
Pernikahan yang ditunggu oleh Tatiana pun akhirnya tiba. Tatiana yang berharap dilayani seperti Nona Bangsawan saat hari Pernikahannya tidak menyangka jika semua Pelayan tidak memperlakukannya dengan baik kecuali Yetti.
Yetti yang datang membawakan gaun pernikahan untuk Tatiana membuat Tatiana terdiam karena rancangan dan model dari gaun pernikahannya terlalu sederhana tanpa ada hiasan apapun.
"Kenapa Gaunnya seperti ini? Apakah tidak ada gaun yang lain, Yetti?" tanya Tatiana dengan ekspresi wajah yang bingung dengan tatapan mata yang menunjukkan ketidaksukaan.
Namun sebelum Yetti mengatakan apapun, Madam Anna yang merupakan Kepala Pelayan yang khusus melayani Countess Vansfold datang dan memberikan jawaban yang diinginkan oleh Tatiana.
"Itu adalah gaun yang diizinkan oleh Tuan Count untuk anda gunakan dan tidak ada gaun lainnya. Jika anda keberatan, anda boleh memakai gaun lain yang anda punya!" ucap Madam Anna dengan wajah dan nada suara yang datar.
Tatiana yang tak bisa marah karena tak ingin menghancurkan perasaannya di hari pernikahannya sendiri pun memutuskan diam dan bersabar.
"Baiklah. Aku mengerti." ucap Tatiana dengan ekspresi wajah yang menahan kesal dengan tangan yang terkepal erat.
Tak butuh waktu lama, Tatiana yang telah bersiap dibawa ke tempat pernikahan oleh Yetti dengan perlahan.
Tatiana yang mengharapkan pernikahan yang indah dengan senyum lembut dan bahagia dari calon suaminya dalam sekejap nata semua harapan itu hilang.
Tatiana yang melihat ruang pernikahan yang di dekorasi dengan biasa saja tanpa ada bunga ataupun lilin dan hanya Evans yang berdiri di hadapan Pendeta dengan tegap.
Lalu saat Tatiana telah berdiri tepat di samping Evans, Tatiana yang melirik ke arah Evans berharap bisa melihat wajah Evans yang tampan ternyata hanya wajah marah, tidak senang dan tatapan mata yang dingin yang didapatkannya.
"Argghh!" ucap Tatiana pelan dengan ekspresi wajah yang mengeras sambil memegang satu buket bunga yang ada di tangannya.
Pendeta yang mulai bicara pun memulai acara pernikahan tersebut dan setelah janji pernikahan keduanya diucapkan tibalah di akhir acara.
"Di bagian terakhir, mempelai pria mencium mempelai wanitanya sebagai janji pernikahan di hadapan Tuhan!" ucap Pendeta dengan wajah yang bahagia.
"Tu-tuan Co-count..." ucap Tatiana dengan ekspresi wajah yang awalnya tersenyum lembut langsung berubah pucat saat Evans menatapnya dingin.
"Tak perlu ada ciuman. Langsung saja umumkan pernikahannya. Aku masih banyak pekerjaan lain!" ucap Evans yang merasa sangut terganggu dengan wajah yang tidak nyaman.
Pendeta yang tidak bisa melawan Seorang Bangsawan pun dengan cepat memberikan pengumuman pernikahan antara Evans dan Tatiana.
"Dengan ini aku umumkan keduanya sebagai suami dan istri!" teriak Pendeta dengan suara yang keras dengan wajah yang bahagia.
Tatiana yang mendapatkan status yang diinginkannya pun tersenyum bahagia dan Evans yang melihat wajah bahagia Tatiana menjadi sangat kesal.
"Jangan pernah berharap jika aku akan memperlakukanmu seperti Nyonya di Kediaman ini dan aku harap kau tidak membuat masalah jika tidak aku akan menendangmu keluar dari Kediaman ini kapanpun!" ucap Evans dengan tatapan mata yang tajam dan niat membunuh yang kuat.
Evans yang tak tahan bersama Tatiana pun berjalan keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Tatiana yang terkejut dengan perkataan kasar yang diucapkan Evans hingga terduduk di tempatnya mengucapkan janji suci pernikahan.
Tatiana yang sangat sedih dengan perkataan Evans tanpa bisa menahan diri hingga akhirnya air maymta itu keluar membasahi pipinya.
