The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 58. Keinginan Sebenarnya



Pangeran Kedua Illion yang tau maksud ucapan Laura pun mengangkat kepalanya dan menjawab dengan tegas.


"Aku sadar bahwa diam saja tidak akan membuat orang lain berhenti mengusikmu jadi aku berniat untuk mulai bergerak mendapatkan kekuatan untuk melindungi diriku dan orang-orang terdekatku!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah yang serius.


"Jika seperti itu maka kita dapat menjadi Partner Yang Mulia!" jawab Laura dengan senyum yang lebar.


"Bukankah kita sudah menjadi Partner Bisnis sejak lama?" sindir Pangeran Kedua Illion dengan senyum kecil.


"Jika aku menjadi Raja, apakah Putri Laura bersedia menjadi Pendampingku?" tanya Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah yang serius.


"Yang Mulia, saya hanyalah wanita yang akan bercerai dan wanita seperti saya tidak bisa menduduki posisi penting tersebut!" jawab Laura dengan ekspresi wajah yang dingin dengan mata yang tajam.


Laura yang tidak percaya cinta ataupun pria lagi setelah penghianatan Evans merasa jika Pertanyaan Pangeran Kedua adalah sebuah masalah besar.


Laura yang sudah terlalu lama berada jauh dari Ruangan Pesta pun memutuskan untuk kembali lalu meminta izin kepada Pangeran Kedua Illion.


"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya telah terlalu lama berada di luar jadi saya memutuskan untuk kembali. Saya mohon diri, Yang Mulia." ucap Laura sambil membungkukkan tubuhnya.


Pangeran Kedua Illion yang ditinggal sendiri pun menatap bulan yang bersinar terang di atas langit malam.


"Aku tau jika aku tidak menjadi Raja maka aku harus memiliki kekuatan untuk melindungi diriku dan orang-orang di sekitarku!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah yang datar.


"Meskipun aku tidak memiliki keinginan untuk menjadi Raja tapi aku dipaksa untuk memimpikannya jika aku ingin bertahan hidup!" ucap Pangeran Kedua Illion dengan pandangan lurus ke depan.


"Sebenarnya yang aku inginkan adalah memiliki keluarga meskipun hanya sebuah keluarga kecil dan keinginan itu semakin besar semenjak bertemu denganmu!" gumam Pangeran Kedua Illion dengan senyum pahit sambil mengingat wajah Laura.


Laura yang masih memikirkan kejadian tak terduga itu pun memikirkan Pangeran Mahkota Richard yang pasti tidak akan bisa tenang setelah melihat kejadian itu juga.


"Aku harap Kakak akan baik-baik saja dan bisa mengendalikan dirinya yang sedang terluka karena Penghianatan Nona Martha!" ucap Laura dalam hati sambil terus menatap ke luar jendela.?


Laura yang terus berjalan menggunakan kereta kuda pun akhirnya sampai di Kediaman Count Vansfold di Ibukota.


Laura yang merasa sangat lelah pun dengan cepat menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya tapi tiba-tiba Evans mengatakan sesuatu yang mendengar semua Pelayan yang mendengarnya terkejut untuk pertama kalinya.


"Laura! Bersiaplah. Aku akan menemuimu malam ini!" jawab Evans dengan ekspresi wajah yang percaya diri dengan dada yang dibusungkan ke depan.


Laura yang tidak perduli apapun denga perkataan Evans hanya terus berjalan dengan diikuti Rika dari belakang.


Di dalam kamar mandi, Rika yang berniat membantu Laura bersiap-siap menyambut Evans bersama beberapa Pelayan pun mendapatkan sinisan dari Laura.


"Pergilah. Aku hanya ingin Rika disini!" jawan Laura dengan nada suara yang tegas dengan pandangan mata yang tajam.


"Jangan bersikap seperti itu. Evans tidak akan datang ke kamarku. Jadi kau tidak perlu bersikap seperti ini!" ucap Laura dengan nada suara yang cuek.


Rika yang bingung pun hanya bisa diam dan menurut dan melakukan seperti yang dikatakan Laura.


#Bersambung#