
Viollete segera meminum suplemen berwarna bening kekuningan yang sudah diberikan oleh Igor dengan bantuan air mineral. Sementara Igor mulai merapikan kembali beberapa mangkok dan sisa makanan.
Tak lama kemudian Kagami Jiro sudah datang kembali dengam gagahnya. Yeap, pria paruh baya itu masih saja terlihat begitu gagah dan berkharisma di usianya yang sudah menginjak 51 tahun.
"Maaf aku agak lama menerima panggilan. Igor, aku harus mendatangi sebuah rapat di Osaka. Tolong antarkan Viollete ke rumahnya." titah Kagami Jiro mulai mengambil sebuah coat hitam yang sejak dari tadi tergantung di sebuah penggantungan lalu mulai memakainya.
"Baik, Tuan. Dipahami." sahut Igor begitu patuh.
"Baiklah. Aku pergi ..." ucap Kagami Jiro mulai meninggalkan ruangan itu.
"Aku akan pulang sendiri saja, Tuan. Tidak perlu mengantarku." ucap Viollete mulai meraih ransel miliknya dan menggendongnya kembali.
"Tidak, Nona. Aku akan tetap mengantarkan nona. Jika nona menolaknya, maka tuan Kagami Jiro akan begitu murka kepadaku. Semua perintahnya tidak boleh dilawan dan harus benar-benar dikerjakan. Tolong selamatkan aku, Nona." ucap Igor begitu memohon dan menunjukkan wajah memelasnya kepada Viollete.
"Baiklah ..." ucap Viollete akhirnya karena merasa tak tega.
Meskipun sebenarnya Viollete pastinya akan memberikan sebuah alamat palsu, agar Igor maupun semua teman-temannya tidak mengetahui dimana Viollete tinggal bersama dengan papa dan adik laki-lakinya.
"Baiklah. Terima kasih banyak, Nona. Aku akan menyiapkan mobil dulu. Nona tunggu sebentar disini." ucap Igor lalu berlalu meninggalkan Viollete begitu saja.
Viollete yang masih terduduk tiba-tiba saja sepasang netranya mulai fokus menatap ke sisi sampingnya. Viollete menemukan sehelai rambut hitam yang begitu lurus, tipis dan pendek. Viollete mulai meraihnya dan menyimpannya di dalam sebuah plastil kecil.
Rambut ini memiliki bentuk yang hitam, tipis dan lurus. Da rambut ini adalah rambut seorang pria. Hanya ada tuan Igor dan Tuan Kagami Jiro saja yang berada disini. Namun ... rambut ini bukanlah milik tuan Igor. Melainkan rambut ini adalah milik tuan Kagami Jiro. Yeap, sebaiknya aku menyimpannya saja, siapa tau kelak aku akan membutuhkannya.
Batin Viollete mulai menyimpan bingkisan berisi sehelai rambut itu di dalam ranselnya dengan cepat sebelum Igor datang kembali dan melihatnya.
"Nona, mobil sudah siap. Mari saya antarkan." ucap Igor yang tiba-tiba saja sudah datang kembali.
"Baik, Tuan." sahut Viollete lalu mulai turun dari brankarnya dan segera melenggang untuk meninggalkan tempat ini.
Igor mengantarkan Viollete di kawasan Shinjuku, namun lokasi itu sangat jauh dari rumahnya. Dan hal itu memang sengaja dilakukan oleh Viollete agar Igor tidak mengetahui dimana Viollete tinggal bersama papa dan adik laki-lakinya.
...⚜⚜⚜...
Viollete mulai mulai memasuki halaman rumahnya, namun tiba-tiba saja dua orang pria mulai menghadangnya dan tak membiarkan Viollete memasuki rumahnya sendiri.
Tentu saja hal ini sangat membuat Viollete kesal dan tidak mengerti sama sekali. Mengapa sang papa malah memerintahkam para kaki tangannya untuk tidak mengijinkannya masuk ke dalam rumahnya sendiri.
Namun kedua pria itu masih menahan Viollete dan menghalangi jalan Viollete. Bahkan kedua pria itu mehahan kedua tangan Viollete. Dengan cukup kasar Viollete menepis tangan kedua pria yang berusaha untuk mencengkeramnya.
