
Laura yang melihat Evans berani mengajaknya berdansa setelah semua yang dilakukannya kepadanya membuat Laura menjadi sangat muak.
Laura yang tidak sudi jika tangannya bersentuhan dengan Evans lagi pun dengan percaya diri menerima permintaan dansa dari Pangeran Kedua Illion.
“Terima kasih, Yang Mulia!” ucap Laura dengan senyum yang lebar sambil menerima uluran tangan dari Pangeran Kedua Illion.
Evans yang ajakannya ditolak menjadi sangat kesal dan ekspresi wajah percaya diri yang ada di wajahnya segera menghilang menjadi merah karena malu lalu pergi meninggalkan Pesta Pergantian Musim sesegera mungkin.
Laura yang melihat Evans meninggalkan Ruangan Pesta menjadi sangat senang yang membuat Pangeran Kedua Illion menjadi penasaran dengan yang ada di dalam pikiran Laura.
“Selamat untukmu Yang Mulia. Selamat karena telah berhasil mendapatkan yang sangat kau inginkan!” ucap Pangeran Kedua Illion dengan senyum yang tulus.
“Terima kasih!” jawab Laura dengan senyum yang lebar dengan ekspresi wajah yang bahagia dan nada suara yang ceria.
Pangeran Kedua Illion yang melihat Laura tertawa dengan sangat lepas di depannya membuat detak jantungnya berdetak sangat kencang hingga akhirnya membuat Pangeran Kedua Illion terpaksa harus menghentikan dansanya karena tak ingin Laura mendengar suara detak jantungnya.
Lalu setelah dansa berakhir, Laura yang melihat wajah Pangeran Kedua Illion memerah pun menjadi cemas dan berniat menyentuh dahinya tapi dihentikan oleh Pangeran Kedua Illion.
“Yang Mulia, wajah anda memerah! Apakah anda sakit? Apakah anda baik-baik saja?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang penasaran dengan tatapan mata yang khawatir.
“Ti-Tidak! aku baik-baik saja, Yang Mulia Putri. Ma-maaf! Saya masih ada urusan lain, saya permisi terlebih dahulu, Yang Mulia Putri!” ucap Pangeran Kedua Illion dengan suara yang gagap dengan ekspresi wajah yang canggung.
Laura yang tidak mengerti dan tidak peduli yang terjadi hanya menganggap bahwa Pangeran Kedua Illion benar-benar memiliki sesuatu hal yang sangat darurat mengingat statusnya yang Seorang Ketua Guild Bulan Merah.
Laura yang merasa sangat lelah pun menyingkir dan mengambil segelas air dan melihat interaksi antara Putra Mahkota Lyod dan Nona Martha.
“Hmmm, sepertinya rencana selanjutnya harus segera dilaksanakan!” gumam Laura dengan senyum yang licik sambil memberikan gelas winenya kepada Pelayan yang ada di dekatnya.
Laura yang menyingkir ke balkon yang khusus digunakan oleh Keluarga Kerajaan untuk beristirahat untuk mendapatkan udara segera memanggil Ajudan Mies.
“Yang Mulia Putri, apakah anda memanggil saya?” tanya Ajudan Mies dengan sikap yang sopan dengan tatapan mata lurus ke depan.
“Benar! Aku ingin bertanya bagaimana persiapan hadiah yang telah kita persiapkan untuk Nona Martha di Kekaisaran Glorious?” tanya Laura dengan tatapan mata yang penasaran.
“Yang Mulia tidak perlu khawatir. Saat ini, Ajudan dari Yang Mulia Kaisar telah menyelidiki tentang aliran dana dan kejahatan yang dilakukan oleh Duke Hanneton!” ucap Ajudan Mies dengan ekspresi wajah yag percaya diri.
Laura yang mendengarnya pun menjadi sangat senang lalu membisikkan sesuatu kepada Ajuda Mies yang membuat Ajudan Mies bergegas pergi meninggalkan balkon tersebut.
Laura yang ditinggal sendiri pun memanggil Master Noel dan memberikannya tugas terakhir untuk kelancaran rencananya.
“Master Noel! Berikan ini kepada Nona Vatrissa Blarish Dregs secara pribadi setelah aku memberikanmu kode yang tak biasa!” ucap Laura dengan senyum yang kecil.
“Baik, Yang Mulia!” jawab Master Noel dengan ekspresi wajah yang serius dengan tatapan mata yang tajam.
“Sekarang kita dengarkan, apa yang ingin dikatakan oleh wanita j*lang itu kepada Kakakku?” tanya Laura pada dirinya sendiri dengan tatapan mata yang tajam sambil berbaur dengan Nona Bangsawan yang datang di Pesta tersebut.
Sementara itu, Pangeran Mahkota Richard yang mengambil tugasnya sebagai Pangeran Kekaisaran Glorious pun berdansa dengan Martha setelah dirinya berganti pasangan dengan Nona Vatrissa.
“Richard, aku senang sekali bisa berdansa denganmu seperti ini!” ucap Nona Martha dengan senyum yang lebar dengan nada suara yang ceria.
“Aku tau. Hmmm, aku ingin memberitaumu bahwa kita akan segera kembali ke Kekaisaran Glorious lusa karena Ayahanda memanggil!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah dan nada suara yang datar.
Nona Martha yang mendengar perkataan Pangeran Mahkota Richard pun menjadi sangat terkejut dan gelisah di saat bersamaan.
“Apa? Kembali dua hari lagi? Bagaimana dengan permintaan Lyod? Jika aku tidak bisa meyakinkan Richard untuk bicara dengan Lyod sekarang maka tak akan ada kesempatan lagi!” ucap Nona Martha dalam hati yang tiba-tiba diam dengan ekspresi wajah yang serius.
Pangeran Mahkota Richard yang melihat Nona Martha telah mulai masuk ke dalam jebakan yang dibuat olehnya dan Laura pun tersenyum kecil.
“Hmmm, Richard! Tidak bisakah perbincangan mengenai Kerjasama antara Kekaisaran kita dan Kerajaan Hentallius dibicarakan ulang?” tanya Nona Martha dengan ekspresi wajah dan nada suara yang terdengar hati-hati.
“Apa maksud ucapanmu, Martha? Apakah kau ingin aku memikirkan ulang isi perjanjian itu?” tanya Pangeran Mahkota Richard dengan ekspresi wajah yang bingung.
“Hmmm, tidak! Aku tidak bermaksudmu mengubah keputusanmu. Aku hanya ingin kau membuat perbincangan lagi dan mungkin beberapa bagian dari Perjanjian yang tak sesuai bisa diubah agar bisa mencapai titik terang!” ucap Nona Martha dengan senyum yang canggung.
“Aku hanya ingin hubungan diplomatik antara Kekaisaran Glorious dan Kerajaan Hentallius semakin erat!” ucap Nona Martha dengan ekspresi wajah yang gugup dengan tangan yang dingin.
“Hmmm, aku tidak tau tujuan utamamu tapi jika kau ingin aku membiacarakan ulang tentang isi Perjanjian itu maka baiklah! Aku akan meminta Mies mengatur ulang jadwalnya sebelum keberangkatan kita kembali ke Kekaisaran Glorious!” ucap Pangeran Mahkota Richard yang menghentikan dansanya dengan nada suara yang terdengar pasrah.
Nona Martha yang sudah sangat cemas dan khawatir bahwa Pangeran Mahkota Lyod tidak akan pernah setuju ataupun mau melakukan seperti yang diinginkannya menjadi sangat senang saat mendengar persetujuan dari Pangeran Mahkota Richard.
“Terima kasih, Richard!” jawab Nona Martha dengan ekspresi wajah yang bahagia dan senyum yang lebar.
“Aku masih ada urusan lain jadi aku akan pergi dulu!” ucap Pangeran Mahkota Richard yang sengaja menyingkir untuk memberikan waktu kepada Nona Martha untuk bisa bertemu dengan Putra Mahkota Lyod.
Nona Martha yang melihat Pangeran Mahkota Richard sudah menghilang dari pandangannya pun dengan cepat memanggil Pelayan Pribadinya.
“Temui Ajudan Putra Mahkota Lyod dan sampaikan pesanku ini kepadanya! Katakan bahwa ini darurat!” ucap Nona Martha dengan suara yang tegas.
Tepat setelah pesan itu dipercayakan kepada Pelayan Pribadinya, Nona Martha pun menghilang dari Ruangan Pesta secara perlahan.
Laura yang terus melihat dan mendengarkan yang dilakukan Nona Martha pun tersenyum licik lalu ikut menghilang dari Pesta.
#Bersambung#
Jebakan apa yang telah dipersiapkan Laura dan Pangeran Mahkota Richard? Kemana Laura dan Pangeran Mahkota Richard menghilang? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...