
Keesokan harinya, Berita tentang Evans yang tak ingin melakukan Titah dari Raja Jonathan IV menyebar dengan cepat dari Surat Kabar dan juga perbincangan dari orang per orang.
Laura yang sedang duduk bersantai di Taman sambil meminum teh menjadi sangat bahagia setelah mendengar kabar yang ditunggu-tunggu olehnya tapi tiba-tiba Laura kedatangan tamu yang tak terduga.
"Yang Mulia, ini adalah berita surat kabar yang keluar pagi ini!" ucap Rika dengan suara yang datar sambil menyerahkan surat kabar milik Pangeran Edward kepada Laura.
"Di jalan dalam perjalanan kembali, saya mendengar bahwa berita tentang Tuan Count yang lebih memperdulikan Selirnya yang berasal dari Rakyat biasa pun telah menyebar dan sekarang Para Bangsawan telah bergerak mengambil sikap untuk menjaga jarak dengan Kediaman Count Vansfold!" ucap Rika dengan ekspresi wajah yang percaya diri.
"Benarkah? Jika seperti maka rencanaku berhasil maka sekarang Evans tidak punya pilihan lain selain menyerahkan semua milikku sebelum Yang Mulia Raja Jonathan IV mengeluarkan titahnya yang lain!" ucap Laura yang mengetahui bahwa informasi ini telah sampai pada Raja Jonathan IV.
"Yang Mulia, maafkan kelancangan hamba tapi saat ini Yang Mulia Pangeran Kedua telah berkunjung dan sedang menunggu di ruang tunggu!" ucap Pyrex dengan nada suara yang tidak beraturan.
Laura yang tidak pernah bertemu lagi dengan Pangeran Kedua Illion setelah perbincangan keduanya terakhir kali pun menjadi penasaran alasan kedatangan Pangeran Kedua Illion.
"Baiklah. Aku mengerti. Aku akan menemuinya setelah selesai berganti pakaian!" ucap Laura dengan nada suara yang tegas lalu berdiri dan berjalan menuju kamarnya dengan Rika berjalan di belakangnya.
Laura yang tak ingin membuat Pangeran Kedua Illion menunggu lama meskipun Pangeran Kedua Illion datang tanpa konfirmasi.
"Rika lakukan secepat dan sesederhana mungkin karena aku tidak ingin timbul anggapan ataupun gosip buruk tentangku!" ucap Laura dengan ekspresi wajah yang serius.
Laura yang telah selesai berganti pakaian pun bergegas menemui Pangeran Kedua Illion yang telah menunggu selama setengah jam.
"Salam kepada matahari kecil Kekaisaran Hentallius, Yang Mulia Pangeran Kedua ...." ucap Laura yang langsung mengambil gerakan etika untuk memberikan salam kepada Pangeran Kedua Illion.
"Tolong hentikan! Tolong jangan seperti ini Yang Mulia! Bukankah kita adalah teman? Apakah kepada sesama teman masih memerlukan salam seperti ini?" tanya Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah yang sedih.
"Aku mengerti. Aku tidak akan melakukannya lagi!" ucap Laura sambil menarik nafas kecil lalu menyerah akan permintaan Pangeran Kedua Illion.
Laura yang kemudian duduk pun diikuti oleh Pangeran Kedua Illion dan dengan cepat memberikan kode kepada Pelayan untuk menuangkan teh lalu meninggalkan ruangan tersebur semuanya.
"Illion! Saat ini sudah tak ada orang di sekitar kita jadi katakanlah tujuan kedatanganmu kemari!" ucap Laura secara langsung dengan ekspresi wajah yang serius.
Pangeran Kedua Illion yang tau jika Laura tak akan memikirkan tentang memiliki hubungan lagi dengan orang lain memilih untuk menekan perasaannya demi hubungannya dengan Laura tak hancur dan perlahan mengambil hati Laura.
"Aku datang kemari karena ingin membicarakan tentang profit tentang Toko Perhiasan yang kita miliki!" ucap Pangeran Kedua Illion sambil menyerahkan sebuah laporan kepada Laura dengan senyum lembut.
Laura yang mengambil laporan itu menjadi sangat terkejut dengan jumlah nol yang menjadi bagiannya hingga akhirnya menatap Pangeran Kedua Illion dengan tatapan mata tak percaya.
"Apakah ini semua benar, Illion?" tanya Laura dengan ekspresi wajah yang tak percaya sambil menatap bingung ke arah Pangeran Kedua Illion.
"Tentu saja. Semua itu terjadi karena dirimu yang berhasil tampil memukau dengan satu set perhiasan yang aku kirimkan padamu! Semua Nyonya dan Nona Bangsawan yang tertarik dengan perhiasan yang kau pakai membuat Toko Perhiasan kita diserbu oleh pembeli!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan senyum bahagia.
Laura yang mengetahui bahwa usahanya untuk tampil sempurna pada malam itu pun menjadi sangat senang terlebih saat melihat pundi-pundi keuangannya bertambah drastis.
Setelah selesai membicarakan bisnis dengan Laura, Pangeran Kedua Illion pun meminta sesuatu kepada Laura sebagaj usaha dirinya agar bisa menjadi semakin dengan Laura.
"Sepertinya perbincangan ini telah berjalan dengan cukup lama. Aku yakin kau pasti punya urusan lain karenanya aku tak akan mengambil waktumu lebih banyak lagi!" ucap Pangeran Kedua Illion sambil berdiri dari kursinya dengan diikuti oleh Laura.
"Hmmm, tapi maukah kau makan siang bersamaku besok siang untuk merayakan keberhasilan peluncuran Toko Perhiasan kita?" tanya Pangeran Kedua Illion dengan senyum yang lembut dan nada suara yang ramah.
"Illion terlihat sangat tulus saat mengajakku makan siang karena ingin merayakan keberhasilan kami. Sebaiknya aku menerimanya karena tidak ada salahnya untuk istirahat sejenak lagipula ini adalah perayaan untuk bisnis pertamaku!" ucap Laura dalam hati dengan keputusan yang telah bulat.
"Baiklah, Illion. Aku mau. Kita bisa pergi makan siang bersama besok!" ucap Laura dengan senyum yang lebar dan dijawab dengan wajah yang bahagia dari Pangeran Kedua Illion.
Laura yang mengantar Pangeran Kedua Illion kembali ke Istana Kerajaan pun memberikan perintah lain kepada Rika yang berdiri di belakangnya.
"Rika, siapkan kereta kudaku! Kita akan pergi ke Kediaman Count Vansfold! Kita harus menyelesaikan masalah ini hingga tuntas hari ini!" ucap Laura dengan tekad yang kuat.
Laura yang akhirnya pergi menuju Kediaman Count Vansfold bersama Daniel dan Adrian Lopez di sisinya akhirnya sampai di pintu gerbang.
George yang melihat bendera Keluarga Kerajaan Glorious memasuki halaman Kediaman Count Vansfold dengan cepat menyambut kedatangan Ajudan Mies karena tak ingin melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
Namun saat pintu terbuka dan orang yang berada di dalam kereta kuda keluar, George yang terkejut akan kedatangan Laura pun terdiam sesaat lalu menundukkan kepalanya dengan patuh.
"Selamat datang di Kediaman Count Vansfold, Yang Mulia Tuan Putri Laura Raynor Glorious!" ucap George dengan sikap yang sangat sopan dengan nada suara yang ramah.
"Aku telah membuat janji untuk bertemu dengan Tuanmu. Bisakah kau mengantarku menemuinya?" tanya Laura dengan ekspresi wajah yang datar dan sikap yang elegan.
"Tentu saja, Yang Mulia. Silahkan ikuti saya!" ucap Evans dengan etika kebangsawanan yang hebat lalu memberikan jalan kepada Laura untuk berjalan terlebih dahulu.
Pelayan Kediaman Count Vansfold yang telah menyadari status Laura yang tak terjangkau saat ini sambil berbisik membicarakan Evans yang tidak bersyukur.
Laura yang mengaktifkan Kekuatan Anginnya sejak awal sudah bisa mendengarkan semua perbincangan orang-orang tentang keberadaannya di Kediamana Count Vansfold dengan wajah bahagia.
Evans yang mendapatkan kabar bahwa Laura sendiri yang datang ke Kediaman Count Vansfold kali ini untuk membicarakan pembagian wilayah dan pengembalian mas kawin menjadi optimis dapat membuat Laura kembali padanya.
"Laura! Aku tau bahwa kau masih mencintaiku di lubuk hatimu yang terdalam karenanya aku akan memberimu kesempatan lagi untuk kembali padaku!" ucap Evans dengan suara yang rendah sambil menunggu Laura di Ruang Utama dengan pakaian yang lebih rapi.
Evans yang melihat pintu ruangan terbuka dan melihat Laura yang masuk dengan elegan dan cantik persis seperti statusnya yang merupakan Putri Kekaisaran terkuat di Daratan ini.
"Laura! Aku senang bisa melihatmu di sini!" ucap Evans dengan senyum yang lebar sambil berjalan ke arah Laura dan berniat memeluknya.
"Tolong, jaga etikamu Tuan Count!" ucap Laura sambil berjalan mundur satu langkah dengan ekspresi wajah yang dingin dengan nada suara yang tegas dan tatapan mata yang tajam.
Evans yang melihat sikap Laura yang sangat dingin padanya hanya bisa tetap tersenyum dan membuang harga dirinya agar dirinya tidak jatuh menjadi Bangsawan Bangkrut.
"Aku harus tenang! Aku tidak boleh terbawa emosi! Aku harus bisa membuat Laura setuju untuk kembali padaku. Aku yakin Laura masih mencintaiku karena selama ini dirinya sangat terobsesi dengan perhatian dariku!" ucap Evans dalam hati dengan senyum percaya diri.
Sementara itu Pelayan yang melihat sikap dingin Laura yang tak memberikan kesempatan kepada Evans sama sekali diam-diam membuat prediksi akan hasil dari perbincangan ini.
Laura yang tak berniat dengan cinta-cintaan yang telah kadaluarsa telah membuat keputusan untuk mendapatkan semua yang menjadi keinginannya bagaimanapun caranya.
#Bersambung#
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah Laura berhasil membuat Evans menyerahkan semuanya? Atau apakah Evans berhasil membuat Laura kembali ke pelukannya? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..