
Permaisuri Ericka yang masuk ke dalam perangkap Pangeran Kedua Illion pun sungguh melakukan seperti yang direncanakan.
Permaisuri Ericka yang berpikir jika Raja Jonathan IV adalah orang yang telah tega membunuh anak yang telah dilahirkan dan dibesarkannya dengan penuh cinta pun membulatkan tekadnya untuk membawa Raja Jonathan IV menemui Putranya.
“Kau telah membunuh Putraku dengan perintah dan posisimu! Maka jangan salahkan aku untuk menjadi jahat dan kejam!” ucap Permaisuri Ericka yang berdiri sendirian di dalam kamarnya.
“Sejak aku mengetahui semua kenyataan itu, aku bukan lagi Istrimu, Permaisurimu! Aku adalah Seorang Ibu yang telah kehilangan Putra tercintanya!” ucap Permaisuri Ericka sambil memegang racun yang tidak berwarna ataupun berbau di tangannya.
Di saat Permaisuri Ericka sedang membulatkan tekadnya, seorang pelayan datang mengetuk pintu kamarnya dengan perlahan.
“Yang Mulia, Yang Mulia Raja telah sampai di depan Istana dan akan segera sampai di Taman Kaca!” ucap Seorang Pelayan Muda dengan sopan sambil menundukkan kepalanya.
Permaisuri Ericka yang tak ingin kehilangan kesempatan emas untuk membalaskan dendamnya dan Putranya itu pun pergi ke Taman Kaca dengan kepala terangkat ke atas.
Permaisuri yang telah sampai lebih dulu di Taman Kaca pun mengusir semua Pelayan pergi dan menyisahkan dirinya sendirian di Taman tersebut.
“Semuanya tinggalkan tempat ini! Aku akan melayani Yang Mulia sendiri!” ucap Permaisuri Ericka dengan ekspresi wajah yang dan nada suara yang dingin.
“Baik, Yang Mulia!” ucap semua Pelayan yang ada di dekatnya secara bersamaan sambil menundukkan kepalanya lalu pergi menghilang secara perlahan.
Raja Jonathan yang dikabarkan telah sampai di Istananya pun akhirnya sampai di Taman Kaca dan disambut dengan senyum lebar oleh Permaisuri Ericka.
“Selamat datang Yang Mulia!” ucap Permaisuri Ericka dengan nada suara yang lembut dan senyum ceria yang lebar sambil menunjukkan etika kebangsawanannya.
“Kau tidak perlu melakukan ini, Permaisuriku! Angkatlah kepalamu!” ucap Raja Jonathan IV dengan wajah yang bahagia karena bisa melihat senyum cantik di wajah Permaisurinya lagi.
“Aku senang kau bisa tersenyum lagi setelah semua yang terjadi!” ucap Raja Jonathan IV dengan senyum yang lebar.
“Terima kasih untuk perhatian dari Yang Mulia!” ucap Permaisuri Ericka yang tidak menatap Raja Jonathan IV saat bicara.
“Aku baru mendapatkan kiriman teh hitam yang sangat langka dari Kerajaan tetangga. Aku mengundang Yang Mulia untuk menikmati teh ini bersama denganku di Taman Kaca!” ucap Permaisuri Ericka yang dengan suara yang lembut menyeduh teh hitam untuk Raja Jonathan IV.
Permaisuri Ericka yang telah memasukkan racun dengan jumlah yang sangat sedikit ke dalam teh hitam yang dibuatnya pun menyeduhnya pada Raja Jonathan IV.
“Silahkan diminum, Yang Mulia! Saya harap Yang Mulia menyukai teh hitam yang telah aku seduh!” ucap Permaisuri Ericka dengan senyum yang lebar sambil mengambil cangkir teh miliknya lalu meminumnya.
Permaisuri Ericka yang tak ingin dituduh karena telah membunuh Raja Jonathan IV pun membuat Raja Jonathan IV jatuh sakit karena mengkonsumsi racun dalam jumlah sedikit demi sedikit setiap harinya.
“Teh ini sangat enak! Aku sangat menyukainya! Terima kasih, Permaisuri!” ucap Raja Jonathan IV dengan wajah yang gembira.
“Aku sangat senang sekarang jadi katakan apa yang Permaisuriku inginkan maka aku akan mengabulkannya!” ucap Raja Jonathan IV dengan percaya diri.
Permaisuri Ericka yang mendengar penawaran yang diucapkan oleh Raja Jonathan IV pun seketika keingin terbesar Permaisuri Ericka yang harus disembunyikannya muncul.
“Aku ingin nyawamu! Aku ingin kau mati dengan sangat menyakitkan dan menyedihkan!” ucap Permaisuri Ericka dalam hati dengan topeng wajah yang lembut.
“Aku tidak menginginkan apapun. Asalkan Yang Mulia dapat terus bersamaku maka itu sudah lebih dari cukup!” ucap Permaisuri Ericka dengan senyum yang lembut.
“Agh, Yang Mulia! Jika Yang Mulia sangat menyukai teh hitam ini maka izinkan aku mengirim Shezia untuk mengirimkan teh hitam kepada Yang Mulia setiap hari!” ucap Permaisuri Ericka dengan wajah yang memelas.
“Aku tidak bisa menolak ketulusan hati dari Permaisuriku. Tentu saja aku akan menerimanya! Permaisuri bisa mengirimkan teh hitam ini kepadaku kapanpun!” ucap Raja Jonathan IV yang masuk ke dalam perangkap topeng baik hati dari Permaisuri Ericka.
Permaisuri Ericka yang mendapatkan izin dari Raja Jonathan IV pun akhirnya merasa sangat senang dan melakukan semua sesuai dengan yang dipikirkannya.
