The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 62. Surat Rekomendasi



Keesokan paginya, Laura yang merasa sangat nyaman pun duduk bersantai di Taman Bunga sambil menikmati teh dan kue keringnya.


“Akhirnya semuanya menjadi lebih tenang dan lebih patuh!” ucap Laura dengan suara yang rendah dengan ekspresi wajah yang bahagia.


“Rika, apakah kau mendapatkan informasi yang aku inginkan?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang datar dengan tatapan mata yang tajam.


“Tentu saja, Yang Mulia. Berdasarkan informasi yang aku dengar, beberapa Pelayan yang pernah bekerja di Kediaman Count Vansfold di Ibukota telah dalam perjalanan menuju kemari!” ucap Rika dengan nada suara yang tegas.


“Dan salah satu Pelayan yang akan datang adalah Tatiana. Pelayan yang mendapatkan pandangan spesial dari Yang Mulia!” ucap Rika dengan tatapan mata yang tajam.


Laura yang mendengarnya pun merasa sangat senang lalu mengalihkan pandangannya ke arah Rika yang seolah sedang memiliki banyak pertanyaan.


“Ada apa? Apakah kau punya sesuatu di dalam pikiranmu, Rika?” tanya Laura dengan nada suara yang datar dan ekspresi wajah yang dingin dengan sedikit tatapan mata penasaran.


“Maafkan kelancangan hamba yang tidak mempercayai Yang Mulia tapi apakah Yang Mulia yakin ingin membuat Pelayan itu menjadi Selir dari Tuan Count?” tanya Rika dengan ekspresi wajah yang tidak senang.


“Aku tau kau tidak menyukai ideku ini tapi ini adalah cara terbaik untuk menghancurkan Evans dan yang terpenting adalah Pelayan itu telah meletakkan pikiran kotor pada Suami milik orang lain. Hal itu sangat tidak dibenarkan, bukan Rika?” tanya Laura sambil menatap Rika dengan senyum yang lembut.


“Evans adalah Seorang Kesatria yang beruntung menjadi Bangsawan dengan Gelar dan Wilayah tapi dia sungguh tidak tau caranya bersyukur dan berterima kasih. Bukankah orang seperti itu harus mendapatkan hukuman juga?” tanya Laura lagi dengan tatapan mata yang lurus ke depan.


“Orang-orang seperti mereka tidak bisa diberi kebaikan karena pasti akan meminta lebih. Aku ingin keduanya menyadari posisi mereka yang sebenarnya yang hanya Seorang Rakyat Biasa!” ucap Laura yang dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin.


Laura yang mengingat tentang Adrian Lopez pun mengalihkan pandangannya kepada Rika dan mulai bertanya.


“Bagaimana dengan persiapannya? Apakah Adrian bisa masuk ke dalam Kediaman dengan mudah, Rika?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang datar sambil menghirup tehnya.


“Jangan khawatir, Yang Mulia. Saya telah meminta George untuk mencari orang yang bisa membantu Yang Mulia dalam urusan administrasi dan Adrian pun telah mendaftar untuk posisi tersebut!” ucap Rika dengan ekspresi wajah yang serius.


“Kapan tesnya akan dilaksanakan?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang penasaran sambil meletakkan cangkir tehnya.


“Hari ini, Yang Mulia.” Ucap Rika dengan nada suara yang tegas dengan ekspresi wajah yang dingin.


“Bagus. Kalau begitu waktunya berganti pakaian, bukankah kita harus melakukan interview sebentar lagi, bukan Rika?” tanya Laura dengan senyum yang lebar.


“Tentu saja, Yang Mulia!” ucap Rika dengan standar etika yang tinggi sambil menundukkan kepalanya memberikan jalan kepada Laura untuk berjalan lebih awal.


Waktu pun berlalu, Laura yang telah berganti pakaian pu pergi ke Aula Utama dan membuat George yang sedang memilih Pelayan Baru terkejut.


“A-agh! Nyo-Nyonya Countess...” ucap George dengan ekspresi wajah yang terkejut dengan nada suara yang gagap.


“Ada apa George? Kenapa kau sangat gugup? Apakah aku tidak boleh datang dan melihat Calon Pelayan dan Calon Administrasi yang kau pilih?” sindir Laura dengan nada suara yang sarkastik dengan tangan dilipat di dada dengan tatapan mata yang tajam.


“Tentu saja tidak, Nyonya. Anda bebas untuk datang kemari karena anda adalah Nyonya di Kediaman ini!” ucap George dengan senyum yang lembut sambil membungkukkan tubuhnya.


Laura yang melihat sikap dan cara George bicara dan melayaninya membuat Laura sangat ingin muntah mengingat semua yang dilakukan George padanya di masa lalu.


“Hmmm, jika ini adalah caranya memperlakukanku maka aku pasti akan merasa tersanjung dan sangat senang tapi aku yang sekarang tidak senaif itu lagi karena aku tau jika kata-kata sanjungan dan sikap sopan ini hanyalah akting!” ucap Laura dalam hati dengan tatapan mata yang merendahkan.


Rika yang menyadari tugasnya yang penting pun segera berbalik arah dan membawa semuanya ke Ruang Utama.


Laura yang ditinggal di Aula Utama bersama George dan Semua Calon Pelayan pun berbalik arah menatap George.


“Aku akan serahkan Pemilihan Calon Pelayan Baru padamu dan aku harap kesalahan di masa lalu tidak akan terulang kembali. Jadi pastikan untuk mendidik mereka dengan baik, George!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas dengan tatapan mata yang merendahkan lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.


Laura yang telah melakukan yang diinginkannya pun pergi menuju ruangan dimana Rika telah menunggunya lalu duduk dengan beberapa dokumen riwayat pelamar.


“Yang Mulia, ada tiga orang yang melamar untuk Posisi Administrasi dan ini adalah dokumen mereka!” ucap Rika dengan ekspresi wajah yang datar.


“Agh, hmmm, ini adalah surat rekomendasi dari Baron Windbell yang merekomendasikan seseorang untuk menjadi Administrator!” ucap Rika yang langsung menyerahkan surat rekomendasi tersebut kepada Laura.


Laura yang mengambil surat rekomendasi yang diberikan Rika kepadanya pun membaca nama orang yang tertulis.


“Cavier de Travis! Hah! Baron Windbell, kau sungguh menganggap aku sangat bodoh?” gumam Laura dengan tawa yang lebar dengan ekspresi wajah yang terlihat kaku.


Laura yang mengingat dengan jelas tentang kilas balik masa lalu saat Tatiana memberinya racun di Ruang Bawah Tanah pun tersenyum kecut.


“Di masa lalu menjadikan Tatiana sebagai Putri Angkatmu dan membuatnya memiliki status Seorang Bangsawan agar bisa bersanding dengan Evans lalu mengambil keuntungan tersebut untuk mendapatkan dukungan dari Putra Mahkota!” gumam Laura dengan suara yang rendah.


“Namun sekarang kau mendatangiku dimana tak pernah kau lakukan di masa lalu dan mungkin ini terjadi karena aku yang telah berubah jadi kau mengubah targetmu untuk mencapai ambisimu! Sungguh manusia yang licik!” ucap Laura dalam hati sambil menggenggam surat rekomendasi itu dengan sangat erat.


“Bakar surat ini dan panggil Cavier de Travis masuk terlebih dahulu. Aku ingin lihat kemampuan apa yang dimilikinya!” ucap Laura dengan senyum yang licik.


Rika yang mendapatkan perintah tersebut pun melemparkan surat rekomendasi tersebut ke dalam perapian yang dengan cepat berubah menjadi abu lalu keluar dan memanggil orang yang diinginkan Laura.


“Tuan Cavier de Travis ada di sini, Nyonya!” ucap Rika yang dengan cepat mengubah panggilannya di hadapan orang lain karena tidak ingin Laura mendapatkan masalah karena hal yang sepele itu.


Cavier de Travis yang masuk ke dalam Ruangan dengan cepat mengambil tangan Laura dan menciumi punggung tangannya dengan lembut lalu memperkenalkan dirinya dengan etika yang sangat sempurna hingga membuat Laura sedikit terkejut.


“Hmmm, sepertinya wawancara ini akan sedikit sulit karena sepertinya Baron Windbell sungguh meluangkan waktunya yang berharga untuk rekomendasi ini!” ucap Laura dalam hati dengan senyum yang licik.


Laura yang melihat Cavier de Travis telah duduk pun dengan cepat menjentikkan jarinya memberikan kode kepada Rika untuk menyerahkan sebuah dokumen kepada Cavier de Travis.


“Ini adalah dokumen tentang Pengelolaan Biaya untuk Kediaman Count Vansfold selama satu bulan. Aku ingin menemukan kesalahan yang ada di dalam dokumen itu dan memberikan solusi untuk masalah tersebut! Aku akan memberimu waktu satu jam!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas.


“A-apa? Sa-satu jam? Nyo-Nyonya... waktu itu sangatlah singkat. A-apakh kau tidak membaca surat rekomendasiku?” tanya Cavier de Travis dengan nada suara yang gagap dengan ekspresi wajah yang gugup.


“Hmmm, aku mendapatkannya dan aku pun melihat isinya tapi aku tidak bisa hanya percaya pada selembar kertas dari Bangsawan yang statusnya jauh di bawahku!” ucap Laura dengan nada suara yang tajam dengan tatapan mata yang dingin.


“Apakah kau ingin aku dengan mudahnya percaya pada Baron Windbell dan menerimamu tanpa melakukan tes sementara di luar sana masih ada dua orang lagi yang sedang menunggu gilirannya untuk melakukan tes ini? Apakah kau ingin aku, Seorang Countess Vansfold, melakukan sesuatu yang tidak adil?” sindir Laura dengan tatapan mata yang sinis.


#Bersambung#


Bagaimana reaksi Cavier de Travis setelah mendengar jawaban Laura? Apakah Cavier de Travis akan lolos dan menjadi Administrator Baru Laura? Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya..