The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 26. Taruhan Pacuan Kuda



Beberapa minggu berlalu, Laura yang terus meningkatkan kemampuannya dengan berlatih agar bisa menggunakan Kekuatannya untuk mendapatkann informasi penting tanpa diketahui orang lain akhirnya bisa mengendalikan kekuatannya.


“Akhirnya aku bisa melakukannya, sekarang staminaku telah meningkat tajam. Aku tidak lagi seperti orang yang akan jatuh pingsan kapanpun setelah menggunakan Kekuatan ini!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang puas.


“Aku sudah bisa mendengarkan semua percakapan orang-orang yang ada di Kediaman ini selama satu jam tanpa kehabisan Energi! Aku yakin ini pasti akan sangat membantu untukku nanti!” ucap Laura dalam hati dengan senyum yang lebar.


Rika yang datang bersama beberapa Pelayan di belakangnya pun membuat Laura menatap tajam terutama saat George yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


“Nyonya, kedua pelayan ini akan membantu anda bersiap-siap untuk Acara Perlombaan Pacuan Kuda yang akan segera dilaksanakan!” ucap George dengan nada suara yang terdengar sangat sopan dengan senyum yang lembut.


“Aku tidak membutuhkan mereka. Rika sendiri sudah lebih dari cukup membantuku lagipula selama ini Rika yang selalu membantuku berhias!” sindir Laura dengan kata-kata yang terdengar sangat kasar dengan ekspresi wajah yang dingin dan tatapan mata yang tajam.


George yang tidak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar ucapan Laura pun memberikan kode kepada kedua Pelayan yang datang bersama Rika untuk pergi.


Setelah Pelayan tersebut meninggalkan kamar tersebut, George pun menepuk tangannya dengan elegan dan beberapa orang datang dan masuk ke dalam membawakan beberapa Gaun, Sepatu dan Perhiasan untuk Laura.


“Ini semua adalah hadiah yang dikirimkan oleh Tuan Count untuk Nyonya. Harap Nyonya mau menerima dan menyukainya!” ucap George sambil menundukkan kepalanya dengan wajah tanpa ekspresi lalu menatap lurus mata Laura.


Laura yang sangat tau bahwa George melakukan ini demi dirinya dan Evans agar bisa berbaikan dan Evans dapat menjalankan rencananya untuk menggunakan Laura sebagai tekanan agar Pangeran Mahkota Richard mau melakukan kerjasama dengan semua kondisi yang diinginkan Putra Mahkota.


“Aku sangat tidak ingin menerima semua ini tapi saat mengingat setelah perceraian seorang wanita hanya bisa membawa pakaian, sepatu dan perhiasan yang dimilikinya membuatku sulit menolak semua ini!” ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang dingin dengan tatapan mata yang berat menentukan pilihan.


“Baiklah! Kau boleh keluar sekarang!” ucap Laura dengan ekspresi wajah dan nada suara yang dingin sambil duduk dengan santai meminum teh yang dituangkan oleh Rika untuknya.


George yang mendengar Laura akan menerima semuanya pun menjadi sangat senang lalu dengan cepat meninggalkan ruangan karena khawatir Laura akan berubah pikiran kembali.


“Rika! Pindahkan semua itu ke dalam Ruangan Pakaianku lalu kita mulai persiapannya!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang bahagia.


Rika yang hanya sendirian pun melakukan tugasnya dengan sangat fokus dan baik hingga akhirnya Laura pun menyelesaikan polesan terakhir pada riasannya.


“Yang Mulia, anda sangat cantik. Jika aku pria, aku pasti akan jatuh cinta pada kecantikanmu!” ucap Rika dengan nada suara yang terdengar jujur dengan ekspresi wajah yang kagum dengan tatapan mata yang berbinar.


“Ini semua karenamu Rika. Terima kasih karena telah membantuku!” ucap Laura yang membalas Rika dengan senyum yang lebar dan ekspresi wajah yang bahagia.


Laura yang telah selesai berhias pun tiba-tiba mendengar suara pintu di ketuk oleh seorang Pelayan dari luar.


“Nyonya, Tuan Count menunggu anda di Ruang Utama!” ucap Pelayan Muda dengan kepala tertunduk sangat patuh dengan ekspresi wajah yang datar.


“Aku mengerti!” jawab Laura dengan nada suara yang datar dengan ekspresi wajah yang dingin sambil bergerak dengan bantuan Rika.


Laura yang berjalan ke Ruang Utama pun melihat Evans yang telah berganti pakaian dengan setelah yang terlihat sangat tampan sehingga membuat Laura tiba-tiba terpesona.


“Gawat! Wajahnya benar-benar membuatku hampir saja goyah!” ucap Laura dalam hati sambil mengalihkan pandangannya ke samping dan tidak sengaja melihat Tatiana yang menatap Evans dengan tatapan mata orang yang sedang jatuh cinta.


“Oh! Sepertinya ada wanita lain yang juga ikut terpesona dengan wajah Evans! Wajah yang tampan memang sebuah dosa!” ucap Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang dingin dengan tatapan mata yang sinis.


Laura yang akhirnya meninggalkan Kediaman Count Vansfold menuju ke tempat Acara Perlombaan Pacuan Kuda di mulai bersama Evans pun mencoba menahan diri agar tidak tergoda.


“Hah! Aku tidak boleh terjatuh ke dalam jebakan yang sama! Aku harus bisa mengendalikan diriku dan tidak boleh melupakan dendam yang ada di dalam hatiku!” ucap Laura dalam hati sambil mengalihkan pandangannya ke arah jendela.


Evans yang berpikir jika Luara akan bersikap manja dan mencoba mencari perhatiannya seperti biasa saat mereka hanya berdua saja di dalam kereta kuda pun menjadi sangat bingung dengan perubahan Laura yang sangat signifikan.


Laura yang merasa tidak nyaman karena terus dilihat oleh Evans pun mencoba mengutarakan yang dirasakannya.


“Apakah riasanku terlihat aneh?” tanya Laura dengan nada suara yang datar dengan tatapan mata yang lurus menatap Evans.


“Agh! Ti-tidak! kau terlihat sangat cantik dengan Gaun dan riasan itu!” puji Evans yang terlihat malu-malu dengan pipi yang memerah sambil mengalihkan pandangannya ke arah jendela.


Laura yang mendengar ucapan pujian yang sangat jarang didengarnya itu pun merasa sangat aneh hingga membuat kedua alis Laura mengkerut karena bingung.


“Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku menjadi malu-malu seperti ini?” tanya Evans pada dirinya sendiri sambil memejamkan matanya memikirkan sikapnya yang tidak seperti biasanya.


Evans dan Laura yang telah menempuh jarak cukup jauh pun akhirnya sampai di tempat Perlombaan Pacuan Kuda.


Evans yang turun lebih dulu pun mengulurkan tangannya untuk membantu Laura. Laura yang tidak ingin kehilangan harga dirinya di hadapan Nyonya-Nyonya Bangsawan yang datang pun terpaksa memasang ekspresi wajah bahagia dengan senyum yang lembut dan menerima bantuan Evans.


Laura yang tidak ingin terlalu lama bersama Evans pun merasa sangat senang saat melihat beberapa Tuan Bangsawan berkumpul sehingga membuat Evans memutuskan untuk pergi menyapa yang lain.


Laura yang ditinggal sendirian pun langsung pergi menemui Nyonya-Nyonya Bangsawan yang telah berkumpul sambil meminum teh dan berbincang satu sama lain.


“Nyonya Vansfold, senang bertemu dengan anda. Saya senang melihat anda datang ke Acara ini!” ucap Marchioness Sovetti, Esmeralda Von Sovetti, dari Kediaman Marquess Sovetti dengan senyum yang lembut tapi tatapan mata yang berbahaya.


“Senang juga bisa bertemu dengan Nyonya. Apakah Nyonya telah meletakkan taruhannya dalam Perlombaan Pacuan Kuda kali ini?” tanya Laura dengan topeng senyum yang lembut dengan ekspresi wajah yang bersahabat.


“Tentu saja. Bagaimana dengan Nyonya? Apakah Nyoya telah melakukannya?” tanya Marchioness Sovetti dengan senyum yang lembut.


“Saya pun telah melah melakukannya dan aku sangat yakin bahwa kali ini aku pasti akan menang dalam Perlombaan Pacuan Kuda kali ini!” ucap Laura dengan senyum percaya diri dengan ekspresi wajah yang bahagia.


“Nyonya sepertinya sangat yakin akan taruhan yang telah Nyonya buat. Apakah Nyonya bersedia membuat taruhan lain denganku?” tanya Marchioness Sovetti dengan senyum yang misterius.


Laura yang telah mengalami hal yang sama di kehidupannya yang lalu tidak akan pernah melupakan pengalaman tersebut.


"Dikehidupanku yang lalu, kau membuatku kalah dalam pertandingan ini dan membuatku kehilangan Wilayah yang sangat berharga!" ucap Laura dalam hati dengan tatapan mata yang tajam.


"Dikehidupan itu aku kalah tapi tidak sekarang dan aku akan membuatmu mengalami kerugian yang sama seperti yang aku dapatkan di masa lalu!" ucap Laura dalam hati dengan senyum yang sangat lembut.


"Tentu saja. Kenapa tidak? Kita bisa membuat Surat Perjanjian dan membiarkan Nyonya-Nyonya yang ada di tempat ini menjadi saksinya. Bagaimana? Apakah Nyonya Shovetti setuju?" tanya Laura dengan senyum yang jahat.


Marchioness Esmeralda Von Shovetti yang tidak punya pilihan lain pun menuruti ucapan Laura dan menandatangangi Surat Perjanjian tersebut di hadapan semua orang.


"Rika, simpan ini baik-baik dan bersiaplah untuk menyambut kemenangan kita!" ucap Laura dengan senyum percaya diri dengan ekspresi wajah yang bahagia.


Marchioness Shovetti yang telah menandatangi Perjanjian itu pun tiba-tiba merasa cemas dan khawatir.


"Kenapa perasaanku sangat tidak nyaman? Tidak! Ini hanya perasaanku saja. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Aku pasti akan menang!" ucap Marchioness Shovetti dengan ekspresi wajah yang canggung dengan senyum yang kaku.


#Bersambung#


Wah, apa yang akan diminta oleh Laura ya saat dinyatakan menang nanti? Apakah Tatiana akan datang ke Acara Perlombaan Pacuan Kuda tersebut? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya..