The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 133. Petisi Pemilihan Putra Mahkota Baru



Pangeran Kedua Illion yang memberitau keberadaannya pada Viscount Ballaguisse dengan cepat dijemput dengan kereta tahanan khusus untuk membawa Penyihir Hitam.


"Yang Mulia, sekarang adalah saatnya bagimu untuk bersinar!" ucap Viscount Ballaguisse dengan ekspresi wajah yang serius.


"Kau benar, Will! Sekarang bawa wanita itu ke dalam kereta! Kita kembali ke Istana Kerajaan sekarang!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan nada suara yang tegas.


Tatiana yang tak ingin dimasukkan ke dalam kereta kuda khusus memberontak tapi apapun yang dilakukannya yak ada yang berhasil.


"Tidak! Lepaskan aku! Aku tidak bersalah! Aku bukanlah Penyihir Hitam!" ucap Tatiana yang menyangkal kebenaran yang sudah di depan mata.


"Dasar wanita rendahan! Kau masih menyangkalnya padahal bukti sudah ada!" teriak Viscount Ballaguisse dengan ekspresi wajah yang kesal.


"Itu semua palsu! Bukti itu adalah palsu! Laura yang merekayasa itu semua. Dia ingin menjebakku!" ucap Tatiana yang dengan mudahnya berbohong.


Pangeran Kedua Illion yang mendengar tuduhan yang diucapkan oleh Tatiana menjadi sangat marah dan tanpa belas kasihan menampar wajah Tatiana dengan sangat keras.


"Dasar wanita j*lang! Siapa yang kau panggil namanya itu? Mulut busukmu ini tak pantas menyebut namanya!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah yang marah.


"Siapa yang menjebak siapa di sini sebenarnya? Bukankah kau yang menjebak Count Vansfold untuk tidur denganmu padahal kau telah mengandung anak dari Baron Vernon?" ucap Pangeran Kedua Illion dengan tatapan mata merendahkan.


"Kau hanyalah Rakyat Biasa yang hina tak akan pernah bisa menjadi Bangsawan yang bermartabat dan kau tak akan pernah sebanding dengan Laura yang terlahir sebagai Putri Kekaisaran terkuat!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan suara yang lantang dengan wajah yang marah.


Pangeran Kedua Illion yang tidak ingin melihat Tatiana lagi pun memberikan kode kepada Viscount Ballaguisse untuk menyingkirkan Tatiana dari hadapannya.


“Kita berangkat sekarang!” ucap Pangeran Kedua Illion yang telah berganti pakaian sambil menunggangi kuda putih dengan tubuh yang tegap.


Sementara itu, Laura yang ingin melihat Tatiana yang dibawa menuju Istana Kerajaan dengan kereta tahanan bertekad untuk mendapatkan tempat duduk terbaik.


Rika yang tau keinginan dari Laura ternyata telah menghubungi Toko Kue Sweety yang telah membuka cabang baru di jalanan utama Ibukota untuk menyediakan tempat duduk khuus untuk Laura.


“Apakah kau sudah mempersiapkan semuanya, Rika?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang penasaran sambil melihat dirinya di cermin yang besar.


“Jangan khawatir, Yang Mulia. Saya sudah melakukan sesuai dengan perintah dan permintaan anda!” ucap Rika dengan ekspresi wajah yang percaya diri.


“Baiklah! Kita pergi sekarang!” ucap Laura dengan senyum yang lembut dan tatapan mata yang tajam serta ekspresi wajah yang dingin.


Laura yang pergi ke Toko Kue Sweety dengan menggunakan kereta kuda memilih pergi lebih awal sambil menikmati hidup pun akhirnya sampai di tempat yang dituju.


Tiffany yang sangat senang dengan kedatangan Laura pun berlari menyambut kedatangan Laura dan mengantarnya menuju tempat khusus yang telah disiapkannya.


"Selamat datang di Toko Kue Sweety, Yang Mulia!” ucap Tiffany sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat.


“Silahkan ikuti saya! Saya telah menyiapkan tempat khusus untuk anda, Yang Mulia!" ucap Tiffany dengan ekspresi wajah yang bahagia dan senyum yang cerah.


"Terima kasih, Tiffany!" ucap Laura dengan nada suara yang ramah dan senyum yang lembut sambil mengikuti di belakang.


Laura yang memasuki Toko Kue Sweety tidak menyangka jika di dalam Toko ternyata sudah sangat ramai dengan Nona Bangsawan.


“Hmmm, disini ternyata sangat hidup!” ucap Laura yang mengomentari nona-nona muda yang datang bersama teman dan pelayannya.


Laura yang sudah menduga bahwa berita tentang Pangeran Kedua Illion yang sedang dalam perjalanan menuju Ibukota dan akan pada sore hari akan menarik perhatian semua orang tidak menyangka jika itu akan sangat berlebihan.


“Berita Pangeran Kedua Illion yang datang sebagai Pahlawan setelah menangkap Penyihir Hitam sungguh menarik perhatian orang-orang!” gumam Laura yang telah duduk di tempatnya sambil mencuri pandangan ke beberapa pengunjung yang ada di dekatnya.


Laura yang mengaihkan pandangannya ke arah lain pun melihat Rakyat Kerajaan Hentallius yang telah berdiri di pinggir jalan menyambut kedatangan Pangeran Kedua Illion.


Rakyat Kerajaan Hentallius yang melihat Pangeran Kedua Illion dianggap sebagai Pahlawan karena telah berhasil menangkap Penyihir Hitam yang telah meresahkan orang-orang tanpa henti mengagung-agungkan nama Pangeran Kedua Illion.


“Hidup Yang Mulia Pangeran Kedua!”


“Hidup Keluarga Kerajaan!”


Tak hanya Rakyat Biasa bahkan Nona Muda dari Keluarga Bangsawan pun ikut sibuk menyambut kedatangan Pangeran Kedua Illion.


Nona Muda yang belum menikah dan berada di usia yang siap menikah tanpa pikir panjang merias dirinya dengan pakaian yang indah dan mewah serta wajah yang dipenuhi dengan makeup yang tebal untuk bisa menarik perhatian Pangeran Kedua Illion yang tanpa sadar membuat Laura menjadi sangat tidak senang.


“Apakah Nona-Nona Muda ini tidak memiliki harga diri? Kenapa mereka melakukan semua hal yang sangat merepotkan itu demi menarik perhatian seorang pria?” sindir Laura dengan nada suara yang tidak senang sambil memakan kue yang disiapkan untuknya.


Tak butuh waktu lama, Pangeran Kedua Illion yang telah sampai di Ibukota langsung disambut orang-orang.


Laura yang melihat Tatiana terduduk dengan pakaian yang kotor dan tubuh yang kurus pun tersenyum puas terutama saat melihat Rakyat Kerajaan Hentallius melemparkan tomat dan telur busuk ke arah Tatiana.


“Aaarrgghh! Tidak! Aaarrgghh! Hentikan!” teriak Tatiana dengan nada suara yang terdengar kesakitan sambil melindungi wajahnya dari serangan.


“Dasar wanita j*lang! M*ti saja kau!”


“Pergilah kau ke Neraka, wanita l*knat!”


“Bakar hidup-hidup! B*nuh Penyihir Hitam!”


Pangeran Kedua Illion yang duduk di atas kuda dengn tubuh yang tegap tidak menghiraukan panggilan-panggilan dari Nona Muda yang ingin menarik perhatiannya.


“Yang Mulia Pangeran! Lihatlah kemari!”


“Yang Mulia Pangeran Illion! Yang Mulia! Aaarrgghhhh!


Namun saat pandangan mata Pangeran Kedua Illion bertemu dengan Laura, sebuah senyuman hangat pun terukir di wajah Pangeran Kedua Illion.


Laura yang dipandang dengan senyuman yang sangat di atas kuda pun melihat Pangeran Kedua Illion sangat tampan hingga akhirnya membuat wajah Laura memerah karena malu.


“Apa yang sedang aku lihat? Kenapa aku melihat Illion sangat tampan sekarang?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang malu.


“Jantung ini! Kenapa berdetak sangat cepat? Lalu kenapa terasa sangat panas sekarang?” tanya Laura dengan wajah yang memerah seperti tomat merah yang dilempar ke wajah Tatiana.


Dua hari berlalu, Rakyat Kerajaan Hentallius yang awalnya gelisah kembali tenang setelah melihat Tatiana tertangkap dan Kerajaan Tetangga yang berniat melakukan invasi langsung menarik pasukannya kembali.


Raja Jonathan IV yang melihat semua telah kembali seperti semula menjadi sangat senang dan bahagia namun hal itu tak berlangsung lama karena beberapa Bangsawan datang menemui Raja Jonathan IV untuk segera menunjuk Putra Mahkota yang baru.


“Yang Mulia, anda harus segera melantik Pangeran Kedua Illion sebagai Putra Mahkota yang baru menggantikan Duke Balmon yang telah meninggal!” ucap Ajudan Harold dengan ekspresi wajah yang serius dengan nada suara yang datar.


“Aku mengerti. Saat ini Pangeran Kedua telah mengambil hati semua Rakyat karena telah berhasil membawa Penyihir Hitam dan menjadikan Kerajaan ini aman kembali!” ucap Raja Jonathan IV sambil berpikir.


“Tapi bukankah ini masih terlalu cepat? Duke Balmon baru saja meninggal beberapa hari yang lalu. Bagaimana dengan perasaan Permaisuri?” tanya Raja Jonathan IV dengan ekspresi wajah yang cemas.


“Ini adalah hal yang sangat sulit bagi Yang Mulia Permaisuri karena dalam waktu singkat melihat Putranya diturunkan posisinya dan kehilangan nyawanya tapi Kerajaan ini tak bisa terus seperti ini, Yang Mulia!” ucap Ajudan Harold yang menyampaikan perkataan Bangsawan dari Fraksi Bangsawan dan Fraksi Kerajaan.


“Aku mengerti. Aku akan mempertimbangkannya segera!” ucap Raja Jonathan IV dengan ekspresi wajah yang sangat lelah.


Ajudan Harold yang tak ingin mengganggu Raja Jonathan IV pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan meninggalkan Raja Jonathan IV sendiri di ruangannya yang tanpa disadari berita itu telah sampai di telinga Permaisuri Ericka.


“Br*sek! Saat Putraku masih ada dan menjadi Putra Mahkota semuanya datang dan menjilat lalu sekarang semuanya pergi dan beralih sisi!” ucap Permaisuri Ericka dengan ekpsresi wajah yang kesal sambil menghancurkan alat makeup yang ada di meja riasnya.


#Bersambung#


Apa yang akan dilakukan Permaisuri Ericka selanjutnya? Akankah Pangeran Kedua Illion berhasil menjadi Putra Mahkota selanjutnya? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya...