
Laura yang telah mendapatkan yang diinginkan saat berbincang dengan Pangeran Kedua Illion pun memutuskan untuk segera kembali ke Toko Kue Sweety.
Laura yang keluar dengan membawa dua kotak kue dari dalam Toko Kue Sweety pun dengan cepat kembali dan memasuki kereta kuda.
Laura yang menyadari jika pekerjaannya akan sangat banyak setelah Bisnis Perhiasannya dengan Pangeran Kedua Illion terlaksana pun memutuskan untuk mencari Seorang yang bisa membantunya menangani semuanya.
“Apakah aku harus membuka lowongan pekerjaan untuk bisa mendapatkan pekerja yang aku inginkan?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang bingung dalam hati.
“Tapi jika aku melakukan itu maka Evans pasti akan mengetahui yang sedang aku lakukan cepat atau lambat. Aku tidak bisa membiarkan Evans mengetahui sumber keuangan milikku!” ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang serius.
Di saat Laura sedang bersedih tiba-tiba melihat seorang sedang dipukuli dengan cambuk di depan matanya dengan sangat kasar. Laura yang mengingat identitas orang yang dipukuli itu tiba-tiba mengingat potongan ingatan di masa lalu.
“Itu... Bukankah itu Adrian Lopez? Putra tidak sah dari Marquess Lopez!” ucap Laura dalam hati dengan mata yang terbuka lebar.
“Aku ingat, jika Adrian Lopez terkenal sebagai Seorang Jenius karena memiliki kemampuan yang sangat luar biasa di bidang perhitungan! Aku juga ingat saat Tatiana menjengukku untuk pertama kali di dalam Penjara di Kehidupan Pertamaku. Tatiana juga datang bersama Adrian Lopez!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang serius.
“Jika pemikiranku benar maka Tatiana adalah orang yang telah menyelamatkan Adrian Lopez dan menjadikannya sebagai tangan kanannya yang mengurusi semua sumber kekayaan Tatiana!” ucap Laura dalam hati dengan tatapan mata yang tajam.
Laura yang tidak bisa menghilangkan kesempatan untuk bisa mendapatkan Seorang Pekerja Setia dan berguna pun dengan cepat menghentikan kereta kudanya.
“Hentikan kereta kudanya sekarang!” teriak Laura dengan suara yang sangat keras dengan ekspresi wajah yang serius.
Kereta kuda yang berhenti secara mendadak ternyata membuat Laura yang sedang duduk dengan santai hampir terjatuh tapi untungnya segera dibantu oleh Rika yang sedang berada di dekatnya.
“Yang Mulia, apakah anda baik-baik saja?” tanya Rika dengan ekspresi wajah yang penasaran dengan tatapan mata yang khawatir.
“Aku baik-baik saja!” ucap Laura dengan nada suara yang lembut dan senyum yang menenangkan sambil menatap mata Rika yang terlihat sangat cemas.
Tak lama kemudian, pintu yang tertutup rapat terbuka dengan Kesatria John berlari dengan sangat cepat ke arah Laura.
“Nyo-nyonya! Apakah anda baik-baik saja?” tanya Kesatria John dengan ekspresi wajah yang panik dan tatapan mata yang ketakutan.
“Mohon ampuni saya, Nyonya! Saya bersalah! Saya tidak akan melakukan kesalahan itu lagi! saya mohon Nyonya, tolong maafkan saya!” ucap Kusir tersebut dengan ekspresi wajah yang takut dan cemas dengan keringat yang mengalir sangat banyak di pipi dan dahinya sambil berlutut di tanah.
Laura yang hatinya telah tertutup dari perasaan simpati kepada orang lain terutama kepada semua orang yang bekerja di Kediaman Count Vansfold pu menatap dingin ke arah Kusir yang berlutut tersebut.
“Usir dia! Aku tidak ingin melihatnya lagi di Kediaman Count Vansfold!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang dingin dan kata-kata yang terdengar sangat kejam serta tatapan mata yang mengintimidasi.
Kusir yang tidak ingin kehilangan pekerjaannya mencoba memohon kebaikan Laura tapi tidak digubris sama sekali sehingga membuat Kesatria John untuk membawa Kusir tersebut pergi menjauh.
Laura yang akhirnya bisa turun dari kereta kudanya dengan bantuan Rika pun berjalan ke arah Pria Gendut yang sedang menyiksa Adrian Lopez.
Pria gendut yang mendengar perkataan Laura pun dengan cepat menghentikan cambukannya lalu menatap Laura dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Pria gendut itu yang berpikir bahwa Laura hanyalah seorang Nona Muda dari Keluarga yang kaya pun mulai menatap Laura dengan pandangan mata yang genit.
Kesatria John yang telah kembali dan melihat sikap yang tidak sopan dari Pria Gendut itu pun dengan cepat mengangkat pedangnya lalu mengarahkannya ke leher Pria gendut tersebut.
“Tundukkan kepalamu! Beraninya Rakyat biasa sepertimu menatap Nyonya Countess Vansfold seperti itu! Apakah kau ingin kehilangan kepalamu?” teriak Kesatria Vansfold dengan ekspresi wajah yang marah dan suara yang lantang.
Laura yang melihat reaksi berlebihan yang ditunjukkan Kesatria John saat membelanya tidak membuat pandangan Laura tentang orang-orang yang ada di Kediaman Count Vansfold berubah.
“Turunkan pedangmu!” perintah Laura dengan nada suara yang dingin dan wajah tanpa ekspresi serta tatapan mata yang tajam menatap Pria Gendut yang sedang berlutut di hadapan Kesatria John.
Kesatria John yang mendengar perintah dari Laura hanya bisa menggigit bibir bawahnya lalu menurunkan pedangnya dari leher pria gendut tersebut.
“Aku tidak ingin berhutang budi kepada orang yang pernah membuatku menjadi orang bodoh yang tidak tau apapun tentang perselingkuhan dan penghianatan Evans padaku!” ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang dingin.
Laura yang merasa jika dirinya bisa melakukan yang diinginkannya pun melemparkan sekantong uang kepada pria gendut tersebut.
“Aku akan membeli orang itu dan ini adalah uangnya karena aku tidak ingin mengambil sesuatu tanpa membayarnya terlebih dahulu!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas.
“Kau! Ikut denganku!” ucap Laura dengan ekspresi wajah dan nada suara yang dingin serta tatapan mata yang tajam.
“Rika! Aku saat kembali ke Kediaman, aku serahkan orang ini kepadamu!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang serius dan nada suara yang tegas.
“Kesatria John! Aku serahkan pria gendut ini padamu jika dia tidak mau memberikan suratnya!” ucap Laura dengan tatapan mata yang membunuh ke arah pria gendut tersebut.
Laura yang kembali ke dalam kereta kudanya pun melihat Adrian Lopez berdiri di samping kereta sambil mencoba menutupi setiap bekas luka cambuk di tubuhnya.
“Sepertinya Tatiana juga melakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan dan karenanya Tatiana bisa menggunakan Adrian Lopez sesukanya hatinya!” gumam Laura dengan suara yang rendah dengan tatapan mata yang tajam.
Tak butuh waktu lama, Kesatria John yang telah menyelesaikan tugasnya pun datang menemui Laura lalu menyerahkan sebuah gulungan kepada Laura.
Laura yang mengetahui isi dari gulungan tersebut pun menyerahkannya kepada Rika untuk menyimpannya dengan baik.
Kesatria John yang tidak punya alasan lain pun akhirnya duduk di dalam ruang kontrol untuk membawa kereta kuda menuju ke Kediaman Vansfold.
#Bersambung#
Apa yang akan dilakukan Laura kepada Adrian Lopez? Apakah Evans akan menyetujui permintaan Laura untuk memperkejakan Adrian Lopez? Tebak di kolom kometar ya...