
George yang tak bisa membuat keputusan sendiri atas permintaa Laura pun langsung menghadap Evans yang ada di Ruang Kerjanya.
“Tok! Tok! Tok! Tuan, apakah saya boleh masuk?” tanya George dengan suara yang datar dan wajah tanpa ekspresi.
“Masuklah!” ucap Evans dengan ekspresi wajah yang datar dan nada suara yang terdengar dingin serta tatapan mata yang masih tertuju pada Pekerjaan yang menumpuk di meja kerjanya.
“Tuan, saya telah memberitau Nyonya tentang dirinya yang akan datang ke Gereja untuk mendapatkan bantuan menyembuhkan penyakit tapi....” ucap George yang tiba-tiba yang menghentikan perkataan yang membuat Evans bingung.
“Tapi... Tapi apa?” tanya Evans dengan ekspresi wajah yang bingung tapi tetap setia dengan pekerjaan yang ada di depan matanya.
“Tapi Nyonya menolak untuk pergi dengan alasan jika dirinya tidak bisa bangun dan pergi ke Gereja untuk bertemu dengan Pendeta lalu Nyonya meminta untuk membawa Pendeta datang ke Kediaman ini!” ucap George dengan ekspresi wajah yang serius dan nada suara yang tegas.
Evans yang tidak menyangka jika Laura akan meminta hal itu pun langsung menghentikan kerjaannya dan mengalihkan pandangannya dari pekerjaannya.
Evans yang tak punya pilihan lain selain mengabulkan permintaan Laura tersebut pun membuat keputusan besar.
“Pergi ke Gereja dan kirim donasi yang lebih banyak lalu minta salah Pendeta yang ada di sana untuk datang kemari menyembuhkan Laura!” ucap Evans dengan tatapan mata yang tajam dan ekspresi wajah yang serius.
George yang mendengarkan perintah terbaru dari Evans pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dirinya siap melaksanakan tugas yang diberikan.
Sesuai perintah George kereta kuda yang berisi banyak uang emas dan juga harta yang berharga langsung dikirim ke Gereja untuk membuat permintaan Laura terkabul.
Keesokan harinya, Laura yang telah mendapatkan informasi dari Rika bahwa Evans telah melakukan banyak hal untuk mengabulkan permintaannya pun tersenyum senang.
“Salam Nyonya, nama saya Mattiew. Saya adalah Pendeta yang akan menyembuhkan luka yang ada di kaki Nyonya!” ucap Mattiew dengan senyum yang lembut dan ekspresi wajah yang bersahabat.
“Terima kasih!” ucap Laura dengan nada suara yang datar tapi ekspresi wajah yang ramah dengan senyum yang lembut.
Tepat setelah pernyataan itu dibuat, kedua tangan Pendeta Mattiew langsung diarahkan ke arah kaki Laura yang terluka dan sebuah cahaya emas yang sangat terang muncul dan membuat kaki Laura menjadi sangat hangat.
Hanya dalam hitungan detik, kaki Laura yang terluka dengan sangat parah tiba-tiba kembali sehat dan tak terlihat pernah terluka sama sekali.
Rika yang sangat kagum dengan hasil yang ada langsung terkagum dan memandang dengan pandangan mata yang tak percaya tapi Laura yang sudah bisa menebak akhirnya hanya tersenyum lembut.
Laura yang tidak merasakan sakit di kakinya pun mencoba berdiri dan berjalan di dalam kamarnya untuk menguji kakinya yang telah benar-benar sembuh.
Laura yang ingin pergi ke Guild Bulan Merah pun memberikan perintah kepada George untuk segera menyiapkan kerete kuda untuknya.
Geoge yang tidak bisa menolak perintah Laura pun segera melakukan semua seperti yang diinginkan Laura dan menempatkan Kesatria John di samping Laura untuk menjadi Kesatria Pengawalnya.
Laura yang tak mempermasalahkan hal itu pun dengan cepat menaiki kereta kuda dan meninggalkan Kediaman Count Vansfold dalam waktu singkat.
#Bersambung#
Apa alasan Laura pergi ke Guild Bulan Merah? Apa yang ingin dilakukan Laura sebenarnya? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya...