The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 41. Keuntungan Yang Berlipat Ganda



Laura yang tak ingin diam saja untuk menghabiskan semua uang milik Evans pun pergi ke beberapa Butik untuk membeli Gaun, Sepatu dan Perhiasan yang ada di dalam Toko.


“Aku akan mengambil semuanya dan kirimkan semuanya Kediaman Count Vansfold!” ucap Laura dengan senyum yang lembut dan ekspresi wajah yang bahagia.


“Tentu saja, Nyonya.” Jawab Madam Lizbeth dengan senyum yang lembut sebagai pemilik dari Butik yang telah dua kali dikunjungi Laura.


Madam Lizbeth yang sangat bersyukur dan bahagia dengan tindakan Laura pun maju ke depan lalu memberikan sesuatu kepada Laura.


“Nyonya! Tolong kirim orang ke Butik ini kapanpun dan saya akan membawakan rancangan Gaun yang terindah untuk Nyonya!” ucap Madam Lizbeth dengan penuh percaya diri dan ekspresi wajah yang serius.


“Agh, tentu saja! Aku pasti akan melakukannya Nyonya Lizbeth!” ucap Laura dengan senyum yang lembut sambil menyerahkan kartu berwarna hitam emas kepada Rika.


Laura yang berencana menemui Tiffany di Toko Kedua yang dikatakannya pun menjadi sangat bersemangat.


Kereta kuda yang terus berputar pun bergerak membawa Laura ke tempat tujuan dan antrian yang sangat panjang terlihat dari dalam kereta kuda.


“Rika, apakah itu antrian bagi yang ingin membeli Kue di Toko Kue Sweety milik Nona Tiffany?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang penasaran.


“Sepertinya seperti itu, Nyonya!” ucap Rika dengan ekspresi wajah yang ikut terkejut sambil bergerak membantu merapikan Gaun Laura yang berantakan selama perjalanan.


Laura yang tak ingin diikuti oleh Kesatria John dan semua gerakan diinformasikan kepada Evans pun menatap tajam ke arah Kesatria John.


“Kesatria John, aku ingin masuk ke dalam dan aku tak ingin kau mengikutiku. Tetaplah disini dan tunggu hingga aku kembali!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas dan tatapan mata yang tajam.


“Baik, Countess!” ucap Kesatria John dengan suara yang datar dan wajah tanpa ekspresi sambil menundukkan kepalanya.


Laura yang senang karena Kesatria John menuruti perkataannya pun pergi masuk ke dalam Toko Kue Sweety bersama Rika.


Tiffany yang menyadari kedatangan Laura langsung menyambutnya dengan sangat ramah dan senyum yang sangat lebar.


“Nyonya! Anda datang! Silahkan ikuti saya. Saya telah mempersiapkan kue yang spesial untuk anda!” ucap Tiffany dengan ekspresi wajah yang gembira dan senyum yang ceria.


Laura yang mendengar perkataan Tiffany pun tersenyum dan mengikuti arah tujuan Tiffany membawanya.


“Silahkan masuk, Nyonya!” ucap Tiffany dengan senyum yang lembut sambil membukakan pintu taman belakang dengan penuh percaya diri.


Laura yang melihat sebuah meja yang telah dihiasi dengan kue dengan berbagai macam warna dan model membuat semua yang melihatnya akan sangat terpesona.


Tak hanya itu, Taman yang ditanami bunga yang indah dan cantik membuat suasana menjadi menyenangkan dan menenangkan.


“Saya harap Nyonya menyukai ini. Saya tidak bisa membalas semua kebaikan Nyonya yang telah membantu saya mewujudkan mimpi terbesar saya!” ucap Tiffany dengan ekspresi wajah yang terharu.


“Sa-saya tidka menyangka jika saya dapat memiliki Toko Kue Kedua dan memiliki pelanggan yang sangat banyak!” ucap Tiffany sambil mengeluarkan air mata kebahagiaan.


Laura yang menyadari bahwa semua yang dilakukannya adalah sesuatu yang akan didapatkan oleh Tiffany nantinya tanpa bantuannya merasa sedikit tidak nyaman dengan semua pujian itu.


“A-apakah ini benar? Aku merasa seperti seorang penjahat yang mengambil keuntungan dari keberhaslan orang lain!” ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang bingung.


Tiffany yang tidak mengetahui yang ada di dalam pikiran Laura dengan cepat menggenggam tangan Laura dan mengucapkan semua yang ingin dikatakannya dalam hati.


“Saya merasa sangat bersyukur bisa bertemu dengan Nyonya. Terima kasih banyak, Nyonya!” ucap Tiffany dengan ekspresi wajah yang bahagia dan senyum yang tulus.


Laura yang tak tega untuk membuat wajah yang bahagia itu bersedih karena perasaannya yang bersalah pun tersenyum lembut.


“Saya tidak melakukan apapun. Nona Tiffany yang melakukan semuanya. Saya hanya melakukan hal yang bisa saya lakukan!” ucap Laura dengan penuh wibawa.


“Saya tau telah merasakan sendiri kue yang dibuat oleh Nona Tiffany sangatlah enak memiliki impian yang sama agar orang lain dapat merasakan yang saya rasakan juga!” ucap Laura dengan senyum yang lembut.


Tiffany yang merasa sangat bahagia pun menghapus air mata yang ada di pelopak matanya dan menganggukkan kepalanya.


“Saya akan melakukan yang terbaik! Saya akan membuat Toko Kue Sweety menjadi Toko Kue yang terbaik di Kerajaan Hentallius!” ucap Tiffany dengan tekad yang kuat di wajahnya.


Laura yang mendengar hal itu pun tersenyum bahagia lalu mengambil laporan keuangan dari Tiffany lalu menyerahkannya kepada Rika.


Tiffany yang tidak ingin mengganggu Laura untuk menikmati Kue yang telah disediakannya pun meminta izin pergi untuk membantu Karyawannya yang harus melayani Pelanggan yang sedang mengantri panjang.


"Nyonya, saya meminta izin untuk pergi. Silahkan menikmati kue anda." ucap Tiffany dengan senyum yang lembut dan nada suara yang hangat dan ramah.


"Baiklah. Kau boleh kembali." ucap Laura dengan ekspresi wajah dan nada suara yang datar dengan tatapan mata yang tajam memandang punggung Tiffany yang perlahan menjauh.


Laura yang melihat kue yang ada di depan matanya sangat banyak pun memandang Rika dengan tatapan mata yang lembut.


"Rika! Duduklah disini dan makanlah kue ini." ucap Laura dengan nada suara dan senyum yang lembut.


"Ti-Tidak Yang Mulia! Saya hanya seorang Pelayan. Saya tidak pantas makan satu meja dengan Yang Mulia!" ucap Rika yang langsung menolak ajakan Laura dengan ekspresi wajah yang panik.


"Aku tidak pernah menganggapmu sebagai Pelayanku. Kau adalah temanku yang sangat setia. Aku tidak keberatan makan bersamamu jadi duduklah lalu nikmati kuenya!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang serius dengan senyum tulus di wajahnya.


"Agh! Yang Mulia... Sa-saya..." ucap Rika yang tak bisa melanjutkan kata-katanya karena sangat terharu dengan kata-kata yang diucapkan Laura untuknya.


Rika yang tidak bisa menolak permintaan Laura lagi pun akhirnya duduk di kusi yang ada di depan Laura lalu mencicipi kue yang ada di meja itu satu per satu.


"Hmmm, kue-kue ini sangat lembut dan juga enak. Rasanya tidak terlalu manis dan tidak membuat orang yang memakannya ingin muntah!" ucap Rika yang mulai mengungkapkan pendapatnya tentang setiap kue yang digigitnya.


Laura yang tidak ingin beragumen dengan pernyataan Rika pun ikut menganggukkan kepalanya menunjukkan persetujuannya atas pernyataan Rika.


Laura yang tidak pernah memikirkan keuntungan yang didapatkannya dari investasi Toko Kue Sweety pun membaca Dokumen Laporan Keuangan yang diberikan Tiffany padanya.


Laura yang membaca laporan tersebut pun menjadi sangat terkejut dengan keuntungan yang didapatkannya.


"Apakah isi laporan yang ada di dalam dokumen ini sungguhan?" tanya Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang bingung dan tatapan mata yang tidak percaya.


"Bagaimana mungkin Toko Kue ini bisa menghasilkan keuntungan dua kali lipat dalam waktu yang sangat singkat? Aku tau jika kue ini sangat lezat dan sangat laris tapi aku tidak pernah membayangkan semua ini!" ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang terkejut dan mata yang terbuka lebar.


"Jika seperti ini maka rencana keduaku akan sangat mudah untuk dilaksanakan!" ucap Laura dengan senyum yang licik.


Laura yang hampir saja melupakan tujuan dirinya keluar dari Kediaman Count Vansfold saat ini pun meminta Rika melakukan sesuatu untuknya.


"Rika! Bisakah kau panggilkan Nona Tiffany kemari? Aku punya sesuatu yang ingin aku katakan padanya!" ucap Laura dengan ekspresi wajah dan nada suara yang datar.


"Baik, Yang Mulia!" ucap Rika dengan nada suara yang tegas sambil bergerak meninggalkan tempatnya mencari keberadaan Tiffany.


Tak butuh waktu lama, Rika yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik pun membawa Tiffany menemui Laura dengan segera.


"Nyonya, apakah anda memanggil saya? Apakah ada kue yang tidak sesuai dengan seleramu? Apakah ada yang salah dengan kue yang saya siapkan?" tanya Tiffany dengan ekspresi wajah yang takut.


“Agh, tidak! Tidak ada masalah dengan kue-kue ini. Semuanya tampak cantik dan juga lezat saat dinikmati tapi aku punya sebuah permintaan. Apakah Nona Tiffany bersedia mengabulkannya?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang penasaran dengan tatapan mata yang penuh harap.


#Bersambung#


Apa yang diminta oleh Laura pada Nona Tiffany? Apakah Nona Tiffany akan mengabulkan permintaan Laura tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya..