The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 31. Membakar Semua Hadiah



Evans yang merasa sangat tidak nyaman dengan yang telah terjadi pada Laura dan tentang keberadaan Master Noel pun bertanya pada George.


"Katakan padaku! Apakah Master Noel pernah menunjukkan keberadaannya pada Laura sebelum ini?" tanya Evans dengan nada suara yang penasaran dengan ekspresi wajah yang menunjukkan rasa ingin tau yang tinggi.


George yang pernah melihat Master Noel menolong Laura satu kali sebelumnya pun menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.


"Saya melihat Master Noel menolong Nyonya di saat Nyonya menceburkan tubuhnya ke dalam Danau. Saat itu, Tuan bahkan tak menoleh bahkan mengabaikan Nyonya!" ucap George dengan nada suara yang terdengar sangat jujur.


Evans yang selama ini berpikir jika Laura tidak mendapatkan perlindungan ataupun bantuan dari Kekaisaran Glorious tidak menyangka akan mendapatkan kenyataan yang mengejutkan.


"Apakah menurutmu Yang Mulia Putra Mahkota mengetahui hal ini?" tanya Evans dengan nada suara yang penasaran.


"Mengetahui apa maksud Tuan?" tanya George dengan ekspresi wajah yang bingung dengan alis yang mengkerut.


"Sudahlah. Aku ingin sendiri. Kau boleh pergi sekarang!" ucap Evans yang tidak ingin diganggu oleh orang lain.


Evans yang sendirian di dalam ruang kerjanya pun merasa kepalanya terasa sangat sakit dan pusing karena hubungannya dengan Laura terlihat semakin memburuk.


"Putra Mahkota memintaku untuk membujuk Laura agar mau meminta Pangeran Mahkota Richard setuju semua perjanjian yang diberikan pasti sudah mengetahui bahwa Keluarga Kekaisaran Glorious tidak pernah melupakan Laura!" ucap Evans dengan nada suara yang terdengar percaya diri.


"Jika seperti itu maka aku harus segera berbaikan dengan Laura. Aku tidak bisa mengecewakan Putra Mahkota!" ucap Evans dengan ekspresi wajah yang serius seolah telah membuat keputusan yang penting.


Sementara itu, Laura yang menggunakan Kekuatan Anginnya untuk mendengarkan percakapan Evans dan George tidak menyangka jika Evans adalah pria yang sangat tidak memiliki hati.


"Jadi yang menyelamatkan pemilik tubuh ini saat tenggelam ke dalam Danau adalah Master Noel sementara Evans yang melihat kejadian itu hanya memalingkan wajahnya dan pergi!" ucap Laura dengan suara yang rendah dengan ekspresi wajah yang kesal dengan tangan terkepal erat.


"Hah! Kenapa rasanya semakin menyebalkan ketika aku mengetahui semuanya?" gumam Laura sambil tertawa dengan sangat keras sambil menutup matanya dengan satu tangannya.


"Aku tidak akan goyah dan aku tidak akan mundur! Aku akan membalas semua orang yang ada di Kediaman ini! Aku akan membuat semua orang membayar semuanya!" ucap Laura dengan tekad yang sangat kuat terlihat di kedua bola matanya.


Keesokan paginya, Laura yang baru saja terbangun dari tidurnya tiba-tiba melihat tumpukan kotak hadiah yang sangat banyak di dalam kamarnya.


Laura yang sudah bisa menebak orang yang mengirimkan semua itu pun menjadi sangat marah dan kesal.


"Apakah nyawaku bisa ditukar dengan hadiah-hadiah ini? Aku tidak akan pernah membantumu membujuk Kakakku. Aku akan membuat nama baikmu rusak di mata Putra Mahkota B*****ek itu!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang marah.


Tak lama setelah Laura membunyikan loncengnya, Rika yang telah siap dengan baskom untuk cuci muka Laura pun datang.


"Yang Mulia, apakah anda sudah bangun?Bagaimana dengan tidurmu Yang Mulia?" tanya Rika dengan nada suara yang ceria dengan senyum yang lembut.


"Tidurku nyenyak tapi hariku dimulai dengan kehancuran!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang tidak senang sambil menatap tumpukan hadiah yang ada di depan matanya.


"Rika, panggilkan George kemari sekarang! Aku ingin bicara dengannya!" ucap Laura dengan nada suara yang tegas setelah mencuci wajahnya.


"Baik, Yang Mulia." ucap Rika dengan nada suara yang patuh lalu membawa baskom air serta handuk tersebut keluar ruangan.


Di saat Laura sedang berdiri dan melihat-lihat kotak hadiah yang diberikan oleh Evans tiba-tiba George muncul di hadapan Laura.


"Apakah Nyonya memanggilku?" tanya George yang menundukkan kepalanya dengan sopan dengan ekspresi wajah yang datar.


"Kotak-kotak apa ini? Siapa yang memberikan semua ini?" tanya Laura dengan nada suara yang datar.


"Semua itu adalah hadiah yang dikirimkan oleh Tuan Count kepada Nyonya sebagai ucapan permintaan maaf!" ucap George dengan nada suara yang santai.


