menjadi sangat takut hingga tubuhnya pun bergetar dengan sangat hebat.
Dokter yang menyadari bahwa nyawanya bisa melayang kapanpun akhirnya melakukan yang diminta oleh Pangeran Kedua Illion.
“Wanita ini mengalami pendarahan hebat dan janin yang ada di dalam kandungannya telah meninggal. Kami harus segera melakukan tindakan mengeluarkan janin tersebut segera atau Ibunya akan menderita rasa sakit yang tak tertahankan!” ucap Dokter dengan ekspresi wajah yang ketakutan.
“Jika janin itu tidak dikeluarkan, apakah wanita ini akan segera mati?” tanya Pangeran Kedua Illion dengan tatapan mata yang dingin.
“Dia tidak akan langsung mati tapi perlahan janin yang meninggalkan akan membusuk dan menjadi penyakit yang bisa membahayakan nyawanya!” ucap Dokter yang merasakan firasat buruk.
“Kalau begitu biarkan saja janin itu tetap di dalam! Lakukan saja tugasmu untuk memberikan obat untuk memulihkan staminanya secepatnya!” ucap Pangeran Kedua illion dengan ekspresi wajah yang dingin.
Dokter yang sudah bisa menduga rencana dan yang akan dipilih oleh Pangeran Kedua Illion hanya bisa menarik nafas panjang dan melakukan yang diperintahkan meskipun itu melanggar rasa kemanusiaannya.
“Rasa sakit yang akan kau derita nanti hingga hukumanmu yang sesungguhnya kau terima tak sebanding dengan rasa sakit yang kau torehkan di hati Putri Laura!” ucap Pangeran Kedua Illion dengan tatapan mata yang dingin.
Pangeran Kedua Illion yang sebenarnya langsung tertarik pada Laura di pertemuan pertamannya karena Pangeran Kedua Illion merasakan rasa sakit yang sama yang dirasakannya.
Pangeran Kedua Illion yang menjadi penasaran pun terus mencari tau tentang Laura dan semakin banyak hal yang diketahui oleh Pangeran Kedua Illion semakin penasaran dirinya hingga tak sadar sejak kapan perasaan yang berbeda terhadap lawan jenis itu muncul.
Meskipun Duke Balmon adalah Mantan Putra Mahkota yang diturunkan posisinya karena telah melakukan hal yang salah tapi semua Bangsawan tetap datang memberikan bunga terakhir sebagai tradisi melepaskan kematian seseorang karena memandang Permaisuri Ericka yang bersedih atas kematian Putranya.
Pemakaman Duke Balmon yang langsung dilaksanakan tepat setelah mayatnya sampai di Kediamannya hanya menyisahkan kesedihan pada Permaisuri Ericka.
“Putraku...! Putraku...! Kenapa kau pergi begitu cepat?” tanya Permaisuri Ericka dengan ekspresi wajah yang sedih dengan air mata yang tak bisa berhenti di depan peti mati Duke Balmon.
Laura yang telah mengetahui hal itu akan terjadi pun ikut datang ke Kediaman Duke Balmon memberikan bunga terakhir dengan gaun hitam dan topi hitam yang besar yang menutupi setengah wajahnya.
“Yang Mulia, apakah anda masih harus datang kemari? Statusnya pun telah diturunkan dan bahkan pemakamannya menggunakan cara Bangsawan dan bukan cara Keluarga Kerajaan yang wafat.” Ucap Rika dengan suara yang pelan dengan ekspresi wajah yang penasaran.
“Kita hanya datang sebagai formalitas. Setelah bunga diletakkan, kita akan segera pergi meninggalkan tempat ini!” ucap Laura dengan nada suara yang terdengar dingin sambil berjalan memegang bunga menuju peti mati Duke Balmon.
Laura yang melihat lubang besar di dada Duke Balmon meskipun telah dipakaikan pakaian yang rapi dan indah membuat Laura merasa sangat puas.
“Di kehidupanku yang lalu, kau adalah otak dari semua yang terjadi padaku, Keluargaku dan Kekaisaranku! Sekarang aku membalik semua keadaan. Sekarang kau yang terbaring tidak bernyawa!” ucap Laura dalam hati sambil meletakkan bunga lili di dalam peti mati.
“Tapi jangan khawatir. kematianmu ini tidak akan sendirian. Aku akan membawa kelompokmu ikut menemanimu di dalam Neraka!” ucap Laura dalam hati sambil berjalan lurus keluar dari Ruangan dengan tatapan mata yang tajam.
#Bersambung#
Siapa saja orang yang dimaksud oleh Laura? Bagaimana cara Laura membawa kelompok Duke Balmon menyusulnya? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..