The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 53. Menghadiri Pesta Penyambutan



Adrian Lopez yang tau jika besok akan diadakan Pesta Penyambutan Pangeran Mahkota Richard di Istana Kekaisaran pun membuat keputusan yang berat.


“Aku harus segera menyampaikan ini kepada Yang Mulia Putri bagaimanapun caranya malam ini juga!” ucap Adrian Lopez dengan suara yang rendah dengan tekad yang kuat.


Tak butuh lama, Adrian Lopez yang melihat kereta kuda yang mengangkut sayur menuju Kediaman Count Vansfold akhirnya menemukan ide yang bagus


Adrian Lopez yang menyamar menjadi pelayan yang mengangkut sayur masuk ke dalam Kediaman Count Vansfold dengan cepat menyelinap masuk menemui Laura.


Adrian Lopez yang tidak sengaja bertemu dengan Rika dengan cepat dibawa menuju kamar Laura.


“Nona Kepala Pelayan!” panggil Adrian Lopez dengan suara yang sedikit tinggi dengan ekspresi wajah yang terkejut dengan mata yang terbuka lebar.


“Kau! Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau ada disini sekarang? Tanya Rika dengan ekspresi wajah yang penasaran sambil bergerak menyembunyikan keberadaannya dan Adrian Lopez dari Pelayan lain yang lewat.


“Maafkan aku yang membuat Nona Kepala Pelayan kesulitan tapi saya datang karena ingin menyerahkan dokumen penting untuk Yang Mulia Putri!” ucap Adrian Lopez dengan ekspresi wajah yang serius dan tatapan mata yang tajam.


Rika yang mendengar perkataan Adrian Lopez pun akhirnya tidak bisa marah dan menarik nafas panjang untuk mengendalikan emosinya.


“Baiklah. Aku mengerti. Aku akan mengantarmu menemui Yang Mulia Tuan Putri tapi pertama-tama kau harus mengubah cara pemanggilanmu padaku!” ucap Rika dengan nada suara yang tegas dan tatapan mata yang tajam sambil memajukan wajahnya ke arah Adrian Lopez hingga akhirnya membuat Adrian Lopez terkejut dan memasang wajah yang malu.


“Namaku Rika jadi jangan panggil aku Nona Kepala Pelayan! Panggil saja aku Rika karena kita sama-sama orangnya Tuan Putri jadi kita memiliki status yang sama!” ucap Rika dengan ekspresi wajah yang serius.


Adrian Lopez yang mendengar perkataan Rika dengan cepat menganggukkan kepalanya lalu menutup wajahnya yang telah memerah karena malu.


Rika yang tidak tau yang telah dilakukannya kepada Adrian Lopez hanya berjalan di depan dan langsung berbalik saat melihat Adrian Lopez tidak mengikutinya.


“Apa yang kau lakukan disana? Cepatlah kemari! Kita tidak punya banyak waktu!” ucap Rika dengan ekspresi wajah yang kesal.


Adrian Lopez yang mendengar perkataan Rika pun berlari dan mengejar Rika yang telah ada beberapa langkah di depannya.


Rika yang tak melihat siapapun ada di lorong pun meminta izin Laura untuk masuk lalu ikut membawa Adrian Lopez masuk ke dalam.


“Yang Mulia, Adrian Lopez datang meminta bertemu. Katanya dia memiliki Dokumen yang sangat penting dan rahasia yang harus segera disampaikannya kepada anda!” ucap Rika dengan nada suara yang datar.


Laura yang sedang terduduk di atas tempat tidurnya sambil membaca buku pun langsung berdiri lalu duduk di atas sofa.


Adrian Lopez yang tau jika dirinya telah melakukan kesalahan karena menemui Laura tanpa pemberitahuan dan membuat keputusan sendiri.


“Maafkan atas kelancangan hamba Yang Mulia! Saya bersalah dan saya bersedia menerima hukumannya!” ucap Adrian Lopez dengan nada suara yang melemah dengan kepala tertunduk ke bawah.


“Aku akan mengampunimu dan tidak akan mempermasalahkan aksimu ini asalkan kau memiliki alasan yang kuat!” ucap Laura dengan ekspresi wajah yang dingin dengan tatapan mata yang tajam.


Adrian Lopez yang mendengar perkataan Laura pun dengan cepat menyerahkan dokumen yang diberikan oleh Pangeran Kedua Illion kepadanya.


“Yang Mulia, ini adalah dokumen yang diberikan oleh Pangeran Kedua setelah saya menyerahkan surat yang Yang Mulia percayakan kepada saya!” ucap Adrian Lopez dengan nada suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang serius.


Laura yang mendengar perkataan Adrian Lopez pun mengingat dengan jelas perintahnya sebelum pergi ke Ibukota lalu dengan cepat membuka isi dokumen tersebut.


“Jadi ini adalah Dokumen Gelar dan juga Wilayah yang telah aku beli. Keduanya telah resmi menjadi milikku!” ucap Laura dalam hati dengan tatapan mata yangg tajam dengan ekspresi wajah yang serius.


Laura yang menyadari bahwa dokumen itu sangat penting pun memanggil Master Noel yang mengikutinya hingga ke Ibukota.


“Hamba di sini Yang Mulia! Silahkan katakan yang anda inginkan Yang Mulia!” ucap Master Noel yang menundakkan kepalanya dengan sikap yang sopan.


Laura yang tidak bisa pergi karena akan ada orang yang mencarinya pun menyerahkan kunci emas yang merupakan benda penting untuk membuka Brangkas Penyimpanan di Bank Magical kepada Master Noel.


“Aku ingin kau memasukkan ini ke dalam Berangkasku. Ini adalah Dokumen yang sangat penting!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas.


“Jangan khawatir, Yang Mulia. Saya akan menyelesaikan tugas yang diberikan dengan sebaik mungkin!” ucap Master Noel dengan ekspresi wajah yang serius dan tatapan mata yang tajam.


Laura yang telah selesai dengan urusannya pun memberikan perintah untuk Adrian Lopez untuk kembali ke Wilayah Count Vansfold.


“Kembalilah dan carilah gedung yang kosong yang cocok untuk dijadikan kantor! Aku ingin kau mengurusi bisnis yang sedang aku rencanakan!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas sambil menyerahkan beberapa lembar kertas yang direncanakannya akan diserahkan kepada Adrian Lopez setelah dirinya kembali dari Ibukota.


“Apakah kau bisa menangani ini?” tanya Laura dengan tatapan mata yang tajam dengan ekspresi wajah yang dingin.


“Tentu saja, Yang Mulia. Saya akan memberikan laporannya setelah saya kembali ke Wilayah Count Vansfod!” ucap Adrian Lopez dengan tekad yang kuat terlihat jelas dari sorot matanya.


“Bagus sekali! Aku suka itu!” ucap Laura dengan senyum yang lembut dengan tatapan mata yang tajam.


“Rika! Antar Adrian keluar dan jangan biarkan ada orang lain yang mengetahui keberadaannya!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas setelah menyerahkan dua kantong emas kepada Adrian Lopez.


Laura yang berada di dalam kamarnya sendirian tidak menyangka jika dirinya akan dapat dengan mudah tertidur.


Keesokan paginya, Laura yang telah bersiap untuk Pesta Penyambutan Pangeran Mahkota Richard telah bersiap dengan persiapannya sejak matahari belum terbit.


Laura yang melihat wajahnya yang sedang berhias di depan kaca pun menyadari perbedaan besar antara dirinya di masa lalu dan masa sekarang.


“Dulu aku tidak pernah ingin ikut dalam Pesta Penyambutan ini karena aku menganggap bahwa Kak Richard membenciku dan membiarkan Evans memanipulasi semuanya!” ucap Laura dalam hati dengan tatapan mata yang tajam.


“Tapi tidak untuk sekarang, aku akan pastikan jika aku akan ikut dalam Pesta Penyambutan ini dan menghentikan Evans untuk mendapatkan persetujuan dalam Perjanjian tersebut!” ucap Laura dalam hati dengan tekad yang kuat.


Laura yang telah selesai berdandan pun bergegas turun ke lantai bawah dan melihat Evans yang sedang menunggunya.


Evans yang terpesona dengan kecantikan Laura tanpa sadar termenung dan membuat dirinya seperti orang yang aneh.


“Apakah kita bisa pergi sekarang?” tanya Laura dengan nada suara dan ekspresi wajah yang datar dengan sikap yang cuek.


“A-agh! Tentu! Ayo, kita pergi!” ucap Laura dengan senyum yang canggung dengan telinga yang memerah karena malu sambil berjalan menggandeng tangan Laura.


Keduanya pun dengan cepat berpindah tempat dari Kediaman Count Vansfold di Ibukota menuju Istana Kekaisaran tempat Acara Penyambutan Pangeran Mahkota Richard dilaksanakan.


“Count dan Countess Vansfold memasuki ruangan!” teriak Kesatria Penjaga yang berjaga di depan pintu dengan sangat keras memberi tanda bahwa Evans dan Laura telah sampai di Istana.


Laura yang tidak ingin diremehkan oleh orang-orang pun mengangkat kepalanya dengan tinggi dan menunjukkan kemewahan gaunnya serta kecantikan wajahnya.


#Bersambung#


Bagaimana Pesta Penyambutan Pangeran Mahkota Richard akan terjadi? Apa yang akan disampaikan Laura kepada Pangeran Mahkota Richard? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya..