
Evans yang tidak pernah membayangkan Laura akan meminta cerai padanya dengan sangat mudah pun menjadi sangat terkejut.
“Apa? Cerai?” tanya Evans dengan ekspresi wajah yang bingung dengan alis yang mengkerut dengan tatapan mata yang merasa sangat aneh.
“Apa maksud ucapanmu itu? Apakah sekarang kau sudah mengganti targetmu? Apakah sekarang kau sudah mengincar Viscount Balanguisse atau Pangeran Kedua Illion?” tanya Evans dengan tatapan mata yang dingin dengan ekspresi wajah merendahkan.
Laura yang mendengar perkataan Evans pun menjadi sangat marah dan tak bisa menahan dirinya untuk tidak menampar pipi Evans.
“Tutup mulutmu!” teriak Laura dengan suara yang lantang dengan mata yang terbuka lebar dengan ekspresi wajah yang marah.
“Aku tidak sehina dirimu yang berselingkuh dengan seorang Pelayan dan bahkan dengan teganya menghancurkan Keluarga dari Istrinya sendiri!” ucap Laura dalam hati yang masih mencoba menahan kata-katanya.
Evans yang mendapatkan tamparan dari Laura pun menjadi sangat marah dan tidak terima pun memberikan Laura hukuman.
“Kita tidak akan pernah bercerai! Tidak akan pernah!” ucap Evans dengan suara yang lantang dengan mata yang melotot tajam sambil memegang bahu Laura dengan sangat kuat hingga membuat Laura meringis kesakitan.
“Kau tidak boleh keluar kemanapun selama satu bulan! Kau akan tetap di dalam kamarmu!” ucap Evans dengan suara yang sangat keras lalu melepaskan pegangannya pada bahu Laura.
Laura yang hampir saja kehilangan keseimbangannya karena dorongan tiba-tiba yang dilakukan Evans padanya pun terjatuh ke lantai.
Laura yang tidak menangis ataupun merasakan sakit atas perbuatan Evans padanya pun hanya menatap tajam punggung Evans yang perlahan menjauh.
“Meskipun kau tidak ingin bercerai denganku, pendapatmu itu tidak akan berarti karena aku akan tetap meminta cerai darimu!” ucap Laura dalam hati dengann senyum yang misterius sambil menatap punggung Evans yang perlahan menjauh.
“Aku mengucapkan ini karena aku ingin memberikanmu peringatan tapi melihat reaksimu yang berlebihan sepertinya kau telah menjadi sangat tergantung denganku!” gumam Laura dengan senyum kescil sambil berusaha berdiri sendiri.
“Aku tidak akan menceraikanmu sekarang karena aku ingin kau dan wanita rendahanmu itu masuk merasakan Neraka yang sama dengan yang aku alami di Kehidupanku yang lalu!” ucap Laura dalam hati dengan tatapan mata yang memendam dendam yang membara.
Laura yang merasa sangat lelah dengan beberapa kejadian yang terjadi dalam waktu satu hari pun membaringkan tubuhnya ke tempat tidur dan tanpa sadar tertidur.
Laura yang terbangun tengah malam merasa sangat haus pun mengambil air yang ada di sampingnya tapi ternyata air tersebut habis.
“Agh! Aku tidak bisa memanggil Rika karena ini sudah sangat larut. Aku akan keluar dan mengambil air sekalian mencari udara segar!” gumam Laura dengan suara yang rendah sambil mengambil mantel bulu miliknya dan memakainya.
Namun saat Laura sedang berjalan keluar mencari dapur untuk mendapatkan air, Laura tidak sengaja melihat Tatiana melakukan sesuatu yang sangat mencurigakan.
“Bukankah itu Tatiana? Apa yang dilakukannya disana?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang bingung dengan tatapan mata penasaran.
Laura yang ingin mengetahui yang dilakukan Tatiana pun memutuskan untuk bersembunyi di balik salah satu tiang yang sangat besar lalu memfokuskan pikirannya untuk mendengar suara angin malam yang ada di sekitar Tatiana.
“Sial! Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa peraturannya berubah? Kenapa hanya Bangsawan yang bisa mengikuti taruhan itu?” tanya Tatiana dengan ekspresi wajah yang kesal.
“Kuda pilihanku itu benar. Seharusnya aku menang dan mendapatkan semua uang itu!” ucap Tatiana dengan nada suara yang tidak terima.
Laura yang mendengarnya pun menjadi sangat senang dan tidak menyangka jika keputusannya untuk keluar mengambil air sendiri akan memberikannya kebahagiaan.
“Hmmm, ternyata dia disana karena ingin melampiaskan amarahnya agar tidak diketahui orang lain! Sungguh mengesankan!” ucap Laura dengan senyum yang jahat.
Laura yang berdiri di belakang tiang tidak menyangka akan kedatangan Evans secara mendadak sehingga tanpa sadar memecahkan cangkir gelas yang ada di tangannya.
“Aarrgghhh!” teriak Laura dengan suara yang sangat keras dan secara tidak sengaja pecahan gelas itu ternyata mengenai kaki Laura.
Laura yang merasakan adanya darah segar mengalir di kakinya pun meringis kesakitan tapi Evans yang tidak peduli pada Laura pun menjadi sangat marah karena Laura telah melanggar ucapannya.
“Apa yang kau lakukan disini? Bukankah aku sudah bilang bahwa kau dilarang untuk keluar dari kamarmu selama satu bulan?” tanya Evans dengan nada suara yang tinggi dengan ekspresi wajah yang marah.
Laura yang mengabaikan rasa sakit di kakinya pun mengalihkan pandangannya ke tempat Tatiana berada sebelumnya dan menyadari bahwa Tatiana telah pergi.
“Sial! Kenapa dia bisa ada disini? Aku jadi tidak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu selanjutnya!” ucap Laura dalam hati dengan tangan yang terkepal erat.
“Kau! Sungguh manusia yang sangat egois!” teriak Laura dengan sangat keras dengan ekspresi wajah yang marah serta dengan tatapan mata yang tajam.
Laura yang malas untuk melayani Evans bicara pun meninggalkan Evans sendirian dengan kepala terangkat sambil menahan rasa sakit yang menusuk kakinya.
Laura yang akhirnya kembali ke kamarnya pun memutuskan untuk memanggil Rika yang sedang beristirahat untuk membawakannya air dan perban.
“Yang Mulia! Apa yang terjadi padamu? Kakimu!” teriak Rika dengan suara yang keras dengan ekspresi wajah terkejut dan khawatir di saat bersamaan.
“Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin kau menghentikan lukanya sekarang!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas dengan tatapan mata yang tajam.
Rika yang mengerti pun dengan cepat mengobati luka yang ada di kaki Laura dan memperbannya hingga membuat Laura terpaksa harus terbaring di tempat tidur selama beberapa hari.
“Evans sialan! Beraninya dia memperlakukanku seperti ini! Aku pasti akan membalasmu! Pasti!” ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang kesal.
Laura yang tak ingin membiarkan Evans tenang sementara dirinya harus menderita rasa sakit dan terbaring di atas tempat tidur pun memanggil Master Noel.
“Master Noel! Keluarlah!” panggil Laura dengan suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan mata yang tajam.
“Apakah Yang Mulia memanggilku?” tanya Master Noel yang langsung muncul di samping Laura sambil berlutut dengan satu kaki.
“Bisakah kau membuat panggilan darurat untuk Kakakku? Aku ingin bicara dengannya sekarang!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas dan tatapan mata yang tajam.
“Tentu saja Yang Mulia tapi anda hanya bisa bicara selama lima menit dan anda tidak bisa menghubungi Yang Mulia Pangeran Mahkota ataupun Yang Mulia Kaisar untuk satu minggu ke depan!” ucap Master Noel yang memberikan pemberitahuan kepada Laura.
“Lalu aku pun tidak bisa melindungi Yang Mulia selama satu hari penuh karena aku akan kehabisan Kekuatan untuk melakukan ini. Apakah Yang Mulia yakin masih ingin melakukannya?” tanya Master Noel lagi yang mencoba meminta keyakinan dari Laura.
“Aku mengerti. Ini tidak akan terlalu lama. Sambungkan aku dengan Kak Richard sekarang!” ucap Laura dengan aura yang menekan.
Master Noel yang mendengar perkataan Laura pun menggunakan Kekuatan Sihirnya untuk membuat sebuah Segel Sihir dan menghubungkannya dengan salah seorang Penyihir yang selalu melindungi Pangeran Mahkota Richard.
Samuel yang merupakan Penyihir Muda yang memiliki bakat yang sama dengan Master Noel sedang terbaring tidak menyangka mendapatkan pesan khusus dari Master Noel yang ditugaskan melindungi Laura.
“Segera temui Pangeran Mahkota dan sampaikan bahwa Yang Mulia Putri Laura ingin bicara hal penting sekarang!” ucap Master Noel dengan suara yang tegas.
Master Samuel yang sangat terkejut pun dengan cepat membuat teleportasi menuju ke Kamar Pangeran Richard tanpa memikirkan dirinya yang masih memakai piama tidur.
Master Samuel yang tidak menemukan keberadaan Pangeran Mahkota Richard di kamarnya pun dengan cepat mengubah lokasi teleportasinya hingga akhirnya sampai di ruang kerja khusus.
“Yang Mulia! Yang Mulia! Yang Mulia! Darurat!” teriak Master Samuel dengan suara yang lantang sambil membuka pintu ruang kerja Pangeran Mahkota Richard tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Pangeran Mahkota yang sedang terlarut dalam pekerjaannya pun menjadi sangat terkejut dengan kedatangan tamu secara tiba-tiba.
“Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu? Atau kau sudah bosan hidup dan ingin aku mengambil nyawamu!” teriak Pangeran Mahkota Richard dengan suara yang lantang.
Master Samuel yang menyadari bahwa nyawanya telah berada di ujung tanduk pun langsung berlutut dan meminta ampun dengan air mata yang sangat banyak.
Master Samuel yang tidak ingin dihukum ataupun disalahkan untuk hal seperti ini pun memberitaukan alasan kedatangannya hingga melanggar peraturan Istana.
“Mohon ampuni hamba Yang Mulia! Saya bersalah! Tapi saya datang dengan terburu-buru dan tidak menggunakan etika yang benar karena ada hal yang sangat penting yang harus saya beritaukan!” ucap Master Noel dengan ekpsresi wajah yang memelas.
Pangeran Mahkota Richard yang menjadi penasaran dengan info penting yang ingin diberitaukan kepadanya pun memberikan Master Noel kesempatan.
“Baiklah! Aku akan mengampunimu asalkan informasi yang kau bawa adalah informasi darurat!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan mata yang tajam.
#Bersambung#
Apa yang akan dikatakan Laura kepada Pangeran Mahkota Richard? Apa yang direncanakan Laura selanjutnya? Tunggu jawabannya di BAB-BAB selanjutnya ya...