"Kalau begitu kirimkan kembali semua ini. Aku tidak membutuhkan semuanya!" ucap Laura dengan nada suara yang dingin dengan tatapan mata yang tajam.


"Ta-tapi Nyonya... Tuan bilang hadiah-hadiah ini tidak bisa dikembalikan!" ucap George dengan nada suara yang hati-hati.


"Hah! Jika aku tidak bisa mengembalikannya maka aku akan membuang semuanya!" ucap Laura dengan senyum yang misterius ditunjukkan ke arah George.


George yang melihat senyuman yang sangat berbahaya di wajah Laura pun tiba-tiba merinding dan merasakan jika punggungnya terasa sangat dingin.


"Rika!" panggil Laura dengan suara yang lantang denga ekspresi wajah yang serius serta tatapan mata yang tajam.


"Ya, Nyonya. Saya disini!" jawab Rika dengan cepat dan terburu-buru lalu menundukkan kepalanya dengan patuh.


"Keluarkan semua hadiah ini dan bakar! Hancurkan semuanya hingga menjadi debu! Jangan sampai ada yang bersisa satu pun!" ucap Laura dengan nada suara yang tegas.


George yang mendengar perintah dari Laura pun menjadi sangat terkejut dan merasakan suasana di dalam ruangan itu sangat panas hingga membuat Geoge mengeluarkan keringat yang sangat banyak.


Laura yang tak ingin melihat George berdiri di hadapannya pun mengusirnya keluar dengan ekspresi wajah yang terganggu.


Setelah beberapa jam berlalu, Laura yang telah selesai bersiap-siap pun keluar melihat semua hadiah yang diberikan Evans padanya berubah menjadi abu.


"Apakah semuanya telah dikumpulkan disini?" tanya Laura dengan nada suara yang lantang dengan ekspresi wajah yang dingin.


"Sudah Nyonya!" ucap semua Pelayan yang berdiri di hadapannya dengan kepala tertunduk dengan wajah yang patuh.


Laura yang melihat Tatiana di antara pelayan-pelayan yang berdiri di hadapannya pun tersenyum puas terutama saat melihat Tatiana melihat semua tumpukan hadiah yang diberikan Evans untuknya.


“Lihatlah semua itu. Itu semua adalah hadiah mahal dan mewah yang tidak pernah kau dapatkan selama ini bukan? Sekarang aku akan memusnahkan semuanya hingga tak bersisa!” ucap Laura dalam hati dengan sneyum yang jahat.


Laura yang mengalihkan pandangannya ke arah Kesatria John yang ditugaskan untuk melindunginya sejak kejadian Laura terjatuh dari Kereta Kuda pun menatap Kesatria John dengan dingin.


“Kau tidak memiliki kesetiaan untukku. Kau hanyalah hewan peliharaan Evans yang ditempatkan di sisiku untuk mematai-mataiku dan bukan melindungiku karenanya aku akan menjadikanmu budakku!” ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang dingin.


“Kesatria John!” panggil Laura dengan nada suara yang datar dengan wajah tanpa ekspresi serta tatapan mata lurus ke depan.


“Bakar semua hadiah itu! Aku ingin semuanya menjadi abu! Aku inginmelihat api yang sangat besar!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang bahagia.


Kesatria John yang sudah bingung dengan semua hadiah mewah yang terkumpul di lapangan kosong menjadi sangat terkejut setelah mendengar perintah dari Laura.


“A-apa? Apakah Nyo-Nyonya yakin membakar semua hadiah ini?” tanya Kesatria John dengan ekspresi wajah yang tidak percaya.


“Tentu saja. Bakar semuanya!” ucap Laura dengan suara yang lantas dan tegas dengan tatapan mata yang sangat dingin.


“Apakah kau tidak akan melakukan yang aku perintahkan, Kesatria John?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang dingin seperti es.


“Ti-tidak Nyonya. Saya akan melakukan semua perintah anda!” ucap Kesatria John yang menjawab dengan nada suara yang gugup dan terburu-buru.


“Bagus! Kalau begitu lakukan sekarang! Aku ingin melihat api yang sangat besar!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang bahagia dengan senyum yang lebar.


Kesatria John yang melihat senyuman lebar dan ekspresi bahagia di wajah Laura hanya bisa menelan salivanya dan menarik nafas yang panjang.


“Ya, Dewa! Semoga tidak terjadi hal buruk setelah ini!” ucap Kesatria John dengan suara yang rendah dengan ekspresi wajah yang takut.


Tepat setelah api dikobarkan di hadapan Laura dan melahap semua hadiah-hadiah tersebut ke dalamnya tiba-tiba terdengar suara yang sangat lantang berasal dari belakang.


“Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila membakar semua hadiah itu?” teriak seseorang dengan suara yang sangat keras dan terdengar sedang sangat marah.


#Bersambung#


Siapakah orang yang berteriak dari belakang itu? Apakah api yang menyala dengan sangat indah itu dapat membakar semua hadiah tersebut menjadi abu seluruhnya? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya...