The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 95. Ketahuan



Putra Mahkota Lyod yang mendapatkan pesan dari Ajudannya pun bergegas meminta izin meninggalkan Ruangan Pesta dari Nona Vatrissa yang sedang berbincang dengannya.


"Maafkan aku Vatrissa tapi aku harus segera pergi. Aku akan mengundangmu nanti ke Istanaku untuk membicarakan Pernikahan kita!” ucap Putra Mahkota Lyod dengan kata-kata yang manis.


Putra Mahkota Lyod yang segera pergi ke tempat janjian dirinya dengan Nona Martha melihat Nona Martha sedang menunggunya di sebuah Taman Bunga.


“Martha sayang!” panggil Putra Mahkota Lyod dengan suara yang tinggi dengan nada suara yang ceria dengan senyum yang lembut.


“Lyod! Akhirnya kau datang juga. Aku khawatir kau telah melupakanku karena kau terus saja bersama dengan Tunanganmu itu!” ucap Nona Martha dengan nada suara yang tidak senang dengan ekspresi wajah yang kesal.


“Apa yang kau bicarakan? Aku tidak akan mungkin melupakanmu! Aku akan selalu merindukanmu meskipun kita terpisah jarak yang sangat jauh!” ucap Putra Mahkota Lyod sambil mencium punggung tangan Nona Martha dengan lembut dengan senyum yang menggoda.


Nona Martha yang terbuai dengan kata-kata manis Putra Mahkota Lyod pun tersipu malu hingga wajahnya berubah menjadi merah seperti tomat.


Laura yang bersembunyi di sekitar Taman bersama Ajudan Mies sambil mengaktifkan kekuatannya hingga bisa mendengar semua perkataan Nona Martha dan Putra Mahkota Lyod.


“Sungguh menjijikkan! Aku tidak menyangka ternyata Putra Mahkota Lyod adalah Seorang Pemain Wanita yang sangat handal!” sindir Laura dengan suara yang rendah dengan tatapan mata yang rendah.


“Benar sekali Yang Mulia! Jika orang seperti itu menjadi Raja maka Kerajaan ini hanya akan dipenuhi dengan wanita cantik yang digunakan oleh Keluarganya sebagai pion untuk mendapatkan kekuasaan!” ucap Ajudan Mies dengan tatapan mata yang tajam.


Laura dan Ajuda Mies yang memiliki pemikiran yang sama tentang Putra Mahkota Lyod pun saling berpandangan untuk menyetujui pikiran keduanya.


Sementara itu, Putra Mahkota Lyod yang penasaran dengan hasil tugas yang diberikannya kepada Nona Martha pun langsung bertanya.


“Bagaimana dengan Pangeran Mahkota Richard? Apakah dia bersedia melakukan perbincangan ulang mengenai Perjanjian Kerjasama itu?” tanya Putra Mahkota Lyod dengan ekspresi wajah yang penasaran.


“Jangan cemaskan itu Lyod! Aku sudah membujuk Richard dan dia telah setuju untuk mengirim Ajudannya untuk mengatur ulang jadwal pertemuan untuk membicarakan ulang masalah Perjanjian Kerjasama itu!” ucap Nona Martha dengan ekspresi wajah yang percaya diri sambil memainkan bros yang ada di dada Putra Mahkota Lyod.


Putra Mahkota Lyod yang akhirnya mendengarkan satu dari semua rencana yang gagal akhirnya berhasil juga pun menjadi sangat senang.


“Kau memang bisa diandalkan, Martha. Aku sangat mencintaimu!” ucap Putra Mahkota Lyod yang dengan sengaja menc*um bibir Nona Martha dengan lembut.


Putra Mahkota Lyod yang melihat gaun yang dipakai Nona Martha memiliki belahan d*da yang sangat menggoda membuat Putra Mahkota Lyod tak bisa menahan nafsunya hingga membuat tangan Putra Mahkota Lyod dengan sengaja memainkan bagian yang menonjol itu.


“Argh! Ly-Lyod! Ja-jangan disana! Aaarrghhh!” ucap Nona Martha yang mengerang ken*kmatan untuk setiap sentuhan yang diberikan oleh Putra Mahkota Lyod.


“Kenapa? Apakah kau tidak menyukainya? Apakah kau tidak senang aku memainkan belahan d*da indahmu ini?” tanya Putra Mahkota Lyod dengan suara yang rendah dengan senyum lebar dengan tatapan mata yang m*sum.


“A-aku menyukainya ta-tapi disini...” ucap Nona Martha yang melihat ke sekeliling dimana dirinya sedang ada di Taman Bunga yang dapat didatangi orang-orang kapanpun.


Putra Mahkota Lyod yang menyadari maksud ucapan dari Nona Martha tanpa pikir panjang pun menggendong Nona Martha ke dalam pangkuannya dan membawanya ke sebuah ruangan kosong terdekat.


Laura yang sudah bisa menebak hal yang akan dilakukan oleh Putra Mahkota Lyod dan Nona Martha selanjutnya pun segera menoleh ke arah Ajudan Mies.


Ajudan Mies yang dapat mengerti tugas yang harus dilakukannya pun dengan cepat pergi meninggalkan Taman Bunga secara diam-diam.


Sementara itu, Pangeran Mahkota Richard yang melihat Ajudan Mies datang menyadari bahwa rencana selanjutnya sedang berlangsung pun mendekati Nona Vatrissa yang sedang sendirian.


“Terima kasih untuk bantuan Nona kepada Ajudanku!” ucap Pangeran Mahkota Richard yang mengingatkan Nona Vatrissa tentang bantuannya yang memberitau jalan kepada Ajudannya.


“Itu bukanlah hal yang sulit, Pangeran Mahkota Richard!” ucap Nona Vatrissa dengan senyum yang lembut dengan ekspresi wajah yang bersahabat.


Ajudan Mies yang datang di waktu yang tepat pun membisikkan kata-kata yang harus diucapkan Pangeran Mahkota Richard kepada Nona Vatrissa.


“Apa yang kau katakan itu benar?” tanya Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang penasaran dengan tatapan mata yang tidak percaya.


Nona Vatrissa yang mendengarkan sesuatu yang menurutnya tak perlu dirinya tau pun menjadi berniat untuk meninggalkan tempat tersebut.


“Hmmm, maafkan saya, Yang Mulia Pangeran Mahkota. Saya merasa kurang sehat, saya permisi undur diri terlebih dahulu!” ucap Nona Vatrissa dengan sikap yang sopan dengan eksprei wajah yang menyesal.


“Agh! Tentu saja Nona. Maaf telah menunda waktumu!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan nada suara yang datar.


Tepat setelah Nona Vatrissa berbalik arah, Pangeran Mahkota Richard sengaja menyebutkan nama Putra Mahkota Lyod yang membuat Nona Vatrissa menjadi penasaran.


"Lyod? Putra Mahkota Lyod! Tu-tunggu! Apakah Yang Mulia sedang bicara tentang Yang Mulia Putra Mahkota Lyod?" tanya Nona Vatrissa yang terpancing ucapan Pangeran Mahkota Richard dan Ajudan Mies dengan ekspresi wajah yang cemas.


“Maafkan saya Nona tapi di sini bukanlah tempat yang tepat untuk menjelaskannya!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan tatapan mata yang melihat ke sekeliling yang di penuhi banyak orang.


“Saya akan memberitau anda semuanya jika anda bersedia ikut dengan saya. Bagaimana?” tanya Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang serius.


Nona Vatrissa yang masih bingung untuk menjawab pertanyaan Pangeran Mahkota Richard akhirnya tidak memiliki pilihan selain ikut karena Ajudan Mies telah mendesak Pangeran Mahkota Richard untuk segera pergi.


“Yang Mulia! Kita harus segera pergi!” ucap Ajuda Mies dengan ekspresi wajah yang cemas dengan ekspresi wajah yang terburu-buru.


“Jika Nona masih ragu. Saya tidak akan memaksa jadi saya permisi terlebih dahulu!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan sikap yang sopan lalu berbalik arah seolah berniat meninggalkan Nona Vatrissa.


“Ti-tidak! Tu-tunggu! Aku akan ikut! Aku akan ikut denganmu, Yang Mulia! Tolong! Tolong jelaskan semuanya saat dalam perjalanan!” ucap Nona Vatrissa dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan mata yang penasaran.


“Tentu saja. Ayo!” ajak Pangeran Mahkota Richard dengan senyum yang lembut dengan ekpsresi wajah yang bersahabat.


Di dalam perjalanan, Nona Vatrissa yang mendengarkan semua yang dikatakan oleh Ajudan Mies menjadi marah dan tidak percaya hingga menuduh Pangeran Mahkota Richard berbohong.


“Tidak! Lyod tidak mungkin melakukan itu! Lyod sangat mencintaiku! Lyod tidak mungkin memiliki wanita lain!” ucap Nona Vatrissa dengan suara yang lantang dengan ekspresi wajah yang tidak percaya.


“Anda mungkin tidak percaya tapi itu lah kenyataannya. Anda bisa menyangkalnya tapi aku harap Nona bisa menerima kenyataan saat melihat semuanya dengan mata anda sendiri!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan nada suara yang tegas.


“Nona bisa membuka pintu yang ada di ujung koridor ini dan silahkan melihat kenyataan itu dengan matamu sendiri!” ucap Ajudan Mies dengan ekspresi wajah yang serius.


Nona Vatrissa yang mendengar perkataan Pangeran Mahkota Richard terdiam dan berjalan sendirian di lorong yang panjang hingga akhirnya berhenti di sebuah ruangan yang tertutup.


Nona Vatrissa yang tidak percaya dengan perkataan Ajudan Mies masih memiliki kepercayaan dan keyakinan akan pendiriannya tapi saat Nona Vatrissa mendengar suara yang sangat dikenalnya sedang bicara dengan seorang wanita dengan nada sura yang sangat intim kepercayaan diri itu runtuh seketika.


“Hahahha.... Lyod! Kau nakal sekali!” ucap Nona Martha dengan nada suara yang menggoda dengan eksprei wajah yang bahagia dengan tawa yang sangat lebar.


“Kenapa? Bukankah kau paling senang saat aku memainkan p***daramu yang indah ini?” tanya Putra Mahkota Lyod dengan ekspresi wajah yang nakal.


“Tidak! Itu tidak mungkin suara Lyod yang aku kenal! Itu pasti hanya suaranya yang sama!” ucap Nona Vatrissa dalam hati dengan mata yang sudah siap mengeluarkan air mata dengan tangan yang terkepal erat.


Nona Vatrissa yang tak ingin berada dalam dilema yang tak pasti itu pun membulatkan tekadnya lalu memegang gagangan pintu dengan sangat erat lalu membukanya.


Nona Vatrissa yang tidak menyangka dengan yang baru saja dilihatnya itu pun berteriak dengan sangat keras hingga akhirnya membuat Kesatria yang berjaga di sekitar tempat itu bergegas ke lokasi kejadian.


“Aaaarrrggghhh! Aaaarrggghhh! Aaaarrggghhh!” teriak Nona Vatrisssa dengan suara yang lantang dengan ekspresi wajah yang sangat terkejut.


Putra Mahkota Lyod dan Nona Martha yang ketahuan Nona Vatrissa sedang berhubungan i*tim menjadi sangat terkejut dan seketika wajah keduanya berubah menjadi pucat pasi.


#Bersambung#


Apa yang akan terjadi pada Nona Vatrissa? Apa alasan yang akan dikatakan Putra Mahkota Lyod dan Nona Martha selanjutnya? Tebak jawabannya di BAB selanjutnya ya...