The Princess's Revenge

The Princess's Revenge
BAB 57. Perselingkuhan Martha



Laura yang tau jika dirinya bisa mendengar semuanya dengan jelas dengan menggunakan Kekuatan Alamnya tapi Laura perlu memastikannya sendiri.


“Suara wanita dan pria yang aku dengar saat ini seperti suara milik Nona Martha dan Putra Mahkota Lyod. Apakah sekarang mereka berdua sedang bersama?” tanya Laura dalam hati dengan ekspresi wajah yang serius.


Laura yang memfokuskan pendengarannya pun bergerak dengan sangat cepat mencari tempat keduanya hingga akhirnya Laura sampai di sebuah tempat dengan Penjaga Kerajaan Hentallius berdiri di depannya.


“Apakah kedua Penjaga ini sengaja berdiri di sini untuk menjaga tak ada yang bisa mengetahui yang dilakukan Putra Mahkota Lyod dan Nona Marta?” tanya Laura pada dirinya sendiri dengan ekpsresi wajah yang curiga.


Laura yang tidak ingin kehilangan kesempatan emas itu pun memanggil Master Noel dan meminta bantuannya.


“Master Noel!” panggil Laura dengan suara yang rendah tapi meskipun begitu Master Noel dapat mendengarnya dengan sangat jelas.


“Apa yang bisa saya lakukan, Yang Mulia?” tanya Master Noel sambil berlutut dengan satu kaki di hadapan Laura dengan ekspresi wajah yang patuh.


“Aku ingin masuk dan mengetahui yang terjadi di dalam tapi disana ada dua Penjaga yang berjaga!” ucap Laura sambil menunjuk ke arah dua penjaga yang berjaga.


“Apakah kau bisa membawaku masuk ke dalam tanpa bisa diketahui orang-orang. Letakkan aku di ruangan kosong di sebelah Putra Mahkota Lyod berada!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas.


“Serahkan semuanya padaku, Yang Mulia!” ucap Master Noel yang langsung berdiri lalu merangkul Laura dan membuat Laura menghilang dalam sekejap mata.


Laura yang berpindah tempat dengan sangat cepat dengan menggunakan Sihir Teleportasi dengan Master Noel akhirnya berada di ruangan di sebelah ruangan Putra Mahkota.


“Aku tau Putra Mahkota Lyod selalu menggunakan ruangan untuk beristirahat di Kehidupanku yang lalu karena aku pernah salah ruangan dan karena itu pula aku akhirnya menemukan rahasia pada ruangan ini!” ucap Laura dengan suara yang tegas.


Laura yang berjalan di ruangan gelap tersebut pun akhirnya menemukan sebuah lukisan yang sangat dicarinya.


“Master Noel, bisakah kau mengangkat dan memindahkan Lukisan ini dengan hati-hati?” tanya Laura dengan eksprsi wajah yang penuh harap.


“Bak, Yang Mulia!” jawab Master Noel dengan ekpsresi wajah yang serius sambil bergerak cepat melaksanakan perintah dari Laura.


Laura yang akhirnya bsa melihat sebuah cahaya dari sebuah celah pun melihat pemandangan yang membuatnya ingin muntah.


“Lyod, kau nakal sekali? Hehehe...” ucap Martha dengan wajah yang memerah dengan tawa kecil manja dengan dua tangan berada di atas pundak Putra Mahkota Lyod.


“Aku nakal hanya padamu, Martha. Aku sangat merindukanmu. Aku bahkan tak ingat sudah berapa lama aku tidak bertemu denganmu dan memelukmu dengan sangat bebas seperti ini!” ucap Putra Mahkota Lyod dengan senyumnya yang nakal sambil memainkan rambut panjang Nona Martha dan senyum yang memabukkan.


Laura yang tidak bisa melihat itu semua merasa sangat ingin muntah tapi dirinya tidak punya cara untuk memberitau Pangeran Mahkota Richard tentang perbuatan Putra Mahkota Lyod dan Nona Martha.


Master Noel yang tidak melihat kejadian itu tapi dapat mendengar semuanya dengan sangat jelas pun tanpa sadar menggenggam tangannya dengan sangat kuat untuk menahan kemarahannya.


“Yang Mulia, apakah kau ingin aku membunuh pasangan tidak tau malu ini?” tanya Master Noel yang telah siap dengan pedang kecilnya dengan tatapan mata yang tajam serta nada suara yang setengah berbisik.


“Tidak! Kematian adalah hal yang terlalu baik untuk seorang Penghianat. Penghianat harus hancur bersama pasangannya!” ucap Laura dengan nada suara yang tegas.


Laura yang tiba-tiba mengingat tentang alat komunikasi yang diberikan Pangeran Mahkota Richard kepadanya pun dengan cepat menghubungi Pangeran Mahkota Richard.


Laura yang khawatir Pangeran Mahkota Richard mengatakan sesuatu pun dengan cepat memberikan kode kepada Pangeran Mahkota Richard untuk diam lalu menunjukkan tindakan dan pembicaraan Nona Martha dan Putra Mahkota Lyod kepada Pangeran Mahkota Richard.


Pangeran Mahkota Richard yang melihat Putra Mahkota Lyod dan Nona Martha yang sedang berciuman dan bahkan berlanjut dengan hubungan di atas tempat tidur pun membuat Pangeran Mahkota Richard mual dan jijik.


Pangeran Mahkota Richard yang sedang duduk bersama Ajudannya, Mies, itu pun tidak menyangka akan mendapatkan berita yang sangat mengejutkan.


“Itu adalah panggilan dari Laura yang ingin aku melihat dan mendengar semuanya secara langsung!” jawab Pangeran Mahkota Richard yang masih terkejut dengan matanya yang terbuka lebar.


“Yang Mulia, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah kita akan menangkap kedua pasangan tidak tau malu itu lalu mengajukan protes?” tanya Ajuda Mies dengan ekspresi wajah yang bingung dengan tatapan mata yang masih menunjukkan rasa tidak percaya.


“Tidak! Kau tidak boleh mengatakan apapun tentang ini . Kau harus menutup mulut tapi tetap membuka mata dan telingamu dengan lebar! Kau harus mencari tau hubungan keduanya secara detail!” ucap Pangeran Mahkota Richard dengan nada suara yang tegas.


“Baik, Yang Mulia!” jawab Ajudan Mies dengan satu tangan di dada dengan kepala tertunduk ke bawah.


Pangeran Mahkota Richard yang akhirnya bisa mengendalikan dirinya pun memutuskan untuk pergi dan mencari Laura.


Sementara itu, Laura yang merasa sangat terkejut dengan semua informasi mendadak yang didapatkannya pun meminta Master Noel untuk membawanya pergi.


“Apakah kau bisa memindahkan aku ke Ruangan Pesta yang tak akan ada seorangpun mendebatkan keberadaanku?” tanya Laura dengan ekspresi wajah yang datar.


“Kalau begitu, mohon maafkan ketidaksopanan saya, Yang Mulia!” ucap Master Noel yang langsung menarik Laura mendekat dan dalam sekejam mata keduanya pun berada di balkon yangmana sangat jarang orang ada di sana.


Master Noel yang tau jika Laura butuh waktu sendiri pun segera pergi meninggalkan tempat tersebut lalu tiba-tiba Pangeran Kedua Illion datang menemui Laura.


“Ya-Yang Mulia Pangeran Kedua...” ucap Laura dengan suara yang gagap dengan ekspresi wajah yang terkejut dan mata yang terbuka lebar


Pangeran Kedua Illion yang tau jika Laura berniat melakukan salam dengan cepat menghentikannya karena tidak ingin merasakan jarak yang jauh antar keduanya.


"Aku senang bisa bertemu denganmu. Aku kira tidak akan bisa melihatmu apalagi bicara padamu seperti ini di luar Guild Bulan Merah!" ucap Pangeran Kedua Illion sambil tersenyum cerah.


Laura yang mendengar perkataan Pangeran Kedua pun memberanikan diri untuk memberi pertanyaan yang membuat Pangeran Kedua terkejut.


"Yang Mulia, apakah kau ingin menjadi Putra Mahkota Kerajaan Hentallius menggantikan Putra Mahkota Lyod?" tanya Laura secara terus terang dengan ekspresi wajah yang serius.


"Apakah tau jika pertanyaanmu ini bisa membuat kita berdua dalam masalah karena akan membuat isu pemberontakan jika ada orang lain yang mendengarnya?" tanya Pangeran Kedua Illion dengan tawa kecil di sudut bibirnya.


"Aku tau dan aku pun tidak peduli karena tak akan ada yang akan mendengar pembicaraan kita disini, Yang Mulia!" jawab Laura dengan percaya diri.


"Hmm, apakah rasa percaya dirimu itu berasal dari Penyihir yang selalu bersamamu itu?" tanya Pangeran Kedua Illion dengan senyum yang lembut.


"Salah satunya iya tapi ada alasan yang lainnya juga!" ucap Laura dengan nada suara yang tegas setelah menyebarkan Kekuatan Anginnya ke seluruh tempat agar tak ada seorangpun bisa mendengar percakapan mereka.


Pangeran Kedua Illion yang mendengar pertanyaan Laura pun maju beberapa langkah dan bertanya balik.


"Jika aku berkata iya, apakah kau akan menggunakan pasukan dari Kekaisaran Glorious untuk menekan Ayahku agar menurunkan Posisi Putra Mahkota Lyod padaku?" tanya Pangeran Kedua Illion dengan ekspresi wajah yang penasaran.


"Tidak! Cara itu memang akan berhasil tapi efeknya tidak akan baik di masa depan lagipula aku punya cara lain yang lebih efektif!" ucap Laura dengan sorot mata yang tajam.


Di saat Pangeran Kedua Illion melihat bola mata Laura bercahaya semakin terang di bawah sinar bulan pun menyadari bahwa Laura telah merencanakan semua ini sejak awal.


"Apa yang sebenarnya dilakuka Putra Mahkota Lyod dan Count Evans hingga membuat Laura berniat menghancurkan keduanya?" tanya Pangeran Kedua Illion dalam hati dengan ekspresi wajah yang penasaran.


#Bersambung#


Bagaimana jawaban Pangeran Kedua Illion? Apakah Pangeran Kedua ingin menjadi Raja selanjutnya? Tebak di kolom komentar ya..