"Nona Viollete tidak diijinkan masuk!" ucap salah satu dari mereka kini mulai menandaskan dengan sangat tegas.
"Apa?! Ini adalah rumahku! Berani sekali kalian melakukan hal ini padaku!!" ucap Viollete dengan begitu ketus.
"Maaf. Tapi tuan Buck Karimova tidak mengijinkan nona masuk ke dalam rumah." ucap salah satu dari mereka lagi.
"Cihh ... jangan mengada-ada! Dimana papa? Aku ingin bertemu papa! Minggir kalian berdua atau aku akan menghabisi kalian!" ucap Viollete mulai meninggikan nada bicaranya.
"Maaf. Tapi ini adalah perintah dari Tuan Buck Karimova, Nona." sahut salah satu dari mereka lagi.
Viollete yang sudah mulai hilang kesabaran, akhirnya mulai menyerang kedua kaki tangan sang papa dengan begitu mudahnya. Bahkan hanya dalam tangan kosong, kedua pria itu bisa dijatuhkan oleh Viollete hanya dalam waktu beberapa detik saja. Keren!!
Kini Viollete mulai melenggang dengan langkah kakinya yang tegas dan penuh keyakinan untuk memasuki rumahnya. Raut wajahnya terlihat begitu dingin dan tajam. Di dalam hatinya ada rasa ingin tau yang besar mengapa sang papa melakukan semua itu kepadanya.
Dan rasanya begitu tak sabar untuk bertemu dengan Buck Karimova dan menanyakan semua hal yang mengganjal di dalam hatinya. Ruangan demi ruangan di dalam rumahnya mulai dimasuki oleh Violletw untuk mencari sosok Buck Karimova
Hingga akhirnya kini Viollete mulai menangkap sosok Buck Karimova di ruangan tengah yang sedang terduduk di atas sofa dan menikmati sepuntung rokok dengan cerutunya.
Buck Karimova yang menyadari kehadiran Viollete mulai mematikan rokoknya di atas asbak dan tersenyum miring menatap putri sulungnya itu.
"Papa ..." ucap Viollete mencoba untuk kembali mendekati sang papa, namun tiba-tiba saja dua orang pria sudah menghadangnya lagi dan menghalangi langkah Viollete.
"Kalian berdua keluarlah dulu!" ucap Buck Karimova memberikan titah untuk kedua kaki tangannya.
Kedua pria itu mulai melepaskan Viollete dan meninggalkan ruangan ini begitu saja. Kini Viollete mulai melenggang kembali untuk mendekati Buck Karimova.
"Papa ... mengapa papa melakukan semua ini? Mengapa mereka berusaha untuk menyerangku dan mencelakaiku? Dan mengapa papa tidak mengijinkan aku datang kembali ke rumah ini? Apa salahku, Papa?" pertanyaan bertubi mulai dilontarkan oleh Viollete saking tidak sabarnya Viollete untuk mengetahui alasan sang papa.
"Apa kamu benar-benar tidak menyadari apa kesalahanmu hingga aku melakukan semua itu, Viollete?" ucap Buck Karimova menatap Viollete dengan tajam dan dingin.
Viollete terdiam beberapa saat untuk mencoba memikirkan sesuatu, hingga akhirnya Viollete mulai menemukan sebuah alasan atas pemikirannya sendiri.
"Apa papa mengira aku sudah berkhianat?" ucap Viollete menyimpulkan sesuatu secara tiba-tiba. "Misi untuk menangkap Death Eyes dan pergi ke desa Aiko Iyashi No Sato tidak pernah aku ketahui sebelumnya, Papa. Bahkan aku baru saja mengetahui misi itu dini hari sebelum kami pergi untuk menjalankan misi rahasia tersebut ke desa Aiko Iyashi No Sato. Aku berusaha untuk menghubungi papa saat itu, namun sambungan selalu saja terputus. Hingga akhirnya aku dan rekan satu tim-ku mulai menemukan markas Death Eyes. Aku melihat papa yang masih tidak menyadari kehadiran kami yang sudah berhasil menyusup ke dalam markas. Namun aku selalu saja tidak memiliki sebuah kesempatan untuk memberitahu papa saat itu. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk memberikan sebuah tembak peringatan dan berharap papa akan menyadari semua itu." ucap Viollete dengan jujur tanpa ada satupun kebohongan di dalamnya.