Pangeran Kedua Illion yang sudah bisa memprediksi hal ini akan terjadi pun berpura-pura menjadi anak yang berbakti dengan memanggil Dokter Kerajaan untuk menyembuhkan Raja Jonathan IV.
“Bagaimana keadaannya, Dokter? Apakah Yang Mulia baik-baik saja?” tanya Pangeran Kedua Illion dengan suara yang sedikit tinggi karena ingin membangunkan Raja Jonathan IV yang tertidur.
“Yang Mulia sangat lemah. Saya tidak tau penyebabnya tapi saya akan berusaha untuk mencari tau!” ucap Dokter Kerajaan dengan tekad yang kuat.
“Baiklah! Aku percaya pada kalian! Kalian boleh pergi sekarang!” ucap Pangeran Kedua Illion setelah melihat Raja Jonathan IV telah menunjukkan tanda akan sadar.
Raja Jonathan IV yang merasa tubuhnya sangat lemah dengan kepala yang terasa sangat sakit pun merasa sangat bersyukur melihat Pangeran Kedua Illion ada di sampingnya.
“Ayahanda! Bagaimana keadaanmu? Apakah kau baik-baik saja?” tanya Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah dan nada suara yang terdengar khawatir.
“Aku baik-baik saja. aku hanya membutuhkan waktu untuk istirahat!” ucap Raja Jonathan IV dengan senyum yang menenangkan.
“Syukurlah jika seperti itu. Aku menjadi sangat bingung. Kenapa Yang Mulia tiba-tiba jatuh sakit padahal selama ini Yang Mulia baik-baik saja? Apakah Yang Mulia mengkonsumsi sesuatu yang diluar dari kebiasaan?” tanya Pangeran Kedua Illion yang mulai melemparkan jaring ikannya.
Ajudan Harold yang juga ada di kamar Raja Jonathan IV pun teringat akan teh hitam yang selalu dikirim oleh Permaisuri Ericka pun tidak sengaja membuka mulutnya.
“Teh Hitam! Teh Hitam yang selalu dikirim oleh Yang Mulia Permaisuri Ericka setiap waktu kepada Yang Mulia Raja karena Yang Mulia sangat menyukai teh hitam itu saat datang mengunjungi Permaisuri di Istananya!” ucap Ajudan Harold dengan ekspresi wajah yang bingung.
“Apa jangan-jangan permaisuri telah memasukkan sesuatu pada teh hitam yang selalu dikirm kepada Ayahanda?” tanya Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah yang curiga.
Raja Jonathan IV yang tidak percaya bahwa Permaisuri yang selalu diperlakukannya dengan baik dan telah bersamanya selama puluhan tahun melakukan hal yang sangat kejam seperti itu pun marah besar.
“Jangan ucapanmu Pangeran! Permaisuri tidak akan pernah melakukan hal itu!” teriak Raja Jonathan IV dengan suara yang keras lalu secara tak terduga merasakan sakit pada kepalanya lagi.
“Aku tidak menuduh Permaisuri. Aku hanya khawatir akan keselamatan dan kesahatan Yang Mulia! Jika Yang Mulia bersikap seperti ini maka masalah ini tidak akan menemukan titik terangnya!” ucap Pangeran Kedua Illion dengan suara yanng tegas.
“Baiklah! Untuk menghilangkan kecurigaanmu maka Harold yang akan melakukan penyelidikan terhadap Permaisuri! Jika Permaisuri tidak melakukan ini maka kau harus meminta maaf padanya secara terbuka!” ucap Raja Jonathan IV dengan wajah yang serius.
“Tentu saja. Jangan khawatir. Aku akan membuat pengumuman permintaan maaf di depan semua orang tapi bagaimana jika Permaisuri dinyatakan bersalah?” tanya Pangeran Kedua Illion dengan wajah yang percaya diri.
“Aku akan menurunkan posisi Permaisuri. Aku pun akan menghukumnya bersama keluarganya sebagai Hukuman Pemberontakan!” ucap Raja Jonathan dengan suara yang lantang dan tegas.
Pangeran Kedua Illion yang mendapatkan janji dari Raja Jonathan IV merasa sangat puas hingga memutuskan untuk membiarkan Raja Jonathan IV sendirian memikirkan semua yang terjadi padanya.
Sehari berselang, Pangeran Kedua Illion yang mendapatkan kabar bahwa Permaisuri Ericka sungguh menyimpan racun yang digunakan untuk membuat Raja Jonathan IV jatuh sakit pun kehilangan posisinya sebagai Pemaisuri.
Duke Sevantei yang merupakan Bangsawan yang menjadi Keluarga dari Permaisuri Ericka pun ikut ditahan bersama orang-orang yang ada di dalamnya.
Semuanya ditahan karena tuduhan Pemberontakan atas Kerajaan Hentallius dan ditahan di dalam Penjara bawah tanah Kerajaan.
Raja Jonathan IV yang terkejut dengan kenyataan yang tidak bisa diterimanya pun jatuh sakit sehingga membuat Administrasi Istana Kerajaan terhambat.
Pangeran Kedua Illion yang tidak ingin kehilangan kesempatan emas pun mengambil posisi penting menggantikan Raja Jonathan IV yang sedang sakit menjadi Penguasa Tertinggi di Kerajaan Hentallius.
“Selamat Yang Mulia! Sekarang anda tinggal satu langkah terakhir menuju tujuan anda!” ucap Marquess Ballaguisse yang berdiri di samping Pangeran Kedua Illion dengan wajah yang gembira.
#Bersambung#
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Bagaimana nasib Permaisuri Ericka dan Kediaman Duke Sevantei? Apakah Raja Jonathan IV akan kembali pulih? Tebak jawabannya di kolom komentar...