Sementara Tatiana menangisi nasibnya yang menderita bahkan setelah dirinya mendapatkan yang diinginkannya, Laura yang telah berada di ujung Hutan menuju Kerajaan Croisen bersama Master Noel.
Seperti yang diinginkan dan dikatakan oleh Laura, Angin yang kecil perlahan berubah menjadi besar dan mulai menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya tanpa terkecuali.
Laura yang melihat hewan-hewan mulai bergerak menghindari Angin ****** Beliung yang dikeluarkannya pun mencoba mengendalikannya dan saat tak ada yang menghalangi lagi semuanya rata dalam hitungan setengah jam.
Laura yang telah melihat hasilnya pun memutuskan kembali ke tempatnya dengan bantuan Master Noel.
"Aku sangat lelah sekarang dan perlu istirahat. Aku serahkan pemantauannya padamu. Aku ingin kau membuat rombongan itu tak sampai tepat waktu dan barang yang dibawa rombongan itu hancur bersama impian Evans!" ucap Laura dengan tatapan mata yang tajam.
"Baik, Yang Mulia! Saya akan melakukan seperti yang ada inginkan." ucap Master Noel yang menundukkan kepalanya lalu membuat sihir teleportasi untuk Laura kembali.
Laura yang sangat lelah setelah mengeluarkan kekuatan yang sangat banyak dalam waktu yang singkat langsung tertidur di atas ranjangnya sesaat tubuhnya menyentuh tempat tidur.
Sementara itu, Evans yang langsung kembali ke ruang kerja karena sibuk mengisi ruang hartanya dengan sejumlah uang pun sibuk mengoptimalkan bisnis yang dimilikinya.
Namun semakin keras Evans berjuang selalu saja ada hal yang tak sesuai dengan keinginannya dan menghancurkan semua harapannya.
"Sial! Bagaimana bisa harga semua kebutuhan pokok naik dalam waktu yang sangat singkat? Jika seperti ini maka rakyat yang ada di wilayahku akan menderita saat Musim Dingin tiba dalam waktu satu minggu lagi!" ucap Evans dengan suara yang kesal.
"Tuan, harga semua kebutuhan pokok sekarang telah naik menjadi tiga kali lipat di Wilayah ini dan di Ibukota naik menjadi dua kali lipat!" ucap Ajudan Gillian yang memberikan laporan yang diperintahkan kepadanya.
"Apa? Bagaimana itu bisa terjadi? Sial! Kenapa semua masalah datang terus-menerus silih berganti tanpa ada jeda!" ucap Evans dengan tatapan mata yang tajam dan ekspresi wajah yang tak berdaya.
Waktu berlalu, Evans yang hanya bisa berharap jika Bisnis yang dilakukannya dengan Kerajaan Croisen akan berhasil menjadi sangat terkejut saat burung darurat duduk di meja kerjanya.
Evans yang membaca surat kecil yang ada di pergelangan kaki burung menjadi sangat marah pun melemparkan semua berkas yang ada di atas mejanya.
"Aaarrggghhh! Kenapa ini bisa terjadi? Hah!" teriak Evans dengan suara yang lantang sambil memukul meja yang ada di depannya dengan wajah yang memerah karena emosi.
Namun saat Evans sedang sangat marah tiba-tiba George datang dan memberikan informasi yang sangat mengejutkan.
"Tuan, Dokter Elliora meminta anda datang ke Ruangan Nyonya Countess sekarang!" ucap George dengan ekspresi wajah dan nada suara yang datar.
"Kenapa aku harus menemui wanita itu? Biarkan saja dia dan lagipula Dokter sudah ada di sana!" ucap Evans yang tidak peduli dengan keadaan atau apapun yang terjadi pada Tatiana.
"Tuan, dokter bilang anda harus datang karena ini menyangkut Penerus Keluarga Count Vansfold!" ucap George yang tidak tau apapun dan hanya menyampaikan pesan dari Dokter kepada Evans.
"Hah! Menyebalkan! Baiklah, kita pergi ke sana sekarang dan kita lihat trik apa lagi yang dilakukannya!" ucap Evans dengan tatapan mata yang tajam.
#Bersambung#
Apa yang akan dikatakan Dokter Elliora kepada Evans nantinya? Bagaimana reaksi Evans setelah mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan itu? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..